Playboy

Playboy
#2# Take 10


__ADS_3

Aku gak tahu kalian bakal suka part ini apa enggak, tapi semoga kalian suka ya? Oh ya, apa ada yang udah mulai suka sama kate-richard, elle-enzo?


Happy reading


 



Siang itu, sidang perceraian Nabila di gelar. Baik Reno maupun Nabila, keduanya menghadiri sidang tersebut. Mereka benar-benar bercerai setelah sidang ini berakhir, sangat mudah sekali, kan, untuk mengakhiri sesuatu? Butuh bertahun-tahun hingga akhirnya mereka bersatu dalam sucinya pernikahan, tapi hanya butuh waktu kurang dari sebulan untuk mengakhirinya.


“Nabila, sayang, dengerin penjelasan aku dulu, aku mohon,” pinta Reno.


Tak butuh waktu lama bagi Nabila untuk sampai pada keputusan cerai, instngnya hanya mengatakan untuk mengambil keputusan itu apapun yang terjadi, dan ia melakukannya. Ia bukan tak menyayangi kedua anaknya, ia sangat menyayangi mereka, tapi perselingkuhan juga bukan sesuatu yang bisa ia terima dan maafkan begitu saja. Ini soal kepercayaan keduanya.


“Apa yang mau kamu jelasin? Soal berapa lama kamu selingkuh? Atau bagaimana kalian bisa selingkuh?”


Tatapan Nabila menghujam tepat di mata Reno yang menciut, ia tak bisa melakukan pembelaan di hadapan sang istri ketika yang ia lakukan memang salah. Ia bermaksud untuk mengakhirinya, tapi ia justru semakin terjebak pada lubang setan itu. Selingkuh memang indah, tapi akan berakhir jika sudah terbongkar.


“Tak pernah ada pembelaan untuk sebuah perselingkuhan, kamu tetap salah dan aku tak akan menerima alasan apapun di balik itu,” ucap Nabila lirih.


“Kamu sama sekali gak mau ngasih aku kesempatan untuk merubah semua ini? Aku berjanji akan memperbaiki semuanya dari awal, Bil, aku berjanji.”


Air mata Nabila kembali luruh untuk kesekian kalinya. Mungkin terlihat mudah karena Nabila bisa begitu saja


mengatakan akan bercerai, tanpa keinginan untuk mediasi atau duduk untuk mendengarkan semua pembelaan Reno. Tapi, itu juga berat untuk Nabila, ia bukan bersifat egois, walau memang terlihat seperti itu. Ia tak ingin mempercayai janji apapun yang selalu di ucapkan Reno kali ini, ini kesalahan pertama dan terakhir.


“Aku gak mau menyakiti kita dan Aidan juga Alya, tapi apa yang berbeda jika kita tak bercerai? Semuanya sudah tak sama lagi, aku tak bisa memandangmu sebagai Reno yang sama, aku gak bisa,” ujar Nabila.


Tak akan ada yang bisa mengubah keputusan Nabila karena ia sangat keras pada pilihan yang ia ambil. Baginya,


pilihan apapun yang sudah ia ambil, sudah mutlak, ia akan mempertanggungjawabkannya dan mengurus sendiri resiko dari semua pilihan yang ia ambil. Reno sendiri juga tahu sangat mustahil untuk kembali membujuk Nabila. Harusnya ia mengingat samua itu ketika memutuskan untuk berhubungan di belakang Nabila.


Suara ketukan palu di depan sana mampu membawa kembali Nabila ke kenyataan. Itu adalah tanda jika ia sudah resmi bercerai dari Reno. Ia pasti akan merindukan mantan suaminya itu nanti, tak munafik, karena Nabila masih mencintai Reno. Ia menekan egonya ke dasar dan memutuskan untuk bercerai.


Harusnya mereka melakukan mediasi dahulu sebelum melaksanakan sidang ini, tapi tak pernah ada pengecualian untuk Nabila, karena ia tak akan pernah kembali pada Reno apapun yang terjadi. Ia menatap Reno yang ada di sampingnya, mata pria itu juga tak bisa berbohong jika ia tersakiti, Nabila juga. Ia tersakiti karena perselingkuhan, lalu karena sidang cerai ini.


Nabila mengulurkan tangannya untuk di jabat Reno, sebagai tanda perpisahan mereka. “Maaf karena menyakiti kita, semoga kamu bisa lebih bahagia lagi ke depannya,” ucap Nabila.


Uluran tangan Nabila sama sekali tak Reno sentuh, ia yang sudah menyakiti sang istri, tapi wanita itu juga yang meminta maaf. Ia sama sekali tak pantas untuk menerima uluran tangan itu. Bahkan ketika Nabila beranjak dari hadapannya, Reno juga hanya diam, ia sudah menghancurkan rumah tangganya yang indah. Ia gagal menjadi suami dan juga ayah.


Sudah ada Liliana yang menunggu Nabila di pintu keluar ruang sidang. Liliana menyaksikan sidang itu dari awal, ia ingin berada di samping sahabatnya itu. Nabila melarang kedua orang tuanya hadir di sidang itu, ia tak ingin kedua


orang tuanya menyaksikan saat-saat ketika pernikahan sang putri hancur begitu saja.


“Apa rasanya memang sesakit ini, Li?” tanya Nabila. Mereka sudah duduk di dalam mobil Liliana dengan nyaman.


Tanpa perlu di tanyakan lagi, Liliana tahu jika sahabatnya itu sedang menahan tangis. Tanpa perlu berpikir dua kali, Liliana segera membawa Nabila ke dalam pelukannya. Mungkin ini pertama kalinya Liliana menyaksikan kerapuhan Nabila. Sahabatnya itu menangis dengan isakan yang sangat pilu, Liliana merasakan bahunya yang basah karena air mata yang keluar.


Perpisahan memang sesakit itu, dan ini adalah yang pertama juga untuk Nabila. Tak ada yang perlu di khawatirkan dari segi keuangan, Nabila masih memiliki tabungan untuk menghidupi kedua putranya, ia juga masih bisa kembali ke dunia kerja, dan Reno juga masih memiliki tanggung jawab untuk menafkahi kedua anaknya. Yang perlu di

__ADS_1


khawatirkan adalah hati mereka, mampukah mereka melewati pasca perpisahan ini? Apa mereka akan baik-baik saja setelah semua yang terjadi?


Lalu, apa yang akan di tanyakan oleh putranya ketika tahu jika ia sudah tak tinggal bersama ayahnya. Berbagai pertanyaan dan juga kemungkinan sudah ada di kepalanya, tapi, Nabila tak bisa memprosesnya dengan baik. Apa perceraian ini nantinya akan berdampak pada kedua anaknya?


Liliana mencoba menenangkan Nabila dan menjadi sandaran untuk Nabila. Kenapa kisah cinta mereka sangat jauh dari kata sempurna? Keduanya sama-sama pernah bercerai dan merasakan perihnya perpisahan serta beragam kemungkinan yang mungkin mengikuti, serta ketakutan-ketakutan lain yang mungkin terjadi.


Perceraian tak semudah itu.


**


Sepertinya kembali ke Indonesia adalah pilihan terbaik yang pernah Richard pilih, ia bisa menjernihkan pikirannya kembali dari banyaknya pekerjaan yang ia lakukan, dan Kate tentu saja. Richard belum memberitahukan siapapun tentang kepulangannya, termasuk Dimitri, pria itu juga akan tahu dengan sendirinya nanti


Sejak tiga hari yang lalu, Richard sudah di sibukkan kembali dengan berbagai pekerjaan yang sudah menanti, beragam rapat yang ada, dan segala jenis pekerjaan yang ada. Bagus untuk dirinya yang juga butuh pengalih pikiran, belakangan otaknya hanya tentang Kate, begitu juga dengan hatinya.


“Teh?” tanya Kate heran.


“Kenapa? Ada yang salah?” Richard mengangkat salah satu alisnya untuk bertanya.


Ini pertama kalinya Kate berkunjung di apartemen Richard, dan minuman yang di suguhkan Richard adalah teh. Bahkan Ayah Kate sudah sangat jarang mengkonsumsi teh. Minuman non alkohol yang selalu tersedia di rumah orang tuanya dan apartemen Kate adalah Kopi dan jus. Lalu kini, Richard memberinya teh. Apa pria ini bercanda? Apa Kate terlihat setua itu untuk di suguhkan teh? Kate lebih memilih meminum bir sepertinya.


“Kupikir teh sudah sangat ketinggalan jaman untuk pria seusiamu, Richard,” Jawab Kate geli.


“Kau sepertinya terlalu sering menenggak bir dan minuman alkohol lain. Sesekali kau harus meminum ini untuk kebaikan tubuhmu.”


“Kau dan teh sepertinya sangat tak cocok. Atau ini hanya trikmu saja agar aku bisa masuk ke perangkapmu?” selidik Kate.


Serius, rasanya memang semenyakitkan itu untuk sekadar di pikirkan. Richard tak ingin berpikir, tapi memori itu masuk begitu saja tanpa permisi, ia bisa apa selain membiarkan masuk. Kenapa orang lain bisa dengan mudah berganti-ganti pacar layaknya pakaian dalam, ketika untuk memikirkan mencari pengganti Kate saja sudah tak mungkin?


Jika bisa, Richard akan dengan senang hati melakukan hal itu. Tapi, hati kecilnya melarang. Memang obat dari patah hati adalah jatuh cinta lagi, tapi tak semua jatuh cinta yang di maksud adalah jatuh cinta yang sebenarnya. Kebanyakan mereka hanya membenarkan rasa dendam dan pelampiasan sebagai cinta, ketika pada dasarnya mereka masih belum melupakan sang mantan kekasih.


“Kenapa kau bisa mencintaiku?” tanya Kate. Mereka baru saja menyelesaikan sesi bercinta mereka yang cukup menguras tenaga tentunya.


“Aku hanya mencintaimu, apa masih di perlukan alasan?”


Richard membawa Kate semakin dalam di pelukannya, sudah satu tahun sejak pertunangan mereka. Hubungan mereka juga semakin dekat satu sama lain, mereka selalu pergi bersama dan tak terpisahkan. Mereka bergantung satu sama lain dan saling membutuhkan. Apa yang bisa memisahkan mereka.


“Kalau begitu, jangan tanya padaku apa alasan aku juga mencintaimu.”


“Aku sudah tahu tanpa perlu di beritahu, sudah sangat jelas tertulis di wajahmu,” ucap Richard. Ia melirik pada Kate


yang menatapnya heran.


“Apa?”


“Karena aku tampan, bisa di andalkan, dan bisa membuatmu berolahraga di tengah malam.”


Kate tertawa sangat keras hingga memukul lengan Richard karena bentuk rasa percaya diri yang baru saja di lontarkan kekasihnya itu.


Malam itu sempurna, juga hari-hari setelahnya sangat sempurna. Lalu semuanya berbalik hanya dalam sekejap. Seolah-olah waktu yang sangat lama mereka habiskan bersama, tak berarti sama sekali. Semuanya benar-benar berakhir tanpa aba-aba, dan rasanya sangat sakit.

__ADS_1


**


Jika kalian berpikir Elle adalah wanita penurut yang selalu menghormati orang tuanya, maka buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Ia menghormati mendiang ayahnya dan juga sang ibu, sebelum wanita itu memutuskan untuk menjadi wanita penghibur dan menghidupi dirinya sendiri dari semua uang tersebut.


Kehidupan Elle setelah menjadi sekretaris Enzo, hanya berdiam diri di kamar apartemennya dan sesekali keluar jika merasa lapar atau hanya duduk manis di apartemen menunggu pesanan makanannya datang. Mungkin untuk sesekali, hidup monoton itu berubah dengan ajakan Enzo untuk menemaninya datang ke sebuah pesta atau perjamuan.


Malam ini juga terjadi hal yang sama. Jika pesta yang di maksud adalah pesta anak-anak muda di sebuah bar, maka Elle akan merasa sangat terhormat. Setidaknya ia tak perlu bertemu banyak pria tua yang ternyata mengenalnya hanya karena kemiripan yang di turuni dari sang ayah dan juga ibunya.


Pesta yang juga termasuk di dalamnya penggalangan dana itu, berlangsung di sebuah ballroom hotel bintang lima di Frankfurt. Elle tak ingin hadir, tapi Enzo cukup bersikeras untuk membuat sekretarisnya itu hadir. Enzo juga tak mengerti dengan yang sedang terjadi pada dirinya, ia tak sedang tertarik pada Elle atau gadis manapun, ia hanya ingin mengajak sekretarisnya saja.


Elle kembali hanya berdiri di belakang Enzo selama acara berlangsung, ia juga tak berniat untuk mengelilingi ruangan yang sangat luas itu, dan tak ada yang ia kenal satupun. Yang Elle tahu, para tamu yang hadir malam ini adalah para pengusaha dan juga sosialita.


“Elleanor.”


Bukan hanya Elle yang menoleh karena panggilan itu, Enzo juga menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan rambut blonde yang sangat atraktif. Elle mengenali wanita itu, musuh yang berkedok teman baik, rasanya sangat muak jika harus menghadapi wanita itu di sini, di pesta ini yang sangat ramai. Pasti sudah sangat banyak skenario buruk yang mampir di otak wanita itu untuk mengerjai Elle.


“Whitney.”


Elle sudah mengingat nama wanita itu, ia hanya dengan sengaja melupakan, karena memang sangat tak di perlukan untuk mengingat wanita itu, bahkan untuk sekadar nama. Elle sejahat itu, dan ia tak peduli. Orang-orang di sekelilingnya lebih jahat dari ini dan sangat busuk.


“Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” ucap Whitney dengan senyum lebar.


“Ya, aku juga tak menyangka, tapi kadang aku juga merasa ini sebuah kesengajaan. Iya, kan?” Hanya senyum tipis yang Elle berikan pada Whitney. Akan lebih baik jika wanita itu juga berhenti untuk pura-pura baik dan ramah di hadapannya. “Ah, aku lupa memperkenalkan. Whitney, ini Enzo, atasanku di kantor.”


Enzo memberikan senyum tipis dan menjabat tangan wanita bernama Whitney itu. Melihat dari bagaimana cara mereka berinteraksi, mereka bukan teman baik apalagi teman akrab. “Wah, ternyata kau memang benar-benar tampan. Tepat seperti yang sering di ceritakan Elle, kalian sangat cocok.”


Topik pembicaraan ini, Elle sudah tahu akan di bawa kemana. Whitney dan semua omong kosong serta kemampuan untuk mengadu domba orang lain. Jika Enzo cukup pintar, maka omongan Whitney ini seharusnya tak di ambil serius. Elle akan jujur di sini, sejak Enzo mulai mengetahui tentang jati dirinya, Elle mulai merasa kurang nyaman. Mungkin malam ini ia akan sedikit kurang ajar pada bosnya ini, ia sudah tak peduli jika akan di pecat.


“Benarkah? Tapi, kenapa Elle tak pernah menceritakan tentang dirimu?”


Wajah Whitney berubah menjadi kaget karena balasan yang tak terduga itu. Bukan ini yang ada di bayangannya, ia ingin mempermalukan Elle di tengah-tengah keramaian ini. Hening mengisi ketiga orang yang sedang dalam kondisi canggung itu, mungkin hanya Whitney saja yang merasa canggung seperti itu, karena Elle dan juga Enzo masih diam dengan pikirannya masing-masing.


“Aku permisi ke toilet dulu,” ucap Elle.


Mungkin Elle harus merelakan pekerjaan menjadi sekretaris Enzo, setelah di pikirkan berkali-kali memang ia tak cocok untuk kembali ke lingkungan ini. Ia harus keluar dari lingkungan ini untuk memulai kehidupan barunya yang tak berhubungan dengan dunia sosialita maupun pengusaha atau apapun itu. Bukan tak mungkin sebentar lagi banyak yang akan kembali mengaitkanya dengan sang Ibu.


“Ternyata kau cukup pintar juga untuk menggaet pria kaya. Darah memang lebih kental dari air, kan?”


Dari pantulan cermin wastafel, Elle bisa melihat Whitney yang tersenyum angkuh. Wanita ini tak akan membiarkan hidup Elle tenang, itu yang harus di ketahui oleh semua orang.


“Ada masalah dengan hal itu? Bukankah itu berita bagus, kau bisa menghinaku seenaknya di depan banyak orang. Itu tujuanmu, kan?” ujar Elle sarkas.


Elle berjalan menuju pintu keluar, udara yang ia hirup saat ini sudah sangat sesak karena kehadiran Whitney. Mungkin ia harus pulang lebih awal agar ia tak merasakan sesak napas lagi.


“Seharusnya kau mulai sadar dimana kelasmu, aku bisa membuatmu hancur kapanpun aku mau. Jangan terlalu angkuh dan bertingkahlah sesuai kelasmu, kau tak pantas berada di sini.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Whitney segera keluar dari toilet itu. Ya, ini memang salahnya, seharusnya ia tak pernah bekerja sebagai sekretaris Enzo ataupun kembali memasuki dunia yang sudah membuatnya menderita ini. Ia harus segera keluar agar bisa memulai hidup barunya.


**

__ADS_1


__ADS_2