
Yok menjelang bab akhir, apa kalian punya kata-kata khusus buat masing-masing karakter? Atau mungkin kalian pengen ada spesial chapter buat salah satu karakter mungkin? Request aja, mungkin aku bisa bikinin.
Pertemuan yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya terlaksana juga, sabtu malam itu Liliana dan Dimitri, serta Nabila dan juga Richard berkumpul. Di tambah Elang dan juga kedua anak Nabila—Aidan dan Alya—serta Adela yang berada dalam gendongan Nabila. Bayi kecil itu sangat tenang berada di gendongan Nabila, tapi pada dasarnya bayi kecil itu akan tenang berada di gendongan siapapun.
Kali ini acara mereka adalah berkumpul bersama di tambah dengan anak-anak mereka yang turut serta. Richard adalah orang pertama yang mengusulkan hal ini, ia ingin suasana kali ini sedikit ramai. Malam ini adalah malamnya Richard. Ingat, kan, jika ada hal yang ingin di sampaikan Richard dari Jerman? Liliana bahkan sampai heran, bagaimana pria ini bisa ini menahan semua itu selama ini. Akan lebih baik jika langsung di sampaikan saja, tanpa harus menunggu selama ini.
Richard dan semua pikirannya adalah sesuatu yang kadang tak di mengerti oleh tiga lainnya. Nabila adalah salah satu contoh nyata bahwa kadang pikiran Richard memang sedikit berbeda di banding lainnya. Kadang ia bisa sangat lembut, kadang ia bisa sangat tegas, kadang ia bisa menjadi sahabat yang baik bagi teman-temannya.
“Kamu gak iri, karena kita semua udah punya momongan?” tanya Dimitri.
Dan Dimitri adalah satu-satunya pria yang bisa dengan terang-terangan mengolok Richard. Hubungan pertemanan mereka yang juga sudah sangat lama, mempengaruhi kedekatan mereka menjadi lebih dekat. Di butuhkan perpisahan untuk mengerti arti dari sebuah kehadiran. Seperti itulah definisi yang sangat cocok di tujukan untuk Dimitri, karena hampir semua yang ia miliki saat ini adalah hasil dari kehilangan.
“Mereka juga anak-anakku, kenapa harus iri?” Richard menaikkan kedua bahunya acuh. Ia tak terlalu peduli dengan omongan orang di sekitarnya.
“Jadi, kapan hubungan kalian di resmikan?” tanya Nabila.
“Aku penasaran, kabar apa yang kamu bawa dari Jerman,” timpal Liliana.
Hal yang biasa ketika sahabat-sahabatnya mulai menanyakan hal yang bertubi-tubi seperti ini. Memang itu tujuannya mengumpulkan ketiga sahabat karibnya seperti ini, untuk menyampaikan kabar bahagia yang sudah ia
simpan sejak beberapa minggu lalu.
“Kalian pasti penasaran, kan?” tanya Richard.
Richard menunjukkan wajah jahilnya itu pada ketiga orang yang sedang menatapnya dengan serius. Bukan Richard namanya jika tak bersikap jahil, apalagi ketika melihat wajah-wajah penuh rasa ingin tahu itu.
“Untung besok hari minggu, jadi aku gak perlu pulang cepet-cepet.”
“Kamu buruan, deh, bikin kesel Nabila, biar cepet selesai ceritanya.” Liliana mulai sewot.
Mereka semua tahu, jika Nabila sudah kesal, maka Richard baru akan memulai untuk sedikit menjadi serius. Seperti itulah lingkaran yang ada di antara mereka. Richard dan Nabila adalah dua orang yang selalu menjadi penaik mood di antara mereka.
“Karena aku lagi bahagia aku gak bakal bikin Nabila kesel. Well, sebenarnya ini udah lewat, tapi aku masih merasa kalau kebahagiaan ini gak akan berakhir.”
Nabila menyilangkan tangannya di dada, ia menatap Richard dengan penuh perhitungan. Richard tak mungkin akan melepaskannya begitu saja hanya karena kebahagiaan yang katanya tak akan berakhir. Richard adalah pria dengan segala akal bulus yang ada di kepalanya.
“Aku akhirnya akan menikah dengan Kate.”
Sebenarnya hal itu sudah pasti di duga oleh ketiga orang itu, tapi tetap saja ketika mendengarnya langsung dari mulut Richard, semuanya terasa cukup membahagiakan. Butuh sekitar sepuluh detik untuk memproses kalimat yang keluar dari muluut Richard itu.
“Aku udah tahu kalau ini akan terjadi, tapi aku tetap bahagia dengernya,” ucap Dimitri.
“Jadi akhirnya Kate nerima kamu juga?” tanya Liliana.
Tersisa Nabila yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tak ingin mengatakan apapun untuk Richard karena memang kali ini ia tak berniat untuk mengucapkan selamat. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kalimat untuk menghujat pria itu.
“Well, butuh waktu buat ngeyakinin dia awalnya, tapi akhirnya dia juga jawab iya dan sampai sekarang,” lanjut Richard.
__ADS_1
“Kamu yakin Kate sadar waktu ngomong kayak gitu?” tanya Nabila.
Tatapan sengit Richard akhirnya muncul ketika Nabila menanyakan hal itu. Ya, siapa yang tak akan kesal dengan jawaban seperti itu. Tapi, ini Richard dan Nabila. Hal seperti itu sudah seperti kebiasaan untuk keduanya, jika bukan Richard yang akan memulai, maka Nabila yang akan memulai pertengkaran.
“Jadi gimana hubungan kamu sama si berondong?” tanya Richard balik.
“Kamu masih ada hubungan sama Juna itu, Bil?” Liliana menambahkan.
Jika sudah seperti ini, maka obrolan akan semakin panjang. Tak masalah jika mereka menginap, toh, masih ada beberapa kamar kosong di rumah Dimitri. Yang menjadi masalah adalah, awal dari obrolan ini yang menjurus ke banyak hal. Padahal Nabila tak berniat untuk membahas Juna malam ini, apalagi setelah kejadian siang itu.
“Well, aku gak punya, tapi dia yang mau punya hubungan.” Nabila mengangkat kedua bahunya, seolah tak peduli, padahal ia juga mempedulikan satu hal ini.
Dimitri, Richard, dan juga Liliana saling tatap satu sama lain. Ketiganya sangat tahu apa yang ada di pikiran Nabila, wanita itu juga menyukai Juna sama besarnya, tapi masih ada beberapa batasan yang ingin ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Batasan itulah yang hingga saat ini masih mengganggu pikiran dan juga hatinya.
“Kamu gak mau nyoba untuk berhubungan sama Juna ini? Kalau memang kalian gak cocok, kamu bisa mundur, usia bukan segalanya, Bil,” nasehat Dimitri.
“Kali ini aku setuju. Kamu gak akan tahu apa yang akan terjadi, kalau belum mencoba. Segala sesuatunya harus di coba dulu supaya kamu tahu, Bil.” Richard menambahkan.
“Aku udah sering ngomong hal yang sama, tapi Nabila tetap sama pendiriannya.”
“Aku janda, ada batasan—“
“Bukan keinginan kamu karena status janda yang kamu punya itu, kenapa kamu harus merendah kayak gini hanya karena kamu seorang janda?” potong Dimitri.
Mungkin memang Nabila dulu sangat berjasa dalam hubungan Dimitri dan Liliana, tapi Nabila juga hanyalah manusia biasa yang tak mudah untuknya menemukan solusi dari semua masalah yang menimpanya.
**
Caroline terbaring lemah di ranjang rumah sakit, sekujur tubuhnya penuh dengan lebam, lalu ada selang oksigen yang melingkupi hidung dan mulutnya. Pertama kalinya Elle melihat ibunya selemah ini, dan itu semua terjadi karena dirinya. Andai saja Elle tak egois untuk memilih jalannya sendiri, mungkin semua ini tak akan terjadi.
Aliran air mata yang membanjiri pipi Elle semakin deras, ia tak mampu membendungnya lagi, tak peduli akan Enzo yang ada di sampingnya. Dokter mengatakan jika ada beberapa luka dalam akibat memar-memar yang di terima.
Enzo yang berada di samping Elle hanya mampu menenangkan wanita itu yang sedang menangis. Ia sangat kaget ketika melihat Elle jatuh terduduk dengan wajah berlinang air mata, ia tak pernah melihat tangisan Elle sebelumnya yang seperti ini. Ia tahu, cepat atau lambat Brian akan bertindak, apalagi melihat Elle yang sudah semakin dekat dengannya.
“Keluarga Nyonya Caroline?”
Enzo yang pertama kali menoleh mendengar panggilan itu. Seorang pria setengah baya dengan jas dokter yang menutupi hingga lutut, menghampiri mereka. Lalu Elle perlahan menoleh untuk bertemu muka dengan si pemanggil.
“Luka-luka di sekujur tubuh Nyonya Caroline cukup parah, bahkan tulang rusuk mengalami keretakan. Beruntung tak ada luka serius di bagian kepala, lalu ada beberapa kerusakan organ dalam yang menyebabkan Nyonya Caroline hingga kini belum sadarkan diri,” ucap si dokter.
“Tapi … apa Ibu saya masih bisa di sembuhkan?” tanya Elle dengan terbata-bata.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Nyonya Caroline. Jika ada informasi lanjutan, kami akan segera menghubungi kembali.”
Pria setengah baya itu tersenyum tipis sebelum meninggalkan Enzo dan Elle yang masih terlihat sangat syok. Kali ini, Brian benar-benar sudah keterlaluan. Beberapa jam sebelumnya, Elle menerima panggilan telepon dari Brian yang entah meneleponnya dari mana, ia mengatakan jika hampir saja membunuh Caroline karena sudah menyembunyikan Elle darinya.
Melihat dari luka-luka lebam di sekujur tubuh ibunya, Elle tahu jika Brian mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mengeroyok Caroline. Nanti, ia akan menanyakan kebenarannya pada pemilik bar tempat ibunya bekerja. Setidaknya mereka harus mengganti kerugian yang menimpa ibunya, saat itu ibunya sedang berada pada jam kerja, dan seharusnya ada keamanan yang menjaga sang ibu.
Elle mengusap wajahnya kasar, ia salah ketika berpikir Brian tak melakukan apapun setelah apa yang ia perbuat. Hidupnya benar-benar berubah, dan ia pun gagal menemukan kebahagiaan yang ia impikan sejak dulu. Baginya
__ADS_1
hidup berdua saja dengan sang ibu saja sudah membuatnya menemukan kebahagiaan yang sempat hilang itu.
“Aku ada di sini, aku akan melindungimu dan juga ibumu.” Enzo memeluk Elle erat. Ia bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.
“Brian … pria itu mengerikan …,” ucap Elle dengan sesenggukan.
Elle sama sekali belum mengetahui jika Enzo sudah mengetahui semua hal tentang Brian dan apa tujuan pria itu ingin mendekati perusahaannya. Pengalamannya dalam dunia wirausaha sudah ia dapatkan sejak usianya menginjak remaja, tanpa harus menyelidiki banyak hal, ia sudah mengetahui apa yang di pikirkan oleh Brian.
Sejak saat itu, ia bertekat untuk melindungi wanita ini bagaimanapun caranya. Entahlah, perasaan itu muncul begitu saja dan menelusup ke dalam hatinya dengan cara yang sama sekali tak ia ketahui. Perasaan memiliki itu muncul dengan tiba-tiba dan mulai mengobrak-abrik hatinya. Nama Cecilia memang muncul di pikirannya, tapi Elleanor lebih mendominasi saat ini.
“Aku pastikan pria itu tak akan berani menyentuhmu lagi, aku tak akan membiarkannya.”
**
“Sudah kutandatangani sesuai permintaanmu.” Reno menyerahkan amplop cokelat itu pada Reni yang duduk di hadapannya. “Surat perceraian seperti yang kamu minta,” lanjut Reno lagi.
Reni hanya menatap amplop cokelat itu tanpa minat. Hubungan rumah tangga mereka hanya berputar pada saling tarik ulur. Entah sudah keberapa kalinya mereka seperti ini, dan entah bagaimana juga akhirnya mereka bisa bertahan hingga saat ini. Hidup dalam rumah tangga yang penuh akan kebohongan.
Bagaimana caranya? Agar hubungan ini bisa tetap berjalan sesuai apa yang Reni inginkan, sementara Reno sama sekali tak menginginkan hubungan ini. Kenapa sejak dulu Reni selalu menjadi orang yang menyedihkan di sini? Ia tak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan, begitu pun dengan orang yang ia cintai.
“Jadi, bagaimana persahabatan kita setelah ini? Apa kamu tetap menjadi seseorang yang akan memperhatikanku?”
Tak tahu malu? Tak ada lagi rasa malu yang ia rasakan setelah semua kejadian ini. Ia tetaplah Reni yang menjadi perusak rumah tangga orang lain, memaksa melakukan pernikahan yang tak di inginkan, lalu sekarang bercerai. Setelah ini, sudah di pastikan jika sang ayah akan langsung mencoretnya dari daftar kartu keluarga, bahkan mungkin tak akan mengakuinya sebagai anak lagi.
Orang tuanya adalah contoh pasangan yang hanya peduli pada reputasi mereka sendiri, tak peduli jika sang anak sedang merintih dengan semua permasalahannya. Sudah sejak bangku sekolah Reni merasakan hal itu, dan kebanyakan teman yang ia miliki adalah teman yang hanya datang ketika ia sedang berada di atas.
“Apa menurutmu kita bisa kembali seperti semula? Kembali bersahabat seperti yang kamu inginkan?” tanya Reno.
“Apa aku gak bisa, sedikit aja, masuk ke dalam hatimu sebagai orang yang berharga untukmu?”
Reno menatap Reni dengan tatapan yang tak bisa ia mengerti, seharusnya persahabatan mereka tak seperti ini, seharusnya mereka tak memulai sesuatu yang tak bisa di akhiri seperti ini. Tak ada jalan kembali untuk hubungan mereka yang seperti ini.
“Aku sudah sering mengatakan padamu, bahwa kita tak bisa lebih dari sahabat. Anggap saja semua yang pernah terjadi adalah kesalahan.”
Mudah bagi Reno untuk mengatakannya, tapi sangat sulit untuk melakukannya. Kehilangan seseorang yang sudah menjadi tempatnya bergantung selama ini pasti sangat sulit. Cara yang di gunakan Reni juga salah sejak awal, ia selalu menjadi antagonis dalam setiap kehidupan yang ia masuki, ia tahu itu dan ia tak akan mengubahnya. Siapa yang bisa menerima dengan baik tokoh antagonis yang memasuki kehidupan orang lain?
“Menurutmu apa yang salah dariku?” tanya Reni.
Reno terdiam. Bukan sepenuhnya kesalahan Reni, karena waktu itu ia juga menjadi salah satu pria yang menerima godaan itu. Ia sama sekali tak memikirkan istri dan juga anaknya yang selama ini menunggunya di rumah. Sejak awal ia tahu bahwa Reni juga pernah menyukainya, dan bagaimana Reni berjuang untuk mendapatkan kasih sayang selain dari orang tuanya.
Ia tahu dengan jelas semua itu, dan ia dengan tak tahu dirinya memberi kesempatan itu, jadi inni bukan sepenuhnya kesalahan Reni. Kepribadian yang selama ini terbentuk di diri Reni juga karena keterlibatan Reno selama ini.
“Maafkan aku. Aku juga yang membuatmu seperti ini, aku yang membuatmu terlibat hubungan denganku. Aku merasa sangat bersalah selama ini.”
“Kamu benar-benar menyesali hubungan ini, ya.”
Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan yang ia buat sendiri. Reni juga sadar seberapa banyak kesalahan yang ia miliki, ia hanya tak bisa mundur dan hidup kembali dengan normal. Memangnya masih ada pria yang akan
menerimanya, masih adakah wanita yang akan menerimanya sebagai sahabat setelah tahu apa saja yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
Justru semakin banyak orang yang membencinya dan menatapnya seolah-olah ia adalah penyakit yang harus di jauhi. Sudah banyak tatapan tak mengenakkan yang ia dapatkan, ia terluka, tapi orang lain tetap menganggapnya sebagai wanita dengan sifat yang sangat buruk. Jadi, hingga sekarang, ia tumbuh dengan semua pemikiran itu.
**