Playboy

Playboy
#2# Take 32


__ADS_3

aku bener-bener nyaranin buat baca abis buka aja, percaya deh sama aku. tapi kalau kalian tetep pengen baca ya silahkan, emosi di tanggung masing-masing ya :)


Happy reading^^


 



Nabila akan menjadikan hari ini sebagai hari terburuk sepanjang hidupnya, jika ia sudah menganggapnya seperti itu, rasanya sungguh sangat melegakan. Tanpa ada pemberitahuan dan sangat tiba-tiba Reni ingin menemuinya, dan ia yakin bukan untuk pembicaraan yang baik atau menjadi sebuah diskusi. Sejak awal permasalahan mereka bukanlah sesuatu yang bisa di selesaikan seperti ketika ia bertengkar dengan Liliana.


Yah, apapun itu Nabila akan menyelesaikan secepat mungkin. Bukan hal baik ketika ia berlama-lama dengan wanita itu, kalian bisa menantikan hal buruk dan pasti akan menjadi buruk. Lihat saja, Reni yang membuat janji itu sendiri, tapi wanita itu sendiri yang datang sangat terlambat. Dari sana saja Nabila sudah menyimpulkan hal buruk karena Nabila sangat benci keterlambatan.


Lima menit kemudian, Reni muncul dengan wajah tanpa bersalahnya dan langsung duduk di hadapan Nabila tanpa permintaan maaf. Nabila sudah di sana sejak dua puluh menit lalu sesuai dengan janji pertemuan mereka, bukankah setidaknya wanita itu memberikan permintaan maaf untuk menghargai?


“Ada apa?” tanya Nabila tanpa basa basi.


Tatapan Reni sama sekali tak tak bersahabat, tapi hal itu tak membuat Nabila gentar. Bukankah sangat terbalik dengan keadaan yang seharusnya terjadi? Tapi, ini Reni, si penghancur kehidupan harmonisnya, apa yang Nabila harapkan? Permintaan maaf tempo hari pun Nabila yakin bukanlah sesuatu yang tulus yang ingin ia ucapkan. Bagaimana bisa ada wanita seperti ini?


“Jangan pernah berhubungan dengan Reno lagi, kalian sudah bercerai dan tak memiliki hubungan apapun lagi,” jawab Reni dengan dingin.


“Kenapa? Dia masih belum melupakanku? Atau pernikahan kalian tak harmonis?”


Sangat lucu ketika wanita yang benar-benar melakukan kesalahan tapi sama sekali tak menyadari kesalahannya dan hanya berlindung di balik pembelaan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri. Saat ini sedang tren ketika seorang pelakor bertindak seolah-olah ia yang paling baik dan membuat si istri sah yang menjadi korbannya sangat menderita, kan? Nabila sudah tak heran, wanita seperti itu memang lebih banyak memiliki sikap tak tahu diri.


“Atau kamu berharap dia bakal mencintai kamu selayaknya dia mencintaiku?” tanya Nabila dengan geli.


Wajah Reni mengeras. Belakangan emosinya sangat melonjak dengan tajam, karena Reno yang mengabaikannya dan lebih memilih bersama anaknya di banding menghadiri perjamuan makan malam yang di adakan ayahnya. Bayangkan betapa besar rasa malu yang harus ia tanggung karena membuat berbagai alasan untuk menutupi keabsenan suaminya itu. Rumor negatif pun mulai berhembus lagi tentang dirinya, dan ayahnya juga sangat kecewa karena hal itu.


Cara terbaik dari melampiaskan amarahnya adalah dengan menemui Nabila ini, tadinya ia ingin berbicara dengan baik, tapi ia urungkan karena memang tak ada yang baik dari hubungan mereka. Menatap wajah Nabila juga semakin memberinya kekesalan yang meningkat. Seharusnya jika sudah bercerai, ya bercerai saja, tapi Reno tak seperti itu.


“Aku yakin kamu bahagia banget karena hal ini, kan? Mungkin sebagian dari do’a kamu terkabul.”


“Kamu minta aku kesini cuman karena masalah ini? Seharusnya kamu lebih tahu dimana tempatmu dan bagaimana harus bersikap, kan? Kenapa kamu sangat gak tahu diri dengan menemuiku?”


Wajah terkejut tergambar di wajah Reni, untuk kalimat seperti itu, ia sangat tak menduganya. Ia sangat tahu jika Nabila adalah wanita yang penuh sarkasme, tapi ia tak tahu jika kini ia akan menghadapinya. Reni tak takut, ia hanya tak menduga dengan sifat Nabila ini.


“Karena aku tahu tempatku, aku menemuimu. Aku istri sahnya saat ini, jadi sebaiknya kita saling tahu dimana posisi kita.”


Nabila tertawa karena kalimat yang baru di ucapkan Reni, benar-benar tertawa dengan kencang hingga mengeluarkan air mata. Entah kenapa ini sangat menghiburnya, ia tak salah dengar, kan? Terakhir kali ia mengecek kesehatannya, telinganya masih baik-baik saja dan belum butuh perawatan yang penting. Telinganya masih sangat


baik dalam hal pendengaran.


“Dan kalimat itu di ucapkan oleh seorang wanita yang menhancurkan rumah tanggga orang lain, apa kamu begitu bangga karena sudah menikahi Reno? Sepertinya kamu belum benar-benar paham tempatmu saat ini, kan?” ucap Nabila setelah ia menghentikan tawanya.


“Kamu juga seharusnya tahu alasan kenapa aku dan Reno tidur bersama, kamu pasti selalu berpikir kalau kamu wanita terbaik yang pernah di temui Reno. Wanita baik tak akan di selingkuhi suaminya.”


Benar, kan? Pertemuan ini benar-benar tak akan berakhir dengan baik. Salah satu dari mereka mungkin harus keluar dengan rasa malu yang sangat kentara. Pembicaraan mereka saja sudah sangat memalukan, atau hanya Nabila saja yang merasa seperti itu? Karena ia yakin Reni memiliki banyak stok rasa tak tahu malu di jiwanya.

__ADS_1


“Aku sama sekali gak berharap kita bisa duduk seperti ini dan saling membicarakan sesuatu yang tak perlu. Akan lebih baik kalau kita hanya menjalankan kehidupan kita seperti biasa, kan? Jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tak seharusnya kulakukan,” ujar Nabila.


Kini bukan lucu lagi yang ia rasakan, walaupun kalimat Reni yang ia lontarkan semuanya sangat lucu untuk Nabila. Nabila hanya mencoba untuk santai ketika semua ucapan Reni benar-benar mengusik ketenangan jiwanya. Tapi, jika terus begini, ia tak akan menang.


“Kenapa? Kamu ingin mencoba rujuk dengan Reno lagi?”


“Waktu aku bilang pahami posisimu sekarang, jangan bertindak seperti orang bodoh. Aku benar-benar tak menyangka bagaimana kamu bisa menjadi dokter dengan otak seperti itu. Berapa uang yang kamu keluarkan untuk masuk kedokteran? Atau profesor mana yang kamu goda agar bisa masuk kedokteran? Di antara dua hal itu, kan? Wanita sepertimu benar-benar sangat rendahan, jadi jangan harap untuk merasa tinggi hanya karena bisa menikahi Reno.”


Latte yang ada di hadapan Reni kini sudah di tumpahkan ke wajah Nabila yang sebagian mengenai pakaian yang ia kenakan. Bukan kemarahan yang Nabila tunjukkan, justru seringai miring itu yang menghiasi wajahnya. Ia mengelap wajahnya dengan tisu, drama sekali hidup wanita ini hingga menyiramkan minuman padanya. Nabila yang seharusnya mengambil peran itu, tapi untuk Nabila, menyiramkan minuman hanya hal kecil yang tak seharusnya Reni dapatkan. Latte ini lebih berharga dari wanita ini.


“Aku benar, kan? Jadi yang mana? Kamu menggoda profesormu agar masuk kedokteran? Wanita murahan sepertimu tak seharusnya berbicara padaku.”


Nabila beranjak dari kursinya. Ia sudah selesai dengan pembicaraan ini. Milkshake yang ada di hadapannya yang


masih utuh juga ia siramkan ke kepala Reni.


“Aku adalah wanita yang selalu membalas dengan impas, juga untuk mendinginkan kepalamu. Berkacalah dulu sebelum berbicara padaku, karena kamu sama sekali tak pantas untuk itu.”


**


Richard benar-benar kaget ketika mendapati Kate yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan koper kecil yang ada di sampingnya pagi itu. Tak ada pembicaraan sebelumnya jika wanita itu akan mengunjungi Jakarta lagi dalam waktu dekat, Richard saja baru berencana akan mengunjungi Jerman, tapi lihatlah wanita itu yang senyumnya tak hilang sejak tadi.


“Aku tak tahu aku akan ke Jakarta,” ucap Richard.


“Kejutan? Kau tak terkejut atau memiliki ekspresi lain yang bisa memuaskanku? Aku sedikit kecewa dengan ekspresimu.”


“Ekspresi seperti apa yang harus kutunjukkan?” Richard tertawa dengan pembicaraan mereka. Ia beranjak dari duduknya dan berpindah ke samping wanita itu, tak seharusnya mereka duduk dalam jarak sejauh itu.


“Aku merindukanmu,” ucap Kate. Ia membelai pipi Richard yang jaraknya sangat dekat itu.


Ini bukan akhir pekan dan Richard benar-benar baru bangun dari tidurnya, karena memang pesawat Kate mendarat sepagi itu di Jakarta. Tapi bukan itu masalahnya, ia hanya sangat merindukan Richard sebanyak itu hingga membuat hatinya serasa ingin meledak. Mungkin inilah yang di rasakan oleh mereka yang sangat jatuh cinta.


“Tapi aku tak merindukanmu,” balas Richard dengan datar.


“Aku kembali saja ke Jerman.”


Richard segera mencekal lengan Kate yang sudah bangkit itu, memeluk Kate dengan erat dan tertawa kecil. Ia tak tahu jika Kate bisa jadi sangat menggemaskan ketika sedang ngambek. Rasanya sangat menyenangkan ketika bangun tidurmu mendapatkan wanita yang sangat kau cintai ada di depan pintu apartemenmu.


“Aku juga merindukanmu, sangat.” Richard mencium rambut Kate, wangi yang sangat menenangkan untuknya. Inilah tempat dimana ia harus berlabuh. “Kenapa ke Jakarta? Aku bisa saja ke Jerman jika kau sabar menunggu.”


Kate mengurai pelukan mereka, tapi Richard tak membiarkan jarak mereka berkurang sedikitpun. Tangannya masih setia melingkari tubuh wanitanya itu. “Aku yang akan mendatangimu sekarang, aku tahu kau lebih sibuk di sini. Aku akan membuktikan kalau aku juga sangat mencintaimu, Jerman dan Jakarta bukan masalah besar.”


Jarak mereka sangat dekat karena Richard ingin memastikan jika wanita itu benar-benar nyata ada di hadapannya dan bukan hanya sekadar mimpi. Bisa saja ini hanya mimpi yang kelewat indah, kan? Dan ketika ia benar-benar bangun nanti ternyata Kate tak ada di sampingnya.


Kate merapatkan jarak mereka dan ia mencium bibir Richard lembut. Pagutan dari rasa rindu yang sudah Kate tahan selama ini. “Aku belum mandi,” ucap Richard ketika ciuman mereka berakhir.


“Asal tak ada wanita lain yang kau bawa ke ranjangmu.”

__ADS_1


“Kalau begitu ayo ke ranjangku, di sana sangat dingin karena tak ada wanita yang bisa kubawa untuk menghangatkannya.”


Kate kembali mencium Richard untuk menggoda pria itu. “Kau harus siap-siap ke kantor, kan?”


“Tak masalah jika aku bolos satu hari. Aku harus pandai memanfaatkan waktu ketika kau ada di sini,” bisik Richard. Ciumannya kini sudah pindah ke tengkuk wanita itu.


“Disini saja, baru pindah ke kamarmu.”


**


“Pa, kenapa Papa gak tinggal sama Mama lagi?” tanya Aidan.


Ini bukan hari Jum’at, tapi Reno memutuskan untuk menjemput putranya itu. Ia hanya merasa kepalanya terlalu penuh karena memikirkan banyak hal, dan hal terbaik yang ia miliki adalah dengan bertemu dengan Aidan. Putranya ini seperti memiliki mantra penyembuh untuk semua lelah dan pikiran yang ada di kepalanya.


Pertanyaan seperti tadi juga bukan pertama kali di tanyakan oleh Aidan, mungkin sudah kesekian kalinya dan Reno selalu tak memiliki jawaban untuk itu. Bagaimana menjelaskan perceraian pada anak usia lima tahun? Reno tak memiliki kalimat mudah agar putranya mengerti, karena memang tak mudah untuk menceritakan kembali


perceraian ini. Semua kenangan buruk ada di dalamnya.


“Aidan mau makan siang apa?” tanya Reno lembut.


Aidan menyilangkan tangannya di dada, lagi-lagi pertanyaan yang ia tanyakan berulang-ulang tak mendapatkan jawaban lagi. Kenapa orang dewasa tak pernah menjawab pertanyaan yang ia ajukan? Apa karena ia masih anak kecil? Ia bahkan sudah bisa menghapal perkalian satu hingga sepuluh, ia sudah dewasa dan orang lain selalu menganggapnya anak kecil.


Mobil Reno berhenti di lampu merah, dan ia menatap putranya yang sedang menunjukkan wajah cemberutnya. Reno mengacak rambut putranya itu pelan, nanti, ketika Reno sudah menemukan jawaban yang lebih mudah tentang perpisahannya, ia akan menjelaskan pada Aidan. Walaupun akan lebih baik jika Aidan sama sekali tak


mengerti apa yang sedang terjadi pada kedua orang tuanya.


“Aidan mau makan siang sama papa juga mama,” jawab Aidan, masih dengan tangan yang tersilang di dadanya.


Oke, permintaan itu lebih sulit dari pertanyaan yang di ajukan tadi. Kenapa Aidan bisa tumbuh sepintar ini? Akan sangat sulit untuk Reno menghadapinya jika sudah seperti ini. “Tapi, mama pasti lagi sibuk sama pekerjaannya. Kita makan siang berdua dulu, ya? Lain waktu kita makan siang sama mama, ya?” bujuk Reno.


“Aidan gak mau makan siang kalau gak ada mama sama papa.”


Entah sifat keras kepala siapa yang sudah di wariskan pada Aidan ini, karena jika sudah seperti ini, tak ada cara lain untuk menghindarinya kecuali benar-benar di realisasikan. Reno sudah sangat memahami putranya. Hanya bagaimana cara meminta Nabila untuk bergabung bersama mereka? Ia sangat yakin jika Nabila sangat tak ingin bertemu dengannya.


“Ya udah, nanti papa telpon mama. Aidan mau makan dimana?”


Mata Aidan langsung bersinar melihat Reno, tangannya sudah tak tersilang di dadanya,


dan tak ada wajah cemberut lagi menghiasi wajah mungil itu.”KFC, pa, KFC!” ujar


Aidan girang.


“Baiklah, tapi kali ini aja. Besok, Aidan gak boleh makan di sana lagi.”


Aidan hanya menganggukkan kepalanya dengan riang dan tak ada pembelaan lain lagi, ia kembali ke menatap ke depan dengan senyum terkembang yang sangat lebar. Bagaimana Reno bisa menolak wajah semanis ini? Dan bagaimana bisa ia membuat kecewa putranya yang sudah sangat lebar menunjukkan senyumnya.


Bahkan tanpa ragu mengiyakan ucapannya untuk tak sering makan di makanan cepat saji itu. Sedari dulu Reno memang tak mengizinkan putranya untuk selalu makan di tempat itu, ia lebih merasa aman dan tenang jika Aidan hanya mengkonsumsinmakanan rumahan yang di buat oleh Nabila.

__ADS_1


Nabila.nBagaimana harus menghubungi wanita itu dan memintanya untuk makan siang bersama? Karena Reno sangat yakin, pertemuan satu minggu sekali itu saja sudah termasuk hal yang berat untuk Nabila. Ia tak ingin semakin membebani wanita itu dengan pertemuan-pertemuan lain di luar jadwal itu. Tapi, ia juga tak ingin menghilangkan senyum lebar di wajah Aidan itu. Mungkin seharusnya ia tadi tak perlu menjemput Aidan seperti ini.


**


__ADS_2