Playboy

Playboy
#2# Take 8


__ADS_3

Semoga kalian bisa suka sama kate-richard juga enzo-elle, ada couple tambahan, nabila-reno. Yok mari kita hujat Reno bareng-bareng :D Happy reading^^


 



 


Elle tak menyangka jika salah satu tugas sekretaris adalah turut menghadiri jamuan makan malam ataupun pesta untuk menemani sang atasan. Ia pikir itu hanya terjadi dalam kisah fiksi, karena dulu sang ayah selalu mengajak dirinya dan juga sang Ibu untuk menghadiri pesta seperti ini. Enzo bahkan sudah menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan Elle untuk menghadiri pesta tersebut. Apa Rose dulu juga mengalami hal seperti ini?


Rose sudah resmi mengundurkan diri tiga hari lalu, jadi tersisa Elle untuk meneruskan pekerjaan itu. Semoga tak ada kesalahan yang ia lakukan selama bekerja, ia sudah lelah berganti beberapa pekerjaan dan melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Jika ia bisa fokus pada satu pekerjaan dan mendapatkan gaji yang lumayan, kenapa tidak? Sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan saat ini.


Tugas Elle tak banyak, ia hanya perlu mengikuti Enzo kemanapun pria itu akan membawanya berkeliling di ruangan pesta yang sangat besar ini.


“Aku ingin memperkenalkanmu sebagai sekretarisku, posisimu sudah sama seperti tangan kananku, jadi, setidaknya mereka harus tahu fakta itu.” Itu yang di katakan oleh Enzo setelah meminta Elle untuk ikut dengannya.


Tak ada masalah berarti sebenarnya, bukan seperti harus mengerjakan setumpuk laporan. Juga tak ada yang mengenalinya sebagai putri dari Danuwijaya, hanya segelintir orang yang mengetahui fakta tersebut. Setidaknya Elle cukup lega ketika Enzo sama sekali tak mengenalinya sebagai putri satu-satunya Danuwijaya.


“Ah, bagaimana kabarmu, Enzo? Kudengar bisnismu semakin pesat, kau pasti sibuk belakangan ini,” ucap seorang pria paruh baya.


Enzo membalas sapaan itu hanya dengan senyum, dari aksen bicara pria paruh baya itu, sepertinya ia bukan berasal dari Eropa. Elle hanya berdiri di belakang Enzo dan memperhatikan apa yang sedang di bicarakan, ia tak tertarik untuk berbicara banyak atau bahkan terlibat obrolan.


“Siapa wanita cantik di belakangmu itu? Apa ayahmu berhasil menjodohkanmu?” tanya pria lainnya yang berambut pirang. Ia memperhatikan Elle yang hanya berdiri di belakang Enzo.


“Perkenalkan, dia adalah—“


“Kenapa wajahmu sangat familiar? Aku seperti pernah bertemu denganmu,” potong seorang pria Asia satu-satunya yang berada di kerumunan kecil itu.


Semua mata sekarang tertuju pada Elle, termasuk Enzo. Yang di tatap hanya memberikan senyum canggung, ia tak ingin di kenali dalam keramaian seperti ini. Kebanyakan orang yang mengenalinya selalu berakhir dengan kejadian buruk. Entahlah, sangat banyak orang yang membencinya juga sang ayah, Elle sama sekali tak mengetahui alasan tersebut.


“Ah, saya—“ Elle berniat untuk mengenalkan dirinya, ketika pria Asia itu kembali memotong ucapannya.


“Danuwijaya. Kau sangat mirip dengan ayahmu, bagaimana aku bisa melupakan itu,” ucap pria Asia itu.


Elle mengatupkan bibirnya. Tak ada lagi yang bisa ia katakan, semua mata kini menatapnya dengan raut terkejut, Enzo tak terkecuali.


“Benarkah?”


“Wah, bukankah ini adalah kebetulan yang sangat langka.”


“Aku tak menyangka bisa bertemu dengan putri tunggal Danuwijaya di sini.”


“Bagaimana kabar Ibumu?”


Semua kalimat itu keluar dari bibir para pria paruh baya yang ada di sana, Elle hanya berdiri mematung dengan kesadaran yang sudah berada di awang-awang. Ia sangat menyayangi ayahnya, tapi nama belakang yang tersemat itu selalu menjadikannya pusat perhatian, dan warisan kemiripan wajah. Ini masih sangat melelahkan.


“Jadi, apa hubunganmu dengan Enzo?” Pria pertama yang menyapa Enzo menanyakan pertanyaan itu.


Semua yang ada di sana seolah menantikan jawaban keduanya dengan penuh penantian. Enzo melihat semua itu, dan Elle yang seolah berada di dunia lain karena sama sekali tak bergerak dari tempatnya berdiri.


“Dia bersamaku,” ucap Enzo. Ia memeluk bahu Elle dengan erat. “Kebetulan dia sedang tak enak badan hari ini, jadi ia tak banyak bicara.”


Elle hanya pasrah dengan apa  yang Enzo ucapkan. Rasanya ia juga tak memiliki banyak tenaga untuk menolak, tapi, rasanya ini tak benar, Elle memiliki firasat buruk tentang hal ini. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia harus tetap bersama Enzo agar tak semakin banyak yang tertarik padanya. Danuwijaya adalah salah satu topik yang selalu membuat orang lain penasaran dan ingin mengorek lebih dalam lagi.


Manusia dan semua rasa ingin tahunya, tak salah memang, hanya saja sedikit mengganggu untuk Elle yang sangat mencintai privasi. Pun dengan para pria paruh baya yang ada di hadapannya, Enzo masih berbicara dengan keempat orang itu dengan lengan yang melingkari bahunya.


“Saya harus ke toilet,” bisik Elle.

__ADS_1


Enzo hanya memberi anggukan sebelum melepas rangkulan itu. Elle berjalan menuju sudut sepi yang ada di ruangan ini, ia ingin mencari udara segar untuk meloloskan rasa sesak yang kembali hadir. Mungkin sebuah kesalahan karena ia melamar pekerjaan tersebut, ia tak pernah berpikir hingga sejauh ini. Harusnya ia tetap menjadi pramusaji di restoran itu saja hingga akhir, dan hidup dalam kabut cahaya.


Harusnya juga ia tak peduli dengan nominal yang di tawarkan, tak masalah memiliki gaji yang sangat sedikit di banding ia harus menggadaikan semua ketenangan yang ia terima selama ini. Tapi, apa dua tahun ini adalah tahun-tahun yang menenangkan? Seingatnya, Elle justru merasakan banyak gangguan, sedikit ancaman, serta sedikit kekerasan. Itu yang ia terima selama dua tahun ini.


“Lihatlah siapa yang ada di sini. Jika tahu kau akan secantik ini, bukankah lebih baik untuk membayar hutangmu dengan tubuh yang sangat indah ini? Aku tahu kau sangat kesulitan secara ekonomi.”


Elle membalikkan tubuhnya, seorang pria Eropa yang sangat Elle kenal dengan baik. Bagian dari mafia yang mengancam hidup Elle, ia hampir di bunuh karena pria ini. Bagaimana pria ini juga bisa ada di sini?


“Apa kau terkejut?” Baru pria itu akan memajukan tubuhnya untuk meraih pipi Elle, sebuah tangan sudah menepisnya.


Wajah Elle yang sudah terkejut, semakin terkejut ketika Enzo kembali muncul untuk menyelamatkannya. “Kau tak bisa menyentuh sembarang wanita dengan seenaknya,” ucap Enzo dingin.


**


Malam itu, Katherine berakhir di sebuah bar bersama seorang pria di sebelahnya, bukan Richard tentu saja. Ia datang ke bar itu untuk menangisi hubungannya yang sudah berakhir, serta kebodohannya, apapun itu yang membuat ia mengucapkan kalimat keramat dan membuat Richard yang saat ini mungkin sudah membenci dirinya.


Jika ada satu orang untuk di salahkan dalam kejadian tersebut, maka hanya Katherine tersangka utamanya. Ia juga tak mengerti kenapa harus mengucapkan kalimat itu, tapi cepat atau lambat ia juga harus mengucapkan kalimat itu. Tak akan ada bedanya jika harus di ucapkan saat ini atau mungkin satu tahun kemudian.


“Jadi kau mengakhiri hubunganmu dengan pria itu begitu saja, atau karena aku?”


Katherine menatap sengit pria di sampingnya itu. Namanya Michael, pria ini juga salah satu yang pernah di jodohkan oleh sang ayah sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Lalu seperti biasa Katherine menolaknya dan memutuskan untuk berteman dengan pria ini, yang hebat adalah pria ini juga menolak perjodohan tersebut karena ia tak tertarik pada wanita. Michael adalah gay.


“Apa kau bercanda? Tentu saja bukan,” decak Kate.


Jika di lihat sekilas, tak ada tanda-tanda jika Michael adalah seorang gay. Ia tampan dengan tubuh tegap, wajahnya tampan dengan rahang tajam, tingginya setara dengan Richard, serta bulu-bulu halus yang menghiasi dagu hingga rahang pria itu. Secara fisik, tak akan ada yang menduga hal itu. Itu juga yang membuat Richard cemburu dengan


Michael.


“Siapa yang tahu, aku juga tak kalah tampan darinya.”


“Aku tak ingin membahas hal itu.”


Apa perlu di tanya lagi? Tentu saja Kate sangat mencintai Richard, kalau tidak kenapa ia harus bertahan selama ini dengannya. “Tentu saja.”


“Lalu kenapa kau putus jika masih mencintainya?”


Kenapa? Sebenarnya mana alasan yang lebih tepat untuk membenarkan tindakan Kate itu? Ia melihat sendiri dengan jelas betapa Richard sangat terluka malam itu, pria itu sangat rapuh, hingga tak sanggup menatapnya.


“Dia menginginkan pernikahan, dan adik perempuannya tak menyukaiku,” jawab Kate lirih. Michael bahkan harus mendekatkan telinganya untuk mendengar dengan jelas jawaban Kate.


“Hanya itu saja hingga membuat kalian putus? Kau benar-benar Katherine yang sangat berbeda.”


Ya, cinta melemahkan Kate. Tapi, cinta tak selalu harus memiliki, kan? Mungkin kisah Kate dan Richard akan seperti itu. Perpisahan ini pun sangat tak bisa Kate relakan, selama beberapa tahun belakangan, baru kali ini ia berpikir untuk kembali mencintai orang lain lagi. Richard membuatnya ingin kembali merasakan perasaan bahagia itu, dan ia benar-benar bahagia. Hanya untuk satu hal yang tak bisa Kate lakukan, pernikahan.


“Ada apa denganmu dan pernikahan?”


Kate hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia tak secara spesifik membenci pernikahan, konsep pernikahan hanya terlalu mewah untuknya, dan ia belum cukup pantas untuk menerima semua kebahagiaan itu. Richard benar-benar bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya.


“Richard pantas mendapatkan yang lebih baik, Mike. Kurasa aku belum cukup baik,” ucap Kate.


Michael kembali memberikan pandangan aneh pada temannya ini. “Jika kau merasa belum pantas mendapatkan pria itu, maka buat dirimu merasa pantas, bukan dengan meninggalkannya seperti ini.”


“Tetap saja—“


“Ah, terserah apa katamu. Aku sudah mengatakan apa yang pantas kukatakan. Cepat habiskan minumanmu, aku akan mengantarmu pulang,” potong Michael.


Alasan lain kenapa Michael lebih tertarik pada pria, karena wanita sangat merepotkan. Contoh nyatanya adalah wanita di sampingnya ini. Kenapa harus menyakiti diri sendiri jika bisa membuatnya lebih bahagia? Apa hubungan lawan jenis selalu seperti itu? Sangat bodoh sekali.

__ADS_1


**


Malam itu, Nabila sengaja menitipkan kedua anaknya, Aidan dan Ayla pada kedua orang tuanya yang kebetulan sedang liburan di Jakarta. Ada hal penting yang harus ia selesaikan dengan sang suami, dan ia tak ingin kedua anaknya mendengar pembicaraan penting itu. Mungkin ini akan menjadi pertama dan terakhir kali ia bertengkar dengan Reno.


“Kenapa rumah sangat sepi? Dimana Aidan dan Alya?” tanya Reno dengan senyum tipis di wajahnya.


Di hari lain, mungkin Nabila akan kembali terpesona dengan senyuman itu, tapi tidak dengan malam ini. Senyuman


itu membuatnya muak dan mual di satu waktu.


“Sudah berapa lama kamu dan dokter wanita itu berselingkuh di belakangku?” tanya Nabila dingin. Nabila bukan tipe wanita yang suka berbasa basi, karena hanya membuang-buang waktu.


“Apa maksudmu?” Ada kejut samar di wajah Reno yang tak bisa ia sembunyikan. Apa istrinya sudah mengetahui semuanya?


“Apa kamu kaget karena aku tahu semuanya?”


“Sayang, ini sama sekali gak seperti yang kamu bayangkan, aku dan—“


“Memangnya apa yang aku bayangkan?” potong Nabila. Tatapan terluka itu menantang mata yang terkejut itu, tentu


saja, karena sebelum ini semuanya baik-baik saja. Itu yang Reno tahu, yang Reno tak tahu, Nabila sudah sangat menderita dengan fakta baru yang ia dapatkan.


“Aku bersalah, tapi saat itu, semuanya terjadi karena ketaksengajaan. Aku sama sekali tak pernah berpikir untuk


berselingkuh.” Reno masih mencoba untuk membela diri.


“Ketidaksengajaan yang bertahan hingga enam bulan, aku sama sekali tak tahu jika ada hal seperti itu.” Mata Nabila memerah, air mata sudah enggan keluar karena sudah terlalu banyak ia habiskan untuk menangisi suaminya ini.


“Bil.”


“Nabila.”


Nabila tersentak dengan panggilan dan juga sentuhan lembut di tangannya. Ia mendapati Liliana yang sudah berdiri di hadapannya dengan sepiring buah-buahan yang sudah di kupas serta di potong-potong dengan rapi.


“Makan buahnya, siapa tahu bisa ngilangin pikiran buruk di kepala kamu,” ucap Liliana.


“Aku baru tahu buah punya manfaat kayak gitu.” Nabila tertawa kecil dengan kalimat yang di lontarkan sahabatnya itu.


“Sekarang kamu tahu itu.”


Setelah menjemput Aidan di TK, Nabila memutuskan untuk berkunjung ke rumah Liliana. Mungkin sedikit bercerita dan supaya Aidan memiliki teman main, dalam kondisi seperti ini, ia tak bisa terus-terusan menunjukkan wajah baik-baik saja di hadapan anaknya yang sudah berusia lima tahun. Sang anak memang tak akan mengerti, tapi Nabila justru akan merasa bersalah.


“Kenapa kamu gak ajak Alya juga?” tanya Liliana.


“Tadi Alya di ajakin jalan-jalan sama kakek neneknya, jadi aku gak bisa larang.” Nabila menatap Aidan yang tengah bermain dengan Elang di ruang tengah. Mereka sangat khidmat dengan mobil-mobilan di tangan keduanya.


“Mama Papa kamu tahu soal perceraian kalian?”


“Ya, aku gak mau nyembunyiin apa-apa. Jadi, kalau aku harus ngerasain sakit, seenggaknya sakit itu langsung datang semua tanpa harus menunggu sedikit demi sedikit.”


Itulah perbedaan yang sangat mencolok antara Liliana dan Nabila. Liliana lebih suka memendam semua masalahnya sendiri, sedangkan Nabila, ia tipe orang yang akan mengatakan apapun itu langsung di hadapan yang bersangkutan. Urusan marah, bersinggungan, dan juga konflik akan ia pikirkan selanjutnya. Yang terpenting, bagian dari inti masalah sudah ia sampaikan.


“Setidaknya kamu lebih baik dalam hal ini di banding aku,” ucap Liliana.


“Kalau kamu di sakiti lagi sama Dimitri, itu hal pertama yang harus kamu lakuin. Kabur bukan solusinya.”


“Aku bakal inget itu.” Liliana tersenyum. “Kamu mau makan siang di sini?”

__ADS_1


**


__ADS_2