
Hai, ini kayaknya update terakhir aku, tiga hari kedepan aku bakal pulang kampung jadi gak bisa nulis. Besok kalau waktunya cukup, aku bakal update, kalau nggak berarti ketemu tiga hari lagi, ya
Oh ya, kalian udah bisa masuk grup chat kalau mau, aku gak tahu gimana cara gunainnya sih, tapi coba aja kalau memang mau ya^^
Happy reading^^
Semua orang memiliki masa lalu, karena itu adalah bagian dari diri kita yang membentuk kita saat ini. Baik itu kenangan buruk, bahagia, kebanggaan, semuanya berasal dari masa lalu. Dan hal itu akan terus ada di dalam diri kita, hanya kita yang mampu memberi pilihan bagaimana seharusnya kita menempatkan masa lalu itu di dalam diri kita.
Sudah pernah di katakan kalau kita tak boleh terlalu trelena dengan masa lalu, kita harus melangkah menuju masa depan tanpa perlu berbalik arah. Mudah mengatakannya, karena membentuk kalimat memang semudah itu, hanya bagaimana kita mengaplikasikannya dengan tindakan. Bagian terpentingnya adalah, tanpa masa lalu, kita tak akan mampu menatap masa depan dengan bangganya saat ini.
Apapun yang terjadi di masa lalu, sebaiknya hilangkan saja semuanya, apalagi jika itu menyakitkan. Ambil sisi baik dari semua hal yang terjadi di masa lalu, dan segera melangkah ke depan dengan penuh rasa percaya diri.
Enzo menatap nisan di hadapannya dengan pilu, beruntung hari ini hujan cukup deras, hingga mampu mengaburkan air mata samar yang mengaliri pipi Enzo. Ini tahun kelima kematian adik perempuan satu-satunya, dan rasa sakitnya masih seperti kemarin. Luka yang masih menganga di hatinya masih belum bisa tertutup dengan
baik.
Sejak saat itu, tak ada yang membicarakan Allisa—adik Enzo—lagi. Bukan karena mereka tak menyayanginya lagi, tapi karena mereka sangat menyayangi Allisa, segala pembicaraan tentang gadis kecil itu tak pernah terungkap. Semuanya sangat terpukul, masa kelam keluarga Gioto untuk pertama kalinya. Kematian Allisa membawa perubahan yang signifikan pada Enzo, dan juga kedua orang tuanya.
Malam itu, semuanya berjalan terlalu lancar untuk Enzo. Ia berhasil menempati posisi Direktur yang nantinya akan
menggantikan sang Ayah, lalu ia akan melamar kekasihnya, Cecilia. Enzo bahagia tentu saja, pada akhirnya ia bisa membuktikan pada sang Ayah kalau ia mampu dan berkompeten. Dan sebentar lagi akan meminang gadis yang sangat ia cintai. Bukankah hidupnya sangat sempurna?
Walaupun sudah dua jam Enzo menunggu, kekasihnya itu tak kunjung tiba. Karena suasana hatinya sedang baik, Enzo sama sekali tak mempermasalahkan hal itu, ia sangat tahu betapa sibuknya kehidupan seorang desainer muda yang sudah sangat terkenal seperti kekasihnya itu. Sampai ketika pesan singkat itu yang mengubah segalanya.
‘Maafkan aku, Enzo, sepertinya aku tak bisa menjalani hubungan ini lagi. Sebaiknya kita akhiri saja.’
Enzo bahkan berkali-kali menghubungi ponsel kekasihnya itu, tapi tak kunjung ada jawaban. Ia gusar, sebelumnya
mereka bak-baik saja dan tak terlibat pertengkaran apapun. Dengan secepat kilat, Enzo keluar dari restoran yang sudah ia pesan menuju mobilnya, ia harus mendatangi apartemen Cecilia.
Enzo benar-benar kalut, ia mengendarai mobil dengan kecepatan yang tak manusiawi, bahkan mengabaikan panggilan sang adik di ponselnya. Ia harus menemui kekasihnya itu dan meminta penjelasan, pasti ada hal yang terjadi hingga Cecilia mengirim pesan seperti itu. Kemungkinan terburuknya, kekasihnya itu di culik oleh orang-orang yang memang tak menginginkan Enzo di posisinya sekarang ini.
Apartemen itu kosong, wanitanya tak di temukan di manapun. Lalu ponselnya kembali berbunyi, dengan cepat Enzo memeriksa pesan yang masuk, tapi yang ia baca bukan yang ia inginkan. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, hari sempurnanya berubah menjadi neraka, tak pernah ada yang di sebut sebagai hari yang benar-benar sempurna.
‘Allisa meninggal.’
Enzo bersimpuh di depan nisan adik satu-satunya, ia selalu merasa bersalah dengan kematian sang adik. Jika saja malam itu ia menjawab panggilan adiknya, semua ini tak akan terjadi, adiknya masih akan bersamanya saat ini. Jika saja ia tak seegois dulu dan juga memperhatikan sekelilingnya, seluruh hal memilukan ini tak akan terjadi.
Hari yang menjadi peringatan kematian sang adik selalu hujan, dan kadang Enzo sangat mensyukuri hal itu. Ia tak perlu untuk malu menunjukkan air matanya, air matanya akan luntur seiring dengan tetesan air hujan yang turun dengan deras.
**
“Enzo?” tanya Liliana dengan kaget. Ini sudah hampir pukul satu dini hari, dan pria ini berdiri di depan pintu apartemennya dengan pakaian yang kusut. Sepertinya pria ini berdiri di bawah guyuran hujan cukup lama, lalu tubuh basah itu mengering sendiri.
“Apa aku boleh masuk?”
Ini bukan Indonesia, ini Jerman, sebenarnya tak masalah sama sekali jika ingin menerima tamu jam berapapun, tergantung bagaimana sang tuan rumah sendiri bagaimana menyikapinya. Elang yang masih dalam gendongannya sudah cukup tenang, hujan cukup deras malam ini, lalu petir juga masih bersahut-sahutan di luar sana, mungkin ini yang membuat tidur Elang terganggu.
Liliana memberi jalan untuk Enzo masuk ke apartemennya, ia tak tahu apa yang sedang terjadi, yang jelas bukan hal baik mengingat kondisi pria ini yang cukup berantakan. “Kau bisa duduk dulu, aku akan menidurkan putraku dahulu,” ucap Liliana.
Tak ada jawaban dari Enzo, ia hanya duduk di sofa mungil itu dengan tenang. Entah apa yang ada di pikirannya ketika menghentikan mobilnya ke gedung apartemen ini, bahkan bertamu selarut ini. Bisa saja Enzo mengunjungi apartemen yang di tinggali Katherine, apartemen itu juga masih miliknya, tapi tangannya dengan lancang justru menekan tombol ‘5’ di lift.
“Apa ada sesuatu yang penting hingga mengunjungiku selarut ini?” tanya Liliana. ia keluar setelah memastikan Elang tidur dengan lelap lagi.
__ADS_1
“Aku ingin makan pasta buatanmu lagi,” jawab Enzo dengan lirih. Tatapan mata pria itu juga sangat sendu, tak ada tatapan tajam seperti biasanya, bahkan Liliana tak yakin kalau pria di hadapannya ini adalah Enzo.
“Selarut ini?”
“Aku akan memberitahu alasanku setelah menyantap pasta buatanmu, aku sangat lapar.”
Liliana menatap Enzo lagi dengan menyelidik, mereka tak sedekat ini untuk saling mengunjugi di waktu yang sangat larut ini. Liliana bahkan esok harus bekerja. Tapi, tanpa mengatakan apapun, Liliana segera bangkit dari duduknya dan menuju dapur. Ya, agar pria ini pulang ke rumahnya sendiri, Liliana harus menyelesaikan ini secepat mungkin.
Tiga puluh menit kemudian, pasta yang Liliana buat sudah matang, dan dengan inisiatif yang sangat tinggi, Enzo langsung menghampiri meja makan. Pria itu makan dalam diam, yang membuat Liliana semakin bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Hari ini adalah peringatan kematian adikku,” ucap Enzo lirih. Ia masih mengunyah pasta yang masih ada di dalam mulutnya.
Oke, masalah keluarga lagi. Sepertinya Enzo dan Katherine sangat nyaman untuk melampiaskan kekesalannya pada orang asing, apalagi jika itu menyangkut masalah keluarga. Terakhir kali Katherine juga mengatakan hal serupa yang berhubungan dengan sepupunya.
Liliana tak menyela ataupun mencoba mengucapkan kalimat penuh penghiburan, ia tak pernah berhasil melakukan itu untuk dirinya sendiri, lalu kenapa harus
mengatakannya juga pada orang lain? Ada beberapa jenis karakter seseorang, ia
hanya ingin di dengarkan tanpa di beri komentar, ada juga yang memang ingin di
tanggapi oleh lawan bicaranya.
“Lalu kenapa kemari?” tanya Liliana. Kantuknya bahkan sudah hilang sejak mulai memasak tadi.
“Aku juga ingin menanyakan itu untuk diriku sendiri, tindakanku kali ini benar-benar sangat impulsif.”
Ini lebih aneh. Bukankah di suasana seperti ini, orang-orang lebih menyukai untuk pulang ke rumah lalu menenangkan diri? Untuk Liliana hal itu sangat membantu, entah bagaimana orang lain mengurangi perasaan sedih itu.
“Tiba-tiba aku hanya ingin makan pasta buatanmu,” lanjut Enzo lagi.
Senyum tipis Enzo terbit di bibirnya, dan Liliana memperhatikan itu. Liliana sama sekali tak memiliki maksud untuk menggoda Enzo di suasana seperti ini, ataupun membuat lelucon. Kalimat itu tiba-tiba muncul di benaknya, dan Liliana hanya mengucapkan apa adanya.
“Aku tak mahir membuat seseorang merasa lega atau lebih baik, tapi kalau kau sudah bisa tersenyum seperti itu, artinya semua baik-baik saja.”
“Sepertinya kau memang harus membuka restoran pastamu, rasanya mampu membuat perasaanku lebih baik.” Kali ini Enzo menunjukkan senyum tulusnya, pasta di piringnya bahkan sudah bersih.
Entah kenapa Liliana tak merasakan canggung setelah kejadian terakhir kali ketika Enzo tiba-tiba mengakui perasaannya. Pria ini juga bertindak seolah tak ada hal penting yang terjadi, akan aneh jika Liliana menunjukkan yang sebaliknya. Tapi, apa itu penting untuk Liliana? Apa ia mulai menyukai Enzo?
Segala hal sepertinya tak perlu di kaitkan dengan hati, itu bisa bermakna banyak hal, dan Liliana tak ingin menjadi satu-satunya yang terlalu kegeeran dengan apa yang Enzo lakukan. Tapi, pria ini juga belum lama ini menyatakan perasaannya pada Liliana, jadi bagaimana bisa Liliana tak menganggap serius semua tindakan pria ini?
“Aku seharusnya melakukan makan malam bersama keluargaku, tapi aku tak bisa melakukannya untuk hari peringatan kematian adikku.”
“Lalu kau memutuskan untuk hujan-hujanan di luar sana?”
“Itu caraku meredakan rasa sedih, dan kebetulan memang selalu hujan ketika hari ini tiba,” ucap Enzo dengan getir.
Ucapan pria ini sangat berbeda dengan Enzo yang biasanya ia temui kemarin-kemarin. “Sebaiknya kau pulang, kau harus mengganti pakaianmu agar besok tak sakit. Kau sangat kacau.”
Enzo mengiyakan ucapan Liliana, ia bangkit dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruangan itu. Liliana tinggal di tempat itu sendirian lagi, kantuknya hilang seketika. Rasanya seperti mimpi, dan pria tadi cukup berbeda dengan sebelumnya. Tak ada apapun yang Liliana pikirkan secara khusus, walaupun pria tadi mungkin menyukainya, ia masih belum bisa berbuat apapun.
Liliana benar-benar tak ingin memikirkan apapun, semua itu benar-benar hanya menambah bebannya saja, tapi kadang pikiran seperti itu memang tak bisa di hindari.
**
Liliana baru ingat jika Enzo adalah tamu VIP yang akan mengunjungi tiap cabang NewYorker setiap enam bulan atau setahun sekali. Bukankah cabang NewYorker sendiri terbagi di berbagai wilayah, dan itu cukup banyak, kenapa sampai sekarang pria itu masih berkeliaran di Frankfurt? Apa karena pria itu akan memimpin tempat ini di kemudian hari?
__ADS_1
Apapun yang ada di pikiran Enzo saat ini, selalu membuat Liliana terusik, mungkin semenjak malam itu ketika Enzo mengunjuginya saat dini hari. Itu bukan sesuatu yang spesial, tak ada hati di antara mereka, Liliana bisa menjamin itu.
Karena pekerjaannya berakhir sedikit cepat dari biasanya, Liliana memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran yang tak jauh dari gedung apartemennya bersama putranya. Elang adalah bayi yang sangat tenang, ia rewel hanya ketika sedang lapar atau ingin bermain, atau bahkan ketika popoknya sudah tak nyaman. Selebihnya
ia sangat tenang.
Restoran tersebut cukup tenang dan bebas dari asap rokok, dan anehnya Liliana justru memesan pasta. Pasta benar-benar sudah menjadi makanan pokonya di Jerman, dan karena dia sedikit teringat pada Enzo. Sangat lucu karena memasan pasta karena mengingat pria itu.
“Oh, kau di sini juga?”
Liliana mendongak dan menemukan Katherine yang sudah berdiri di hadapannya. Ia sempat lupa kalau Katherine tinggal di unit apartemen yang hanya berbeda tiga lantai darinya. “Ya, sepertinya hanya ini restoran yang cukup ramah untuk putraku.”
Pandangan Katherine beralih pada bayi mungil yang sedang sibuk dengan mainan karet di tangannya. Pipinya sangat bulat dengan rambut yang tumbuh belum terlalu lebat, terkadang ia berteriak sendiri karena keasyikan dengan mainannya atau terlalu antusias. Katherine tertawa menatap pemandangan polo situ, ia belum pernah
sebahagia ini hanya dengan menatap anak bayi.
“Aku boleh duduk di sini? Atau kau menunggu orang lain?” pinta Katherine.
“Duduk saja.”
Katherine duduk dengan tenang dan mulai menatap manusia mungil yang sangat menggemaskan ini. Liliana menatap hal itu dengan senyum, jika Elang ada di sekitar dirinya, raut dingin di wajah Liliana akan melembut. Elang benar-benar membawa pengaruh positif untuk dirinya, ia sangat beruntung bisa melahirkan putra semenggemaskan
ini, rasanya hidup yang ia jalani sudah sangat sempurna, di kurangi dengan pria yang pernah ada di hidupnya.
“Menggemaskan, kan?” tanya Liliana dengan bangga.
“Sangat, siapa namanya?”
“Elang.”
“Tunggu, kenapa kau bisa seramah ini padaku? ketika sedang bekerja kau sangat dingin padaku,” ujar Katherine. Ia baru saja mengingat hal itu ketika Liliana dengan lembutnya membanggakan bayi mungil ini.
“Benarkah? Aku tak bermaksud seperti itu sebenarnya.” Liliana menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ya, ia bertindak semenyebalkan itu, padahal sebenarnya itu bukan hal besar.
Katherine menatap Liliana dengan penuh selidik, ia cukup menyukai wanita ini sebenarnya. Sifatnya sangat jujur, dan tentunya tak munafik seperti kebanyakan temannya yang lain di Berlin sana. Dan sepertinya tak masalah jika berteman dengan wanita ini.
“Anggap saja aku mengalami krisis kepercayaan, jadi aku tak mudah mempercayai orang lain.”
“Apa ini karena Enzo yang mengunjungimu saat dini hari ketika ia seharusnya berada di rumah?”
Liliana menatap Katherine dengan gugup, apa wanita ini melihat itu semua? Mereka memang tak melakukan apapun, tapi berkunjung tengah malam tetap saja sangat negatif, kan?
“Kami tidak memiliki hubungan apapun, kalau itu yang kamu khawatirkan,” ucap Liliana buru-buru.
Katherine tersenyum misterius, sepertinya ia bisa melakukan apapun hanya dengan berita yang tak sengaja ia lihat kemarin itu. Mungkin saja jika Liliana tak menyimpan perasaan apapun, tapi bagaimana dengan sepupunya itu.
“Ini pertama kalinya aku melihat kembali Enzo yang mengunjungi seorang wanita, dan aku sama sekali gak mempermasalahkan.”
“Ini sama sekali gak kayak yang kau pikirkan, aku hanya—“
“Ah, sangat menggemaskan,” potong Katherine. Ia memusatkan perhatiannya pada bayi kecil ini.
Liliana menghela napasnya, ia sudah menduga kalau wanita ini akan menjadi sangat menyebalkan. Lihatlah wajahnya itu yang sangat polos seolah tak ada apapun yang terjadi. Mungkin ini akan menjadi salah satu masalah barunya lagi.
**
__ADS_1