Playboy

Playboy
#21. Residue


__ADS_3

Mungkin part ini bakal agak membosankan, mungkin kalian bisa skip di beberapa bagian kalo ngerasa gak enak di baca, dan bakal banyak typo, maafin ya :) Happy reading



Percayalah jika di katakan perpisahan bukan akhir dari segalanya, tak ada yang bisa mendahului takdir sang pencipta. Jika kita memang di takdirkan untuk bertemu dengan orang baru, maka kenangan di masa lalu hanyalah kenangan, sekuat apapun kita mencoba untuk membuatnya tetap di pikiran kita. Begitupun sebaliknya, jadi tak perlu takut dengan akhir yang akan terjadi.


Setiap kisah memang selalu memiliki akhir, entah itu bahagia, atau akhir yang penuh dengan teka teki. Tak ada yang tahu, hanya jalani saja apa yang ada, yakinlah semua akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu, kebahagiaan dan juga kesedihan, kita yang memilih semuanya.


Liliana sudah memutuskan untuk tak melanjutkan pekerjaannya di NewYorker, ia butuh suasana baru, karenanya ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai karyawan di sebuah kantor keuangan. Ia berhasil masuk lolos berkat bantuan salah satu rekan yang ia kenal di kantor Kedutaan, sebelum ia memulai bekerja, Liliana memutuskan untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama sang putra.


Belum banyak kota di Jerman yang Liliana kunjungi selama ia menetap di Frankfurt, dan juga, ia ingin menenangkan hati dan juga pikirannya sebelum mengawali hari-hari yang akan datang.  Hanya satu minggu,


setidaknya itu cukup untuk setidaknya mengobati perih di hatinya.


Mungkin akan jadi perjalanan yang panjang karena Liliana memutuskan untuk pergi ke Berlin. Ya, liburan sejenak sebelum menghadapi aktifitas yang padat mungkin bisa merelaksasi pikirannya, ia juga ingin sedikit meluangkan waktu bersama putra tercintanya. Ia merasa gagal menjadi Ibu karena belum bisa melakukan yang terbaik pada sang putra.


Berlin Zoological Garden adalah kebu binatang tertua dan yang paling terkenal di Berlin, yang di buka pada tahun


1844. Kebun binatang ini adalah yang paling sering di kunjungi di Eropa dan salah satu yang terpopuler di seluruh dunia. Di antara banyaknya lokasi wisata\, Liliana memilih kebun binatang ini\, karena ini adalah lokasi yang bagus untuk liburan anak-anak\, ya walaupun Elang masih cukup kecil untuk mengetahui semua itu.


“Apakah kau turis?” tanya seorang wanita. Liliana sedang melihat rusa yang berkelompok dan sedang memakan rumput yang di berikan oleh penjaga, ketika seorang wanita tak di kenal menyapanya.


“Ya, apakah kita saling mengenal?” tanya Liliana.


“Ah, tidak, hanya saja wajahmu terlihat sangat Asia.”


“Benarkah? Aku dari Indonesia.” Liliana menawarkan tangannya untuk berjabat tangan pada wanita di sampingnya ini.


“Pantas saja. Aku Vivian, kita sesama turis, tapi aku dari Amerika.”


Pantas saja Liliana merasa tak ada logat Jerman ataupun Eropa ketika wanita di sampingnya ini berbicara. Satu tahun tinggal di Frankfurt, membuat Liliana sedikit mengerti dan memahami logat penduduk lokal maupun pengunjung asing yang juga berasal dari Eropa.


“Aku berlibur seorang diri di sini, apa kau tak keberatan jika aku bergabung denganmu?”


Liliana tak semudah itu untuk mempercayai orang asing, di negara manapun atau daerah manapun, kita pasti melakukan hal yang sama. Bagaimana jika orang itu memiliki niat jahat terhadap kita? Tak semuanya seperti itu, hanya saja, waspada lebih baik di banding lengah.


“Ya, tak masalah, akan sangat menyenangkan jika aku memiliki teman berbincang.” Liliana tersenyum dengan ramah, ia tak mungkin memberikan kesan buruk atau menunjukkan pada orang ini jika Liliana bersikap waspada.


“Apa kalian hanya berdua saja? Suamimu tak ikut dalam perjalanan ini?”


“Ah, itu… Aku sudah bercerai,” ucap Liliana lirih.


Vivian menyadari suasana yang sedikit berubah karena pertanyaan spontan yang ia lontarkan. “Aku minta maaf, aku juga sudah cukup lama menjanda. Kau tahu, suamiku baru memperlihatkan sifat aslinya ketika kami sudah menikah. Impianku untuk memiliki cinta sejati pupus begitu saja karena pria itu,” ujar Vivian.


“Awalnya pasti akan menyakitkan, tapi seiring berjalannya waktu, kau akan terbiasa. Aku tak tahu apa yang sedang menimpamu, tapi berpisah kadang selalu menjadi jawaban dari rasa sakit yang kita rasakan,” lanjut Vivian lagi.


Liliana tak mengerti kenapa wanita asing ini tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, mereka baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu. Apa wanita ini sengaja di kirim untuknya atau hal sejenisnya?


Ia sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padanya, sesuatu seperti perceraian mampu ia terima, dan perpisahan memang sesuatu yang akan terjadi pada manusia. Kita hanya tak tahu bagaimana perpisahan itu akan terjadi. Yang saat ini Liliana butuhkan adalah liburan sejenak dan waktu berharga bersama sang putra.

__ADS_1


**


Waktu berharga yang Katherine miliki untuk bersantai kini sudah tak bisa ia miliki, bisa saja ia lakukan itu, hanya saja ia tak ingin. Setidaknya, ia tak ingin melakukan itu ketika Richard bersamanya, tunangan yang di pilihkan sang Ayah, yang tak pernah Katherine tahu sedikitpun. Pertunangan itu sangat mendadak, dan Katherine sama sekali tak berkutik ketika sang Ayah memberitahunya.


Mungkin itulah sebabnya sang Ayah mampu menjadi pebisnis andal di Jerman ini, caranya sangat elegan dan cerdik untuk menipu putrinya sendiri. Sebenarnya Katherine juga sangat menyukai Richard, siapa yang tak akan menyukai pria seperti Richard? Apa wanita itu buta?


Hanya saja, semuanya terlalu mudah. Mereka di jodohkan, lalu bertunangan, lalu mereka akan menikah. Semuanya sudah di atur, dan Katherine tak menyukai hal itu, tak ada tantangan yang ia rasakan dari hubungan ini. Kesan pertama mereka juga sedikit unik, hingga tak bisa membuat Katherine tak bisa bersikap sewajarnya pada pria itu.


Siang ini, ia memutuskan untuk keluar makan siang di kedai kopi favorit Katherine. Otaknya sangat mudah untuk mencerna pekerjaan-pekerjaan dan juga ajaran yang di sampaikan oleh Richard, jadi tak butuh waktu lama untuk menguasai hal itu. Sepertinya hanya siang ini ia terbebas dari jeratan pria ambisius bernama Richard itu.


Di balik sikapnya yang ceria dan lebih banyak bercanda, untuk urusan pekerjaan, Katherine memberikan nilai sempurna tanpa cela. Dari yang ia dengar, Richard juga pernah enjadi seorang dokter sebelum memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan sang Ayah. Dari semua hal itu, Richard merupakan pria yang sangat sempurna tanpa cela, Katherine mengakui itu, mungkin ia hanya ingin menarik ulur perasaan Richard. Jika ia pasrah dan menerima saja, semuanya tak akan menjadi menarik.


“Kau pergi tanpa diriku.”


Katherine mendongak. Benar saja, Richard sudah ada di hadapannya, dan tampan seperti biasa. Ia juga sudah menduga jika pria ini akan mengikutinya. Tak ada  tanda-tanda jika pria ini menyukainya atau sekadar mengganggunya saja, siapa yang tahu dengan kisah dan rahasia pria ini, kan?


“Memang itu tujuanku,” jawab Katherine tak acuh. Ia menyesap Americano di hadapannya, lalu memotong kue-kue cantik di hadapannya untuk di santap.


Tanpa di minta, Richard segera duduk di hadapan Katherine. Wanita ini benar-benar tangguh, sama seperti yang di ucapkan sang Ayah dari wanita ini. Tapi, bukan Richard namanya jika tak bisa menaklukan wanita ini.


“Aku akan pulang ke Indonesia.”


Katherine bergeming, ia tetap melanjutkan sesapan pada Americano dan ponsel di tangannya yang tak lepas. Ia memproses semuanya di kepala dengan baik. Richard akan kembali ke Indonesia dan mereka tak akan bertemu, dan Katherine tak tahu untuk berapa lama.


“Mungkin aku akan berada di sana sekitar satu minggu, bisa lebih cepat juga,” lanjut Richard. Semua itu seperti menjawab pertanyaan yang tak terucap dari bibir Katherine.


Mungkin Katherine akan merindukannya, atau tidak.


Kali ini tatapan Katherine bertemu dengan Richard karena ucapan yang baru saja di lontarkan pria itu. Pria ini sangat lebih percaya diri di banding dengan dirinya, Katherine bisa menjamin hal itu.


“Aku tak akan menyia-nyiakan waktu berhargaku untuk memikirkanmu.” Padahal nyatanya Katherine akan melakukan hal itu.


“Tapi sepertinya kau akan melakukan itu, kau bisa jujur saja,” ucap Richard.


“Apa kau selalu sekeras kepala ini?” tanya Richard.


Richard bukan tipe pria dingin ataupun cuek, ataupun mungkin tipe pemain wanita, bukan di antara semua itu. Jika Dimitri sangat suka berganti-ganti pasangan dulu, maka Richard adalah kebaikannya.


“Kau akan mengetahui seiring berjalannya waktu, aku bisa menjamin kau tak akan tahan,” ucap Katherine.


Yang tak Katherine sukai hanyalah fakta bahwa mereka di jodohkan, tak buruk memang, ia hanya tak menyukainya. Ia ingin mendapatkan pria ini dengan normal seperti kebanyakan wanita di luar sana tanpa bantuan sang Ayah, ia ingin merasakan berada dalam hubungan romantis tanpa campur tangan sang Ayah.


“Benarkah? Ingin taruhan?”


Katherine menaikkan alisnya tak mengerti. “Jika aku bisa bertahan denganmu selama enam bulan, maka kau harus menyerah pada perasaanmu. Jika aku gagal dalam waktu enam bulan itu, maka aku akan memutuskan pertunangan ini.”


**


Ada yang hilang, ada juga yang tergantikan, seperti itulah cara kerja alam pada setiap individu. Kita tak bisa mendapatkan semuanya dalam satu waktu, sama seperti kebahagiaan dan juga kesedihan yang datang silih berganti. Tapi, jika hanya kesedihan yang datang pada kita, itu artinya kita harus lebih banyak bersabar lagi dan jalani saja apa yang sudah di tuliskan oleh Tuhan. Kebahagiaan itu pasti datang.

__ADS_1


Sama seperti yang Dimitri rasakan saat ini, ia baru saja kehilangan istri dan anaknya dalam waktu yang singkat, setelah cukup lama ia berusaha mempertahankan hubungan itu. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaannya saat ini, karena semua bisa merasakan apa yang sedang terjadi.


“Tak masalah jika aku menghubungimu dan meminta bertemu dengan Elang, kan?” tanya Dimitri. Itu adalah terakhir kalinya mereka berbincang sebelum sidang perceraian itu berlangsung.


“Ya, kamu bisa menghubungi kapanpun, kamu Ayahnya.”


Perpisahan itu memang terjadi, tapi keduanya juga berjanji saling bekerja sama untuk Elang. Mereka tak ingin Elang kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya hanya karena perceraian. Dimitri tak mengerti harus bersyukur atau sedih, karena ketika perceraian itu terjadi, perkembangan perusahaan yang sempat jatuh mampu naik lagi. Saham mulai stabil, dan laporan keuangan juga semakin meningkat seiring bulan yang berganti.


Ya, setidaknya dari banyak hal yang terjadi, ada hal baik yang menyelip dalam semua kesedihan itu. Seiring waktu, semua kesedihan itu menghilang, kita hanya perlu bertahan sedikit saja sampai waktu itu tiba.


Setelah perceraian itu, Dimitri belum menghubungi Liliana lagi. Ia butuh waktu untuk benar-benar terbiasa ketika menatap wanita itu, sulit tentu saja, tapi harus ia lakukan. Mereka adalah orang tua untuk putra mereka, Liliana sudah memilih Jerman, entah untuk berapa lama. Dimitri akan mengunjunginya tentu saja, setidaknya ia memiliki alasan untuk menemui Liliana, karena perasaan yang ia miliki tak akan bisa terhapus begitu saja.


Pikiran Dimitri buyar ketika ia merasakan seseorang yang muncul di hadapannya, ia sedang berada di kafe untuk sekedar menikmati cairan pahit itu sebelum memulai pekerjaannya lagi.


“Aku baru aja nemu cowok galau waktu lewat, kalo kamu liat dia mungkin bakal kasihan. Ckck.”


Itu Kevin. Mereka memang berjanji untuk bertemu di kafe ini. Sudah sejak lama mereka tak bertemu karena kesibukan keduanya, Kevin tahu yang terjadi pada sepupunya itu, tentang perceraian palsu itu juga. Tak ada rahasia yang tak Kevin ketahui tentang sepupunya itu, karena Dimitri tak mungkin menceritakannya pada kedua orang tuanya.


“Kayak kamu enggak aja, apa kabar itu Ayu? Aku denger dia mutusin kamu,” balas Dimitri. Berbicara dengan Kevin artinya harus menyiapkan segala hal untuk menjatuhkan sepupunya ini.


Kevin berdecak, kisah cintanya juga tak jauh berbeda dengan sepupunya ini, mungkin akibat selalu menjatuhkan Dimitri lalu ia mendapatkan karma. Hal-hal seperti itu sering terjadi, kok. Bisa juga karena wanita yang di sakiti Kevin cukup banyak, padahal Ayu adalah wanita yang sangat baik, sama seperti Liliana.


“Apa aku telat?”


Kevin dan Dimitri menoleh, dan menemukan Richard berdiri di depan meja mereka. Dimitri tahu tentang perjodohan yang lagi-lagi meminta sahabat tercintanya itu. Itulah sebabnya ketika mereka mengunjungi pesta yang di adakan keluarga Enzo, tak ada masalah sama sekali. karena sejak hari itu, perjodohan Richard sudah di atur.


“Apa status tunangan mampu membuatmu telat?” cibir Kevin.


Richard segera duduk di kursi yang kosong tanpa di minta, ia sangat tahu bagaimana teman-temannya ini. “Apa kau sedang mengasihani diri sendiri? Kudengar kau dan Ayu putus.”


“Bisakah kalian tak membicarakan ini? Dimitri juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah,” protes Kevin.


Richard dan Dimitri tertawa mendengar protes yang di layangkan Kevin. Walaupun terlihat kekanakan, tapi Kevin sebenarnya memiliki sifat dewasa yang hanya ia keluarkan ketika sedang bekerja. Seandainya ia melakukan itu untuk hubungan asmaranya juga, mungkin tak akan ada perpisahan. Keluarga Aldino memang sangat buruk untuk hubungan seperti ini, padahal kedua orang tua mereka baik-baik saja, tak ada riwayat perpisahan atau sesuatu yang lain.


“Jadi, kau akan menetap di Jerman sekarang?” tanya Dimitri pada Richard.


“Untuk sementara, aku masih harus kembali ke Indonesia atau Singapur. Tahu apa yang lebih hebat, Ayahku sudah merencanakan semuanya dengan matang, bahkan aku bisa mengurus semua pekerjaanku dari Jerman. Rencananya sangat matang.”


Dimitri sangat tahu bagaimana kedua orang tua Richard yang sangat ambisius dan mengatur semua kehidupan Richard. Jika Richard tak mengikuti semua perintah Ayahnya, maka Michelle yang akan menjadi korban, dan Richard tak menginginkan hal itu. Bahkan ia harus merelakan pekerjaan impiannya sebagai dokter demi sang Ayah.


“Tapi  kau sudah mengenal wanita itu,” ucap Dimitri.


“Ya, kebetulan. Lagipula kupikir dia tak terlalu buruk, sifatnya sangat mirip dengan Michelle. Aku seperti menghadapi dua orang Michelle.”


“Bagaimana kehidupan di Jerman? Apa cukup ramah untukku?” timpal Kevin. Melihat Ayu dalam jarak dekat, tapi tak mampu menggapai gadis itu sangat menyesakkan.


“Kau akan meninggalkan masalahmu di sini sama seperti yang di lakukan Dimitri? Lalu kau akan berakhir seperti sepupumu itu,” hardik Richard.


Jadi apa yang harus di lakukannya untuk menghilangkan perih ini? Ia ingin berada di sisi Ayu, tapi kesalahan yang ia perbuat jugalah yang mengakibatkan semua ini.

__ADS_1


**


__ADS_2