Playboy

Playboy
#18. Out of Mind


__ADS_3

Hai, kira-kira valentine ini kalian dapet hadiah apa dari orang-orang tercinta?



Setiap tiga bulan sekali, atau setiap akan pergantian musim, Liliana dan keempat rekan kerjanya akan mengadakan makan malam tim. Sebagai bentuk dari rasa solid mereka semua, semua itu berasal dari usulan Florence, yang lain hanya menyetujui hal itu. Hari ini pun sama, namun karena cuaca sedang cerah, dan hampir memasuki musim panas, mereka memutuskan untuk mengambil satu hari libur untuk makan siang di River Main.


River Main adalah salah satu sungai dengan keindahan alamnya di Frankfurt, sangat cocok untuk berjalan-jalan di sepanjang jembatan yang terbentang di atas sungai, dengan pemandangan yang tak kalah menakjubkan di kiri dan kanannya. Jika ada yang ingin menaiki sampan di atas sungai juga bisa. Memasuki musim panas, dengan sisa-sisa angin dari musim semi yang semakin menambah sejuk suasana.


Liliana bahkan membawa Elang bersamanya, ia tak ingin melewatkan pemandangan indah ini hanya seorang diri. Florence sudah memesan meja untuk mereka di Bootshaus, salah satu restoran yang terletak di tepi sungai. Menjual berbagai makanan khas Eropa dan juga Jerman, jangan lupakan bir ketika ada di Jerman, itu adalah minuman wajib warga Jerman.


“Ketika aku pergi seorang diri kemari, rasanya tak sehangat saat ini,” ucap Ivy. Salah satu yang termuda di antara mereka semua.


“Semuanya akan lebih menyenangkan jika di lakukan bersama-sama,” jawab Florence. Florence adalah yang paling senior dan yang tertua di antara mereka semua, usianya tahun ini akan memasuki angka empat puluh lima.


“Apalagi ada Elang di sini, cuacanya menjadi semakin hangat,” tambah Ivy lagi. Ia menjawil pipi Elang, yang sejak tadi kepalanya selalu menatap ke sana kemari karena pemandangan yang baru ini.


“Aku ingin membagi pemandangan indah ini padanya, rasanya tak adil ketika aku meninggalkannya bersama bibi pengasuh,” ucap Liliana.


“Tentu saja, agar suasana menjadi semakin meriah. Aku sangat iri denganmu karena memiliki bayi imut seperti Elang.”  Diana menimpali.


“Kau akan lari jika tahu betapa aktifnya dia saat ini, aku saja kewalahan.”


“Tak se-merepotkan itu, kan? Aku yakin mampu melakukannya,” balas Diana lagi.


“Besok jangan bawa Elang pada bibi pengasuh, Liliana, berikan saja pada Diana. Lalu lihat apa yang akan terjadi keesokannya.”Florence menimpali dengan geli.


Semua yang ada di meja itu tertawa dengan ucapan Florence. “Aku tak mungkin mengorbankan putraku untuk itu.” Liliana juga tertawa geli dengan gagasan yang di berikan.


Walaupun mereka hanya sempat bertegur sapa ketika bekerja, tapi semuanya menyatu ketika berkumpul seperti ini.


“Apa aku terlambat?”


Katherine muncul dengan berlari terburu-buru, lalu menyapa rekan kerjanya dengan senyum. Walaupun hanya sementara, tapi Katherine tetap bagian dari mereka. Lagipula, bisa di bilang, Katherine adalah atasan secara tak langsung mereka. Orang tuanya adalah pemilik NewYorker.


“Ah, kami hampir saja melupakanmu,” ucap Florence.


Katherine langsung duduk di kursi yang kosong, dan itu di sebelah Liliana, tak lupa ia menyapa bayi kecil yang ada di pangkuan Liliana. “Padahal kita tetangga, tapi aku sangat jarang bertemu dengan bayi kecil ini,” ucap Katherine.


“Kalian tinggal di tempat yang sama?” tanya Florence.


“Kami kebetulan tinggal di gedung apartemen yang sama,” ucap Liliana.


“Tapi kalian tak seakrab itu untuk menjadi tetangga.” Ivy mengerutkan keningnya bingung. Sejauh yang ia tahu, Liliana dan Katherine memang tak sedekat itu.


“Justru itu kami menjadi tetangga, agar menjadi akrab, kalian tahu, Liliana ini sangat kaku.”


Liliana menggelengkan kepalanya, ia memang tak mungkin menjadi tetangga Katherine yang sangat cerewet dan juga berisik. Mereka hanya tak cocok untuk menjadi teman. Maksudnya, mereka memang tinggal di gedung yang sama, lalu belakangan mereka terlibat sesuatu yang cukup berhubungan satu sama lain, tapi Liliana tetaplah Liliana, ia tak akan semuadah itu untuk berteman dengan orang lain.

__ADS_1


Sepanjang sisa hari itu, tak ada hal spesial yang terjadi. Mereka hanya mengobrol satu sama lain dengan suasana yang cukup ceria. Liliana untuk sejenak mampu melupakan masalah yang sedang menderanya, ia hanya mengikuti alur dari semua rekan kerjanya yang terlihat akrab satu sama lain.


Ketika hari mulai senja, mereka mulai berpamitan satu sama lain. Hanya Liliana yang masih bertahan di tepian sungai itu, ia tak mungkin menyiakan pemandangan indah di sana dan hanya pulang. Ia berjalan-jalan sebentar dengan Elang yang sudah tidur dalam gendongannya, Liliana menyusuri jembatan dengan pepohonan yang


mengirimkan angin sepoi untuk menemani Liliana.


**


Malam ini, tak ada alkohol di sekitar Katherine. Ya, ia belum ingin mati muda dengan menjadi pecandu alkohol, padahal sejak dulu ia juga sudah mengkonsumsi minuman keras itu. Alasannya hanya sederhana, ia dengan gilanya menghubungi pria asing yang belum ia ketahui namanya melalui kartu nama yang di berikan pria itu


beberapa hari yang lalu. Padahal ia bisa saja bertanya pada Liliana tentang nama pria itu.


Anggap saja itu terjadi karena Katherine sangat mabuk walaupun ia tak meminum alkohol. Mabuk tak hanya di sebabkan oleh alkohol saja, kan? Bisa karena cinta, pria, hati, hal-hal seperti itu. Lalu Katherine sendiri karena semua hal itu, yang tak ingin ia akui tentu saja, harga dirinya bisa jatuh jika orang lain mengetahui kebenarannya.


Katherine dan harga dirinya yang tinggi adalah kebanggaannya.


Jadi, sekarang ia sedang duduk menunggu di sky lounge salah satu hotel di pusat kota Frankfurt. Pemandangannya sangat indah dari atas sana, dengan lampu gemerlap dari gedung pencakar langit dan juga lalu lintas di bawah sana. Suasana seperti itu harusnya bisa menjadi romantis jika saja keduanya adalah pasangan, atau sedang dalam tahap pendekatan.


“Aku tak menyangka akan mendapat panggilan secepat ini.”


Tatapan Katherine teralih ketika medengar suara pria itu, ia bahkan sudah menghapal suara pria itu di otaknya. Apa kali ini Katherine benar-benar jatuh cinta pada pria ini? Tak mungkin hanya klise seperti itu, kan?


Ya, Katherine akui, pria ini sangat sempurna dan juga tampan. Nilanya hampir seratus persen sempurna jika saja kesan yang ia dapatkan ketika pertama kali bertemu lebih baik. Katherine hanya tak ingin mengakui, itu sebabnya ia selalu menyangkal.


“Apa aku terlalu agresif?” tanya Katherine dengan senyum miring.


Katherine mendengus dengan geli, ini bukan pertama kalinya Katherine di goda seperti ini, tapi beruntung ia tak menunjukkan gelagat aneh. Anehnya lagi, ia tak terlalu rishi dengan apa yang pria ini lakukan. Mungkin benar jika Katherine benar-benar jatuh cinta pada Richard, tinggal menunggu waktu untuk wanita itu mengakuinya.


“Artinya kau menyukai semua makhluk berjenis kelamin wanita,” ucap Katherine.


“Ada masalah dengan itu?” tanya Richard. Ini benar-benar mengingatkannya pada masa kuliahnya, ia sempat menggoda beberapa teman wanitanya dulu. Tapi, teman-temannya dulu sangat mudah di dekati dan tak ada yang cuek seperti Katherine.


Katherine tersenyum tipis, jika kali ini ia benar-benar jatuh cinta pada pria ini, itu artinya ada yang salah pada bagian otaknya. “Jangan salah paham, kau sama sekali bukan tipeku. Aku hanya ingin menegaskan kesalahpahaman ini, aku bisa menemukan pria sepertimu hampir di semua tempat, jadi kau tak se-spesial itu.”


Apa Richard baru saja di tolak mentah-mentah oleh wanita yang belum lama ini di temuinya? Jika di pikir-pikir lagi, semua ini sangat konyol, mereka menjadi seperti ini hanya karena harga diri yang terluka. Sebesar apa harga diri yang mereka miliki hingga melakukan semua ini? Toh, mereka bisa memilih untuk mengabaikan satu sama lain, tanpa harus terus-terusan bertemu seperti ini, secara sengaja, dan juga tak sengaja.


“Kalau begitu aku permisi dulu.”


Katherine bangkit dari duduknya. Masalahnya sudah selesai, ia tak mungkin jatuh cinta semudah itu dengan pria asing. Untuk di ketahui, kartu nama yang pria itu berikan hanya berisi nama perusahaan, dan juga nomor ponsel. Memangnya siapa di jaman ini yang masih melakukan hal seperti itu? Atau pria itu sengaja melakukan itu untuk membuat Katherine semakin penasaran, apapun itu, Katherine tak akan semudah itu takluk pada pria ini.


Tapi, Richard juga tak sebaik itu. Ia tak bisa menerima wanita ini yang begitu angkuh, ia mencekal lengan wanita itu, lalu segera berdiri. Mungkin ia kalah tampan dari Dimitri, tapi belum pernah ada wanita yang melakukan ini padanya.


Richard mendekatkan wajahnya pada Katherine. “Kau yakin aku bukan tipemu?” bisik Richard.


Katherine membatu di tempatnya berdiri, bisikan itu benar-benar membuat sekujur tubuhnya merinding. Richard menjauhkan wajahnya untuk menatap Katherine yang membeku di tempatnya. Wanita ini menyebalkan, ia bisa membuktikan jika nanti wanita ini akan tergila-gila padanya. Tak ada yang bisa menolak Richard Pradana.


“Namaku Richard, aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, Katherine.”

__ADS_1


Richard tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi ia dengan tiba-tiba mencium sudut bibir Katherine setelah mengatakan kalimat itu. Biarlah jika ia akan di cap sebagai pria brengsek oleh wanita ini, sejak awal juga sudah begitu, kan? Dan hal yang lebih brengsek adalah, Richard langsung meninggalkan Katherine yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


**


Perceraian yang sebenarnya akan benar-benar terjadi kali ini, dan Liliana sudah sangat siap untuk itu. Ia bahkan sudah menghubungi pengacaranya di Indonesia untuk menyiapkan berkas-berkas yang di butuhkan. Nabila belum mengetahui yang terjadi, begitupun dengan kedua orang tuanya dan mungkin juga orang tua Dimitri.


Surat pengunduran diri juga sudah ia siapkan, ia tak tahu semua ini akan memakan waktu berapa lama, dan entah ia akan kembali ke Jerman lagi atau tidak. Jika semua permasalahannya sudah selesai, mungkin ia akan mencari negara lain untuk di kunjungi. Jerman sudah mengekspos kesakitannya lagi, dan Liliana tak menyukai ketika banyak orang yang mengetahui masalah pribadinya.


“Kau mau mengundurkan diri?” tanya Enzo.


Saat ini, yang bertanggung jawab atas toko tempat pekerjaan Liliana adalah Enzo, jadi ia harus memberitahukannya pada pria ini. “Ya, aku harus kembali ke Indonesia.”


“Bersama pria itu?”


Liliana ragu untuk menceritakan yang sedang terjadi, ia tak merasa harus melakukan hal itu. “Kisahnya sangat rumit dan panjang, dan ya, aku akan kembali ke Indonesia bersama pria yang kau maksud.”


“Jika di pikir-pikir, kita tak pernah seterbuka itu. Aku tahu kita tak memiliki hubungan apapun, tapi kau bisa menganggapku sebagai teman,” ucap Enzo. Lidahnya sangat getir mengatakan kata teman, ia ingin lebih dari itu.


Liliana menatap Enzo dengan rasa bersalah, seharusnya hubungan mereka tak seperti ini, jika saja tak ada yang memulai kebohongan ini. Hal ini yang Liliana takutkan sejak awal, ia tak ingin sebuah hubungan yang ambigu, itulah kenapa ia tak membuka diri sejak awal. Begitupun dengan lingkup pertemanannya, semakin banyak ia memiliki teman, semakin banyak ia harus membagikan kisah tentang dirinya.


“Kami harusnya bercerai satu tahun yang lalu, tapi ternyata perceraian itu tak pernah terjadi. Jadi aku harus kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan semuanya,” ucap Liliana. Anggap saja ini rasa terima kasih Liliana karena sudah


menolongnya sejak awal.


Enzo terpaku mendengar penjelasan Liliana, jadi selama ini mereka masih menjadi suami istri? Ya, itu memang rumit.


“Kau masih mencintainya?” tanya Enzo.


Liliana memfokuskan pada keliman pakaian di pangkuannya. Apa ia masih mencintai Dimitri? Masih, Liliana yakin rasa itu masih ada di hatinya. Itu juga yang menjadi penyebab hatinya masih terasa sakit ketika mengingat semua itu, bahkan ketika berhadapan dengan Dimitri rasa sakit itu semakin menusuk hatinya. Ia masih mencintai pria yang sudah menyakitinya berulang kali. Tapi, hubungan ini juga sudah tak bisa di lanjutkan.


Anggap saja pikiran Liliana sedang kacau dan hilang kendali. Jika masih mencintai kenapa harus berpisah? Semua bisa di selesaikan tanpa harus membawa perpisahan, perpisahan tak pernah semudah itu.


Enzo menganggap diamnya Liliana sebagai jawaban ‘ya’. “Setelah semua urusanmu selesai, apa aku bisa berharap padamu?” tanya Enzo lagi. Ia cukup kejam sebagai pria, tapi, jika tak mengatakannya saat ini, maka tak ada kesempatan lain untuk menyampaikan perasaannya.


Masih ada pria yang ingin mencintai Liliana di tengah semua permasalahan yang ada? Itu bukan sesuatu yang bisa di banggakan, ia bahkan tak yakin masih bisa mencinta setelah semua ini.


“Aku harap kau tak melakukan apapun, aku tak bisa memberikan harapan sesuai keinginanmu.”


“Aku bisa melakukannya, jika kau tak menginginkannya sekalipun,” ucap Enzo.


Liliana menatap Enzo. Apa yang sudah ia lakukan pada pria ini? Menghadapi satu pria saja Liliana gagal, lalu datang pria lain lagi yang menawarkan hal yang sama. Apa tak ada hal lain yang bisa mereka tawarkan?


“Kau bisa kembali ke Jerman kapanpun itu, kau juga bisa kembali bekerja jika kau sudah menyelesaikan semua urusanmu. Aku bisa menunggu selama apapun itu, jadi pastikan kau harus kembali.”


Setelah mengatakan hal itu, Enzo segera beranjak dari kafe tempat mereka bertemu. Liliana kembali terpaku di tempatnya duduk, kenapa harus menunggu dirinya? Kenapa harus Liliana lagi? Tidak tahukah mereka berapa banyak luka hati yang ia tanggung, tak bisakah mereka membiarkan Liliana sendiri?


**

__ADS_1


__ADS_2