Playboy

Playboy
#4. Gioto's Family


__ADS_3

Enzo Ferdinand Gioto, dia lahir di Jakarta lalu besar di Jerman. Ayahnya—Prabowo Gioto—adalah pria asal Jakarta yang memiliki usaha batu bara di Kalimantan milik kedua orang tua. Ketika menjadi mahasiswa pasca sarjana di Jerman, ia bertemu dengan Carra Meyer yang menjadi istrinya saat ini.


Setelah menikahi Carra Meyer, Gioto memutuskan untuk tinggal di Jerman bersama sang istri, hingga memiliki Enzo. Mereka adalah keluarga yang cukup berpengaruh di Jerman, karena beberapa usaha yang di jalankan, dan hampir semuanya sukses.


Memang sudah di putuskan jika Enzo akan menjadi penerus usaha sang Ayah, ia tumbuh dalam didikan sang Ayah yang cukup disiplin. Ketika bertemu Enzo delapan tahun yang lalu, kalian akan menemukan perbedaan yang cukup signifikan. Seiring ia yang semakin bertumbuh dewasa, serta banyak tanggung jawab yang ia pegang, Enzo berubah lebih serius dan juga dingin.


Karena pengaruh masa lalu yang belakangan menghantuinya, ia kembali berubah menjadi sosok yang lebih dingin lagi. Ia tak membiarkan orang lain tahu mengenai masa lalu yang menimpanya, cukup ia saja yang menanggung semuanya. Tak boleh ada satu orang pun yang mengetahui titik lemahnya, di dunia bisnis, hal itu sangat krusial dan lawan bisnis akan semakin mudah menemukan celah untuk menjatuhkan.


Dunia bisnis memang selicik itu, bukan sekali dua kali Enzo menjadi korban dari para lawan bisnis yang lebih menyukai cara kasar dan juga licik. Bagi mereka, itu adalah langkah tercepat untuk memenangkan suatu proyek, tapi bagi Enzo, itu sangat murahan dan hanya para pengecut yang melakukan hal-hal seperti itu.


“Apa maksud dari foto-foto ini?” tanya sang Ayah pada Enzo.


Foto-foto Enzo yang sedang kebanyakan sedang memeluk seorang gadis ataupun sedang mencumbu, berserakan di atas meja kerja sang Ayah. Kemarin sang Ayah menghubungi Enzo dan meminta putranya itu untuk segera pulang ke rumah apapun caranya, dan tiga jam yang lalu Enzo baru saja mendarat di Frankfurt.


Enzo menempuh pendidikan sarjana di Universitas Humboldt, salah satu universitas tertua di Berlin. Siapa saja pasti mengetahui universitas tersebut. Keputusannya ketika memilih universitas adalah hasil perundingan Enzo sang Ayah, ia ingin bebas dari kekangan sang Ayah yang sangat disiplin, dengan syarat ia harus mengambil jurusan Manajemen Ekonomi Bisnis.


“Ketika Ayah membebaskan pilihanmu, bukan berarti kau bisa menjalani kehidupanmu dengan seenaknya. Ketika foto ini tersebar di kalangan kolega bisnis Ayah, mereka akan dengan mudah menemukan celah untuk menjatuhkan Ayah.”


Tak ada bentakan keluar dari mulut sang Ayah, tapi kalimat itu sangat dingin hingga bisa membuat bulu kuduk Enzo


merinding. Orang yang paling di takuti Enzo hanyalah sang Ayah, bahkan dosen di kampusnya tak mampu membuat Enzo gentar.


“Maaf, ini tak akan terulang lagi.” Enzo menundukkan kepalanya, menentang kalimat sang Ayah sama saja seperti bunuh diri. Walaupun beragam kalimat pembelaan meluncur dari mulut Enzo, tak akan mengubah keputusan sang Ayah yang sudah terlanjut menyalahkannya.


“Kau tak ingin menjelaskan tentang situasi ini?” tanya Gioto dingin.


Enzo menatap sang Ayah dengan ragu, ia baru saja berusia dua puluh satu tahun, dan sangat banyak hal yang ia ingin ketahui. Sejak memasuki usia lima belas tahun, Enzo benar-benar sudah di persiapkan untuk memimpin perusahaan menggantikan sang Ayah. Ketika seharusnya ia bersenang-senang bersama teman-temannya dan melakukan banyak hal yang biasa di lakukan remaja, ia tak bisa melakukan itu.


“Bukankah itu wajar di lakukan oleh lelaki di usiaku? Apa jatuh cinta juga tak boleh kulakukan?” tanya Enzo.


“Kau pikir Ayah bodoh? Apa berganti-ganti wanita ini yang kau sebut dengan cinta?”


Enzo diam, jika bukan karena ajakan temannya, ia tak akan bisa melakukan semua itu. Memangnya ada cinta sejati


ketika usia baru saja memasuki dua puluhan? Ayahnya saja yang terlalu kaku dalam mendidik anaknya ini.


“Pilihanmu hanya meninggalkan gadi-gadis ini atau Ayah akan memaksamu untuk pindah kemari dan semua gerak gerikmu akan Ayah pantau.


Jika sang Ayah sudah memberikan pilihan seperti ini, kedua pilihan yang di berikan sama buruknya. Tanpa di minta pun, akan banyak mata-mata yang mengintainya atas perintah sang Ayah, Enzo sudah berpengalaman dengan hal itu.


Enzo menyesap anggurnya perlahan sembari menikmati senja dari balkon apartemennya, ia tak membenci Ayahnya, hanya saja ketika ia sedang sendiri seperti ini, seluruh kenangan bertahun-tahun lalu kembali memasuki ingatannnya. Hubungan dengan Ayahnya juga tak bisa di bilang baik, mereka sangat dingin, apalagi sejak kematian sang adik.


**


“Apa kau dari Indonesia juga?” tanya Katherine. Ini adalah jam makan siang, sebenarnya mereka bergantian istirahat agar ada yang menjaga toko. Liliana hampir menyelesaikan makan siangnya ketika tiba-tiba Katherine masuk ke ruang istirahat yang tak terlalu besar itu.

__ADS_1


“Bagaimana kau tahu?”


Katherine bersikeras sejak tadi kalau ia tak ingin terlalu formal, jadilah mereka sudah bisa saling mengobrol dengan sedikit santai, walaupun masih ada rasa canggung yang tersisa.


“Hanya tahu saja, potongan wajah serta raut wajahmu sama seperti Ayah Enzo, dan aku tak terlalu asing dengan orang Asia.”


Ia hampir melupakan kalau Enzo adalah keturunan Indonesia, wajahnya benar-benar campuran Eropa dan Asia yang sangat sempurna. Memang seperti itu kenyataannya, Liliana selalu mengatakan apa adanya pada orang lain, tapi jika seperti itu, bukan berarti Liliana memiliki perasaan lebih. Hanya sekedar mengungkapkan pendapat saja.


Liliana hanya mengangguk dan tetap melanjutkan makannnya. Ponsel yang tergeletak di meja milik Liliana bergetar, seperti biasa, itu adalah foto yang di kirimkan oleh pengasuh Elang di tempat penitipan anak. Liliana memang selalu berpesan pada sang pengasuh untuk mengirimkan foto putranya ketika jam makan siang. Seperti


pengisi daya tubuh selain makanan.


“Itu anakmu?” tanya Katherine lagi.


“Kau tak menyantap makan siangmu? Florence bisa sangat menyebalkan jika kita berlama-lama di ruangan ini.”


Entah kenapa, Liliana selalu merasa tak nyaman ketika orang asing menanyai tentang Elang ataupun kemana suami yang seharusnya menghidupi mereka. Memangnya di dunia ini hanya lelaki yang bisa menghidupi keluarga? Tidak, kan?


“Kita ini tetangga, bukankah lebih baik jika saling mengenal? Kita bahkan bisa berangkat kerja bersama, hal-hal seperti itu,” ucap Katherine lagi.


“Aku hanya tak nyaman,” jawab Liliana jujur.


Katherine menatap wanita di sebelahnya ini dengan penasaran, biasanya banyak orang yang akan berlomba-lomba untuk mendekatinya dan berusaha untuk akrab. Ia juga tipe orang yang sangat mudah bergaul dan supel, ia juga ramah, tapi Liliana lebih dingin dari seharusnya. Liliana sangat cocok dengan Enzo, entah apa yang akan terjadi jika mereka berada di ruangan yang sama selama satu jam? Apa ruangan itu akan membeku?


Liliana menatap Katherine dengan bingung, ia tak menyangka akan mendengar pengakuan seperti ini. Ia berharap mampu meneriakkan kalau ia tak butuh cerita seperti itu, tapi ia tak sekejam itu. Bagaimana dengan pekerjaannya jika sampai meneriaki anak dari pemilik toko ini?


“Kehidupanku tak jauh berbeda dengan Enzo yang selalu di paksa untuk mempersiapkan diri sebagai penerus perusahaan, sangat menyebalkan, kau tahu? Hingga saat ini, hanya Enzo yang mampu bertahan dari semua ini. Dan yang lebih menyebalkan adalah kami harus menikahi pilihan orang tua, kehidupanku sangat di batasi, hampir menyetarai selebritas.”


Cerita itu terdengar tulus, tapi Liliana tak tahu jika bisa saja itu hanya akting. Liliana bahkan tak mengerti kenapa harus mendengarkan semua ini. Persetan dengan hidup mereka, Liliana tak perlu mencampuri.


“Aku sudah selesai—“


“Akan sangat menyenangkan kalau kita bisa berteman, jadi aku bisa memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di sini,” potong Katherine. Liliana bahkan belum menyelesaikan ucapannya, dan ia juga tak memiliki rencana untuk berteman dengan banyak orang, jika hanya sekedar bersikap ramah tak akan menjadi masalah.


“Aku duluan.”


Liliana segera meninggalkan ruangan itu tanpa menjawab kalimat Katherine, dan tak ada tanda tanya di belakang kalimat Katherine tadi. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal tersebut pada orang yang baru di temui dua kali, dan mereka sama sekali tak mengenal satu sama lain? Katherine terlihat lebih liar di banding bayangannya, itu bisa saja menjadi masalah, dan mereka juga tinggal di gedung yang sama. Seperti mengucapkan selamat datang pada kekacauan lain yang akan segera terjadi.


**


Pukul lima sore, shift Liliana sudah berakhir. Anehnya, ia tak melihat Katherine di mana pun, apa wanita itu pulang lebih dulu? Tapi, bukan urusannya juga, sih. Itu justru terdengar sangat bagus, Liliana tak membayangkan jika mereka akan pulang bersama lalu menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama.


Di sepanjang jalan menuju apartemennya, Liliana berpapasan dengan beberapa tetangganya. Sebelum pulang, Liliana akan mampir ke tempat penitipan anak untuk mengambil putranya yang terletak di lantai pertama gedung apartemen tersebut. Karena cuaca hari ini cukup bagus, mungkin Liliana akan berjalan-jalan sembari makan malam di luar.


Liliana mengucapkan terima kasih pada wanita penjaga yang bekerja di sana setelah mengambil Elang. Tanpa mereka, hidup Liliana pasti semakin repot karena harus mengurus mereka sembari bekerja. Ketika sedang menunggu lift, ponsel Liliana bergetar. Panggilan dari Indonesia, tepatnya Nabila.

__ADS_1


“Kupikir kamu gak bakal angkat telepon ini,” ucap Nabila. Liliana bahkan belum sempat mengatakan halo.


“Kamu bakal ceramahin aku panjang lebar kalau aku abaikan telepon kamu,” ujar Liliana.


Pintu lift terbuka, dan Liliana segera mendorong kereta Elang untuk masuk ke dalam lift. “Aku kangen sama kamu, sama anak kamu juga, kamu bener-bener gak ada niatan untuk pulang? Walaupun itu untuk ketemu aku ataupun Ibu kamu?”


Itu adalah pertanyaan wajib yang selalu Nabila tanyakan ketika mereka saling berkomunikasi, padahal Liliana selalu menjawab itu, tapi Nabila tetap menanyakannya lagi dan lagi. Ini tak adil untuk Nabila dan juga Ibunya, tapi harus bagaimana lagi?


“Atau seenggaknya kamu kasih tahu di mana keberadaan kamu. Kamu tahu, Ibu kamu khawatir banget sama kondisi kamu dan juga anak kamu,” lanjut Nabila lagi.


Untungnya Liliana sudah terbiasa dengan semua tingkah cerewet Nabila, jadi ini bukan hal baru. Lift berhenti di lantai lima, Liliana segera keluar dan langsung masuk ke apartemennya.


“Aku baik-baik aja, Bil. Kamu gak perlu khawatir, aku hidup dengan sangat baik di sini. Elang juga baik-baik aja, kami akan pulang kalau memang kami harus pulang.”


Terdengar helaan napas lelah di seberang sana. “Apa aku boleh cerita ini sama kamu?”


“Apa?”


“Dimitri nemuin aku kemarin.”


Aktifitas Liliana seketika terhenti ketika mendengar nama itu di sebut. Pria itu memiliki efek tersendiri untuk tubuh Liliana, sudah sangat lama semenjak Liliana mengetahui kabar mantan suaminya itu. Rindu? Entahlah, apa masih ada rindu di hatinya? Baginya, pria itu sudah cukup berada di hatinya, ia ingin mengeluarkan semua kenangan tentang pria itu.


“O—Oh, kenapa Dimitri?” tanya Liliana. Ia berusaha keras untuk terdengar biasa saja, tapi sepertinya gagal, mengucapkan namanya saja terdengar sangat kelu di lidahnya.


“Nanyain kamu, aku udah kayak pusat informasi karena mereka pikir aku tahu semua tentang kamu, di mana kamu


tinggal, dan di mana keberadaan kamu. Padahal nyatanya enggak, aku bahkan gak punya petunjuk di mana kebaradaan kamu.”


Liliana menundukkan kepalanya, walau Nabila tak akan melihatnya, tapi Liliana juga merasa bersalah. Penyelesaian masalah yang di milikinya adalah dengan melarikan diri seperti ini, tapi kali ini pun masalah Liliana sudah tak ada lagi. Ia sudah bercerai, apalagi yang di inginkan pria itu?


“Kamu bakal jadi orang pertama yang tahu keberadaan aku, tapi nanti, aku harus nyiapin diri dulu. Jangan khawatirin aku, Bil.”


Setelah mengobrol beberapa lama, akhirnya sambungan telepon mereka terputus, bersamaan dengan suara tangisan Elang. Tak ada waktu lagi untuk memikirkan ucapan Nabila tadi, ia juga pasti akan kembali, tapi waktunya belum memihak pada Liliana. Sampai kapanpun, waktu tak pernah akan berpihak pada siapapun, Liliana sekalipun.


Hatinya masih dengan jelas merasakan sakit hati dan seluruh rasa sakit yang Dimitri berikan, lalu bagaimana ia harus mengobati yang satu itu? Walaupun tak semua hal tentang Dimitri adalah buruk, nyatanya yang di ingat jelas dengan Liliana adalah rasa sakit itu. Manusia selalu menyadari kenangan pahit terlebih dahulu di banding kenangan indah.


Mungkin nanti, sekitar dua atau tiga tahun lagi, Liliana akan memberanikan diri untuk pulang dan kembali pada keluarganya. Ia sudah banyak melakukan kesalahan dengan membuat kedua orang tuanya selalu khawatir setiap saat. Ia benar-benar putri yang buruk.


Liliana tak berusaha untuk melupakan pria itu, ia hanya ingin menghapus perasaan yang saat ini masih di miliki mantan suaminya itu. Manusia sejatinya tak bisa melupakan wajah seseorang, karenanya, melupakan perasaan yang masih di rasakannya saat ini adalah jawaban terbaik. Apa ia harus mencari pria lain untuk membantunya keluar dari lingkaran perasaan tak berujung ini?


Liliana menggendong Elang untuk berusaha menenangkannya. Elang bukan tipe anak yang rewel, mungkin karena ia merasakan sang Ibu yang sedang dalam suasana hati yang jelek. Jika sudah dalam keadaan seperti ini, Liliana tak bisa menahan air matanya lagi. Ia ingin berhenti berjuang dan kembali saja pada orang tuanya, tapi jika ia berhenti di sini, semua pejuangannya selama ini hanya akan sia-sia.


Ini hanya sesaat, Liliana bisa melakukannya. Sudah sejauh ini, tinggal bertahan sedikit lagi, dan akhir bahagia itu pasti akan berpihak padanya.


**

__ADS_1


__ADS_2