Playboy

Playboy
Bonus Chapter : Reason


__ADS_3

jadi ini di ceritain dari sudut pandang aku ya, bukan Lili. khusus part ini aja kayaknya. Selebihnya bakal kembali ke sudut pandang Lili lagi^^



Awalnya Dimitri mengira menjalin kerjasama dengan Evelyn adalah salah satu hal yang bagus untuk perusahaannya. Terbukti dari harga saham yang terus meningkat secara signifikan setiap harinya. Tapi itu hanya dari segi pekerjaan, tidak dalam kehidupan pribadinya. Ia tak menyangka kalau akan membuat istrinya salah paham seperti ini.


Memang hanya urusan kerja antara Dimitri dan juga Evelyn, tapi Evelyn adalah salah satu wanita yang tak bisa menerima penolakan dan ia juga sudah tertarik pada Dimitri sejak awal ia menerima proposal kerjasama. Ia sudah bersuami, bahkan memiliki anak, dan Dimitri juga sudah memiliki istri, Evelyn tahu semua itu. Tapi, semua ini demi kelancaran kerjasama mereka.


Entah apalagi yang harus Dimitri lakukan untuk mendapatkan permintaan maaf dari sang istri. Ia tak mungkin begitu saja memutus kerjasama dengan Evelyn karena mereka sudah terikat kontrak. Yang lebih menyulitkan adalah Evelyn hanya akan menyetujui semuanya jika ada Dimitri di sana. Cara licik untuk mendapatkan Dimitri.


Dimitri tak tenang memeriksa laporan di hadapannya, istrinya sedang hamil muda dan sedang dalam kondisi sangat rentan, komunikasi mereka sangat minim, membuat Dimitri sendiri sangat canggung untuk memperhatikan istrinya lebih baik lagi. Mereka pasangan suami istri sah, tapi untuk satu dan lain hal, yang lebih banyak dari kesalahan Dimitri sendiri, mereka menjadi seperti ini.


Hanya kejadian di taman kemarin yang mampu membuat pikiran Dimitri sedikit tenang. Tak masalah jika Liliana menolaknya, ia berharap bayinya yang akan menerima Dimitri. Ia sangat merindukan istrinya, dan ia sudah sangat muak dengan pekerjaan ini.


Terdengar bunyi ketukan pintu beberapa saat sebelum Surya memunculkan dirinya dari balik pintu. Surya adalah kepala tim yang menangani proyek Evelyn. Nyatanya, walau sudah ada Surya yang menangani proyek itu, Evelyn tetap menginginkan Dimitri hadir dalam setiap rapatnya.


Jika Evelyn bukan klien besar, maka Dimitri dengan senang hati akan melepaskan wanita itu dan rumah tangganya tak akan bermasalah seperti ini. Membangun perusahaan sendiri tanpa bantuan dari Ayahnya merupakan pencapaian terbesar yang Dimitri alami. Bahkan stabil sampai sekarang ini adalah berkat kerja keras selama ini,


dan memiliki Evelyn sebagai klien adalah sebuah kemajuan yang sangat signifikan.


Pada akhirnya, Dimitri harus berkorban sedikit untuk kariernya seperti ini.


“Ada apa?” tanya Dimitri.


Surya adalah seniornya ketika di kampus dulu, dan mereka juga sudah berteman lumayan akrab sebelum mereka bertemu lagi ketika sudah sukses seperti ini.


“Hari ini gak ada rapat sama Evelyn, jadi aku ngerasa bebas banget,” ucap Surya. Ia langsung mendudukkan diri di sofa nyaman Dimitri. Bukan hanya Dimitri yang kesusahan, tapi dirinya juga.


“Pulang cepet Mas, sebelum tiba-tiba Evelyn nelpon kamu dan minta rapat dadakan.”


“Kamu masih perang dingin sama istrimu?”


Surya tahu cerita rumah tangga Dimitri, karena pria itu sendiri yang memberitahu. Tak secara mendetail, hanya garis besarnya saja. Tak mungkin ia menceritakan kisah rumah tangganya pada orang lain secara gamblang.


“Udah sempet baikan gara-gara ngidam, mungkin sekarang balik kayak dulu lagi.” Dimitri tersenyum kecut memikirkan hal itu. Andai saja jika setiap hari Liliana ngidam untuk selalu dekat dengannya, tak masalah jika anak mereka yang menjadi alasan, asal mereka baik-baik saja.


“Kenapa kamu gak jujur aja? Kontrak kerjasama kita enam bulan, kamu yakin sanggup perang dingin terus sama istri kamu?”


Alasan Dimitri belum mengatakan yang sebenarnya adalah, ia takut Liliana akan membuat ini menjadi beban pikiran, apalagi dengan kondisi hamil seperti itu. Pertengkaran mereka saja sudah membuat Liliana harus pendarahan, bagaimana kalau ia mengatakan yang sebenarnya lalu hal buruk lain akan terjadi pada Liliana?


Ini hanya perumpamaan saja, Dimitri juga tak mungkin mendo’akan hal buruk terjadi pada istrinya. Dirinya dan Evelyn sama sekali tak memiliki hubungan apapun, hanya Evelyn saja yang selalu gencar mendekatinya, mencoba mencari kesempatan dan selalu berusaha menarik perhatian dirinya.


“Lagian Mas yang nanganin proyek Evelyn, kenapa harus ada aku di setiap rapat kalian? Mas tinggal serahin laporan ke aku, jadi aku gak perlu perang dingin sama istri sendiri.”


“Kamu pikir Evelyn mau yang kayak gitu, kamu yang paling tahu sifat wanita itu.” Surya tak rela di salahkan dalam keadaan ini. Ia memang masih lajang, tapi Evelyn hanya tertarik pada Dimitri, apalagi yang harus ia lakukan?


“Lagian punya muka ganteng banget, kasian istrimu itu.”


Dimitri melemparkan pulpen ke arah Surya yang terlihat sangat menikmati dirinya sendiri di sofa. Tak ada yang bisa di salahkan dalam keadaan seperti sekarang ini, hanya di perlukan untuk meluruskan masalah yang terjadi saja.


**


Dimitri sampai di rumah sedikit telat dari hari biasanya. Sudah pukul tujuh, tapi rumahnya terlihat gelap. Padahal supir yang di pekerjakan untuk Liliana mengatakan kalau istrinya itu sudah pulang sejak sore tadi. Dimitri bergegas


masuk ke dalam untuk memeriksa, takut-takut kalau mungkin saja terjadi hal yang tak di inginkan pada Liliana.


“Lili!”

__ADS_1


Tak ada suara yang menyahut panggilan itu. Dimitri pun menyalakan lampu di ruangan itu, hanya ada suara yang berasal dari televisi yang menyala. Dimitri langsung menghampiri sofa yang ada di sana, terakhir kali Dimitri juga menemukan Liliana di sana.


Dan benar saja, Liliana tertidur meringkuk di sofa memeluk dirinya sendiri. “Lili…Sayang…,” Dimitri mengelus pipi Liliana dengan lembut.


Perlahan, mata Liliana terbuka dan mengerjap beberapa kali sebelum memfokuskan pandangannya pada Dimitri. “Kamu udah pulang,” ucap Liliana.


Entah kenapa hal ini membuat Dimitri sedikit mengalami dejavu, sama seperti beberapa hari lalu ketika Liliana baru saja pulang dari rumah sakit dan meminta pisah kamar dengan alasan keselamatan bayinya. Memang benar, tapi Dimitri ada alasan lain yang membuatnya melakukan hal itu.


“Kamu kenapa tidur di sini?”


Liliana berusaha untuk mendudukkan dirinya. “Itu…Aku…Nunggu kamu,” ucap Lili lirih. Ia menundukkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangannya dari Dimitri.


Senyum lebar tercetak jelas di wajah Dimitri. Boleh, kan, kalau ia berharap akan seperti ini seterusnya bersama Liliana. Ia sangat benci bertengkar, apalagi jika itu menyangkut Liliana. Banyak kesalahan yang telah ia perbuat, dan semua hal yang ia lakukan selama ini rasanya belum cukup untuk membayar semua rasa bersalahnya.


“Kamu bisa nelpon aku, sayang. Kerjaan aku tadi lumayan banyak, jadi aku harus pulang telat hari ini.”


Liliana hanya diam, ia mengangkat wajahnya untuk menatap Dimitri. Suami istri seperti apa yang canggung satu sama lain, padahal usia pernikahan mereka sudah lebih dari enam bulan.


“Ada yang mau kamu makan?” tanya Dimitri lagi.


“Aku udah masak tadi, tapi mungkin udah dingin…,”


Dimitri menahan tubuh Liliana yang akan bangkit dari duduknya. “Kamu duduk aja, biar aku yang panasin makanannya.”


Liliana hanya bisa menatap suaminya dengan bingung dan juga takjub. Hari ini ia benar-benar ingin memasakkan sesuatu untuk Dimitri lalu makan bersama, dan ia sendiri tak bisa melawan keinginan itu.


Sepertinya sang jabang bayi sangat mengerti bagaimana keadaan kedua orang tuanya hingga memiliki banyak keinginan seperti ini, yang secara tak langsung semakin mendekatkan hubungan keduanya. Walaupun dalam suasana yang canggung. Tak tahu kapan ini akan berakhir, tapi semoga ini tak berakhir. Keduanya membutuhkan alasan ini untuk saling melepas rasa rindu mereka.


Liliana berjalan menuju dapur untuk melihat Dimitri yang sudah mulai memanaskan makanan satu persatu. Ada sup ayam, ikan goreng, lalapan dan juga sambal. Hanya makanan sederhana, tapi Dimitri tahu bagaimana usaha istrinya itu sampai bisa menciptakan makanan sebanyak ini.


Entah berapa besar lagi penyesalan yang akan Dimitri rasakan jika untuk kesekian kalinya ia kembali kehilangan Liliana. Bukan keinginannya untuk selalu bersama dengan Evelyn, wanita itu yang sangat gencar mendekatinya. Padahal Dimitri juga sangat mengenal suami dari wanita itu.


Dimitri tersenyum pada Liliana yang sudah berdiri di sebelahnya. Harus menunggu Liliana ngidam hingga Dimitri bisa merasakan perasaan membuncah ini. Sejak wanita itu muncul, hidupnya sudah sangat berantakan. Dimitri menghapus jarak di antara mereka, lalu mengecup kening sang istri dengan lembut. Hanya di saat seperti ini Dimitri bisa menunjukkan betapa ia sangat mencintai Liliana.


Liliana menutup matanya untuk menikmati sentuhan itu, tubuhnya masih menegang mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya sendiri. Dimitri juga merasakan apa yang istrinya rasakan, perlahan ia menurunkan kecupannya menuju bibir Liliana.


Ini adalah candu milik Dimitri, yang membuatnya tak mampu melepaskan Liliana begitu saja. Sejak Liliana kembali menerima Dimitri, semuanya juga tak berjalan dengan mudah. Bahkan sampai sekarang pun, rasanya ia masih terus berjuang untuk mendapatkan hati Liliana seutuhnya, dan juga kepercayaannya.


Dimitri sangat tahu kalau kepercayaan yang di miliki Liliana sudah hampir terhapus karena yang ia lakukan sekarang. Tak masalah, Dimitri akan tetap berusaha. Ia sangat mencintai Liliana, dan akan terus seperti itu sampai nanti.


**


Harinya masih berjalan seperti biasanya, hanya ada berkas-berkas, laporan-laporan yang belum ia periksa semuanya, dan juga laptop yang menyala di hadapannya. Ini sangat membosankan, tapi jika mengingat yang terjadi tadi malam, senyum itu muncul dengan sendirinya di bibir Dimitri.


Dimitri sangat mensyukuri kehamilan Liliana, selain mereka akan menjadi calon orang tua, banyak keinginan Liliana yang menyangkut dirinya. Telepon yang ada di mejanya tiba-tiba berdering, menyadarkan Dimitri dari pikiran sesaatnya.


“Dimitri.”


Tak ada sapaan ‘halo’ jika Dimitri sedang berada di kantor. Ia sedikit dingin jika sedang bekerja, dan sangat jarang tersenyum. Bukan untuk terlihat keren, ia hanya ingin anak buahnya untuk sedikit profesional dan lebih baik dalam


bekerja. Jika ada acara makan malam tim, Dimitri akan berubah menjadi sosok yang hangat dan ramah. Memang seperti itu, kan, sejak dulu?


Hanya sekitar satu menit Dimitri berbicara di telepon, setelahnya ia langsung menutup sambungan itu. Mimpi buruknya akan segera di mulai lagi. Siapa lagi kalau bukan Evelyn. Wanita itu selalu datang ke kantornya secara tiba-tiba untuk meminta laporan proyek yang sedang di kerjakan, dan selalu meminta Dimitri untuk hadir.


Itu hanyalah sebuah proyek pemasaran gedung apartemen yang sedang di bangun oleh perusahaan milik suami Evelyn. Dengan alasan untuk memantau pekerjaan anak buah Dimitri, Evelyn selalu bisa datang ke kantor Dimitri.


Jangan tanyakan soal suami Evelyn. Pria itu selalu mengiyakan semua yang di minta oleh sang istri, dan sama sekali tak curiga tentang apa saja yang di lakukan sang istri di luar sana. Karena pria itu juga memiliki simpanan di luar sana. Jadi, mereka adalah sepasang suami istri yang bermasalah di mata orang lain, tapi baik-baik saja di mata mereka.

__ADS_1


Surya sudah duduk di ruang rapat beserta beberapa anggota timnya. “Kamu mau aku alihin perhatian wanita itu?” tanya Surya dengan berbisik.


Dengan memberi tatapan penuh meminta pertolongan, Surya menganggukkan kepalanya mengerti. Beruntung Surya yang bekerja bersama Dimitri, bayangkan apa yang akan terjadi dengannya. Bisa saja Evelyn akan melakukan hal-hal di luar dugaan siapapun.


Rapat itu hanya berlangsung selama tiga puluh menit, karena memang itu bukan rapat yang seharusnya. Wanita itu hanya membuat sebuah alasan untuk kembali melancarkan aksinya di hadapan Dimitri. Surya membuat alasan untuk membawa Evelyn keluar dari kantor, yang untungnya di setujui wanita itu tanpa penolakan berarti.


Dimitri bisa menghela napasnya dengan sedikit lega, setidaknya ia bisa terhindar dari hal buruk hari ini. Mari berdo’a jika esok pun bisa lebih baik dari hari ini dan ia tak perlu menemui Evelyn lagi.


Pintu kantornya kembali di ketuk, dan Riki—sekretaris Dimitri—muncul dari balik pintu. “Maaf, Pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak.”


Dimitri menganggukkan kepalanya. Ya, semoga saja ini bukan hal buruk lainnya. “Wah, kayaknya kamu lebih sukses dari sebelumnya, ya?”


Dimitri mendongak, dan mendapati Richard yang berada di pintu dengan kedua tangan di masukkan ke kantong celananya. Oke, tak terlalu buruk. Mungkin saja sahabatnya ini ingin meminta maaf karena sudah mengajak istrinya keluar tempo hari.


“Kamu juga kayaknya berusaha buat tampil lebih keren dari aku sekarang,” ucap Dimitri dengan senyum miring.


Dimitri bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Richard untuk duduk di sofa tempat ia bisa menerima tamu. “Ada urusan apa kamu di Jakarta?” tanya Dimitri.


Richard tertawa mendengar pertanyaan tiba-tiba seperti itu. Seharusnya Dimitri menanyakan kabarnya terlebih dahulu, atau berbasa-basi seperti teman lama. “Kamu kayaknya gak suka sama kehadiran aku di sini.”


Tak ada tanda permusuhan di antara mereka, hanya sekedar candaan seperti biasa. Sudah tak ada dendam di antara keduanya, masalah yang terjadi di masa lalu sudah tak pernah mereka bahas lagi.


“Aku kangen sama istri kamu, karena aku udah ketemu sama Liliana kemarin, sekarang aku nemuin kamu biar adil,” ucap Richard dengan geli. Ia sangat menunggu-nunggu bagaimana reaksi Dimitri, karena itu seperti hiburan tersendiri untuknya melihat wajah kesal Dimitri.


“Anggap aja aku lagi dalam suasana hati yang baik, jadi aku gak akan mempermasalahkan. Lagian kalian memang berteman awalnya, kan?”


“Kalau kamu lupa, Nabila pernah jodohin aku sama Liliana.”


Tak ada jawaban dari Dimitri, walaupun Richard tak memiliki maksud tersembunyi dengan kalimatnya, Dimitri tetap saja kesal jika mengingat hal itu. Akhirnya Dimitri hanya mengangkat bahunya seolah tak terjadi masalah apapun.


“Jadi?”


“Aku cuman kebetulan mampir di sekitar sini, dan ya, anggap aja aku kangen sama kamu. Kamu gak kangen sama teman tampanmu ini?”


“Aku punya istri yang bisa di kangenin setiap hari, kenapa harus ngangenin kamu?” balas Dimitri.


Keduanya hanya tertawa dengan obrolan kosong mereka. Ya, persahabatan para lelaki memang jauh dari kata akur. Justru hal seperti ini yang membuat persahabatan mereka semakin kuat. Mereka tak menyimpan dendam, ya, walaupun mereka dulu juga saling mendendam. Itu hanya kisah lalu mereka yang pada akhirnya membawa mereka ke arah yang semakin baik.


Semakin mereka dewasa, semakin banyak yang mereka pelajari, dan dendam itu hanya tentang ego mereka saja.


“Aku denger kamu lagi deket sama Evelyn,” ucap Richard.


Membicarakan wanita itu membuat Dimitri kembali murung. Bisakah kita menghapus nama dan wujud wanita itu, agar ia tak pernah di kaitkan lagi dengan wanita itu?


“Hanya untuk kerjaan, agak sedikit menyesal sebenarnya karena aku berusaha keras untuk dapetin kontrak kerja itu. Evelyn itu sangat mengerikan, kalau kamu ngerti maksud aku.”


“Dan Liliana tahu?”


Dimitri hanya menganggukkan kepala dengan lesu. “Kamu tahu, kan, aku siap nerima Liliana kalau memang dia udah gak sanggup lagi hadapin kamu?”


Tatapan Dimitri sangat tajam ketika Richard mengucapkan hal itu. “Kamu gak punya perempuan lain buat di deketin? Kamu keliatan frustrasi banget kayaknya karena kelamaan sendiri,” ucap Dimitri dengan kesal.


Richard sepertinya membuat keputusan yang tepat datang menemui Dimitri, sahabatnya itu benar-benar mampu menghibur dirinya dengan semua sifat cemburunya. Richard tak serius mengatakan hal itu, ia sangat tahu bagaimana saling mencintainya kedua sejoli ini, jadi Richard tak bisa dengan seenaknya berada di tengah-tengah


mereka.


“Aku yakin mata kamu sebentar lagi keluar dari tempatnya.” Richard menepuk bahu Dimitri dengan tatapan wajah geli yang tak hilang dari wajahnya.

__ADS_1


“Kamu tahu, wajah tampanku ini bisa mengalahkanmu, jadi bagaimana kalau sedikit bantuan? Anggap aja hadiah pernikahan kalian.”


**


__ADS_2