Playboy

Playboy
#2# Take 44


__ADS_3

Sebelum kalian baca ini, aku mau minta maaf dulu, aku cukup sering nemuin komenan tentang seberapa kejamnya kisah di sini, bahkan ceritanya mirip banget sama yang sering mereka alamin. Aku gak tahu kemiripannya seberapa banyak, tapi aku gak bermaksud buat nyakitin kalian dengan nulis cerita kayak gini. Bukan over pede, tapi kadang ada yang ngerasa sakit lagi setelah baca kisah yang mirip sama yang mereka alami. Jadi kalau kalian ngerasa aku terlalu kejam nulis ini, kalian cukup berhenti baca gak papa kok, jangan di paksain banget, dan buat kalian yang masih lanjut baca, aku berterima kasih banget. Ini udah mau ending kok, sabar aja nunggunya sebentar lagi ya.


Segitu dulu aja ceramahnya. Untuk part ini, kalau kalian nemu bahasa yang cukup kasar di sini, mohon di maklumi karena kisah ini juga isinya orang-orang dewasa semua. Kalian bisa lewatin kalau memang gak berkenan untuk di baca. Happy reading!



“Bapaknya Kate minta anaknya di nikahin,” ucap Richard di hadapan ketiga teman kumpul bersamanya.


Sudah tak terhitung berapa lama mereka tak berkumpul bersama seperti ini, karena kesibukan masing-masing dan berbagai hal yang mereka lalui selama ini. Pertemuan di ujung minggu seperti ini memang selalu menjadi pelipur lara untuk mereka semua. Usia yang semakin bertambah, masalah yang datang silih berganti, berbagai tugas serta pekerjaan yang menunggu mereka, membuat mereka selalu bisa menghargai pertemuan kecil seperti ini.


Ketika semakin dewasa, bukan tentang seberapa lama seorang sahabat atau teman ada di sisi kita, tapi tentang siapa yang ada bersama mereka hingga akhir.


“Ya tinggal nikahin, kan? Kamu kerjaan udah mapan, buat cucu kamu sampe tujuh turunan juga masih ada harta kamu. Apalagi yang mau di tunggu?” jawab Nabila.


“Untung Kate orang Jerman, bayangin kalau dia orang Indonesia yang orang tuanya masih kolot, udah pasti gak ada tuh, yang namanya kalian di kasih nginep bareng di hotel atau apartemen masing-masing.” Dimitri tak mau kalah untuk mengomentari sahabatnya ini.


Liliana menatap Dimitri dengan raut wajah aneh, ini seperti mengingatkan kisah mereka dulu sebelum saling mengungkapkan perasaan hingga menikah seperti sekarang. Ya, maksudnya, Dimitri seperti mengisahkan ulang kisah mereka yang terdengar sangat asing di telinga Liliana. Bahkan pada zaman seperti ini, bukan hanya pasangan seusia mereka yang melakukan **** bebas, dan bukan hanya mereka yang tinggal di Eropa sana.


“Kayak gak asing gitu, ya, ceritanya,” timpal Nabila dengan senyum jenakanya.


“Mikir positif aja, Chad, semua memang selalu di awali dengan ****,” jawab Liliana.


“Eh, aku gak gitu, ya. Aku gak pernah kayak kalian yang ngelakuin hal terlarang itu sebelum nikah.”


Semua mata tertuju pada Nabila. Ya, Reno dan Nabila dulu memang tak melakukan **** sebelum pernikahan, berterima kasihlah pada Reno yang dulu sangat polos dan suci.


“Tapi kalian makeout juga. Sama aja, Bil.” Liliana menanggapi.


“Gak sampe ke inti, Li.”


“Oke, ladies, obrolan dewasanya di tunda dulu. Gak baik ngomongin kayak gitu di acara kumpul-kumpul kayak gini, kasian Nabila yang gak ada gandengan sekarang,” lerai Richard.


“Hubungannya apa, Richard?” protes Nabila tak terima.


“Jelas, kan? Gimana kalau sampai—“


“Oke, oke, gak usah di terusin. Mentang-mentang abis pulang liburan sama pacar otaknya langsung berdebu. Nikahin, gih, putus lagi baru tahu.”


“Astaga, Bil, omongannya. Coba do’ain yang baik-baik aja, kemusuhan banget, sih.”


Dan lagi, Dimitri dan Liliana hanya menjadi penonton untuk pertengkaran tak berujung kedua orang di hadapannya ini. Pertemuan mereka benar-benar tak lengkap tanpa adu mulut keduanya, mereka memang harus di pertemukan untuk memeriahkan suasana. Tak perlu takut akan terjadi pertumpahan darah, karena mereka memang hanya akan adu mulut seperti ini saja hingga selesai.


“Ati-ati, Chad. Do’a orang teraniaya selalu di kabulin.” Dimitri menambahkan yang langsung mendapatkan lemparan kentang goreng dari Richard.


“Memang Kate belum mau nikah?” tanya Liliana. Kali ini ia bertanya dengan serius.


Richard hanya mengangkat bahunya, ia juga tak tahu karena ia belum ingin membahas masalah ini lagi. Semuanya akan berakhir dengan buruk jika pembicaraan tentang pernikahan di antara mereka masih berlanjut. Ia sudah sangat terlanjur mencintai Kate, dan jika hubungan mereka berakhir lagi, entah Richard akan berakhir seperti apa kali ini.


“Aku belum ngomongin lagi. Ngeri banget kalo sampe kami putus lagi gara-gara di paksa nikah sama bapaknya.”


“Mungkin Kate antisipasi kali, ya. Kamu terkenal sebagai pengusaha yang suka tebar pesona sana sini, jadi mungkin dia takut pernikahan kalian bubar,” sahut Nabila.


Kadang kegagalan memang selalu membuat seseorang mengalami trauma hingga tak ingin kembali ke fase itu lagi dan mencoba hal yang sama. Apalagi jika kegagalan itu adalah yang terburuk. Tak semua mantan bisa di lupakan begitu saja, kan? Pasti ada salah satunya yang meninggalkan luka paling dalam.


“Kamu kayak gitu?” tanya Dimitri pada Nabila.


Mereka semua menantikan jawaban apa yang di keluarkan Nabila. Mereka semua tahu jika Nabila adalah wanita yang sangat dewasa dan juga bijak, terlepas dari sifatnya yang blak-blakan dan juga spontan.

__ADS_1


“Ya, kalo ada pria kaya yang dateng ngelamar, aku gak nolak juga, sih.”


“Jangan nanya yang serius kayak gini ke Nabila, deh, jawabannya ngeselin.”


Nabila tertawa mendengar ucapan Richard. Berkat ketiga orang temannya ini, minggu Nabila terasa lebih ringan. Walaupun masih ada hari senin yang menjadi momok untuk setiap orang, ia bisa sedikit rileks berkat teman-temannya ini. Persahabatan memang sepenting itu untuk Nabila.


“Nabila gak salah, kok. Uang memang penting kali, biar seimbang sama cinta,” bela Liliana.


“Wanita selalu bener, Chad. Jangan di bantah.” Dimitri sudah memotong kalimat apapun yang akan keluar dari bibir Richard. Menghindari adu mulut lainnya adalah yang terbaik, tak mungkin mereka hanya saling adu mulut sepanjang malam, kan?


“Memang Juna kurang kaya?” tanya Richard.


“Kurang umur kalo Juna.”


“Aku cuman bisa do’ain yang terbaik buat calon kamu di masa depan nanti, Bil. Semoga dia bisa tahan sama sifat nyebelin kamu ini.” Richard menepuk-nepuk bahu Nabila dengan prihatin, mencoba untuk terlihat meyakinkan dengan semua ekspresi yang ia keluarkan.


**


Setelah kejadian Reni pingsan di acara pesta itu, Reno kini menjadi pria yang mulai memberikan perhatian pada istrinya itu. Bukan jenis perhatian yang berlebihan, karena ia juga sangat tahu bahwa Reni tak akan menerima itu. Sebenarnya, hingga kini, Reno masih tak mengerti dengan maksud dari pernikahan yang mereka jalani saat ini. Reni jelas tak menginginkannya hanya untuk dirinya sendiri, mereka sudah bersahabat cukup lama.


Dari tingkah laku wanita itu yang kini menolak dengan keras kehadirannya juga sudah bisa menunjukkan dengan jelas apa yang di inginkan wanita itu. Ia jelas tak ingin memulai hubungan romansa dengan Reno.


“Bagaimana dengan perceraian?” tanya Reni. Ia menyerahkan amplop coklat itu di hadapan Reno.


Reni tak memiliki banyak kegiatan setelah di pecat dari rumah sakit, ia hanya mengunjungi perusahaan ayahnya untu belajar seperti yang di inginkan kedua orang tuanya, lalu mungkin hanya sekedar jalan-jalan di mal seharian. Ia tak memiliki teman, sudah di katakan ribuan kali jika sahabatnya hanya Reno saja, dan itu kenyataan yang sebenarnya.


Lalu, tanpa pemberitahuan sejak dulu, Reno tiba-tiba muncul di lobi kantor untuk menjemputnya. Hal yang bahkan tak pernah terbayangkan akan terjadi oleh Reni. Bahkan hanya untuk pesta kemarin, ia harus memaksa pria itu untuk datang, lalu kini pria itu dengan sukarela menjemputnya hingga kantor. Bagian pencitraan mana yang sedang di jalankan oleh Reno?


“Apa maksudmu dengan perceraian?”


“Apa aku harus menjelaskan lagi ketika kamu sudah pernah mengalaminya?”


“Kamu yang sejak dulu meributkan masalah ini, aku hanya ingin memberi solusi terbaiknya. Ini yang kamu inginkan, kan?”


Reni masih memasang wajah datar tanpa ekspresinya. Ia yang memulai semua kekacauan ini, jadi ia juga yang akan membereskannya, ia pastikan tak akan ada kesalahan dan juga jejak untuk media mengendus.


“Kamu pikir pernikahan itu hanya sebuah permainan yang bisa kamu hentikan seenaknya? Apa yang kamu rencanakan sebenarnya?”


Reaksi seperti ini adalah reaksi yang sudah Reni  duga. Keputusan ini bukannya ia ambil dengan gegabah atau ia mendadak ingin bertaubat dengan smeua tingkah lakunya dahulu. Ya, bertaubat memang sangat penting, tapi Reni sedang dalam posisi tak ingin melemparkan candaan yang lucu.


“Aku minta maaf sudah membawamu dalam masalah keluargaku, tapi sebaiknya memang kita harus bercerai. Kamu juga sangat menginginkan hal ini.”


Reno terdiam, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya ini. Ia memang menginginkan perceraian ini terjadi, tapi tidak sekarang, setidaknya beri sedikit waktu untuknya mengerti Reni dan membantunya keluar dari masalah yang sedang menjeratnya.


“Jangan bilang kamu mulai mencintaiku?” tanya Reni tiba-tiba.


“Mungkin itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan.”


Reni menunjukkan seringainya. Jawaban menyakitkan seperti itu sudah sering ia terima, tapi ketika Reno mengungkapkan sendiri kalimat itu, rasanya berkali-kali lebih menyakitkan. Ia memang tak pantas untuk


di cintai oleh siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Bagaimana ia bisa hidup dengan sangat menyedihkan seperti ini?


“Tandatangani saja, jika sudah selesai segera kabari aku agar berkas kita lebih cepat masuk ke pengadilan. Pernikahan ini sudah sangat menyiksamu, kan?”


Seharusnya ia bahagia, seharusnya Reno tersenyum dengan sangat lebar dan berterima kasih pada Reni yang akhirnya mengabulkan keinginannya itu. Tapi anehnya ia justru merasakan perasaan yang sebaliknya. Perceraian


ini bisa langsung di urus dan akan langsung selesai jika ia menandatangi berkas itu.

__ADS_1


“Apa semuanya semudah ini untukmu? Kamu pikir pernikahan dan juga perceraian adalah hal yang semudah ini?”


“Kamu yang meminta perceraian ini, dan aku hanya mengabulkan permintaanmu itu. Kenapa membuatnya sulit?”


Ya, kenapa Reno harus membuatnya sulit. Hanya tandatangani surat itu dan ia terbebas dari Reni. Ia juga bisa memikirkan untuk kembali lagi pada Nabila, serta menghabiskan banyak waktu dengan anak-anaknya. Apa yang sulit dari sebuah tanda tangan?


“Aku yang memutuskan apa yang ingin kulakukan.”


Reno berdiri dari kursinya, dan berlalu pergi dari hadapan Reni, masih ada yang harus ia lakukan sebelum ia menandatangani surat itu.


**


Siang itu, Elle berakhir di apartemen Enzo setelah kejadian tangisan di kantor Enzo juga. Tangisan pertama yang ia tunjukkan pada orang lain selain dinding kamarnya, sangat memalukan untuknya tapi ia juga tak bisa menahannya. Bahkan hingga malam larut, Enzo sama sekali tak berniat untuk membawanya pulang.


“Sampai kapan kau akan menahanku di sini?” tanya Elle. Sedari tadi ia hanya berbaring di ranjang luas milik Enzo, dengan pria itu yang tengah sibuk dengan laptop di depan ranjang.


Pada intinya, pria itu mengawasinya tidur sejak tadi. Elle sangat menyadarinya, karena itu ia memilih pura-pura tidur di banding menghadapi wajah tampan itu.


“Lalu kenapa kau pura-pura tidur? Kau sepertinya sangat nyaman berada di sini.”


Enzo sama sekali tak menatap Elle, ia masih tetap fokus pada pekerjaannya. Tapi senyum jenaka itu tak pernah absen dari bibirnya. Jika ia tak salah ingat, Elle adalah wanita pertama yang ada di apartemennya selain Kate. Entah kenapa ia bisa memiliki ide untuk membawa wanita ini ke apartemennya, insting mempertahankan mungkin? Karena jika Enzo mengantar Elle menuju apartemennya sendiri, bukan tak mungkin Brian akan menemui wanita ini


dan entah apa yang akan mereka lakukan.


Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan.


“Kau mengawasiku sejak tadi, dan aku merasa tak nyaman,” ucap Elle.


Elle melarikan tatapannya pada jendela besar di kamar Enzo yang menampilkan langit kelam Frankfurt dengan taburan bintang di atasnya serta bulan sebagai pemanis, dan jangan lupakan gemerlap lampu gedung pencakar langit di sekitarnya. Sangat indah sekali, berbanding terbalik dengan realita hidup yang di jalani salah satu warganya di sini.


“Apa Brian selalu melakukan ini padamu?”


Fokus Enzo kini sudah berada pada wanita yang tatapannya tenggelam pada langit malam. Jika di tanya sejak kapan perasaan itu hadir pada Enzo, tak ada jawaban yang lebih pasti selain ia sudah terbiasa dengan kehadiran Elle yang sangat dingin tapi juga diam-diam cukup perhatian. Cinta bisa muncul karena terbiasa, dan perasaan nyaman yang di hadirkan, karena jika masalah cantik dan fisik, Enzo tak perlu menjelaskan lagi.


“Sejak kapan kau mulai mengetahui semuanya?” tanya Elle. Rahasia terbesarnya sudah terbuka dengan sangat lebar di hadapan orang lain.


“Itu pengetahuan dasar untuk semua karyawanku, hanya untuk berjaga-jaga jika mereka menipuku.


Elle menggenggam erat seprai lembut ranjang itu. Ia sudah terlalu emosional hari ini, dan semakin ia mendengar penjelasan Enzo, semakin besar gelombang air mata yang mendesak untuk keluar. Tapi kali ini akan ia tahan, sudah cukup ia menunjukkan dirinya yang sebenarnya di hadapan pria ini.


“Sepertinya aku harus pulang.” Ia bangkit dari ranjangnya dengan tatapan Enzo yang tak lepas darinya.


“Aku tak mengizinkan.” Enzo juga bangkit dari duduknya dan menghadang Elle yang akan berjalan keluar dari kamar ini.


Keduanya kembali saling bertatapan. Ada jarak yang memisahkan keduanya, Enzo sengaja melakukan itu. Ia ingin wanita itu memiliki ruang untuknya sendiri, walau sebenarnya Enzo sangat ingin menghapus jarak itu dan membawa Elle kepada dirinya. Ia butuh wanita itu untuk selalu dekat dengannya agar ia bisa memastikan jika semuanya baik-baik saja.


“Aku tak butuh izinmu.”


Tapi ada satu hal yang Enzo lupakan, wanita ini sangat keras kepala. Memang seharusnya Elle menemukan pria yang bisa sedikit lembut untuk mengimbangi sikapnya, karena Enzo bisa lebih keras kepala dari wanita ini.


Pada akhirnya, Enzo tetap menghapus jarak itu. Dengan Elle, ia harus menghapus jarak itu agar tetap bisa mempertahankannya. Ia menyatukan keningnya, memastikan tak ada sedikitpun jarak di antara mereka.


“Tinggallah di sini,” bisik Enzo di depan wajah Elle.


“Kenapa?” Tenggorokan Elle tercekat, jarak mereka terlalu dekat dan ia takut akan semakin jatuh pada pria ini.


“Aku membutuhkanmu.”

__ADS_1


**


__ADS_2