Playboy

Playboy
#2# Take 36


__ADS_3

Maaf atas terlambat updatenya, lagi ada beberapa hal tak terduga yang terjadi. Aku usahain buat update, tapi mungkin bakal agak slow, jadi selalu tungguin ya. Happy reading 😊


****


Setelah makan siang yang cukup panjang dengan berbagai macam obrolan, Nabila dan Juna memutuskan untuk menyudahi makan siang itu. Jika di teruskan mungkin bisa-bisa akan ada pembicaraan yang tak di inginkan terjadi, untuk Nabila itu sangat tak di inginkan.


"Aku udah kirim kerjaanku lewat email, ya, Mbak. Jadi jangan di tagih-tagih lagi."


Nabila tertawa mendengar ucapan Juna yang memang banyak di antaranya sangat benar. Sudah tahu sendiri bagaimana kejamnya Nabila dan pekerjaannya, walaupun mereka berlaku sangat ramah di luar pekerjaan seperti ini.


Tawa itu terhenti ketika mereka sampai di depan mobil yang terparkir di depan restoran. Ya, Jakarta memang sesempit itu, dan kemungkinan untuk bertemu mantan suaminya sangatlah besar. Kali ini pun juga, tapi tanpa Reni di sampingnya. Dengan atau tanpa Reni pun, Nabila sudah tak ingin bertemu Reno lagi, setidaknya di luar pertemuan mingguan mereka.


Suasana berubah menjadi canggung, sama seperti ketika pertemuan mereka terakhir kali di sebuah restoran juga. Dan Juna lagi-lagi menjadi penengah di antara mereka, tanpa ia tahu apa yang sedang terjadi. Juna sangat ingin tahu apa yang terjadi, tapi ia tak memiliki keberanian sebanyak itu untuk bertanya pada Nabila.


Nabila itu seperti buku yang sudah terbuka secara lebar, perlu waktu untuk membuka halaman lainnya agar rasa penasaran dan seluruh rahasia di dalamnya terbuka sangat lebar. Juna tak butuh tahu semuanya, ia hanya ingin tahu secara perlahan tapi pasti.


"Mbak, mau berangkat sekarang?" tanya Juna. Ia melihat Nabila yang sepertinya masih terpaku dengan pria yang juga baru keluar dari mobilnya itu.


"Yuk, Jun."


Juna harus benar-benar menanyai tentang pria itu nanti kepada Nabila, rasa penasarannya benar-benar tak mau hilang dari pikirannya. Bahkan hingga Nabila memasuki mobil, tatapan pria itu tak juga lepas dari Nabila. Setelah memberi tatapan ingin tahu lebih banyak pada pria tadi untuk yang terakhir kali, Juna juga masuk ke dalam mobil.


Kecewa. Mungkin itu yang Reno rasakan, tapi apa pantas ia merasakan itu? Pertemuan tak sengaja ini sangat jarang terjadi, dan ketika terjadi harusnya ia manfaatkan dengan baik? Tapi bagaimana? Apa ia boleh melakukan hal itu? Pertemuan mereka yang terjadi setiap minggu pun tak pernah membawa kemajuan. Nabila masih membencinya dengan seluruh kekuatan di hatinya dan Reno tak bisa melakukan apapun untuk mengubah pendirian wanita itu.


Tentu saja. Apa haknya untuk melakukan itu? Ia hanya pria yang tak bertanggung jawab, yang kebetulan pernah menjadi suami Nabila---hal terbaik yang pernah ia lakukan.


"Itu mantan suamiku."


Juna yang sedang fokus menyetir, segera teralihkan oleh kalimat pendek Nabila. Tak ada pembicaraan yang berarti sejak tadi, Nabila sibuk dengan semua pemikirannya, lalu tiba-tiba mengatakan kalimat itu.


"Sudah hampir satu tahun sejak perceraian kami," lanjut Nabila lagi.


Ketika tadi Juna sangat penasaran setengah mati, kini rasa penasarannya langsung menguap dan di gantikan dengan sedikit perasaan tak nyaman. Perasaan itu hanya tiba-tiba muncul di benaknya, dan membuatnya tak ingin mengucapkan kalimat lain lagi atau sekedar bertanya hal lain.


"Kenapa … Mbak ngomong ini ke aku?" tanya Juna hati-hati.


Jika di lihat dari tatapan keduanya tadi, sepertinya perceraian mereka tak di akhiri dengan baik. Ya, tapi mana ada perceraian yang berakhir dengan baik. Hanya orang tak waras saja yang menganggap perceraian itu baik, tak ada perpisahan yang baik.


"Kamu penasaran, kan?"


"Well, sedikit sih, Mbak. Tapi Mbak gak perlu cerita kalo memang itu gak bisa di bagi ke orang lain.


Mobil mereka berhenti di lampu merah. Juna mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil, pikirannya berkelana sangat jauh setelah kalimat Nabila tadi. Jika pria itu mantan suaminya, maka pernikahan yang pernah mereka hadiri itu adalah pernikahan mantan suaminya. Lalu jika perceraian mereka baru akan mencapai usia satu tahun, maka pernikahan kemarin itu terjadi baru beberapa bulan setelah perceraian mereka?


Pemikiran itu langsung membuatnya menjadi sakit kepala? Berengsek sekali pria seperti itu. Ia menduga jika itu adalah hasil dari perselingkuhan. Mana ada pernikahan yang terjadi secepat itu, bahkan belum ada satu tahun perceraian mereka.


"Mbak, kalau butuh jasa pelampiasan emosi, aku bisa wakilin Mbak buat itu," ucap Juna.


"Pelampiasan emosi?"


"Mungkin Mbak pengen ngelampiasin emosi ke mantan suami Mbak itu, tapi ketahan, aku bisa wakilin buat itu."


Nabila tergelak dengan ucapan yang di ucapkan Juna itu. Nah, bagaimana ia bisa melewatkan pesona pria muda ini begitu saja? Inilah kenapa banyak yang sangat menyukai Juna. Jika Nabila di suruh untuk bersaing dengan wanita-wanita muda lainnya, sudah di pastikan ia kalah telak. Tak seharusnya memang ia memiliki perasaan lain terhadap Juna.


"Mbak, maaf kalau aku lancang, tapi aku punya satu permintaan."


"Permintaan apa?"

__ADS_1


"Di luar pekerjaan kita, misalnya kayak makan siang ini atau apapun yang di luar pekerjaan kita, aku mau manggil Mbak tanpa embel-embel 'Mbak'."


Tatapan Nabila yang ada di luar jendela kini beralih ke wajah Juna yang juga tengah menatapnya. Apa maksud pria muda ini? Apa seperti yang ia pikirkan? Atau ada hal lainnya?


***


Setelah makan siang antara Liliana dan Dimitri serta Enzo dan juga Elle, ada yang berubah pada hubungan Dimitri dan juga Liliana. Keduanya secara tak langsung bertemu dengan masa lalu yang sebenarnya sudah tak memiliki efek pada mereka sedikitpun. Tapi, entah kenapa karena hal kecil itu sedikit membuat hubungan Liliana dan juga Dimitri merenggang.


Pengaruh hormon kehamilan Liliana juga sangat berefek pada emosinya, dan Dimitri pada suatu titik juga merasakan egonya sedikit tersentil karena pertemuan kecil itu.


"Emang nikah se-sensitif ini, ya?" tanya Richard.


Dimitri mengangkat kedua bahunya, ini hari kedua dari perang dingin yang terjadi antara ia dan Liliana. Dan entah kenapa Dimitri tak ingin mengalah.


"Kamu harus nikah dulu biar tahu gimana perasaanku, tapi memang se-sensitif itu."


"Ini gak bakalan sebesar masalah yang sebelum-sebelumnya, kan? Karena kalo iya aku pengen nyusul Kate aja biar gak perlu dengerin curhatanmu."


Karena selama ini memang hanya Richard tempatnya berkeluh kesah. Ada Kevin sebenarnya, dan ia jauh lebih cerewet dari Richard, itulah kenapa Kevin tak pernah menjadi opsi Dimitri. Bukan solusi yang akan ia dapatkan nantinya, melainkan rasa sakit kepala yang sangat menusuk dan menambah beban lain. Ya, Kevin memang seburuk itu untuk alasan curhat dari hati ke hati. Ingat, kan, betapa berengseknya sepupunya itu?


"Jangan cari aku kalo kamu berantem sama Kate, atau Liliana."


"Masih ada Nabila, kok, kamu tenang aja." Richard tersenyum lebar mendapati wajah masam Dimitri.


"Lagian kamu juga ngapain keras kepala kayak gini, Liliana memang lagi hamil dan dia pasti sensitif. Elle juga cuman cerita lana, udah berapa tahun coba kejadian itu. Kamu masih punya rasa sama Elle itu?" tanya Richard.


"Ya enggak lah, aku bahkan gak inget dia siapa kalau bukan karena Liliana."


"Jadi apa masalahnya sampe kamu diem-dieman sama Lili?"


Ini yang masih membuat Richard bingung tentang semua pasangan yang ada di dunia ini. Hampir separuh dari populasi pasangan pasti selalu mengutamakan ego dan tak ingin mengalah, oh dan jangan lupakan gengsi yang mereka agung-agungkan. Ini Richard juga sedang mengatai dirinya sendiri, karena dulu ia juga seperti itu.


"Gimana rasanya waktu kamu tahu kalau Kate ternyata punya selingkuhan?" tanya Dimitri.


"Dan ternyata itu bukan selingkuhan Kate, dia cuman cowok gay yang kebetulan sahabat Kate." Richard menyeringai menatap Dimitri.


"Aku beneran bisa doain kamu sama Kate putus lagi," ucap Dimitri dengan kesal.


Richard kali ini benar-benar terbahak dengan keras. Membuat Dimitri kesal benar-benar menjadi salah satu hal yang sangat menghibur dirinya, kalimat terakhir pria itu tidak termasuk tapi.


"Tapi aku serius, kalian gak harus kayak gini hanya karena masa lalu yang bahkan udah gak punya pengaruh buat hidup kalian lagi," ujar Richard.


Dimitri sangat tahu tentang hal itu, dua hari perang dingin dengan Liliana sudah menyebabkan perasaannya tak tenang selama ini. Ia tak bisa mimikirkan bagaimana jika ini akan berlanjut hingga beberapa hari kemudian, pasti akan semakin menyiksanya.


"Mungkin kami hanya perlu berpikir dengan kepala dingin masing-masing."


"Belajar dari kesalahanmu dulu, jangan sampai keulang lagi."


Hanya anggukan yang Dimitri berikan, ya karena ia juga setuju. Ia tak akan membuat kesalahan yang sama lagi dengan menyakiti Liliana untuk yang kesekian kalinya. Ia hanya butuh waktu untuk mendinginkan kepalanya saja, ia tak akan bisa berlama-lama untuk mendiamkan istrinya itu.


***


Akhirnya Elle bisa merasakan lega karena bisa kembali ke Jerman. Tadinya jadwal mereka akan sampai satu minggu ke depan di Jakarta, tapi karena pekerjaan lain yang mereka miliki di Jerman, mereka harus kembali. Berada di Jakarta tak sepenuhnya membuat Elle kembali tenang, apalagi pertemuannya dengan Liliana dan Dimitri kemarin.


Percayalah, ia juga sudah tak memiliki perasaan terhadap Dimitri dalam bentuk apapun. Waktu itu mereka hanya masih muda dan tingkat kelabilan mereka sangat tinggi. Elle yang ada di Jakarta sangat berbeda dengan Elle yang tinggal di Jerman. Dan itu hanya perasaan sesaat, karena siapa yang tak mengenal Dimitri di kampus, pria itu sangat tenar dengan semua pesona yang di miliki hingga membuat banyak mahasiswi mengincarnya. Elle adalah salah satunya.


Hanya seperti itu, dan hubungan mereka juga hanya sebatas rasa penasaran dan ingin tahu. Bagaimana rasanya jika memacari pria tertampan dan tertenar di kampus? Ya walaupun ia harus merelakan untuk putus, dan harga dirinya yang sedikit terluka.

__ADS_1


"Apa kalian sangat dekat ketika kuliah?" tanya Enzo tiba-tiba.


Mereka baru saja mendarat di bandara internasional Frankfurt setelah menghabiskan lebih dari enam belas jam terbang di udara. Tapi Enzo menjadi sedikit lebih segar karena menghabiskan waktunya di pesawat untuk terbang. Lebih tepatnya pura-pura tidur, karena perasaan cemburunya tentang kenyataan jika Elle pernah memiliki hubungan dengan Dimitri.


"Siapa? Aku dan Liliana? Kami seperti musuh lebih tepatnya."


"Kau dan Dimitri," koreksi Enzo.


Keduanya duduk di kursi belakang dengan bantuan supir pribadi milik Enzo. Jadi ketika keduanya saling menatap dengan serius dan bingung untuk waktu yang lebih dari enam puluh detik, itu tak akan menjadi masalah.


"Menjadi teman minum dan tidur sepertinya bukan hal besar, kan? Apa itu semua bisa di katakan sebagai kedekatan?" tanya Elle.


Enzo rasanya sangat ingin masuk ke dalam pikiran Elle dan melihat apa saja isi di dalamnya. Bahkan kalimat tadi Elle sampaikan dengan wajah datar seperti itu memang bukan hal besar. Memang bukan hal besar, Enzo saja yang melebih-lebihkan beberapa hal. Lagi-lagi karena rasa cemburu yang ia rasakan. Terkutuklah rasa cemburu itu.


"Sepertinya itu sudah menjadi hal yang biasa, ya?"


"Memang seperti itu, kan? Aku yakin kau dan kekasihmu juga melakukan hal yang sama, apalagi kau tinggal di negara sebebas Eropa."


Elle tak mengerti kenapa mereka harus membicarakan topik seperti ini. Mereka bisa membicarakan hal lain seperti pekerjaan misalnya. Sudah banyak jadwal yang menanti mereka ketika besok masuk kantor. Mereka tiba di Jerman hampir malam, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika mereka hampir sampai di apartemen Elle.


Karena sikap bertanggung jawab yang di miliki Enzo, Elle terpaksa mengiyakan ajakan itu. Padahal bisa saja Elle pulang dengan taksi atau bus, ia sudah mandiri dan tak akan hilang hanya karena tak di antarkan pulang.


"Mungkin aku cemburu."


Tiga kata yang sangat Elle dengar dengan jelas tapi ia akan berpura-pura untuk tak mendengarnya. Obrolan ini sudah terlalu jauh, jika di teruskan mungkin akan mengarah kepada hal-hal yang terlarang.


"Sudah sampai, aku turun du---"


Enzo juga keluar dari mobil itu mendahului Elle yang bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Oke, ini akan menjadi pertanda hal buruk lainnya. Bagaimana jika tiba-tiba Brian muncul di apartemennya dengan tiba-tiba dan keduanya bertemu? Elle belum bisa menduga hal-hal apa saja yang mungkin terjadi.


"Kau mau kemana?" tanya Elle.


"Mengantarmu dengan selamat sampai di apartemen, apa tak boleh di lakukan juga?"


"Buktinya aku sudah selamat, kan? Kau bisa pulang, kau juga pasti sangat lelah."


Bagaimana bisa ada wanita seperti Elle yang ada di dunia ini? Enzo sangat gemas dengan wajah datar itu, padahal matanya menyiratkan banyak kekhawatiran.


Enzo melangkahkan kakinya mendekati Elle, walaupun menyiratkan banyak kekhawatiran, tapi mata itu juga tak gentar untuk menatap Enzo. Sangat mirip dengan Cecilia, mungkin itu juga yang membuat Enzo sangat ingin mendekati wanita itu.


"Apa kau selalu seperti ini? Apa pada Dimitri kau juga melakukan hal ini?" tanya Enzo. Jaraknya sudah sangat dekat, dan hanya butuh satu langkah untuk meraih wanita itu.


"Apa maksudmu?"


"Apa aku bisa menjadi teman minum, atau bahkan teman … tidurmu?"


Lidah Elle kali ini sangat kelu. Dari jarak sedekat ini, dan juga kalimat yang pria itu ucapkan, mungkin ia masih bisa menahannya jika tak dalam jarak sedekat ini. Tapi ini berbeda. Jantungnya berdetak sangat kencang, dan entah kenapa ia bisa merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya, menimbulkan rasa geli dan juga senang yang tak bisa di jelaskan dengan kalimat.


"Sepertinya aku harus masuk."


Tangan Elle di cekal, dan langkahnya terhenti. Enzo kembali menarik Elle untuk berdiri di hadapannya, dan menghapus jarak di antara mereka.


"Kenapa selalu menghindariku?" bisik Enzo di depan bibir Elle. Hanya satu gerakan saja dan bibir mereka akan bertemu.


Bukan lagi kelu yang Elle rasakan, tapi tubuhnya sudah sepenuhnya kaku di tempat. Apalagi yang bisa ia lakukan jika dalam keadaan seperti ini? Salah langkah sedikit saja, dan pertahanannya benar-benar akan runtuh.


"Aku tak akan meminta maaf untuk ini."

__ADS_1


Enzo benar-benar menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panjang. Ia tak akan menyiakannya hanya dengan sebuah kecupan, ia sudah membayangkan mencium bibir ini dalam waktu yang cukup lama.


***


__ADS_2