
Sebelum kalian baca ini, ada baiknya buat kalian menenangkan diri dulu, jangan emosi, lapang dada dulu, jangan berantem ngerebutin lili-enzo atau lili-dimitri, okay? ;)
Daripada kalian gak selesai-selesai mikirin lili sama siapa, mending tebak-tebakan aja. Kira-kira siapa laki-laki yang ketemu sama Katherine? Di jamin kalian gak sakit hati mikirnya ;)
Happy reading^^
Pertemuan Liliana dan Dimitri berjalan dengan baik, walaupun masih ada kecanggungan di antara keduanya. Saling bertukar kabar, dan juga obrolan ringan lainnya mereka lakukan. Tak ingin membohongi diri sendiri, tapi ada satu bagian dalam diri mereka yang saling merindukan hal-hal kecil seperti ini.
“Kamu gak perlu bekerja, aku bisa menjamin semua kebutuhan Elang dan kamu,” ucap Dimitri.
Elang sudah kembali tertidur di kereta bayinya, sekarang sudah pukul tiga sore dan sudah lebih dari dua jam mereka duduk di restoran tersebut. Untuk ukuran dua orang yang canggung satu sama lain, itu adalah waktu terlama.
“Aku suka bekerja, kamu gak perlu khawatir soal Elang, sejauh ini aku bisa memenuhi kebutuhannya dan juga membagi waktu.”
Dimitri diam, sepertinya ia melangkah terlalu jauh. Ia sangat tahu Liliana tak menyukai hidup dalam aturan-aturan dan juga di kekang, dan sebenarnya Dimitri sudah tak memiliki hak untuk mengatur Liliana lagi.
“Maaf, aku hanya ingin turut andil dalam pertumbuhan Elang, setidaknya untuk menebus semua perbuatanku.” Dimitri tertawa kering.
Mereka sangat baik-baik saja ketika tak dalam suatu hubungan seperti ini, tak pernah ada pertengkaran ketika masa-masa awal pertemuan mereka, bahkan ketika mereka dalam hubungan ‘friends with benefit’ mereka pun baik-baik saja. Semuanya berubah ketika mereka memutuskan untuk berpacaran lalu menikah. Sepertinya semua berawal ketika mulai tumbuh cinta di antara mereka.
“Kamu bisa sesekali untuk mampir ke apartemenku untuk melihat Elang.”
Ada sedikit perasaan bersalah di hati Liliana, ia tak mengerti bagaimana menghadapi situasi seperti ini. “Bagaimana dengan kekasihmu?” tanya Dimitri.
Kekasih? Enzo? Liliana menatap Dimitri yang juga sedang menatapnya, entah kenapa ia tak ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya pada Dimitri. Bukan sebagai balas dendam, ia hanya tak ingin. Pada Enzo pun, ia belum menjelaskan tentang hubungannya dengan Dimitri. Nanti, ketika waktunya tepat, ia akan menjelaskan pada keduanya.
“Aku yakin dia mengerti,” ucap Liliana. Ia ingin mengatakan hal lain, tapi sepertinya akan ia cukupkan seperti itu saja. Sejujurnya, banyak kosakata dan juga kalimat yang menghilang di ujung lidahnya.
Pandangan Dimitri teralih pada putra kecilnya yang sudah lelap tertidur, ada bagian dirinya yang merasa tenang ketika melihat pemandangan itu, da nada juga yang merasa prihatin. Lagi-lagi ia masih berharap kalau perceraian itu tak pernah terjadi, menyedihkan.
“Kamu mau kuantar pulang? Sepertinya sudah cukup lama kita di sini,” tawar Dimitri.
Liliana hanya memberikan senyum kecilnya. “Aku akan berjalan kaki, jarak menuju gedung apartemenku tak terlalu jauh dari sini, dan udara musim semi juga sedang baik.”
“Kalau begitu aku akan menemanimu.” Dimitri hanya tak ingin pertemuan ini berakhir dengan cepat, ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Liliana dan juga putranya.
Liliana tak memiliki pilihan apapun selain menganggukkan kepalanya, anggap saja ia sedang berbaik hati untuk memberikan waktu lebih banyak pada Dimitri dan juga putranya. Mereka segera bergegas keluar dari restoran itu, dengan Dimitri yang bersikeras untuk mendorong kereta Elang. Tak ada pembicaraan dalam perjalanan pulang mereka, mereka hanya menikmati itu semua dan berharap mampu mengembalikan memori yang mulai hilang.
“Kamu berencana tinggal di sini?” tanya Dimitri.
“Entahlah, aku hanya ingin memiliki waktu lebih banyak dengan diriku sendiri.”
“Ya, kupikir udara di sini lebih baik di banding di Jakarta.”
Liliana merasa jika kalimat Dimitri menyiratkan hal lain, mungkin seperti sarkasme. Hanya perasaannya saja. “Apa sangat lancang untukku jika bertanya, apakah aku bisa mendapatkan kesempatan lain?”
Langkah Liliana terhenti, ia sebenarnya sudah menduga tentang hal-hal seperti ini, tapi mendengarnya langsung seperti ini rasanya lebih mengejutkan lagi. Lidahnya sudah sangat kelu untuk mengatakan kalimat lain.
__ADS_1
“Aku tahu ini sangat lancang, tapi aku akan membuktikan kepadamu kalau aku bisa berubah agar lebih baik lagi, aku tak akan mengecewakanmu dan juga Elang,” lanjut Dimitri lagi.
Liliana tersenyum canggung. “Kita sudah hampir sampai.”
Dimitri kembali menelan kekecewaannya, memang tak akan secepat itu, kan? Ia saja yang sudah tak bisa menahan perasaannya selama ini. Setidaknya ia sudah mengatakan apa maksud hatinya, Liliana bisa memikirkannya nanti.
Sesaat setelah mereka sampai di halaman gedung apartemen Liliana, berbarengan dengan Enzo yang juga baru saja keluar dari mobilnya. Dimitri melihat itu, apa pria itu sangat sering berkunjung seperti ini?
“Sampai di sini saja, kamu bisa kembali lagi nanti,” ucap Liliana dengan gugup. Entah kenapa ia gugup, karena kehadiran Enzo? Atau karena bertemunya kedua pria ini lagi? Padahal Liliana pun tak memiliki hubungan apapun dengan Enzo seperti yang di pikirkan oleh Dimitri.
Enzo yang menatap pemandangan di depannya dengan tak sengaja itu, mengerutkan keningnya. Alasannya datang kemari adalah untuk mengunjungi Katherine, karena sepupunya tiba-tiba menghilang lagi, dan Ayah wanita itu kembali memintanya untuk mengawasi wanita itu lagi. Hal yang sangat menyebalkan. Ia ingin melangkahkan kakinya menuju Liliana, tapi urung.
Ia hanya memperhatikan pria itu dengan saksama, ia sangat ingin tahu hubungan keduanya, yang sangat jelas bukan hanya sekadar teman lama.
**
Katherine menggoyangkan tubuhnya mengikuti dentuman musik yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Ketika ia sedang stres atau mungkin banyak pikiran karena tekanan dari sang Ayah, ia akan mengunjungi klub, tak peduli di mana pun itu, cukup klub saja yang bisa membuatnya melupakan masalah yang menderanya.
Kali ini ia berada di klub yang terletak di jantung kota Frankfurt, tak buruk juga. Mungkin karena kebanyakan pengusaha di Frankfurt memiliki banyak beban tanggung jawab akan pekerjaannya, klub ini sangat ramai. Kebanyakan pengunjung adalah mereka yang di pertengahan tiga puluhan, atau awal tiga puluhan.
Ia hanya menebak, akan lebih baik jika ia mendapatkan teman untuk malam ini. Setidaknya ia tak akan kesepian ketika menari seorang diri seperti ini di lantai dansa. Setelah di rasa cukup dengan tariannya, Katherine memutuskan untuk kembali ke mejanya untuk mengisi tenaga, sebelum memulai tarian ronde ke sekiannya.
“Kau sangat menikmati tarian seorang dirimu, huh?”
Mata Katherine menelusuri seorang pria yang juga duduk di kursi bar ini dengan menyipit. Ia belum mabuk, ia sangat ahli dalam hal mengkonsumsi alkohol, bisa di katakan ini adalah kali pertama seorang pria menyapanya di klub.
“Aksen Jermanmu sangat buruk, kau turis atau hanya sekadar orang asing yang suka menggoda wanita di klub?”
“Apa aku terlihat seperti itu?” tanya pria itu dengan bahasa Inggris. Baru kemarin ia menghafalkan kosakata Jerman, dan sekarang ketika ada wanita yang menghinanya seperti ini, ia akan menyerah saja. Toh, ia hanya berkunjung saja ke negeri ini.
Katherine meletakkan telunjuknya di dagu, berpura-pura menilai pria itu dengan saksama. “Ya, kupikir seperti itu. Tapi, wajahmu adalah tipeku, jadi aku tak mempermasalahkan apapun. Lalu, kau mau menemaniku turun ke lantai dansa? Menari sendirian sangat menyebalkan.”
“Kau baru saja menghinaku, lalu memintaku untuk menjadi temanmu. Konyol sekali.” Pria itu terkekeh. Belum empat puluh delapan jam kedatangannya di sini dan sudah ada yang menawarinya seperti ini? Wajahnya memang tak terlalu buruk.
“Dengarkan aku, aku belum terlalu mabuk, jadi, bagaimana jika satu putaran lagu?” Katherine menaik turunkan alisnya, mencoba untuk menggoda pria asing di hadapannya ini. Biasanya tak ada yang akan menolak, kecuali jika tiba-tiba Enzo muncul di sana.
Pria itu hanya menyunggingkan senyum tipisnya, ia tak akan tergoda dengan rayuan kecil seperti ini, walau wajah wanita ini cukup cantik. Ia tak semudah itu untuk takluk pada wajah cantik, apalagi yang di temui di klub ini, ia sudah sangat hafal dengan alur kisah seperti ini.
“Maaf, tapi aku tak tertarik denganmu.” Pria itu beranjak dari duduknya, sepertinya ia tak akan melanjutkan malam ini dengan bersenang-senang, mungkin lain kali.
“Hei, pria berjas cokelat!”
Teriakan Katherine cukup kencang untuk menarik perhatian seisi klub itu, hingga tatapan mereka semua terarah pada Katherine dan pria asing itu. Pria itu menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuh tinggi jenjang sempurna miliknya. Hanya sepersekian detik setelahnya, Katherine sudah tumbang dari kursi bar yang ia duduki,
menimbulkan kesiap kecil dari beberapa pengunjung.
Dengan langkah kesal, pria itu terpaksa menghampiri wanita yang mengaku kalau ia belum mabuk. Apanya yang belum mabuk jika sudah pingsan seperti ini? Mungkin ini bagian kesialan kecilnya, sebagai ucapan selamat datang karena sudah berkunjung ke Jerman demi seorang teman.
**
__ADS_1
“Kau tak perlu menngantarku seperti ini,” ucap Liliana. Ia baru saja menyelesaikan shiftnya, dan Enzo bersikeras untuk mengantarnya.
“Tak masalah, aku juga punya urusan dengan Katherine yang belum di selesaikan.”
“Kurasa bersikap keras padanya tak cukup membantu, dia tak menyukai kekangan, kan? Kenapa tak membiarkannya saja, ia akan segera menyadarinya ketika sudah terjebak dalam sebuah situasi yang tak di inginkannya.”
Enzo menatap Liliana, bagaimana pria tak menyukainya jiika ia secerdas dan secantik ini. Siapapun pria bernama Dimitri itu, ia pasti sangat berusaha keras untuk mendapatkan hati Liliana lagi.
“Aku duluan,” pamit Liliana.
Tanpa sadar, Enzo sudah mencengkeram pergelangan Liliana untuk menahannya. “Ah, maafkan aku. Aku… hanya ingin menanyakan sesuatu.”
Liliana mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil, lalu kembali menatap Enzo yang terlihat gugup di kursinya. Apa Enzo akan secepat ini menyatakan cinta padanya?
“Aku hanya ingin tahu, jika kau berkenan untuk menjawabnya. Pria yang selalu muncul di depan gedung apartemen ini, dan juga kalian bersama kemarin, apa aku boleh bertanya dia siapa?”
Senyuman itu segera pudar dari bibir Liliana, ia tahu cepat atau lambat ia harus memberitahukan yang sebenarnya pada Enzo, dan pria ini juga pasti akan menanyakannya. Apa akan ada yang berubah jika Liliana mengatakan yang
sejujurnya? Atau lebih baik jika menyembunyikannya?
“Ah, dia… mantan suamiku, sebelum aku datang kemari, kami baru saja bercerai. Apa itu mengganggumu?”
Kenapa Liliana harus menanyakan hal itu? “Maksudku… aku tahu ini membuatmu tak nyaman ketika berpura-pura menjadi kekasihku, tapi ya, kadang itu cukup berhasil untukku. Lain kali aku akan benar-benar mentraktirmu makanan enak karena sudah melakukan hal ini,” lanjut Liliana lagi. Sudah selama itu Enzo berpura-pura menjadi kekasihnya, dan baru sekarang Liliana merasakan perasaan bersalah ini?
“Lagipula aku yang memulai semuanya, tak masalah. Aku akan membantu sebisaku, jangan sungkan padaku, anggap saja aku tetangga apartemenmu, karena yang di tinggali Katherine juga milikku.”
Enzo merasa sedikit kecewa dengan apa yang di pikirkan Liliana sebenarnya, setidaknya Enzo berharap pikiran Liliana tak seperti ini. Bahkan jika Enzo harus berpura-pura untuk menjadi kekasih Liliana untuk waktu yang lama, ia akan melakukannya, tanpa pamrih.
Suasana di dalam mobil mendadak menjadi canggung, Liliana merasa sedikit bersalah dengan Enzo, pria ini sangat banyak membantunya selama ini. Ia juga tak pernah mengharapkan hal lain dari semua hal yang di lakukan Enzo, tapi apalagi yang bisa ia berikan? Pria sesempurna Enzo berhak mendapatkan wanita yang lebih baik, kan? Bukan janda dengan satu orang seperti Liliana.
Denting ponsel Liliana menyelamatkan mereka dalam suasana canggung yang ada. “Sepertinya aku harus bergegas. Kau naiklah, aku yakin Katherine sudah menunggumu di atas.”
Liliana segera keluar dari mobil Enzo tanpa mengatakan hal lain lagi. Seharusnya mereka bisa naik bersama menuju lantai atas, tapi sepertinya Liliana tak bisa melakukan hal itu, tidak setelah kejadian canggung itu. Ia harus menemui Dimitri lagi, setelah kejadian kemarin, bukan keinginan Liliana, tapi pria itu yang kembali meminta bertemu.
Dimitri tak lagi menunggu di depan gedung apartemen seperti biasanya, ia menunggu di ujung jalan. Itu bagus, artinya Liliana tak perlu terus-terusan berimprovisasi dengan Enzo, ia tak ingin rasa bersalah ini mampu membawanya ke keadaan yang lain.
“Ada apa? Ah, aku baru saja pulang, jadi aku belum mengambil Elang. Kalau kamu mau ketemu, kamu bisa ikut menuju tempat penitipannya,” ucap Liliana.
Dimitri hanya menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia sudah melihat kedatangan Liliana tadi bersama kekasihnya. Mereka cukup lama berada di dalam mobil, ia bahkan tak ingin memikirkan berbagai kemungkinan yang berkeliaran di otaknya. Apapun yang sedang di pikirkan oleh Dimitri, itu bukan sesuatu yang baik untuk kesehatan hatinya yang juga masih belum pulih dari rasa sakit.
“Tak masalah, aku akan menjenguknya lain kali, aku hanya ingin bertemu denganmu,” ucap Dimitri lirih.
Sejujurnya, Dimitri juga tak tahu apa yang akan di bicarakan. Pertemuan kemarin saja sudah membuat otaknya berpikir keras, yang menghubungkan mereka hanya Elang, tanpa alasan itu, mereka tak bisa menghadapi satu sama lain.
“Aku hanya ingin mengatakan kalau mulai sekarang aku akan mengirimkan uang untuk semua kebutuhan Elang, aku harap kamu gak menolak. Aku juga bertanggung jawab untuk pertumbuhan Elang, kuharap kamu jangan marah.” Dimitri mengatakan semua itu dengan sangat cepat.
Itu memang kewajiban Dimitri sebagai Ayah kandung putranya, ia bukan ingin jual mahal dengan menolaknya. Tak perlu melakukan hal seperti itu ketika kalian sudah sama-sama dewasa dan saling mengerti satu sama lain, pada akhirnya hanya akan merepotkan masing-masing kalian.
“Baiklah, kamu bisa mengirimnya. Apa ada hal lain lagi yang ingin kamu bicarain?”
__ADS_1
“Tentang perceraian kita… bagaimana jika kukatakan kalau aku tak pernah menandatangani surat itu sampai saat ini?”
**