
Hai, apa kabar kalian? Semoga baik ya. sebenarnya mau up tadi malam, tapi gak kuat banget buat ngedit malem-malem, tkut amburadul isinya. Kalau semuanya sesuai rencana, bulan ini playboy akan tamat ya.
Happy reading!
Wawancara dengan Katherine Agnesia berjalan dengan lancar. Aktris yang di kabarkan menjalin hubungan dengan pria yang lebih muda darinya sedang menjadi pembicaraan hangat. Seperti biasa, hal itu selalu mengundang rasa penasaran dari setiap orang. Tentang bagaimana seorang janda bisa memikat seorang pria yang lebih muda, tentang simpang siur jika ia sudah memiliki hubungan itu di belakang suaminya sejak lama, serta berbagai hal lainnya yang tak pernah habis menjadi bahasan.
Nabila tak tertarik dengan semua itu, ia tak pernah peduli tentang kehidupan dan juga privasi orang lain yang bahkan tak ia kenal. Yang membuatnya sedikit penasaran hanyalah tentang aktris itu yang berhubungan dengan pria lebih muda. Ia tak pernah percaya jika hubungan seperti itu akan berjalan lancar dan langgeng, apalagi dengan status si wanita. Menyakitkan menyandang status yang selalu di rendahkan orang lain.
Tapi, tak seharusnya kita menjadi lemah dan rendah diri karena omongan orang lain yang bahkan sama sekali tak mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Kalimat-kalimat seperti itu seharusnya memiliki kekuatan untuk kita semakin kuat dan tegar serta mematahkan omongan orang lain tentang apa yang mereka percayai.
Sebenarnya, apapun yang kita lakukan tetap tak akan mengubah pandangan orang lain, mereka hanya akan mempercayai apa yang mereka percayai. Itulah kenapa omongan orang seharusnya menumbuhkan semangat lain di diri kita, bukan malah melemahkan.
Sejak ajakan makan malam kala itu bersama Juna, dan Nabila yang menolak Juna tanpa perasaan, hubungan mereka benar-benar berubah. Ada yang Nabila syukuri walau sedikit kehilangan, tapi memang sebaiknya seperti
itu. Hal seperti itu tak akan menggoyahkan Nabila, walau ia agak sedikit terganggu dengan kenyataan bahwa kini Juna dan Arlina semakin dekat.
“Ternyata Katherine Agnesia itu gak kayak gosip yang beredar, dia ramah, malah sopan banget. Gak tahu ya, kalau aktingnya memang bagus banget kalo wawancara kayak gini, tapi gestur yang dia tunjukin sama sekali bukan kepura-puraan.”
Tasya, fotografer yang bekerja untuk pemotretan Katherine Agnesia kemarin tengah menikmati soto bersama Nabila di kantin kantor. Tasya merupakan kenalan lama Nabila sejak wanita itu masih bekerja di majalah sebelumnya, sebelum Nabila menikah dan memiliki anak seperti sekarang. Dan sekarang mereka di pertemukan lagi dalam kantor yang sama.
“Kamu tahu sendiri gimana netizen sekarang selalu berasumsi, padahal mereka gak kenal, tapi kalo udah nggosipin, berasa paling kenal deket banget,” jawab Nabila.
“Well, risiko publik figur juga, sih. Lagian memang tugas netizen buat komentar, kan? Kamu tahu sendiri gimana kerasnya lingkungan kerja kita ini.”
“Capek banget, Sya. Kamu sih, enak cuman moto-moto aja dapet duit.”
“Di kira moto-moto doang enak kali, ya. Kamu gak tahu aja—“
“Oke, stop. Aku tahu kamu bakal ngomongin soal teknik motret dan sebagainya itu, udah tahu banget aku,” potong Nabila. Ia menatap wanita itu dengan senyum geli.
“Untung temen, kalo enggak udah aku kirim ke Mars kamu, Bil,” balas Tasya dengan wajah kesal.
Mereka cukup dekat, tapi memang sangat jarang duduk dan makan bersama seperti ini. Karena pekerjaan mereka yang kadang bentrok serta tak memiliki jadwal libur yang sama, tapi jika ada waktu luang mereka selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan mengobrol ringan.
“Gimana kabar mantan suami kamu?”
Nabila menyipitkan mata pada pertanyaan yang di ajukan Tasya sebelum menjawab. “Musti banget nanyain kabar mantan suami lewat aku? Emang aku harus tetep kontak sama dia buat hal remeh kayak gini?”
Tasya tertawa atas wajah kesal Nabila dan jawabannya, ia tak benar-benar bermaksud menanyakan jawaban itu untuk sebuah keseriusan. “Sensi banget, Bil. Lagi PMS apa gimana?”
“Ya lagian, musti banget nanyain Reno sama aku.”
Dari sudut kantin yang lain, Nabila melihat Juna yang baru memasuki kantin bersama dengan Arlina. Keduanya terlihat sangat akrab dan cocok, lihatlah bagaimana mereka tertawa satu sama lain lalu duduk di kursi yang cukup jauh dari tempat Nabila, tapi ia masih bisa melihatnya dengan jelas.
Entahlah, ia ingin menyesal, tapi tak seharusnya perasaan itu hadir di hatinya. Ia sendiri yang memilih untuk melepaskan perasaannya, tapi ia juga tak ingin menyangkal jika ia juga sedikit sakit hati melihat keakraban keduanya.
“Sya, menurut kamu kalau perempuan janda kayak Katherine Agnesia yang pacaran sama berondong gimana?”
Tasya menelisik wajah Nabila yang baru saja melontarkan pertanyaan itu. Sepertinya memang sedang menjadi tren memacari pria yang lebih muda, ia juga bingung sebenarnya kenapa mendadak seperti itu. Apa pria dewasa zaman sekarang memilih untuk mengistirahatkan dirinya dan membiarkan pria muda yang bekerja keras? Bekerja keras untuk mencari wanita dewasa untuk mereka.
__ADS_1
“Kamu suka sama berondong?” tanya Tasya.
“Aku ngomongin Katherine Agnesia, ya, jangan ge-er.”
“Kalo menurut aku ya, tergantung kedua belah pihak. Kalo sama-sama mau, terus sama-sama cinta, ya jalanin aja. Sejak kapan, sih, cinta mandang umur? Kalo suka ya, suka aja.”
Nabila menganggukkan kepalanya, ia juga paham dengan konsekuensi yang di terima jika memang berpacaran dengan pria lebih muda. Harusnya untuk urusan percintaan kali ini, ia mengeluarkan sikap blak-blakannya agar tak perlu seperti ini.
**
Saat ini hubungan Juna dan Nabila benar-benar sudah tak menunjukkan kedekatan secara pribadi lagi, semuanya hanya tentang pekerjaan. Sudah tak ada senyum manis yang di tunjukkan Juna pada Nabila, dan tak ada perhatian-perhatian kecil itu lagi, candaan konyol yang sering di lontarkan Juna juga sudah tak ada lagi. Tak ada lagi yang tersisa dari kedekatan mereka kala itu.
Ponsel Nabila yang ada di atas meja bergetar, sebuah panggilan masuk dari Richard muncul di layar.
“Jadi mau ke rumah Liliana, gak?”
Dua minggu lalu, Liliana sudah melahirkan putri cantiknya melalui operasi caesar, dengan kondisi bayi yang prematur. Beruntung, setelah penanganan terbaik dari dokter dan para suster, bayi mungil yang di beri nama Assyifa itu mengalami kondisi yang stabil hingga di perbolehkan untuk pulang. Walaupun kondisi Liliana sendiri cukup menurun pasca operasi, ia juga perlahan mulai pulih.
“Jadi, dong. Aku belum siapin kado, jadi kita mampir dulu sebelum ke sana,” jawab Nabila.
“Gak ada niatan buat ngajakin si Juna, Bil?”
Pandangan Nabila seketika beralih pada kubikel Juna yang terletak di depannya. Ia sudah menceritakan pada Richard tentang keputusannya untuk mendorong Juna menjauh, yang tentu saja membuat pria itu histeris. Richard itu benar-benar pria yang sangat ekspresif akan sesuatu hal, apalagi dalam hal meledek Nabila.
“Aku bisa, ya, pastiin hubungan kamu sama Kate putus lagi,” ancam Nabila.
Hanya satu hal yang menjadi kelemahan Richard, Kate. Nama itu sudah seperti sesuatu yang wajar dan sangat keramat, karena ia juga sangat mencintai wanita itu lebih dari apapun.
“Gak lucu banget ancamannya, Bil. Aku juga bisa doa’in kamu supaya cowok gak mau deket ya sama kamu.”
Obrolan keduanya tetap berlanjut hingga dua puluh menit kemudian, beruntung pekerjaannya sudah selesai hingga ia bisa sedikit bersantai. Hanya matanya yang kini masih betah menatap punggung lebar itu.
“Kayaknya bener kalau aku udah mulai suka sama Juna, Chad. Gimana ini?” bisik Nabila lirih.
“Well, kamu berharap aku bakal gimana? Selametin kamu, gitu?”
Nabila tahu, jika pembicaraan dengan Richard tak akan pernah berjalan dengan baik. Jika mereka berdua sudah bertemu atau bahkan mengobrol hingga lama seperti ini, percaya saja jika hanya akan ada makian dan juga umpatan serta sumpah serapah.
“Chad, kalau aku jadi Kate, aku pasti bakal langsung putusin kamu.” Nabila segera memutus telepon sebelum banyak hal buruk yang akan ia katakan pada pria itu.
Pandangan Nabila kembali pada punggung Juna. Ada rasa bersalah ketika ia menatap wajah pria itu, rasa bersalah karena tak bisa membalas perasaannya, padahal sudah banyak hal baik yang di berikan Juna padanya. Walaupun ia tahu jika semua itu tanpa pamrih, tapi tetap ada rasa bersalah. Jika saja jika hidupnya sudah berubah menjadi wanita yang lebih baik, ia akan lebih berani untuk membalas perasaan itu.
Setelah membereskan semua pekerjaan dan juga barang-barangnya, Nabila segera beranjak menuju lobi kantor. Richard sudah menunggunya, jika Nabila tak segera turun, perang dunia ketiga mungkin akan segera terjadi. Richard lebih mengerikan di banding perang dunia ketiga. Meja Juna telah kosong karena pria itu pulang terlebih dahulu
“Kamu beresin meja semua karyawan apa gimana?”
Lihat, kan? Baru saja Nabila menginjakkan kaki di depan mobil pria itu, ia sudah mulai mengomel. Bagaimana jika Nabila lebih lama dari ini? Nabila hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan pria ini yang memiliki beberapa perusahaan dan juga membawahi banyak karyawan serta memiliki kekasih yang juga sama kayanya.
“Hai, Juna.”
Kaki Nabila yang sudah berada di samping pintu mobil Richard seketika berhenti. Kenapa masih ada Juna di sini? Bukannya pria itu sudah pulang sejak setengah jam yang lalu? Nabila menolehkan kepalanya untuk menatap Richard yang sedang tersenyum pada siapapun itu di hadapannya. Ini buruk. Nabila tak ingin bertemu pria itu.
__ADS_1
Dan ketika kepala Nabila sudah sepenuhnya menoleh ke belakang, ia benar-benar menemukan Juna dan juga Arlina yang menggandeng lengan Juna erat. Pemandangan apa ini? Kenapa sangat menyakitkan untuk di lihat.
“Mbak Nabila,” sapa Arlina dengan senyum manis.
Nabila terpaksa membalas senyuman itu dengan terpaksa, siapapun juga tahu jika senyuman Arlina hanyalah sebuah kepalsuan. Ingat-ingat saja bagaimana sikap wanita muda itu padanya dulu. “Kalian baru mau pulang?” tanya Nabila tenang.
“Iya, Mbak. Mbak juga mau pulang?” jawab Arlina.
Pandangan Nabila berpindah pada Juna yang juga sedang menatapnya datar. Apapun yang ada di pikiran Juna saat ini, Nabila sama sekali tak berniat untuk tahu, itu pasti bukan hal yang baik untuknya. “Yuk, Chad. Kita harus mampir beli kado dulu.”
Richard mengangguk, setelah ia tersenyum pada sejoli di hadapannya, ia segera mengikuti Nabila untuk masuk ke mobilnya. Walaupun mulutnya sangat berbisa dalam mengejek Nabila, tapi ia juga tahu bagaimana
perasaan wanita ini.
“Gimana perasaan kamu?” tanya Richard.
Keduanya sudah berada di jalan yang akan membawa mereka untuk berbelanja kado untuk putri Liliana. “Aku gak sesedih itu, aku cuman ngerasa bersalah aja sama Juna karena dia udah baik banget sama kita selama ini. Bukan hal yang serius.
Bohong. Ia cukup sakit menyaksikan pemandangan tadi.
**
“Aku punya syarat sebelum menandantangani surat cerai ini.”
Reni menatap Reno dengan penuh tanya, biasa syarat yang di ajukan pria ini akan sangat aneh dan pasti bukan syarat yang baik. Reni selalu berharap jika suatu saat nanti Reno bisa memiliki sedikit perasaan cinta untuknya. Tanpa harus memusingkan perceraian seperti ini.
“Apa?”
“Temui dokter Aluna, lalu jalankan terapi bersamanya. Kalau kamu udah lebih sehat dan sembuh, kamu bisa mengunjungi keluarga kamu bahkan pengunduran diri juga.”
“Kamu masih anggep aku gila, kan? Harusnya kamu tinggal ceraikan aku aja, tanpa harus repot-repot kayak gini.”
Harusnya seperti itu, tapi hatinya berkata lain. Lebih tepatnya hati Reno yang berkata lain, mungkin ia yang terlalu baik dan sangat menginginkan untuk menolong sahabatnya ini. Ia berpikir mungkin ada sedikit cara untuk mengembalikan Reni pada tempat yang seharusnya hingga wanita itu bisa menopang hidupnya sendiri.
Pembicaraan itu masih cukup jelas di ingatan Reni, yang tak jelas hanya bagian menunda membubuhkan tanda tangan itu. Bukankah lebih cepat lebih baik? Jika ini adalah drama, maka saat ini adalah saat yang terbaik dari sebuah plot yang di miliki, karena emosi yang mulai memuncak dari kedua belah pihak.
Reni hanya tak ingin jika hal-hal seperti ini membuatnya menginginkan hal lain dari Reno, ia tak ingin mengharapkan sesuatu yang tak bisa ia dapatkan. Mustahil untuk mendapatkan cinta dari pria yang sama sekali tak meliriknya, lalu kenapa pria itu dengan seenak hati mengacak-acak hidupnya dengan berbaik hati? Bukan urusan pria itu juga tentang akan menjadi apa ia jika tak menemui psikolog.
“Apa yang akan kudapat dari menemui dokter ini? Toh mereka tak akan bisa menyembuhkanku, ini bukan pertama kalinya, aku hanya akan mengonsumsi banyak pil penenang.”
“Dia yang terbaik, aku yakin itu, dan kamu pasti bisa sembuh.”
“Aku gak ngerti, No. Kenapa kamu ngelakuin ini? Kamu gak bakal cinta sama aku, tapi kenapa kamu ngelakuin hal ini? Kenapa kamu kayak gini?”
Bahkan saat ini, pria itu sedang bersama anaknya di apartemennya yang lain, dan ia tak akan pulang selama satu minggu. Reni tak akan bisa menggantikan Nabila atau anak-anaknya di hati Reno, jadi jangan salahkan Reni ketika ia kadang kehilangan kontrol dengan menyakiti salah satu dari mereka ataupun keduanya.
Rasa cemas yang masih ia rasakan kadang sudah pada tahap yang cukup parah, Reni juga bisa merasakan hal itu. Ia seharusnya masih berkonsultasi sejak beberapa tahun yang lalu, tapi ia justru melarikan diri dan tak pernah menemui dokternya lagi. Rasa cemasnya tak pernah berkurang dan semakin banyak pil yang ia telan, tak ada yang berubah selama itu dan tak satupun orang yang menyelamatkannya.
“Aku ngelakuin ini sebagai sahabat kamu dan karena rasa kepedulian yang aku punya. Kamu berhak sembuh, dan aku akan memastikan kalau kamu sembuh dari semua kecemasan kamu. Kamu gak capek hidup di hantui dengan perasaan cemas seperti itu? Bagaimana jika kamu pingsan di suatu tempat, dan gak ada yang nyelamatin kamu?”
“Kamu gak seharusnya peduli, aku udah nyakitin Aidan.”
__ADS_1
Tapi, semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, kan? Karena selalu ada alasan di balik semua tindakan impulsif itu, itu hal yang Reno percayai.
**