
Hai, soal episode kemarin, aku cuman mau bilang kalo aku bukannya takut di protes. Aku malah seneng banget kalo kalian protes tuh, jadi kayak kalian perhatian banget sama playboy ini. Karena kalian semua punya pendapat yang beda-beda makanya aku bilang kayak gitu, sebenarnya aku pengen banget nyatuin semua pendapat kalian, tapi kayaknya gak bisa. Aku takutnya kalian kecewa di akhir karena gak sesuai harapan kalian, tapi aku bakal tetep usahain yang terbaik buat kalian, okeh? ;D
Happy reading^^
Musim panas sudah hampir berlalu, cuaca sudah lebih dingin karena akan memasuki musim gugur. Daun-daun di sepanjang jalanan sudah mulai menguning, tinggal menunggu hingga daun-daun itu berguguran. Semuanya masih sama, Liliana masih sibuk dengan pekerjaannya dan juga Elang, semua terus berulang. Usia Elang sudah memasuki bulan ke lima belas, dan sudah mampu berdiri di kakinya sendiri. Perkembangan lain yang membuat Liliana selalu tersenyum, walaupun sedikit kewalahan, begitupun dengan pengasuh yang membantu Liliana.
Liliana, Ally, dan Susan keluar dari kantor mereka dengan sambutan angina yang cukup semilir dan lebih dingin dari sebelumnya. Jam kantor sudah usai, dan mereka akan pulang, sebelum seseorang menghentikan langkah mereka. Enzo berdiri di pelataran parkir dengan sebuket bunga di tangannya.
“Ini yang kau bilang ‘tidak sedang dalam hubungan’? Aku berani bertaruh kalau hari ini dia akan menyatakan cinta padamu,” bisik Susan. Ia tersenyum pada Enzo yang sudah melihat ketiganya.
“Aku akan menagih janjimu untuk mengatur kencanku dengan ‘temanmu’ ini,” bisik Ally tak mau kalah.
Ally dan Susan mendorong Liliana agar mendekat pada Enzo, lalu mereka meninggalkan Liliana begitu saja. Itulah definisi dari teman yang ada di seluruh dunia. Fokus Liliana kini beralih pada Enzo yang tersenyum padanya, jika di
ingat-ingat, ini bukan hari ulang tahunnya. Tak mungkin jika ucapan Susan benar, kan?
“Hai,” sapa Liliana.
“Untukmu.” Enzo menyerahkan buket bunga lili putih itu pada Liliana dengan senyum yang mampu melelehkan hati banyak wanita.
“Terima kasih. Ada apa sebenarnya? Kenapa kau menjemputku dan memberiku bunga ini?”
“Karena aku merindukanmu, mungkin,” ucap Enzo. Senyum itu tak pernah lepas dari bibir pria ini, membuat Liliana sedikit curiga.
Enzo sangat jarang menunjukkan senyum lebarnya seperti ini, seperti bukan Enzo yang biasa ia temui. Mungkin sudah hampir dua bulan mereka tak bertemu dan berkomunikasi. Ya, waktu memang berjalan sangat cepat, dan Liliana tak menyadari semua itu.
“Bagaimana kalau makan malam kali ini, kau memasak pasta?” tanya Enzo.
Liliana mengedikkan bahunya, lalu mengangguk. Baiklah, kali ini ia akan menuruti ucapan Enzo, setiap kali juga seperti itu. Tapi, hatinya seperti masih ada yang mengganjal, enzo terlihat berbeda. Atau karena ini efek sudah lama tak bertemu? Bisa saja, kan, karena di jaman seperti sekarang ini, perubahan yang hanya berlangsung dalam sekejap pun mampu terjadi.
**
Setelah berbelanja keperluan memasak pasta dan yang lainnya, Liliana dan Enzo juga Elang yang baru saja mereka jemput sudah sampai di apartemen. Elang tidur seperti biasanya. Menurut pengasuh yang menjaga Elang, sejak pagi, Elang sangat aktif hingga tak ingin di tidurkan ketika siang. Alhasil ketika sore menjelang, Elang baru bisa tertidur.
Usia ini adalah usia aktifnya para balita, Liliana sebenarnya sangat ingin berada di samping Elang ketika bayi itu menunjukkan perkembangannya. Liliana ingin melihat bagaimana kesusahannya Elang ketika berusaha untuk berdiri, atau ketika Elang pertama kali merangkak. Ia memang mendapatkan semua video melalui pengasuhnya, hanya saja seperti ada yang kurang dari semua itu.
“Kau tahu, kau sangat aneh hari ini,” ucap Liliana. Ia sedang mengolah pasta permintaan Enzo, dan pria itu menatapnya dari kursi meja makan.
“Aku tak merasa seperti itu, mungkin hanya perasaanmu saja,” ujar Enzo.
Liliana tak mungkin salah menilai, semuanya terlihat seperti itu. Anggap saja memang Liliana salah menilai, ia hanya tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Enzo.
“Apakah mantan suamimu akan berkunjung ke Jerman lagi?”
“Aku tak tahu, mungkin saja. Dia sempat mengatakan akan berkunjung setiap musim berganti, jadi mungkin saja. Ada apa?” tanya Liliana. ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Enzo.
“Hanya penasaran saja. Apa kau berharap bisa kembali dengannya?”
__ADS_1
Liliana kini mengerutkan alisnya dalam dengan pertanyaan tiba-tiba Enzo ini. Entah apa yang coba di cari oleh Enzo, apakah kecemburuan? Liliana baru menolaknya dua bulan yang lalu, dan baik Enzo maupun Dimitri tak pernah terlibat hubungan baik. Mereka juga hanya sebatas saling tahu, tanpa mengenal masing-masing.
“Pertanyaan ini mengarah kemana sebenarnya?”
“Kalian sudah bercerai, kenapa kalian masih bisa saling akrab satu sama lain? Apakah tak ada perasaan lebih yang terlibat dalam setiap pertemuan itu sekarang?” tanya Enzo. Ia tak memedulikan jawaban Liliana tadi.
Mungkin jika Liliana melanjutkan obrolan ini, tak akan ada akhir dari semua itu. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali fokus pada pasta buatannya. Liliana masih bingung pada perasaannya, dan pertanyaan Enzo tadi sama sekali tak membantu hatinya.
Enzo juga tak mengerti kenapa ia menanyakan pertanyaan seperti itu. Setelah Cecilia menyerahkan dirinya kepada polisi, semuanya berjalan dengan lancar. Ayahnya belum mengetahui soal ini, lebih baik seperti itu, akan lebih bertambah besar jika sang Ayah mengetahui. Ini hanya antara Enzo dan wanita itu.
Setelah semua itu, harusnya ia kembali melanjutkan hidup seperti biasanya. Ia bahkan kembali menemui Liliana setelah sekian lama, untuk meyakinkan hatinya kembali bahwa ia baik-baik saja dan tak terpengaruh dengan keberadaan Cecilia saat ini. Tapi, perasaannya tetap hampa, Liliana bahkan bisa melihat semua itu. Senyum lebarnya, adalah salah satu yang ia paksakan.
“Ini adalah rekam medis milik Cecilia, wanita itu seharusnya berada di rumah sakit. Semua ini hanya semakin membahayakan nyawa wanita itu.”
Itu adalah ucapan dokter yang menangani kondisi wanita itu selama ini. Ia menemui Enzo melalui pengacaranya, satu bulan yang lalu. Wanita itu mengidap radang selaput otak karena kecelakaan yang pernah ia alami, kecelakaan itu menimbulkan benturan keras pada kepala Cecilia, dan keadaan wanita itu sudah sangat fatal kini.
Wajah pucat dan tubuh yang kurus, hal-hal kecil yang tak di sadari oleh Enzo sejak pertemuan pertama mereka. Mungkin ia menyadari, ia hanya tak ingin tahu karena rasa benci yang ia miliki. Atas izin dokter pribadi Cecilia, wanita itu di rawat di rumah sakit di bawah pengawasan polisi. Setelah kondisi wanita itu membaik, hukum akan terus berjalan seperti biasanya.
“Kau melamun?” tanya Liliana. Ia membawa dua piring pasta di hadapan Enzo.
“Kau bisa menceritakan semuanya padaku jika memang ada yang mengganggu pikiranmu,” ucap Liliana lagi.
“Aku masih menunggu jawaban untuk lamaranku waktu itu, jika kau ingin tahu. Kenapa kau juga tak mengerti?”
Liliana tersenyum kecil. Enzo adalah pria baik, siapapun wanita yang berhasil menaklukan hati pria ini, wanita itu sangat beruntung. Wanita beruntung itu sepertinya bukan Liliana.
**
Senyumnya tak pernah berhenti terkembang sejak keluar dari bandara dan mulai menghirup udara Frankfurt. Ia menghirup udara yang sama dengan Liliana, hal itu sudah membuatnya bahagia. Kekanakan sekali, kan? Umur mereka sudah lebih dari cukup untuk melakukan hal-hal seperti remaja kebanyakan.
Ia sudah memiliki janji dengan Richard untuk bertemu, mungkin juga Liliana akan hadir. Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya bersemangat, penerbangan selama enam belas jam seolah tak membuatnya jetlag ataupun lelah. Sudah hampir sore, ia bisa saja menemput Liliana dan makan malam bersama mungkin ide yang tak buruk. Tapi, ia urung. Walaupun ia sangat ingin, ia tak ingin terlalu bersemangat, bagaimana jika Liliana tak menyukainya?
Jadi, Dimitri memilih untuk datang ke restoran tempat janjiannya bersama Richard nanti lebih awal. Kembali ke apartemennya terlebih dahulu terdengar sangat melelahkan, dan ia sudah di pastikan akan tertidur jika melakukan hal itu. Ia juga sangat lapar.
Kedatangannya yang pertama kali setelah bercerai sudah mampu membuat Dimitri membuat keputusan untuk membeli sebuah apartemen. Tinggal di hotel terdengar sangat boros, jadi tak ada salahnya juga memiliki apartemen, hitung-hitung sebagai investasi. Itu juga di lakukan agar ia semakin bersemangat untuk kembali ke
Jerman lagi.
“Kamu datang lebih awal,” ucap Richard.
“Sangat awal bahkan, sejak mendarat aku udah duduk di sini,” balas Dimitri.
Richard tertawa, dan memeluk sahabatnya itu yang kembali datang ke Jerman. Untuk anak dan juga mantan istrinya tentu saja. Richard tersenyum memikirkan hal itu, lucu sebenarnya dalam suasana seperti ini. Tapi ia juga turut bahagia melihat sahabatnya yang selalu melebarkan senyumnya ini.
“Kamu sendirian aja?” tanya Dimitri.
“Kamu berharap aku sama Liliana ke sini?”
Dimitri seharusnya tak perlu malu seperti itu ketika nama Liliana di ucapkan oleh Richard. Tapi, nama itu mampu membawa detakan tak beraturan di jantungnya. Sebesar itulah pengaruh Liliana untuknya, dan mereka sudah bercerai agar kalian tak lupa tentang status mereka.
__ADS_1
“Aku sama tunanganku, dia masih telponan sama klien. Liliana juga dalam perjalanan kemari,” lanjut Richard lagi.
“Jadi kamu udah baikan sama tunanganmu?” tanya Dimitri. Ia tak bisa diam saja ketika sahabatnya ini melontarkan kalimat penuh godaan, sebisa mungkin ia harus membalasnya.
“Sejak kapan memangnya aku bertengkar?”
“Ah, kamu lupa waktu curhat bareng aku sama Kevin. Kayaknya itu pertama kali aku ngeliat wajah kamu kaku dan galau.” Dimitri tersenyum geli ketika mengingat kejadian waktu itu. Richard tak pernah menunjukkan sisi melankolis dalam dirinya, pria itu lebih dingin dari kelihatannya.
Richard mendelik menatap Dimitri, jika tak mengingat persahabatan mereka, mungkin Richard lebih rela mencari sahabat lain. Mereka juga mengalami krisis dalam persahabatan mereka dulu, sama seperti kisah cinta yang di alami Dimitri, dan itu yang membuat hubungan mereka menguat. Badai selalu membuat seseorang lebih kuat dalam menjalani hidup, jika mereka menyikapinya dengan baik.
Richard melambaikan tangannya pada Katherine yang berjalan memasuki restoran. Hubungan mereka sudah membaik sebenarnya karena kejadian ciuman di mobil itu, tapi jadi sedikit lebih canggung. Bukan pertama kali mereka berciuman seperti itu, tapi memikirkannya saja selalu membuat pipi Richard memanas.
“Ini Katherine, tunanganku,” ucap Richard. “Ini sahabatku dari Indonesia, Dimitri.”
Katherine dan Dimitri saling menjabat tangan, dan tersenyum satu sama lain. Ini sama artinya dengan Dimitri menjadi orang ketiga di antara mereka, kan?
Obrolan malam itu lebih di dominasi oleh Richard dan Dimitri, Katherine hanya sesekali menimpali karena ia juga tak mengerti bahasa Indonesia. Melihat Richard tertawa lepas seperti ini rasanya membuat ia sendiri juga bahagia. Ia belum sepenuhnya menyerah pada pria ini, taruhan yang mereka lakukan masih tersisa tiga bulan lagi. Kita lihat saja apa yang akan terjadi dalam kurun waktu itu.
“Lilian baru saja mengirimiku pesan, katanya ia tak bisa datang, Elang tiba-tiba demam,” ucap Katherine.
**
Dimitri masih membawa kopernya ketika tanpa berpikir dua kali langsung mendatangi apartemen Liliana. Elang tiba-tiba demam. Kalimat itu yang membawanya kemari dengan terburu-buru. Beruntung Katherine memberitahu nomor apartemen Liliana, jadi ia tak perlu menunggu di bawah dan justru mengganggu wanita itu.
“Dimitri?”
Liliana kaget ketika menemukan pria itu ada di depan pintu apartemennya, tanpa pemberitahuan juga. Ia hanya sempat mengabari Katherine jika tak bisa hadir, ia sedikit panik ketika mendapati tubuh Elang yang panas, karena itu Elang sedikit rewel.
“Elang demam?” tanya Dimitri.
Liliana masih sedikit tak percaya dengan kehadiran pria itu di apartemennya, ia tahu pria ini datang ke Jerman lagi. Hanya tak menyangka jika ia akan mengunjungi apartemennya. “Sudah lebih baik, tadi aku baru saja membawanya ke dokter,” jawab Liliana.
Elang berada di gendongan Liliana, dengan Liliana yang mencoba membuatnya tertidur. “Mau gantian?” tawar Dimitri.
“Gak perlu, aku takut justru dia bangun kalau bergerak. Setelah ini aku bakal nidurin dia, kamu duduk dulu. Kalau perlu apapu kamu tinggal ke dapur aja,” ucap Liliana. Ia berjalan menuju kamar untuk menidurkan Elang yang mulai tenang di gendongannya.
Setelah memastikan Elang tertidur dengan tenang, Liliana segera berjalan keluar untuk menemui Dimitri. “Kamu belum kembali ke hotelmu?” tanya Liliana. Ia melihat koper yang di bawa oleh Dimitri.
Liliana belum mengetahui perihal apartemen yang di beli oleh Dimitri, nanti ia akan memberitahukannya. Sekarang bukan waktu yang tepat sepertinya, adrenalinnya masih berpacu cukup kuat ketika mengetahui bahwa Elang demam. Liliana pasti sangat panik harus mengurusi semua itu sendirian.
“Ya, aku pikir cukup buang-buang waktu kalau harus pulang balik, jadi aku langsung menemui Richard tadi.”
Liliana menganggukkan kepalanya, rasa paniknya sejak tadi belum juga menghilang walaupun sudah sedikit berkurang. Ia benar-benar sendirian melewati hal itu dan tak ingin menyusahkan yang lainnya, jadi rasa panik itu belum sepenuhnya hilang.
Dimitri menyadari hal itu, Liliana yang tak banyak bicara dan pandangan matanya yang tak terlalu fokus. Dengan tekat yang penuh, Dimitri menggenggam tangan Liliana. Tak masalah jika nanti ia akan di benci oleh Liliana karena sentuhan kecil ini, ia hanya ingin menenangkan Liliana. Bagaimanapun juga, ia ikut bertanggung jawab untuk Elang dan ia merasa bersalah karena tak ada di samping wanita ini ketika saat-saat krusial tadi.
“Apa ada masalah serius dengan Elang?” tanya Dimitri lembut.
“Tak ada yang serius, dokter bilang karena pergantian musim ini. Besok jika demamnya belum turun, aku harus membawanya ke dokter lagi. Tapi, tadi setelah memberinya obat, suhunya sudah menurun. Semoga besok Elang membaik.”
__ADS_1
Liliana membiarkan tangannya yang di genggam Dimitri, ia membutuhkannya. Sekuat apapun ia bertahan, ia tak bisa menahannya sendirian. Ini cukup berat untuknya, ia hanya berusaha untuk kuat. Ia cukup bersyukur dengan kehadiran Dimitri tadi, setidaknya ada yang akan menemaninya selama Elang sakit.
**