
“Aku menentang perjodohan ini,” ucap Juna lantang.
Ia datang kekediaman ibu tirinya untuk memperjelas hal itu, setidaknya ia harus menyuarakan pendapatnya sebelum pengaturan perjodohan itu semakin jauh. Walaupun delapan puluh persen hal itu tidak akan didengar oleh ibunya. Sejak ia memasuki usia cukup dewasa untuk memahami tentang keluarganya, ia mulai memberontak.
“Dimana sopan santunmu ketika bertemu dengan orang yang lebih tua?” balas Yunita. Nyonya Anggara yang dikenal tegas dan tak gentar dengan semua keputusannya itu. Apa yang terucap dari mulutnya, itulah yang harus terjadi.
“Sampai kapan privasiku terus-terusan dirusak? Aku juga memiliki kehidupanku sendiri.”
Yunita bangkit dari kursi kerjanya dan berdiri di hadapan putra tirinya, atau Yunita lebih senang menyebutnya sebagai putra angkat. Ia tak pernah setuju sejak awal dengan kehadiran anak yang asal usulnya sendiri tidak jelas. Tidak jelas karena Yunita menolak mengakui jika suaminya yang sudah meninggal berselingkuh dengan wanita lain hingga melahirkan bayi yang kini berdiri dihadapannya.
“Apa karena wanita itu?”
“Dengar, aku sudah hidup mandiri sejak menjadi mahasiswa, semua yang aku miliki adalah milikku pribadi, tidak ada campur tangan dari Anggara sedikitpun. Jadi tolong, menjauhlah dari kehidupan tenangku.”
Juna tak pernah dekat atau bahkan berbicara dengan Yunita secara langsung, yang paling jelas diingatannya adalah ketika ia berusia lima tahun atau tujuh tahun, ketika ia belum mengerti dengan permasalahan yang ada di keluarga itu. Hanya Clara yang mau mendekatinya dulu, hingga sekarang mereka sudah cukup akrab.
“Apa kamu pikir, kamu memiliki kesempatan untuk memilih. Kamu masih keturunan Anggara yang sah walaupun aku enggan mengakuinya. Kamu harus melakukan perjodohan ini untuk membalas budi karena kamu sudah tinggal disini bahkan diurus dengan baik.”
Yunita berjalan melewati Juna dan duduk di sofa lembut yang ada diruangan itu dengan santai. Tidak boleh ada yang menentang keputusan Yunita sebagai orang yang paling berkuasa dirumah ini. Ia sudah menahan rasa amarah dan juga muak melihat wajah Juna yang mengingatkannya pada perbuatan penuh dosa suaminya itu.
“Kalau kamu sedikit saja memiliki rasa malu, kamu akan menerima perjodohan ini. Percuma kalau kamu akan melanjutkan hubunganmu dengan wanita itu, kalian jelas tak akan bisa bersama. Jadi, sebelum aku bertindak lebih jauh, sebaiknya terima keputusan ini,” lanjut Yunita.
Juna tersenyum sinis, lalu menatap wanita paruh baya itu dengan tajam. Selama ia hidup dua puluh tujuh tahun ini, ia tak pernah tahu bagaimana sifat ibunya, ia hanya memiliki satu foto yang ia dapat secara tak sengaja dari ruang perpustakaan ayahnya dulu. Ayahnya tak pernah memberitahu bagaimana sifat ibu kandungnya, tak pernah ada yang menyinggung sedikitpun tentang ibu kandungnya selama ini. Tapi, jika bisa di kira-kira, Juna rasa ibunya tak akan sekejam Yunita. Wanita kejam yang penuh kekuasaan itu setelah suaminya meninggal.
__ADS_1
“Rasanya aku bisa tahu kenapa ayah mencari pelampiasan dengan wanita lain dulu, mungkin karena anda sangat haus akan kekuasaan dan uang,” ucap Juna. Dari sorot matanya kini ada perlawanan yang sangat kuat.
“Apa katamu?!” bentak Yunita. Tangannya mengepal dan tatapannya mengeras.
“Bukankah anda sangat membenciku? Anak yang dilahirkan dari hasil
perselingkuhan suami anda, jadi teruslah membenciku dan jangan pernah sentuh kehidupanku sendiri.”
“Kamu pikir semudah itu menentang keputusanku?”
Juna menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu keluar. “Kalau ingin membalaskan rasa sakit hati yang anda rasakan, lakukan dengan lebih baik.” Juna melanjutkan langkahnya.
“Wanita itu, jangan harap kalian bisa bersama,” ucap Yunita penuh penekanan.
“Lakukan sesuka anda, aku tak akan membiarkan kejadian yang sama kembali terulang.”
**
Benar saja, ketika Clara baru membuka pintu utama, Juna muncul dari ruang kerja ibunya dengan wajah yang sangat dingin, mendadak rumah yang auranya sudah dingin sejak dulu menjadi semakin dingin. Tanpa perlu meminta penjelasan, Clara sudah tahu apa yang terjadi.
“Jun, kamu gak ngomong yang aneh-aneh sama mama, kan?” tanya Clara dengan khawatir.
Juna sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan kakaknya atau sekedar menyapa sang kakak. Ia terlalu marah saat ini, emosinya benar-benar sudah mencapai puncak dan sedikit saja ada yang membuatnya kesal, maka ia tak segan untuk melemparkan tinjunya.
__ADS_1
“Jun…,” Clara menahan tangan Juna.
“Jangan sekarang, kak.”
“Aku tahu kamu gak setuju dengan keputusan mama, kalau jadi kamu, aku juga pasti marah banget. Tapi, jangan terlalu mengkonfrontasi mama, aku takut mama ngelakuin hal buruk ke kamu juga pacar kamu,” ucap Clara.
Tubuh Juna yang sejak tadi menegang, kini sudah sedikit santai, walau emosi itu masih jelas terasa di seluruh tubuhnya. “Kakak tenang aja, aku bisa selesain semuanya, percaya sama aku.” Juna menggenggam tangan sang kakak dengan lembut.
Mereka memang terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kedekatan mereka rasanya lebih dari saudara kandung, walaupun memang Juna masih merasa jika kakak tirinya ini tak sepenuhnya tulus ketika membantunya. Mungkin karena Juna terlalu banyak melihat ibu tirinya yang kejam, membuatnya tidak bisa dengan mudah mempercayai orang yang dekat dengannya.
“Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung kasih tahu aku, kita bisa cari solusinya. Aku tetep yakin kalo cewek yang dijodohin sama kamu ini banyak ngelakuin operasi plastik.”
Mau tak mau Juna tertawa mendengar ucapan Clara yang bercanda dengan wajah serius. Emosinya sudah sedikit mencair karena candaan yang sebenarnya sangat receh itu. Lain kali ia ingin mengenalkan Nabila pada Clara, rasanya mereka akan cocok ketika mengobrol berdua.
“Aku pergi dulu, baik-baik disini, ya,” ucap Juna lembut. Ia mengacak rambut kakaknya sebelum keluar dari rumah itu.
Clara tersenyum tipis karena perbuatan adiknya itu. Yah, jika jadi Juna mungkin Clara juga akan menolak perjodohan. Tapi jika memang pasangannya cukup tampan bisa ia pertimbangkan. Kenapa ibunya itu tak menjodohkan dirinya saja alih-alih Juna? Jika dilihat dari usia juga sangat jauh lebih baik jika Clara yang menikah lebih dulu.
Tanpa ia sadari, Clara tersenyum lebar dengan pemikiran baru yang tiba-tiba terlintas itu. Padahal ia sudah menjadi Direktur Utama saat ini, tapi masih saja otaknya lambat dalam berpikir mengenai jodoh.
“Kenapa gak kepikiran dari kemaren, sih,” gerutu Clara. Ia bergegas menuju ruang kerja nyonya rumah ini, ia berharap hal ini bisa menjadi jalan keluar permasalahan adiknya.
**
__ADS_1
**Hai, maapin yak agak telat updatenya, abis diskusi sama Juna nih, katanya dia gak mau kisah hidupnya yang rumit2 banget. Padahal kan kalo gak rumit gak mantep, iya gak sih?
Yuk lah jangan lupa tinggalin jejak like dan komennya ya 😉**