Playboy

Playboy
#2# Take 35


__ADS_3

Hai, apa kabar kalian? Sehat, kan? Masih ada yang inget sama aku atau cerita ini, kan? Maaf banget udah nganggurin kalian selama ini, lebih dari dua minggu ya? Mohon maaf lahir batin sebelum lupa, ya. Untuk kali ini aku bakal rutin update lagi, ayo doain semoga bisa lancar, karena kadang kerjaan itu gak nentu banget dan sok sibuk banget. Makasih banget juga bagi kalian yang udah nungguin cerita ini, kalian luar biasa sabar banget.


Happy reading ya^^


***


Setelah keadaan Dimitri yang sudah sangat jauh lebih baik, Liliana mulai melakukan aktifitas seperti biasa. Tak banyak yang ia lakukan memang, apalagi ketika kehamilannya semakin membesar, ia juga hanya sesekali mengunjungi toko bunga yang kali ini lebih banyak di urus oleh Mbak Tari. Untuk urusan menjemput Elang, masih ia lakukan sesekali, juga dengan mengunjungi kantor Dimitri.


Untuk urusan berkumpul dengan kedua sahabatnya juga masih rutin di lakukan, kadang Juna ikut berkumpul, kadang juga tidak. Nabila masih belum terlalu dekat dengan asistennya itu, padahal yang lainnya sudah menyemangati bahkan memberi tips untuk dekat dengan Juna. Tak masalah jika dekat dengan pria yang lebih muda, kelihatannya juga pria itu benar-benar menyukai Nabila. Tapi, Juna juga sudah mengakuinya juga, sih. Juna adalah pria muda yang sangat kelewat jujur.


“Kamu masih ingat sama Enzo?” tanya Dimitri.


Kali ini Liliana dan juga Dimitri memiliki janji makan siang bersama seseorang yang di kenal Dimitri—itu yang di katakan Dimitri tadi pada Liliana—di sebuah restoran langganan Dimitri. Well, tak banyak yang Liliana tanyakan karena memang tak di perlukan.


“Ingat banget, kenapa sama Enzo?”


“Kita mau ketemu dia siang ini..”


Liliana awalnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi ia segera menghentikan langkahnya ketika memahami kalimat Dimitri. “Enzo? Sekarang?” tanya Liliana tak percaya.


“Ya, kenapa?”


“Bukannya dia di Jerman?”


“Kate aja bisa kemari, kenapa Enzo gak bisa?”


Liliana memukul bahu Dimitri pelan. “Kenapa kamu gak bilang dari awal, sih? Kamu cuman bilang ada janji sama orang, aku bisa mempersiapkan diri dulu kalau kamu bilang dari awal.”


Dimitri lupa dengan mood kehamilan istrinya yang sangat naik turun ini, tapi kenapa juga harus sekaget itu? Memangnya mereka akan menemui seorang presiden. Atau karena perasaan Liliana yang belum berubah terhadap Enzo. Dimitri masih sangat ingat dengan jelas ketika pertama kali ia melihat Enzo dan Liliana makan siang bersama dengan Elang dalam gendongan pria itu


“Kamu masih suka sama Enzo?” tanya Dimitri menyelidik.


“Bukan gitu …,”


Tatapan Dimitri masih menyelidik pada Liliana, berusaha untuk mengintimidasi istrinya itu yang kini terlihat salah tingkah. Ia sebenarnya percaya jika Liliana sudah tak memiliki perasaan terhadap Enzo lagi, buktinya dengan rujuknya mereka berdua. Ia percaya pada Liliana, tapi tidak dengan Enzo. Bagaimana jika pria itu dengan tidak tahu dirinya ingin merebut Liliana lagi?


“Mungkin kamu harus jelasin nanti waktu kita pulang.”


Dimitri berjalan mendahului Liliana yang masih dengan perasaan campur aduk. Ia ingin mengatakan jika ia ingin mempersiapkan dirinya setelah semua yang ia lalui dengan Enzo ketika di Jerman. Dulu memang mereka sudah mengakhiri rasa suka itu dengan baik, tapi tetap saja rasanya pasti akan canggung setelah sekian lama tak bertemu.


**


Liliana benar, harusnya Dimitri memang memberitahukan sejak awal jika mereka akan menemui Enzo. Saat ini, Dimitri dan Liliana benar-benar berdiri dengan rasa keterkejutan yang sangat besar. Bukan karena Enzo yang semakin tampan, atau tiba-tiba Liliana ingin mengagumi ketampanan Enzo, tapi wanita di samping Enzo yang membuat keduanya terkejut.


Elleanor. Liliana entah kenapa masih bisa mengingat dengan jelas siapa wanita ini, tak tahu dengan Dimitri, tapi sepertinya ia juga mengingat wanita itu, terbukti dengan keterkejutan di wajahnya.


Elle adalah salah satu wanita yang dulu pernah di kencani oleh Dimitri semasa kuliah dan menjadi salah satu musuh bebuyutan Liliana hanya karena duluia bersahabat baik dengan Dimitri. Apa Enzo dan Elle kini berpacaran atau menjalin sebuah hubungan?

__ADS_1


Bukan urusan Liliana memang, tapi perasaan kesal dan benci yang ia rasakan terhadap Elleanor masih tersimpan dengan jelas di memorinya. Tapi, tidak dalam kadar yang banyak, hanya masih ada di pikirannya saja.


“Kalian saling kenal?” tanya Enzo.


Elle terlihat gugup di tempatnya. Bertemu dengan orang yang ia kenal ketika sampai di Jakarta bukan termasuk dalam agendanya. Tapi kenapa setelah sekian tahun yang berlalu ia masih bisa mengenali Dimitri dan juga Liliana yang dulunya sahabat. Kini jika melihat perut Liliana yang membesar, ia sangat yakin jika kini mereka sudah menjadi sepasang suami istri.


“Ya, kami dulu teman seangkatan ketika kulian,” jawab Liliana.


Untuk apa menyembunyikan sesuatu jika jujur akan menjadi lebih baik? Mereka juga bukan penjahat yang perlu saling menyembunyikan sesuatu seperti ini?


“Ah, begitu. Itu berarti kalian tak perlu saling mengenalkan diri, kan? Ayo silahkan duduk.”


“Elleanor adalah sekretarisku, sudah hampir satu tahun jika aku tak salah ingat,” ucap Enzo.


Liliana melihat senyum lebar di wajah Enzo, senyum yang juga ia lihat ketika pernah bersama dengan pria itu dulu. Sepertinya benar jika kedua orang ini memiliki hubungan khusus. Dulu, Liliana sedikit merasa bersalah karena sudah menyalahkan kebaikan yang di tawarkan oleh Enzo, walaupun itu sudah berlalu sangat lama, perasaannya tak juga membaik hingga kini.


Rasa bersalah itu akan kembali hadir di saat pertemuan mereka yang tak terduga ini, walaupun ia berusaha dengan baik untuk bersikap biasa saja, rasa canggung itu masih menyelimutinya.


“Kate juga  baru saja kembali ke Jerman beberapa hari yang lalu. Apa kalian bekerja sama untuk proyek yang sama?” tanya Dimitri.


Dimitri sebenarnya tak tahu apakah ini hanyalah pertemuan pekerjaan seperti yang seharusnya atau hanya temu kangen antara Enzo dan Liliana. Ia hanya mengikuti nalurinya untuk membicarakan pekerjaan, karena ia tak akan tahan jika melihat keakraban Liliana dan Enzo di depan matanya sendiri. Dimitri juga sama sekali tak penasaran dengan Elleanor yang ada di hadapan mereka, setidaknya saat itu keduanya pernah berhubungan—sangat—dekat.


“Bisa di bilang begitu. Semenjak Richard memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan putus dengan Kate, aku harus mulai mengawasi pekerjaan Kate lagi untuk menggantikan ayahnya.”


“Kau tak tahu jika mereka sudah kembali bersama lagi?” tanya Liliana dengan antusias.


“Benarkah? Kate belum menceritakannya padaku. Jadi, terakhir kali ia ke Jakarta karena keduanya sudah kembali bersama?”


Ketakutan Dimitri benar-benar terjadi. Tak perlu menunggu waktu lama hingga keduanya kini mengobrol dengan sangat akrab. Ya, sangat seperti teman lama yang sudah sangat lama tak bertemu, teman yang hampir menjadi teman hidup jika saja Dimitri tak muncul.


Elleanor yang hanya diam saja memperhatikan interaksi ketiganya hanya mengernyitkan keningnya. Di samping fakta bahwa ia bertemu dengan kedua sahabat lama di bangku kuliah dulu, di saat yang tak ia inginkan, bagian yang sangat kaget dengan pernikahan keduanya juga termasuk. Tapi, melihat Dimitri yang sangat cemburu terhadap Enzo juga bagian yang sangat mengejutkan dan baru untuknya.


Tapi, ia tak ingin bertanya atau melakukan hal lain untuk menarik perhatian dua orang di depannya. Jika bisa, ia hanya ingin keluar dari restoran ini dengan damai, tanpa ada pertanyaan untuk dirinya sedikitpun. Liliana mungkin akan terkejut dengan sisi lain yang Elle tunjukkan, karena memang sejak dulu Elle tumbuh menjadi putri manja yang sangat arogan dan juga angkuh. Semua sikap buruk yang kalian tahu, pernah Elle miliki dulu.


“Sayang sekali aku tak membawa Elang, Dimitri sama sekali tak memmberitahuku jika siang ini kami akan bertemu kalian,” ucap Liliana. Matanya sesekali menatap Elleanor, ia hanya perlu melakukannya entah untuk alasan apa.


“Ya, aku sangat merindukan bocah kecil itu. Mungkin lain kali ketika aku kembali kemari lagi, aku sudah memiliki penunjuk arahku sendiri sekarang.” Enzo tersenyum misterius di akhir kalimat.


Liliana sangat yakin dengan apa yang di maksud Enzo, dan mungkin baik Dimitri maupun Elleanor sama sekali tak mengerti apa yang di maksud pria ini. Ia tak mungkin salah untuk mengartikan senyum di akhir itu dan juga nada suara yang berubah di akhir kalimat. Yang membuat Liliana sangat yakin, Enzo tak mungkin mengenal wanita lain di Jakarta ini kecuali dirinya dan mungkin beberapa karyawan kantornya. Kemungkinannya sangat besar di tujukan kepada satu-satunya wanita yang ada di meja ini, tak mungkin jika itu dirinya.


“Kau tak ingin menyapa dengan teman-temanmu ini, Elle?” tanya Enzo.


“Well, mereka sepertinya sudah lebih jago dari ini untuk mengetahui identitasku. Jadi, ya …”


Elle sengaja tak melanjutkan kalimatnya karena ia memang hanya sengaja ingin mengatakan sampai sana saja. Atau dalam artian lain, ia tak ingin berbincang dengan orang-orang di meja ini lebih lanjut.


“Kalian sepertinya sudah mengenal dengan sangat dekat,” ucap Enzo.

__ADS_1


“Gak sama sekali.”


“Gak sama sekali.”


Liliana dan Elle mengatakan dua kalimat dalam dua bahasa yang berbeda, Elle dengan bahasa Jermannya dan Liliana dengan bahasa Inggrisnya, yang juga sangat membuat Dimitri dan juga Enzo terkejut. Keduanya mengatakan kalimat itu dengan tegas dan juga sedikit teriakan, siapa yang tak akan terkejut?


“Well, sepertinya kalian memang sangat dekat.” Enzo meringis melihat kedua wanita, lain kali ia akan mengingat jika kedua wanita ini tak bisa di satukan dalam satu meja.


Dimitri sudah tahu ini akan terjadi. Bagaimana dulu Liliana sangat membenci Elle, dan begitu juga sebaliknya. Ia hanya tak menyangka jika kebencian ini masih berlanjut, sudah berapa tahun yang mereka lewati dan masih saja perasaan itu tertinggal dalam diri mereka?


**


Hubungan Juna dan juga Nabila masih berjalan dengan baik hingga saat ini, walaupun Nabila sedikit memberi jarak yang sangat kentara di antara mereka. di kantor juga, jarak yang Nabila berikan sangat jelas, hingga rasanya Juna sendiri pasti merasakannya. Sebagian besar karyawan di kantor itu adalah wanita dari berbagai umur, dan karyawan pria mungkin bisa di hitung jari jumlahnya.


Juna adalah salah satunya, dan Nabila tahu jika ada beberapa wanita yang juga menaruh perhatiannya pada Juna ini. Sesama wanita pasti sangat memahami perasaan wanita lainnya, kan? Nabila tak bodohh, dan ia bisa tahu berapa banyak populasi wanita di kantor yang membicarakan dirinya ketika rehat, bahkan dari bagian lain juga.


“Kalian tahu, kan, kalau Juna sekarang lagi deket banget sama Mbak Nabila?” ucap seorang wanita.


“Wajar mereka dekat, pekerjaan mereka juga mengharuskan mereka dekat satu sama lain.”


“Gak mungkin kalau mereka dekat karena urusan pekerjaan, aku pernah liat mereka masuk ke Steak and co. berdua doing. Ya kali mereka rekan kerja aja.”


“Ya kali seleranya Juna yang punya buntut gitu? Mbak Nabila, kan, janda.”


Itu hanya satu obrolan yang ia dapatkan ketika berkunjung ke toilet beberapa waktu lalu, obrolan lain di tempat yang berbeda juga sering Nabila dapatkan. Itulah yang akan ia dapatkan jika berkencan dengan rekan kerja, apalagi jika itu rekan kerja yang sangat di inginkan banyak orang. Juna memang bukan pria yang tepat untuknya.


“Mbak gak makan?” tanya Juna.


Nabila seperti tersadar akan sesuatu dan mulai menatap pria yang juga memenuhi pikirannya sejak beberapa waktu ini. Ya, kalian juga tak salah, Nabila masih sering makan siang berdua dengan Juna di luar seperti ini hanya untuk menghindari kejanggalan. Nabila yang memutuskan hal itu sendiri di pikirannya. Ia ingin menjauhi Juna, tapi juga tetap profesional sebagai rekan kerja, makan siang ini bagian dari ke-profesionalan itu.


“Ternyata di dekat kantor banyak rumah makan enak, ya? Aku beneran baru tahu karena kamu ajak ini,” ucap Nabila. Ia mulai menyuap soto di hadapannya.


“Ini baru sebagian kecil, Mbak. Kalau Mbak mau ke belakang dikit lagi, di sana lebih banyak rumah makan yang lebih murah dan rasanya gak kalah sama yang di depan ini.


“Aku pecinta makanan murah, sih, apalagi yang porsinya banyak dan harga tetep.”


Juna tertawa melihat Nabila di hadapannya yang sedang mengatakan kalimat itu dengan wajah sangat datar dan tanpa emosi. Setidaknya harus ada sedikit emosi di dalamnya agar Juna tak salah sangka, tapi wajah datar itu justru seperti menceritakan segalanya.


“Kayaknya semua orang kayak gitu, deh, Mbak. Kalo bisa nemu yang murah, kenapa harus nyari yang mahal?”


Nabila tersenyum melihat hal itu. Jika ingin jujur, ia sangat ingin mengikuti nasihat Liliana yang menyuruhnya untuk memacari pria ini. Nabila bisa saja melakukannya, potensi yang ia miliki sangat besar, tapi ia menahan diri. Walaupun ia bisa mulai menyukai pria lain, pria itu pasti bukan Juna, perbedaan mereka terlalu mencolok dan itu akan lebih menyakiti dirinya di kemudian hari.


Dengan semua kepribadian dan juga perhatian yang pernah Juna berikan, siapa yang tak akan berdebar karena hal itu? Semua kebiasaan itu juga sudah tertanam di dirinya, dan ketika Nabila memutuskan untuk menjauh seperti ini, ada yang memberontak di dalam dirinya. Ia memiliki hak untuk menyukai pria ini, lalu kenapa ia memilih untuk mundur dan menyakiti dirinya lagi?


Tapi sepertinya kata ‘menyakiti dirinya sendiri lagi’ terlalu berlebihan. Ini bukan tentang menyakiti siapapun, karena pada dasarnya lebih banyak hal yang harus Nabila pikirkan dan juga kerjakan di banding hanya berpikir tentang laki-laki mana yang harus ia kencani berikutnya. Ada keluarga kecilnya yang harus ia jaga dan pikirkan, kenapa repot memikirkan hal lain?


**

__ADS_1


__ADS_2