
Hai, maaf ya karena baru apdet setelah sekian lama. Aku janjiin kalau ini bakal tamat dalam waktu dekat, dan emang bener, cuman aku gak bisa janjiin apdet tiap hari. Udah bisa nulis aja aku ngerasa bersyukur banget, jadi mohon kesabaran kalian buat nunggu ya.
Happy reading^^
**
Reni menyanggupi permintaan Reno untuk menemui dokter Aluna, seorang psikiatri yang juga pernah ia kenal ketika masih bekerja di rumah sakit. Mungkin semua itu tak akan membuat Reno segera mencintainya, tapi ia akan mencobanya. Tak ada yang buruk dari menemui seorang psikiatri, bertahun-tahun lalu ia juga pernah melakukan hal yang sama.
Yang Reni benci dari menemui seorang psikiatri hanyalah fakta bahwa akan ada orang lain yang mengetahui masalah pribadinya. Rasa malu itu pasti akan melekat dalam dirinya, jangan anggap ia wanita kuat setelah semua hal yang ia lakukan, justru sebaliknya. Tapi, tak ada yang mengetahui semua itu, semua orang sibuk fokus pada keburukan yang ia lakukan.
“Maaf, tapi aku gak bisa nemenin kamu di dalem,” ucap Reno. Permintaan Reni ketika menyetujui hal ini adalah Reno harus mengantarkannya. Untuk sehari saja, ia ingin menjadi pasangan suami istri yang normal.
“Aku punya permintaan lagi.”
Reno menatap Reni yang ada di sampingnya, wanita itu belum juga turun dari mobilnya padahal sudah hampir lima menit mereka sampai. Ia yakin, permintaan yang di minta wanita ini tak akan lebih baik dari yang sebelumnya. Ingat, betapa liciknya sahabat yang ia nikahi kini. Semoga niatnya kali ini akan mendatangkan hasil yang lebih baik.
“Aku yakin kalau kau bukan ingin meminta sesuatu lagi, tapi memaksakan kehendakmu,” ucap Reno.
“Ya, kurang lebih seperti itu. Aku hanya ingin kamu belajar mencintaiku, itu permintaanku.”
Kali ini hening menyelimuti keduanya, Reni sangat tahu jika Reno hanya mencintai Nabila dan juga kedua anaknya, sampai kapanpun akan seperti itu. Bahkan setelah perceraian ini pun, Reno tetap mencintai mantan istrinya itu. Miris memang, tapi bagaimana lagi? Reni juga ingin dincintai, dan yang bisa melakukan hal itu hanyalah Reno, ia yakin itu.
“Turunlah, aku gak mau Aluna nunggu lama.”
“Harusnya kamu tahu apa yang akan terjadi dengan semua bantuan yang kamu berikan ini, kamu memberiku banyak harapan, Reno. Apa kamu gak bisa sebentar aja untuk belajar mencintai aku?”
Kalimat Reni penuh dengan permohonan, mencoba sedikit saja jika usahanya kali ini akan berhasil. Ia ingin kali ini saja orang lain akan melihatnya tanpa tatapan penuh penghakiman, sudah berkali-kali di katakan jika ia juga wanita biasa, kan? Hanya saja hatinya sudah di penuhi oleh banyak luka, alasan kenapa ia menjadi wanita seperti ini.
“Maaf kalau aku memberimu banyak harapan, tapi aku tak pernah melihatmu lebih dari seorang sahabat. Kamu sangat tahu hal itu.”
“Apa aku gak punya kesempatan itu? Bahkan hanya sekali dalam hidupmu, berikan aku kesempatan, Reno.”
Untuk kesekian kalinya, Reno kembali merasakan sesak di dadanya. Ketika Nabila menggugat cerai dirinya, dan kali ini Reni yang memhon padanya. Apa lagi yang lebih buruk dari semua ini? Suasana di dalam ruangan sempit itu membuat otak Reno tak bisa berpikir dengan jernih, sebenarnya tak ada yang perlu di pikirkan, kalimat Reni yang penuh permohonan itu saja yang membuatnya seperti ini.
“Hubungan kita tetap tak akan berubah, Ren. Dari awal aku gak pernah menginginkan pernikahan ini, aku hanya ingin membantumu sebagai seorang sahabat, tak lebih.”
“Oh ya?” Reni tertawa terbahak-bahak setelah menyuarakan ketidakpercayaannya. Ia tertawa dengan sangat keras hingga membuat Reno menatapnya dengan keheranan.
“Kamu sadar kalau ucapan kamu itu lucu banget? Apa kamu juga tahu kalau kamu turut andil dalam perasaanku yang semakin tumbuh ini?” tanya Reni lagi.
Reno menatap Reni yang terlihat menghapus air matanya itu karena tawanya yang tak bisa di hentikan. Reno tahu jika tawa itu muncul bukan karena ucapannya yang lucu, itu tawa yang muncul dari rasa kesepian berlarut yang di rasakan sahabatnya ini. Ia pernah mempelajari psikologi untuk beberapa saat, dan juga rekan-rekan sesama psikiater yang tak segan membagi pengalamannya.
“Berhenti bergantung padaku, aku tak selamanya bisa seperti ini,” jawab Reno dengan serius.
Keduanya saling menatap, walaupun mata itu saling beradu, tak ada yang selaras pada tatapan itu. Mereka sangat tahu apa yang di pikirkan oleh masing-masing, dan itu bukan hal yang baik. Tak ada lagi persahabatan di antara keduanya, perasaan mereka juga sudah berubah menjadi asing sejak Reni memulai semua kekacauan yang terjadi.
__ADS_1
“Dan kamu juga seharusnya berhenti membantuku dan tandatangani saja surat perceraian itu, mudah, kan? Kamu yang membuat semua ini sulit.
“Aku? Lalu kenapa pernikahan ini terjadi sejak awal? Kamu mempermainkanku! Jadi jangan salahkan aku jika aku membalas hal yang sama padamu.”
Bukan itu jawaban yang di inginkan Reni, karena itu sama artinya dengan menyakiti hati Reni semakin dalam. Walau hatinya sudah mati rasa, bersama Reno membuat perasaannya membuncah, dan ia tak ingin mendengar
kalimat menyakitkan itu untuk sesaat.
“Apa gunanya melakukan itu? Toh, aku juga sudah mati rasa. Kamu yang justru menghancurkan hidupmu sendiri, setidaknya itu hukuman yang pantas kamu terima karena sudah menyakiti perasaanku secara tak langsung.”
Tanpa aba-aba sedikitpun, Reno langsung mencium bibir Reni kasar. Ia ingin menunjukkan bagaimana rasanya tersakiti itu, ini bukan ciuman yang akan membuat keduanya mabuk kepayang. Entah muncul darimana keinginan itu, Reni mencintainya dan Reno tak bisa membalas perasaannya sejak mereka pertama kali bertemu.
Kalimat tentang membalas apa saja yang sudah di lakukan oleh Reni, membuat ide ini mencuat. Sudah sejauh ini, ia akan membuat sahabatnya itu tahu tentang rasa sakit yang baru akan muncul ini, atau sudah muncul. Tak akan ada yang berubah, karena tak ada yang harus di ubah.
“Baiklah. Kita lihat siapa yang nanti akan berakhir hingga semua ini berhasil.”
Kegilaan Reni sudah mencapai batas maksimal dari semua kesabaran yang di miliki Reno, jadi ia akan membalas semua perlakuan itu dengan lebih gila. Seperti itu aturan main yang di inginkan, kan?
**
Memiliki bayi lagi merupakan suatu anugerah yang tak ternilai harganya. Ada beberapa orang yang berharap mampu memiliki seorang bayi, bahkan rela menempuh beberapa alternatif. Liliana tak akan berhenti bersyukur untuk semua itu. Setelah Elang, lalu juga putri mungilnya yang baru berusia satu bulan.
Adela Azzahra Aldino, putri kecil yang lahir satu bulan lalu. Prosesnya sedikit lebih menyakitkan di banding kelahiran Elang. Jika di bandingkan, kelahiran Elang terbilang lebih mudah, mungkin juga di karenakan ketika itu ia berada di negara orang seorang diri tanpa sanak saudara yang mampu di mintai tolong. Sedangkan Adela sendiri lahir dengan beberapa masalah sebelumnya yang mengharuskan operasi, serta di kelilingi orang terkasihnya.
“Minggu ini jadi mau ngumpul-ngumpul lagi bareng Nabila sama Richard?” tanya Liliana.
Hari itu hari sabtu, dan mereka sedang berkumpul di ruang keluarga dengan Elang yang sibuk dengan berbagai mainan di hadapannya, Liliana yang sedang memangku Adela, juga Dimitri yang sedang menyaksikan siaran televisi di hadapannya. Sesekali ia memusatkan perhatian pada Liliana dan juga Elang.
“Jadi kayaknya, sih. Udah sebulanan ini kita gak ngumpul, Richard juga katanya punya berita penting dari Jerman. Mereka juga pada kangen sama Adel katanya.”
Sejak kelahiran putri Liliana, mereka memang memutuskan untuk tak melakukan ajang kumpul-kumpul yang biasa mereka lakukan hampir setiap minggu. Mereka ingin memberi ruang untuk pasangan suami istri itu untuk fokus pada bayi kecil mereka, selain dari kesibukan yang mereka miliki.
“Kamu mau punya berapa anak lagi, Li?” tanya Dimitri.
Liliana segera menatap Dimitri dengan penuh perhitungan. Bahkan dalam mimpinya sekalipun, Liliana tak merasa perlu untuk menambah anak lagi, setidaknya dalam waktu dekat ini. “Luka jahit aku aja baru kering kemarin, kamu udah mau nambah aja lagi.”
Dimitri tertawa mendengar ucapan sewot sang istri, belakangan ia sangat suka menggoda istrinya ini. Ia tahu betapa sensitifnya seorang wanita yang baru saja melahirkan, Nabila bahkan sempat memberinya beberapa tips dalam menghadapi Liliana yang mungkin saja sewaktu-waktu bisa meledak dengan moodnya.
“Aku cuman mau ngasih saran aja, mungkin nanti beberapa tahun lagi kalau Adel udah sekitar tiga tahun kayak Elang gini,” goda Dimitri lagi.
Liliana memutar kedua bola matanya sembari mengelus dengan lembut kepala putrinya dengan sayang. Keluarga mereka kini sudah lengkap dengan kehadiran putra dan putri mereka. Kedua orang yang dulunya melewati rintangan yang sangat berliku-liku kini sudah kembali di pertemukan dengan takdir yang mengikat mereka menjadi satu.
“Kamu tahu apa yang aku rasain dulu kalau ingat-ingat waktu ketika kamu mungkin udah melahirkan Elang di tempat yang jauh, dan aku sama sekali gak tahu gimana kondisi kalian?”
“Apa?”
__ADS_1
“Hatiku hancur, dan itu udah pasti, aku gak bisa tidur dengan benar, aku bahkan kembali nyentuh semua minuman alkohol yang kukoleksi dulu. Aku benar-benar hancur saat itu.”
Kini tatapan Liliana berpusat pada Dimitri yang juga menatapnya dengan serius. Selama ini Liliana tak ingin membicarakan masa itu, karena memang ia tak ingin membuka kembali luka lama yang memisahkan mereka dan
menempatkan mereka pada keadaan yang sangat sulit.
“Saat ini, aku mulai merasakan kebahagiaan yang lengkap. Ada kamu dan juga kedua anak kita, semua itu benar-benar udah cukup untukku.” Dimitri mengambil tangan Liliana yang bebas dan menggenggamnya dengan erat. “Aku janji, kali ini gak akan pernah ngelepasin kamu lagi, dalam kondisi apapun itu,” lanjut Dimitri.
Senyum di wajah Liliana terbit dengan lebar, kali ini ia juga akan kembali mempercayai pria ini untuk hatinya yang sejak awal selalu menjadi milik Dimitri. Entahlah, Liliana hanya merasa jika hanya pria ini yang mampu menyentuh hatinya di kedalaman yang tak bisa di jangkau pria manapun. Sudah banyak perpisahan yang mereka lalui, dan pada akhirnya mereka tetap kembali bersama di tempat yang sudah seharusnya.
Wajah keduanya semakin mendekat, ketika pada akhirnya tangisan Adela menyadarkan keduanya. Juga teriakan Elang yang juga memecah suasana romantis di antara mereka, mereka memang harus mencari waktu hanya berdua saja untuk hal-hal seperti ini, agar tak ada gangguan kecil seperti ini.
**
Juna berubah. Sejak makan malam itu, serta ungkapan perasaan yang di lakukan pria itu, sifatnya kini berubah lagi. Sapaan pagi dan senyum lebar itu kini ia dapatkan lagi. Sejujurnya Nabila juga menyukai perhatian kecil seperti itu, tapi tetap saja masih ada satu dan dua hal lain yang mengganggu pikirannya.
Siapa lagi kalau bukan Arlina. Entah apa yang di lakukan Juna pada wanita muda itu, kini tatapan sinis itu kembali menghiasi wajah cantik itu. Mungkin tak akan menjadi lebih buruk jika hanya Arlina yang melakukan hal itu, tapi bukan hanya Arlina, melainkan satu tim departemen wanita itu. Bukan tak mungkin jika nanti seisi kantor akan mengetahui kebenarannya.
Tak akan lucu jika nanti Nabila mengundurkan diri karena permasalahan sesepele ini. Ia tak pernah menyukai memiliki urusan pribadi seperti perasaan di kantor, karena Nabila adalah penganut monogamy. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan bercerai lalu di sukai oleh pria yang lebih muda darinya. Ia ingin seperti kedua orang tuanya yang langgeng bahkan hingga hari tuanya, dan yang memisahkan mereka adalah ajal.
“Kamu putus sama Juna?” tanya seorang wanita.
Lagi. Nabila kembali ada di posisi ini, dimana ia kembali mendengar obrolan seperti ini. Terakhir kali ia juga mendengar obrolan seperti ini, dengan posisi yang juga berada di toilet. Sepertinya, kini toilet sudah beralih fungsi menjadi tempat menggosipkan rekan kerja. Nabila tak mempermasalahkan hal itu, yang ia permasalahkan hanyalah, ia yang menjadi topik obrolan para wanita itu.
“Aku yakin Nabila udah ngelakuin sesuatu yang bikin Juna gak bisa lepas dari janda sialan itu.”
Nabila sangat mengenal suara itu, itu Arlina. Lihatlah betapa bertolak belakangnya sifat wanita itu. Belum lama ketika Arlina menyapanya dengan ramah, lalu kini, wanita itu kembali menunjukkan sifat aslinya. Ada baiknya juga Juna tak berakhir dengan wanita ini, setidaknya jika bukan dengan dirinya, masih ada wanita lainnya yang lebih baik dari Arlina.
“Kalian curiga gak, sih, kenapa dia bisa jadi kepala editor segampang itu?” tanya wanita lainnya.
Sampai kapan Nabila harus bersembunyi di bilik toilet seperti ini? Ia sudah sama seperti seseorang yang memiliki banyak dosa, padahal ia sama sekali tak bersalah di sini. Kadang keadaan memang selalu selucu ini.
Pada akhirnya, Nabila memutuskan untuk keluar dari bilik toilet yang cukup kecil dan pengap itu. Ia tak ingin bersembunyi pada sesuatu yang tak ia lakukan. Juga bukan pertama kalinya ia menghadapii permasalahan seperti ini.
Ketiga wanita yang sedang berada di depan kaca wastafel itu terkejut dengan pintu bilik yang terbuka, apalagi setelah tahu jika yang keluar adalah Nabila. Wajah-wajah kaget itu tak bisa di sembunyikan, begitupun dengan Arlina, tapi beruntung ia bisa menutupinya dengan baik.
“Lanjutkan saja pembicaraan kalian, aku tak mendengar apapun,” ucap Nabila tenang.
Setelah mengatakan kalimat itu, Nabila segera berjalan keluar. Ia tak bisa berada lebih lama di tempat yang sama dengan orang-orang seperti mereka, selain jarak umur mereka yang juga cukup jauh, Nabila juga bukan tipe orang yang bisa menghadapi seseorang yang hanya bisa menghadapinya dari belakang. Sama saja seperti pengecut, kan? Tapi, mereka juga sudah sama seperti pengecut.
Mereka salah jika berpikir Nabila akan luluh hanya dengan omongan seperti itu. Mereka pikir sedang berhadapan dengan siapa? Mereka belum pernah merasakan bagaiamana hidup dalam perpisahan dan dua orang anak. Ini
bukan tentang beban yang ia tanggung, tapi juga bagaimana menjaga emosionalnya tetap di tempat, serta menguatkan diri dari segala hal yang ada di sekitarnya.
**
__ADS_1