Playboy

Playboy
#2# Take 5


__ADS_3

Yok kita siap-siap buat badai yang akan terjadi, pegangan yang kenceng. Aku gak bakal tanggung jawab soalnya.


 



 


Sudah terhitung sejak dua minggu, Elle resmi bekerja menjadi sekretaris Enzo. Tak ada masalah-masalah berarti yang terjadi, ia juga sudah bisa sedikit mengimbangi Rose yang sangat cekatan untuk berbagai hal. Rasanya akan sangat lama hingga Elle akan menjadi seperti Rose. Rose sangat cekatan dan juga terkoordinasi dengan baik, seandainya saja Rose akan lebih lama mengajari semua hal yang harus di pelajari, mungkin akan lebih baik. Tapi, tak mungkin terjadi juga, mustahil lebih tepatnya.


Siang itu, Enzo dan juga Elle sedang menikmati makan siang setelah rapat panjang sejak pagi. Rose memang masih bekerja, tapi untuk urusan rapat di luar seperti ini, Elle yang akan di bawa oleh Enzo. Untuk memudahkan Elle juga dalam beradaptasi dan setidaknya pengenalan singkat terhadap pekerjaan apa saja yang akan ia kerjakan.


Mereka makan dalam keheningan. Beberapa kali Elle memang mencuri pandang terhadap Enzo, ini bukan sebagai bentuk rasa suka yang Elle rasakan. Ia juga sama sekali tak berharap kejadian klise seperti itu tak terjadi padanya, ia tak berada di usia untuk terlibat dalam hal seperti itu. Elle hanya sedang mengingat pertemuan dengan beberapa ‘teman-temannya’ kemarin.


Elle tak memiliki teman, itu sangat benar. Dulu ia pernah berada di fase ketika semua orang mendekati dan juga menemaninya, tentu saja dengan iming-iming mendapatkan sesuatu jika mereka bisa menjadi kepercayaan putri satu-satunya keluarga Danuwijaya. Baik itu dari teman-teman Indonesia yang kebetulan tinggal di Jerman, atau orang Jerman yang kebetulan tahu soal ketenaran Danuwijaya.


Dulu sang ayah memang se-kaya dan se-terkenal itu. Para pengusaha pasti akan mengenal keluarga Danuwijaya. Kemarin, yang Elle temui adalah kelompok itu. Mereka bukan teman dalam arti yang sebenarnya, hanya sekumpulan wanita-wanita muda sosialita yang suka memamerkan kekayaan


“Kudengar sekarang kau menjadi sekretaris Enzo Gioto, apa yang kau lakukan hingga ia bisa menerimamu?” tanya


seorang wanita dengan rambut blonde terang dengan wajah angkuh.


 Percayalah, Elle sendiri pun tak mengingat nama wanita itu. Ia juga tak mengerti kenapa ia bisa berakhir di restoran bersama wanita-wanita itu. Sangat menyebalkan, kan? Mereka semua tahu yang terjadi pada keluarga Danuwijaya, lalu mereka dengan kurang ajarnya hanya muncul untuk mengolok-olok Elle.


“Mungkin kalian lupa jika aku lulus dengan cum laude, aku bahkan sudah menyelesaikan tesisku. Tak semua hal harus di dapat dengan cara murahan, sesekali harus menggunakan otak,” balas Elle sarkas.


Itu benar. Elle sudah menyelesaikan tesisnya tepat sebelum kejatuhan itu terjadi. Mungkin ia terkenal sebagai putri


yang manja dan juga angkuh, tapi sang ayah selalu menekankan untuk menyelesaikan pendidikan sebisa mungkin. Setidaknya jika ingin sombong, harus ada beberapa hal yang di banggakan, karena kekayaan tak selamanya bisa di sombongkan.


“Lihatlah siapa yang mengatakan kalimat itu.” Wanita blonde tadi menampilkan seringainya, tanda bahwa ia siap memulai pertarungan yang sebenarnya. “Ibumu jauh lebih murahan jika kau ingin tahu, aku yakin ini hanya akal-akalanmu saja untuk menggaet Gioto itu. Targetmu cukup bagus kali ini.”


Elle jadi kembali mengingat kenapa ia datang menemui beberapa wanita yang sudah sangat memusuhi Elle. Ia tak ingin di anggap pengecut karena menghindari wanita yang bahkan namanya saja tak bisa di ingat oleh Elle, ini serius. Elle benar-benar tak mengingat nama wanita itu.


Setelah mencuri-curi pandang pada Enzo, ia juga mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia yakin pasti ada paparazzi yang akan dengan sengaja di bayar oleh wanita blonde itu. Untuk apa? Untuk menjatuhkan Elle, dan juga Enzo mungkin dengan menciptakan skandal murahan. Itu sudah pernah terjadi, sangat sering malah. Bisa di bilang, wanita blonde itu adalah musuh bebuyutan Elle.


“Kau sudah menyelesaikan makanmu? Kita harus segera kembali ke kantor,” ujar Enzo.


Elle hanya menganggukkan kepalanya. Ia segera bersiap-siap untuk berdiri, sebelum sebuah siluet hitam tertangkap pandangannya. Bersembunyi di balik pilar yang membelakangi tempat duduk mereka saat ini. Itu yang Elle cari sejak tadi.


“Bapak mungkin keluar lebih dulu, saya harus ke toilet lebih dulu.”


Enzo hanya menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan keluar, sementara Elle berjalan menghampiri siapapun itu yang dalam balutan pakaian serba hitam. Elle bukan termasuk wanita yang lemah dan mudah di gertak, ia lebih liar dan dingin, sangat berbanding terbalik dengan yang ia tunjukkan ketika sedang bekerja.


Tak butuh waktu lama untuk menghampiri orang tersebut, dengan kasar Elle segera merebut kamera yang sedang berada di genggaman orang itu yang ternyata adalah seorang pria setelah di hampiri lebih dekat.

__ADS_1


“Apa-apaan kau!” teriak pria itu.


Elle tak menggubris pria itu, ia mengeluarkan kartu memori di dalam kamera tersebut lalu membanting kamera berat itu dengan dingin. Elle yakin harga kamera itu sangat mahal, tapi siapa yang akan peduli? Perhatain beberapa pengunjung teralih dengan bantingan kamera itu, beberapa lainnya bahkan sudah mulai tertarik dengan yang sedang terjadi.


“Katakan pada siapapun yang menyuruhmu itu untuk meminta semua ganti rugi padaku,” ucap Elle dengan datar dan dingin lalu berlalu dari hadapan pria itu.


Cekalan di pergelangan Elle menghentikan langkahnya. “Bukankah kau sangat tak sopan? Kau bahkan tak mengucapkan permintaan maaf, dan kau mengambil semua data yang sudah kukumpulkan,” ucap pria itu.


Sama sekali tak ada rasa takut yang di miliki oleh Elle, ia menantang mata yang menatapnya itu tak kalah dingin. Dua tahun hidup dalam rasa tak aman, membuat Elle tak memiliki rasa takut sedikitpun pada apa yang menimpanya. Ia hanya tak ingin orang lain juga terseret dalam permasalahan yang ia miliki. Dalam kasus ini adalah Enzo. Mereka hanya sebatas atasan dan bawahan, hal itu membuat Elle lebih sensitif, pastinya tangan jahil wanita blonde itu tak akan berhenti di sini.


“Dan apa yang kau kumpulkan? Kau mengganggu privasi orang lain, bagaimana aku bisa membiarkan hal itu begitu saja.”


Terlihat raut wajah yang sudah memadam di hadapannya. Sepertinya Elle berhasil membuat pria itu menahan amarahnya. “Kau!”


Elle bergeming, bahkan ketika pria itu sudah melayangkan kepalan tangannya ke arahnya. Kepalan tangan itu tak pernah mengenai Elle, karena sebuah tangan yang menahan semua itu.


**


“Aku lagi gak salah denger, kan, Bil?” tanya Liliana masih dengan raut tak percayanya.


Itu hari minggu siang, ketika malam sebelumnya Nabila meminta untuk berbicara dengan Liliana. Tentu saja sangat di setujui oleh Liliana, mereka sudah sangat jarang bertemu. Mungkin hanya sesekali saja, itu juga melalui panggilan telepon ataupun panggilan video. Tak ada anak-anak yang bersama mereka, untuk memudahkan sesi bergosip kali ini lebih lancar. Untuk saat ini mungkin akan menjadi sesi curhat terlebih dahulu.


“Kamu gak salah denger, Li. Aku serius ingin bercerai dengan Reno,” jawab Nabila. Tak ada nada berlebihan yang di gunakan, benar-benar Nabila dalam mode serius.


“Semua yang kamu sebutin itu sama sekali gak bisa jadi alasan rumah tangga bisa bertahan lama,” lirih Nabila.


Liliana benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi. Terakhir kali keduanya bertemu, mungkin sekitar satu bulan yang lalu, baik Reno maupun Nabila baik-baik saja. Kalaupun mereka memiliki permasalahan lain, Nabila bisa untuk mencurahkan semuanya pada Liliana.


“Ada yang terjadi, Li, dan aku baru memastikan semuanya tiga hari yang lalu secara sepihak. Reno selingkuh dengan sesama rekan dokternya.”


Mata Liliana membulat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nabila. Dari semua pria yang Liliana kenal, Reno ini adalah salah satu pria yang paling tak mungkin untuk selingkuh atau bermain apai dengan wanita lain kecuali Nabila tentu saja. Hal seperti itu tak mungkin terjadi, sangat tak masuk akal.


“Kamu udah bicarain ini sama Reno?”


Hanya gelengan kepala yang Nabila berikan, kepalanya tertunduk dalam di kursinya. Apa semua itu benar-benar terjadi? Semua yang Nabila ceritakan dan tunjukkan sangat mustahil untukku.


“Kamu udah punya dua anak, Bil. Ini bukan hanya tentang kamu, tapi juga anak-anak kamu, apa kamu gak bisa omongin ini dulu sama Reno? Dia pasti punya penjelasan,” pinta Liliana. ia menggenggam tangan Nabiila yang berada di atas meja.


Ia pernah mengalami pahitnya perceraian, dalam artian yang benar-benar sangat pahit dan buruk. Tak ada yang lebih buruk dari sebuah perceraian, dan bagaimana bisa sahabatnya ini ingin bercerai? Selingkuh memang buruk, tapi semua bisa di bicarakan, kan? Dalam kondisi Nabila, banyak yang harus di pertimbangkan.


“Gak ada yang bisa di jelasin lagi, Li. Aku ngeliat dengan mata kepalaku sendiri gimana mesranya mereka. Ini berat buat aku.”


Liliana menatap Nabila yang sepertinya sangat frustrasi. Lihat saja kantung mata itu, dan wajah yang sama sekali tak memancarkan sinarnya, itu bukan Nabila yang Liliana tahu. Nabila adalah sahabat yang paling ceria dan sangat bisa membantu semua masalah yang Liliana hadapi, jadi kabar ini sangat amat mengejutkan dirinya.


Siapa yang akan menyangka jika rumah tangga yang sangat damai itu tiba-tiba di kabarkan  akan segera berakhir? Mungkin dalam kasus Liliana, semua hal itu tak terlalu memusingkan. Sangat pusing sebenarnya, tapi kali ini Nabila lebih rumit. Mereka sudah memiliki dua buah hati yang semakin lama akan semakin bertumbuh. Rasanya akan sangat tak adil jika dengan tiba-tiba keduanya memutuskan untuk bercerai.

__ADS_1


“Bil, perceraian bukan hal gampang yang langsung bisa kamu putusin. Aku pernah ada di tahap itu, dan itu sangat berat buat aku sendiri, bukannya akan lebih baik kalau kamu omongin masalah ini secara baik-baik sama Reno? Aku yakin pasti ada penyelesaiannya tanpa harus bercerai,” ucap Liliana lembut.


Nabila bergeming, kepalanya sudah tak tertunduk lagi. Mata itu menatap Liliana untuk mencari pembenaran, ingin mencari sebuah pembelaan dari semua kalimat yang sudah di katakan tadi.


“Apa perlu penjelasan lagi?” Nabila meletakkan beberapa foto yang menampilkan Reno sedang tersenyum sangat lebar di depan seorang wanita yang juga mengenakan jas putih.


Di foto lain bahkan Reno tak segan untu mengecup pipi wanita itu, keduanya sangat bahagia di foto itu, sangat terlihat jelas melalui tangkapan kamera seperti ini. Liliana menahan nafasnya menatap semua foto-foto itu, Reno yang sangat pendiam itu tak mungkin melakukan hal seperti ini pada sahabatnya?


“Aku udah cari tahu semua tentang wanita itu, dan juga hubungan mereka, aku menyewa detektif untuk semua ini, dan kamu udah bisa nebak apa yang aku dapatkan. Mereka…mereka—“ Nabila tercekat untuk melanjutkan kalimat berikutnya.


Liliana bangkit dari duduknya untuk pindah ke samping Nabila, ia memeluk sahabatnya ini. Bahkan yang terlihat baik-baik saja pun, ternyata sedang tak baik-baik saja. Ia benar-benar tak menyangka akan seperti ini hubungan rumah tangga sahabatnya. Dulu Liliana selalu di buat iri dengan keharmonisan rumah tangga Nabila yang selalu tenang tanpa badai, Reno selalu menjadi suami idaman wanita apapun karena rasa cinta yang selalu ia tunjukkan di hadapan Nabila.


Lalu setelah lima atau enam tahun, atau bahkan sudah tujuh tahun rumah tangga mereka, semuanya menjadi seperti ini.


**


Dengan langkah gontai, Liliana memasuki rumahnya yang dalam keadaan damai. Sudah pukul lima sore ketika Liliana sampai. Ia menemukan Dimitri yang sudah duduk di sofa ruang tengah sembari menikmati tontonan di hadapannya. Dimitri mendongak ketika mendengar suara pintu yang tertutup, senyummnya terkembang ketika menemukan Liliana berdiri di sana.


Tak butuh waktu lama untuk Liliana berlama-lama berdiri, ia segera menghambur ke dalam pelukan suaminya itu. Ia memeluk pinggang Dimitri dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami dengan posesif. Pembicaraan dengan Nabila tadi benar-benar membuatnya ikut terbawa emosi, siapa yang tak akan emosi ketika mengetahui semua fakta jika sahabatmu di sakiti begitu dalam oleh suaminya yang sangat ‘baik’ itu?


“Ada apa? Bagaimana dengan Nabila? Apa saja yang kalian obrolkan?” tanya Dimitri. Matanya fokus pada berita yang sedang tayang di televisi, tapi tangannya fokus untuk membalas pelukan erat Liliana di tubuhnya.


“Nabila mau cerai.”


“Kenapa?”


“Reno selingkuh sama rekan dokternya.”


Kini mata Dimitri terfokus pada Liliana yang masih nyaman di pelukannya itu. Dimitri juga sangat mengenal Reno dengan baik, pria itu adalah tipe pria yang tak mungkin akan melakukan perselingkuhan.


“Ini bener Reno selingkuh? Reno yang aku kenal itu, kan?” tanya Dimitri tak percaya.


Liliana mengangkat wajahnya dan menganggukkan kepala. “Dari semua pasangan, aku gak percaya kalau Nabila juga akan di selingkuhi sama Reno. Kamu tahu, dia pria baik yang gak mungkin untuk selingkuh. Aku bener-bener gak nyangka.”


Dimitri mengecup puncak kepala Liliana, selingkuh juga merupakan topik yang sedikit menyentil Dimitri. Ia pernah mengalami fase ini, walaupun semuanya hanya jebakan, tapi sangat nyata. “Aku yakin Nabila pasti bisa memilih yang terbaik buat dirinya dan juga anak-anaknya.”


Hanya anggukan yang Liliana berikan di pelukan Dimitri, ia kembali mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami. “Kamu tahu, kan, kalau aku juga gak akan memaafkan kamu kalau sesuatu yang sama kembali terjadi?” tanya Liliana lirih.


“Aku tahu, sayang. Mulai sekarang aku gak akan diam aja, aku akan bicara tentang apapun sama kamu. Komunikasi yang terpenting, kan?”


Liliana menegakkan duduknya di hadapan Dimitri. Mereka sudah berjanji untuk saling memperbaiki apa yang salah di awal pernikahan mereka. Butuh sekitar dua tahun untuk Dimitri kembali meyakinkan Liliana, dan lagi itu bukan proses yang mudah. Liliana selalu membuat Dimitri bekerja lebih keras dari biasanya, dan tak ada penyesalan untuk itu. Sekarang semuanya menjadi semakin jelas, dan Dimitri tak akan kembali melepas Liliana untuk semua kebodohan yang mungkin ia perbuat. Liliana dan Elang adalah dua hal berharga yang ia dapatkan, dan tak akan ia tukar dengan apapun yang terjadi, untuk semua alasan apapun.


Liliana mengecup pipi Dimitri singkat. “Kamu mau di masakin apa buat makan malam?” tanya Liliana yang segera beranjak ke dapur. Senyumnya terkembang, ia berharap jika akan bertahan seperti ini hingga mereka menua nanti.


**

__ADS_1


__ADS_2