
Hai, maaf ya kalau bikin kalian nunggu lama lagi. Happy reading^^
P.S.
Herr, panggilan untuk pria (sama kayak tuan, bapak, di bahasa indonesianya)
Frau, panggilan untuk wanita (sama kayak mbak, ibu di bahasa indonesianya)
Satu tahun kemudian…
Frankfurt adalah kota terbesar kelima di Jerman dan merupakan kawasan metropolitan kedua terbesar di Jerman. Kota ini menjadi pusat keuangan dan pusat finansial terbesar di benua Eropa, dan merupakan kota yang sangat sibuk. Hidup dan bekerja di kota sibuk seperti itu tak pernah Liliana bayangkan sejak dulu.
Apalagi ini adalah negara yang belum pernah ia kunjungi sama sekali, ia hanya sangat menyukai Jerman hingga memutuskan untuk hidup di kota ini tanpa bekal apapun. Liliana sama sekali tak mengerti bahasa Jerman secara spesifik, yang ia ingat hanya beragam kalimat-kalimat pendek yang mudah di hafal. Walaupun sudah di hafal, ia juga kadang lupa bagaimana pengucapan kalimat tersebut.
Jerman adalah negara favorit Liliana sejak dulu, bukan termasuk dengan menetap dan bekerja tapi, mungkin hanya untuk sekedar liburan. Tapi yang terjadi justru ia sudah menetap di Jerman, bahkan sudah satu tahun lamanya ia berada di Jerman.
Berat tentu saja, dengan semua perbedaan yang ada, tapi Liliana harus melakukan ini untuk kelangsungan serta kesejahteraan hidupnya. Setelah semua permasalahan yang menimpanya di masa lalu, Liliana kembali meninggalkan semua itu. Tak ada satu orang pun yang menyadari kehidupan seperti apa yang baru saja ia lalui.
Liliana benar-benar menjadi orang yang baru di negara baru, tanpa keluarga, teman ataupun kenalan. Seperti kebanyakan kota-kota di Eropa, bangunan serta gedung-gedungnya masih terlihat seperti bangunnan lama, dan itu juga yang membuat Liliana tertarik tinggal di sana.
Liliana tinggal di salah satu komplek aparteman yang terletak di distrik Bankenviertel, yang merupakan distrik finansial dengan banyak gedung pencakar langit. Untungnya, tak lama setelah Liliana sampai di Jerman, ia langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah pusat perbelanjaan Zeil.
Jika kalian membayangkan kalau Liliana akan mendapatkan pekerjaan bagus seperti ketika ia dulu di Indonesia, maka kalian salah besar. Jerman dan Indonesia, semuanya berbeda, karena hal itu Liliana kembali memulai semuanya dari awal lagi. Menjadi pramuniaga juga tak terlalu buruk, gaji yang selama ini ia terima sangat cukup untuk menghidupi ia dan bayinya.
Satu tahun berlalu, Liliana sudah menjadi seorang Ibu sejak tujuh bulan yang lalu. Elang Rahagi Leena. Walaupun sudah bercerai, Liliana tetap ingin menggunakan nama suaminya pada nama anaknya. Mereka berakhir dengan baik, setidaknya itu menurut Liliana, masalah yang mereka lalui sangat pelik dan tak akan berakhir. Tapi, semoga dengan pelariannya kali ini, Liliana mampu bangkit kembali.
“Iya, Bu. Lili baik-baik aja, ini si Elang lagi tidur. Ibu gak perlu khawatir sama Lili, semuanya bener-bener baik di sini, Bu,” ucap Liliana menenangkan.
Ketika Liliana mengatakan keputusannya pada Ibu dan Bapak, keduanya sangat menentang dan tak setuju. Bahkan sang Ibu masih mencoba untuk membujuk Liliana untuk tak bercerai, karena keadaan Lili yang sedang hamil, dan juga semua yang terjadi pasti masih bisa di selesaikan tanpa harus bercerai.
“Ibu masih belum rela kamu tinggal di negara orang sendirian, kamu gak harus ada di sana. Kamu sudah bisa pulang, Nak. Ibu juga mau ketemu cucu Ibu,”bujuk Ibu.
Bukan pertama kalinya sang Ibu membujuk Liliana seperti ini, mungkin ini adalah keseribu kalinya. Tapi, Liliana sangat keukeuh dengan keputusannya. Luka yang ia terima masih sangat membekas, walau tak ada jaminan semuanya akan kembali seperti semula jika ia lari sampai ke ujung dunia pun, tapi ia tetap belum ingin kembali.
Liliana melengkungkan bibirnya walau sang Ibu tak bisa melihat itu semua. “Lili pasti pulang, Bu, kasih Lili waktu sedikit lagi, ya?”
Obrolan dengan sang Ibu selalu membuat Liliana emosional, tak semuanya ia ceritakan dengan lengkap. Perselingkuhan Dimitri tak ia ceritakan pada kedua orang tuanya, cukup Liliana saja yang membenci pria itu, Liliana tak ingin orang tuanya melakukan hal yang sama.
Liliana menatap putra kecilnya yang sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Setidaknya ia memiliki semangat baru dari bayi mungilnya yang sangat lucu ini. Ketika ia sangat lelah, hanya dengan menatap Elang, semua perasaan itu langsung menguap. Yang membuat Liliana sedih adalah, mata putra kecilnya yang masih mengingatkannya pada Dimitri, selebihnya raut wajah sang putra sangat menyerupainya.
Saat ini, ia ingin memulai kehidupan barunya dimana tak ada satupun orang yang akan mengenalinya.
**
Liliana kembali memulai aktifitas paginya seperti biasa, ia selalu menitipkan Elang di tempat penitipan anak yang juga merupakan salah satu fasilitas yang tersedia di gedung apartemen tersebut. Ia akan mengambil sang putra ketika jam kerjanya sudah habis, tapi kenyataannya, Liliana bisa menghabiskan hampir satu harinya di tempatnya bekerja.
__ADS_1
Ia harus bekerja keras untuk membiayai segala hal untuk kebutuhannya dan juga putranya. Ini sudah menjadi pilihan hidup yang ia ambil ketika memutuskan datang dan tinggal di negara orang ini. Sangat menyusahkan sebenarnya, kenapa tak tinggal bersama orang tuanya saja agar segalanya lebih mudah?
Pernah untuk sekali hal itu terpikirkan oleh Liliana, tapi setelahnya hal itu langsung hilang di benaknya. Untuk menghilangkan perasaan di hati yang masih saja ia miliki untuk mantan suaminya, ia harus pergi sejauh ini. Jika masih bernapas di udara yang sama, ia tak akan sembuh, hanya rasa sakit yang semakin bertambah, dan itu sangat tak baik untuknya.
Semua orang punya caranya sendiri untuk menyembuhkan diri dari luka, dan ini salah satu cara yang di miliki Liliana. Jadi, tak perlu mempertanyakan lagi kenapa ia melakukan hal-hal menyulitkan seperti sekarang ini.
“Guten Morgen, Frau,” sapa Liliana pada wanita yang merupakan senior pramuniaga di sana.
“Liliana.” Florence mengangggukkan kepalanya pada Liliana yang baru saja datang.
Pusat perbelanjaan Zeil mulai buka pada pukul sepuluh pagi. Liliana bekerja di salah satu toko dengan brand NewYorker yang ada di kawasan Zeil. Zeil merupakan salah satu yang teramai di Jerman, dan hingga toko itu tutup, pengunjung selalu ramai. Terkadang Liliana juga harus lembur karena ramainya toko tersebut.
“Bagaimana harimu? Lebih baik dari kemarin?” tanya Florence lagi.
Kemarin Elang mendadak rewel hingga membuat konsentrasi Liliana dalam bekerja buyar. Ia bahkan harus rela mendapat potongan gaji karena harus pulang lebih awal. Kemarin sedikit berat untuk Liliana jalani, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Liliana juga tak bisa berlama-lama larut dalam kesedihan, ia harus kuat untuk dirinya sendiri dan juga putranya.
“Sudah lebih baik dari kemarin, Frau. Semoga hari ini Elang tak rewel.” Liliana tersenyum pada Florence sebelum mulai bersiap-siap untuk membuka toko.
Bahasa Jerman Liliana masih sangat jauh di bawah kata lancar. Bahkan sebelum memutuskan untuk datang ke Jerman, ia sudah mempelajari dasarnya terlebih dahulu, jika hanya mendengarkan, ia bisa mengerti sedikit demi sedikit. Dan ia menantang dirinya sendiri dengan bekerja sebagai pramuniaga yang mengharuskan ia berhadapan langsung dengan pelanggan dan menjelaskan segalanya.
Untuk shift pagi sendiri, hanya ada dua orang karyawan yang bekerja, lalu untuk shift sore ada tiga orang yang akan menggantikan. NewYorker adalah produk brand pakaian milik Jerman dan sangat terkenal, di Jerman sendiri toko cabang NewYorker sendiri berjumlah dua ratus delapan puluh lima, di tambah di empa puluh negara lainnya.
“Kudengar siang ini kita sudah memiliki janji dengan Herr Gioto, dia salah satu pelanggan VIP kita, jadi pastikan untuk tak membuat kesalahan,” ucap Florence.
Liliana hanya menganggukkan kepalanya, ia akan fokus kali ini, demi putranya. “Oh, dan kudengar dia juga masih memiliki keturunan Indonesia,” lanjut Florence lagi.
“Ya. Sebenarnya dia merupakan sepupu dari pemilik toko ini, ia rutin mengunjungi toko ini setiap enam bulan atau satu tahun sekali. Dia sedikit dingin, dan jarang menampilkan senyumnya, jika berhadapan dengannya, kuharap kau sudah kuat mental.”
Ucapan Florence tadi berhasil membuat bulu kuduk Liliana berdiri, separah itukah? Tapi toh, Liliana sudah menghadapi yang terburuk juga, jadi sepertinya ini bukan masalah lagi. Ia akan pastikan kalau ia akan menjagga sikap.
Beranjak siang, toko mulai ramai. Baik Liliana maupun Florence juga mulai sibuk melayani pelanggan. Karena pakaian yang di jual di sana di tujukan untuk usia 12-39 tahun, kebanyakan yang mampir di sana adalah anak-anak muda ataupun orang tua bersama anaknya. Walaupun tak terlalu mengikuti perkembangan mode, tapi setidaknya Liliana sedikit banyak mengerti tentang keinginan anak-anak muda saat ini.
Seorang pria memasuki toko tersebut dengan kacamata hitam yang masih bertengger di wajahnya. Ia hanya mengenakan kaos polo berwarna abu-abu dan juga celana kain berwarna hitam yang membungkus kaki panjangnya dengan sangat pas. Tak ada yang menyambutnya karena ia melihat keadaan toko yang cukup ramai.
Kedua pramuniaga sedang sibuk melayani tamu yang ingin di jelaskan tentang pakaian pilihan mereka. Bagaimanapun juga, seharusnya kedua pramuniaga itu sedikit saja memiliki inisiatif untuk menyambutnya. Biasanya juga seperti itu.
Pria itu memutuskan untuk duduk di salah satu sofa yang di sediakan dengan gaya angkuhnya. Ia tak percaya bahwa ia di abaikan begitu saja oleh kedua pramuniaga itu. Florence yang pertama kali menyadari kehadiran pria itu setelah pelanggannya pergi.
“Selamat siang, Herr—“
“Sepertinya aku datang di saat yang kurang tepat, kalian terlihat sangat sibuk,” potong pria itu dengan dingin.
Liliana yang baru saja menyelesaikan belanjaan salah satu pelanggan, fokusnya langsung berganti pada Florence dan seorang pria. Ia terlihat sedikit penasaran dengan pria itu, apa pria itu yang di maksud sebagai tamu VIP di sini?
“Aku ingin wanita itu yang mendampingiku hari ini.”
**
Ternyata benar kalau pria itu adalah Herr Gioto yang di maksud Florence tadi, tamu VIP yang juga merupakan sepupu dari pemilik toko ini, dan pria ini memang sangat dingin sama seperti yang Florence bilang juga. Dan Liliana juga harus tahan untuk mengikuti kemanapun pria itu mengelilingi toko yang memiliki dua lantai ini.
__ADS_1
Mungkin saja, pria ini tahu kalau Liliana adalah wajah baru di toko ini, karenanya ia mencoba untuk mengerjai Liliana. Nama lengkap pria ini adalah Enzo Ferdinand Gioto, Ibunya adalah orang Indonesia asli, sedangkan sang Ayah adalah salah satu pengusaha sukses di Jerman. Wajahnya sangat khas, dengan rahang yang tegas.
Semua wanita yang bertemu dengannya sudah pasti akan berteriak penuh antusias, karena wajahnya dan juga sifat dingin yang sepertinya sudah mendarah daging dalam diri pria itu.
“Sudah berapa lama kau bekerja di sini?” tanya Enzo. Pria itu sedang melihat-lihat koleksi jaket kulit.
“Sudah memasuki bulan ketujuh, Herr.”
Jika dulu di Jakarta, Liliana adalah wanita yang cukup berkuasa karena memiliki bawahan, kali ini ia yang menjadi bawahan dan harus menunduk sopan pada setiap pelanggan yang ia jumpai. Tak masalah sebenarnya, hanya saja, perbedaan tersebut cukup mencolok. Liliana juga sama sekali tak keberatan dengan hal itu.
“Kenapa jauh-jauh datang dari Indonesia ke Jerman?”
Liliana mendongak dengan kaget, menatap Enzo di hadapannya yang juga sedang menatapnya. Tak mungkin jika pria ini mengenalnya, kan?
“Aku juga memiliki darah Indonesia, jadi aku bisa tahu dari wajah Asiamu itu,” ucap Enzo, seolah menjawab kekagetan di wajah Liliana.
“Ah, saya memang berencana tinggal di Jerman, tapi baru kali ini saya memiliki kesempatan itu,” jawab Liliana dengan tenang.
Jika ada orang lain yang membahas tentang alasannya datang ke Jerman, entah kenapa rasa tak aman itu langsung menghantuinya. Memang benar dengan kenangan buruk yang masih mengikutinya bahkan ketika ia sudah berada jauh dari sumber rasa sakit itu sendiri.
“Bagaimana menurutmu?” Enzo menunjukkan salah satu jaket kulit berwarna hitam pada Liliana.
Liliana mencoba fokus lagi pada pakaian yang di tunjukkan oleh pria ini. “Sangat cocok untuk anda, Herr,” ucap Liliana sesopan mungkin. Ia tak ingin mengorbankan kariernya dengan melakukan hal bodoh.
Walaupun lapangan pekerjaan di Jerman bisa di cari lagi, gaji yang ia terima di toko ini cukup besar, dan mampu membiayai kebutuhannya dan sang putra. Jika ia harus berhenti, itu artinya ia harus mengulangi semuanya dari awal lagi, dan itu pastinya akan memakan waktu yang lama.
“Kita sama-sama memiliki darah yang sama, kau bisa santai padaku.”
Liliana hanya membungkukkan kepalanya dengan tersenyum. Menurut Liliana pun, pria ini sangat tampan, tapi ia tak memiliki banyak waktu untuk mengagumi ketampanan seseorang. Waktunya lebih berharga untuk di habiskan karena hal itu.
“Baiklah, aku akan ambil yang ini.” Enzo menatap Liliana yang masih tersenyum padanya. Bukan senyum nakal yang biasanya selalu di berikan pramuniaga lain, hanya senyum formal antara pelanggan.
Cukup mengejutkan sebenarnya, apakah kepopuleran Enzo belum mampu mempengarui wanita di hadapannya ini? “Kau punya pacar?” tanya Enzo.
Liliana sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Pria ini adalah yang pertama kali menanyakan hal ini. “Tidak, Herr.”
“Kau sudah menikah?”
“Ah, tidak…”
“Bagus kalau begitu.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Enzo segera berlalu dari hadapan Liliana dengan raut wajah yang masih dingin. Liliana sama sekali tak mengerti dengan inti pertanyaan dari pria tadi. Itu bukan pertanyaan yang bisa di sampaikan kepada pramuniaga toko kecuali ada hal lain yang di inginkan pria itu.
Dari semua kemungkinan yang ada, apapun yang sedang Liliana pikirkan sangat tak mungkin. Pria itu menanyakan pertanyaan tadi dengan raut wajah yang dingin, jadi bagaimana menjelaskan jika pria itu menyukai Liliana. Dan juga, ini pertama kalinya mereka bertemu. Mungkin pria itu hanya ingin memastika data pribadi dari karyawan yang di pekerjakan, ingat jika pria itu adalah sepupu pemilik toko ini.
Liliana segera melupakan apapun yang di ucapkan pria itu, ia melanjutkan pekerjaannya. Tak ada waktu untuk memikirkan kalimat ambigu pria itu, ia juga tak semudah itu untuk terpengaruh pada hal-hal kecil seperti itu.
**
__ADS_1