
Hai, kangen aku gak sih? Kangen dong ya ;) kisahnya Nabila nyempil-nyempil aja ya biar tiap hari bisa nulis bagian Nabila, biar gak cepet abis gitu. Tenang, azabnya Reno masih otewe. Jadi, bagi yang nungguin harap sabar ya.
Happy reading^^
“Perjodohan itu benar-benar terjadi?” tanya Enzo.
Satu minggu setelah pertemuan mereka dengan pria bernama Brian Dennis Park, dan Enzo masih sangat penasaran dengan yang terjadi. Tentang Brian yang belum pernah bertemu dengan Elle, tak mungkin hal itu terjadi jika Brian benar-benar orang kepercayaan mendiang ayah Elle. Dan juga tentang perjodohan yang yang di katakan pria itu, dalam dunia bisnis, perjodohan sudah menjadi hal yang lumrah, tapi masih terasa janggal untuk Enzo dan itu hampir menyita pikirannya selama satu minggu ini.
Elle yang sedang memeriksa pekerjaannya mendongak menatap Enzo, tak ada acara makan siang berlebihan karena mereka akan mengadakan rapat sebentar lagi. Roti lapis sudah cukup untuk memberi mereka tenaga selama rapat berlangsung nanti. Tentang pertanyaan itu, Elle bahkan tak menyangka jika Enzo akan menanyakan itu. Ia bahkan sudah tak ingin membahasnya lagi, Brian adalah mimpi buruk yang pernah terjadi di hidupnya.
“Perjodohan apa?”
Sudah di putuskan secara tak langsung jika Enzo dan Elle akan menjalani hubungan atasan dan bawahan yang tak terlalu resmi. Setelah tahu jati diri Elle dan ingatan dua tahun lalu itu, Enzo merasa jika ia memiliki ikatan tak kasat mata dengan Elle, dan ia tak ingin terlalu formal pada Elle. Enzo hanya ingin seperti itu, tak terlalu peduli jika Elle menjadi sedikit tak nyaman.
Sedangkan untuk Elle sendiri, ia akan profesional dalam pekerjaannya tapi tetap menanggalkan panggilan formal ketika mereka hanya membahas pekerjaan berdua seperti ini.
“Kau tahu apa yang kumaksud,” ujar Enzo.
Elle tak menyukai topik tersebut, membahas Brian, ayahnya, dan apapun yang terjadi di antara mereka sama saja membuka kisah lama yang harus di ceritakan sejak awal. Enzo tak sedekat itu dengannya untuk di ceritakan kisah pahit yang di alami Elle, dan tak ada alasan bagi Elle untuk menceritakan itu.
“Aku sama sekali tak mengerti maksud dari pembicaraan ini dan juga pertemuan kemarin, aku hanya putri Danuwijaya, aku tak mengerti apa yang terjadi di dalamnya. Aku sibuk menjadi gadis manja seperti yang sudah di gosipkan, apa itu cukup membantu?”
Justru karena Elle mengetahui semuanya, ia tak ingin semakin banyak yang mengetahui. Elle tak ingin terlalu dekat dengan siapapun. Tolong ingatkan Elle untuk segera keluar dari pekerjaan ini jika kontrak kerja miliknya berakhir. Sepertinya ia hanya memiliki pilihan untuk mengikuti jejak sang Ibu, pilihan yang membuatnya melupakan tempat ini dan semua orang yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Enzo memperhatikan perubahan ekspresi yang ada di wajah Elle, tak ada perubahan yang berarti memang karena sepertinya wanita ini sangat lihai untuk menyembunyikan apapun yang ada di kepalanya. Lalu, kenapa juga Enzo sibuk memikirkan apa yang sedang di pikirkan oleh wanita ini?
“Tidak cukup, aku juga harus memeriksa latar belakang pria itu agar aku bisa yakin untuk menariknya sebagai investor.”
“Kenapa harus melalui aku? Kau bisa menanyakannya secara langsung, dan lagi kau memiliki banyak uang dan juga koneksi, apa kau sebodoh itu?” tanya Elle dengan tajam.
Dari banyaknya pemilihan kata yang ada, Elle justru memilih kata yang cukup kasar untuk di ucapkan kepada atasan, Elle sadar itu tapi ia juga sadar jika ia tak peduli. Bukankah itu lebih baik? Enzo juga hanya terlihat sedikit terkejut.
“Apa kau selalu berkata kasar seperti itu?” tanya Enzo dengan tenang.
Elle hanya mengangkat kedua bahunya, akan lebih baik lagi jika Enzo segera memutuskan kontrak kerja mereka itu, Elle akan dengan senang hati menerimanya. “Apa aku menyinggungmu? Apa kau tipe pria yang sentimental? Sangat tak cocok untukmu.” Elle menyeringai dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Entah kenapa ia senang dengan pilihan kalimatnya barusan.
Senyum kecil terselip di bibir Enzo. Elle adalah wanita yang sangat bertolak belakang dengan Cecillia dan juga Liliana dullu, mungkin itu bagian dari pesona yang ia miliki. Apa saat ini Enzo sudah mulai tertarik pada Elle?
Wanita ini selalu mengingatkannya pada Cecillia, dalam konteks yang baik. Elle sangat berjasa untuk usaha menyelamatkan Enzo dalam keterpurukan yang semakin dalam. Mungkin Elle tak akan tahu tentang hal itu, tapi Enzo selalu mengingat kenangan kecil itu di sudut memorinya.
**
__ADS_1
Richard menatap Kate yang kini ada di hadapannya, keduanya sudah seperti itu sejak tiga puluh menit yang lalu. Bukan Richard yang meminta pertemuan ini, mereka hanya tak sengaja bertemu ketika keduanya sedang memilih pakaian di salah satu butik. Pertemuan yang tak di sengaja yang membawa mereka dalam kondisi canggung seperti saat ini.
Entah siapa yang mengusulkan untuk mengobrol terlebih dulu sebelum pulang, mungkin Richard dan mungkin juga Kate. Richard bahkan sudah menghabiskan satu cangkir kopi hitamnya dan masih belum ada kalimat yang keluar dari bibir mereka masing-masing.
“Apa kau masih lama di sini? Aku masih memiliki janji lain sore ini,” ucap Richard. Bohong tentu saja.
Tak ada janji yang di buat untuk sore ini ataupun hari ini, ia hanya ingin berjalan kemanapun yang mampu menghapus memori menyakitkan tentang Kate, tapi ia justru bertemu wanita itu secara tak sengaja. Hal yang sangat menyebalkan, karena itu sangat tak baik untuk kesehatan jantung Richard.
“Ah, aku…,”
Richard masih diam di tempatnya, masih menunggu dengan setia kalimat selanjutnya yang akan di katakan Kate. Tapi, selang dua menit ke depan pun, taka da kalimat yang keluar dari bibir wanita itu.
“Aku…Aku mau minta maaf,” ucap Kate lirih.
“Untuk apa?”
Kate mengangkat wajahnya untuk mengintip reaksi Richard, membuat mata mereka bertemu. Itu di luar ekspektasi Kate, menatap wajah Richard saja sudah sulit, bagaimana ia bisa menatap mata indah itu? Kate mendadak gelagapan karena di tatap seperti itu, ia segera mengalihkan tatapan matanya kemanapun, asal bukan pada pria di hadapannya ini.
“Karena sudah memutuskan hubungan kita secara sepihak,” jawab Kate lirih.
Mungkin jika Richard tak benar-benar memperhatikan Kate dengan saksama, ia tak akan mampu mendengar jawaban itu, dan sekarang Richard tak tahu bagaimana harus menanggapi kalimat itu. Memangnya ada permintaan maaf untuk putusnya suatu hubungan? Jika ada, ini kali pertama Richard mendengar kalimat itu.
Richard mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat itu, kakinya tak bisa di ajak kompromi ketika menatap Kate. Kalimat Nabila kemarin pun memenuhi kepalanya lagi, pasti ada alasan yang tak Richard tahu untuk putusnya hubungan mereka saat ini, dan Richard ingin mempercayai itu. Tentang pria yang sempat Richard lihat juga, pasti ada penjelasan untuk itu.
“Karena kau membahasnya, kenapa tak kau ceritakan padaku alasan sebenarnya? Aku tahu ada alasan lain di balik semua ini,” ucap Richard.
Kate tak memperhitungkan hal ini, ia pikir Richard sudah membencinya dan hanya akan meninggalkannya lagi. Tapi, melihat pria itu yang kembali duduk di kursinya membuat Kate kembali lega untuk suatu alasan. Ia benar-benar sedang menyiksa dirinya sendiri saat ini.
“Apa lagi yang harus di jelaskan? Semuanya sudah sangat jelas, kan?”
Kate bodoh! Jerit batinnya. Ini seharusnya bisa menjadi kesempatan untuk mereka kembali bersama, tapi, kenapa
justru kalimat seperti itu yang keluar dari mulutnya? Mungkin Kate tak ingin membawa Michelle dalam permasalahan mereka.
“Kau akan membiarkan tiga tahun kita menjadi sia-sia karena hal ini? Setidaknya beri aku penjelasan yang sangat logis, dan aku bisa pergi dari hidupmu selamanya jika memang itu yang kau inginkan.”
Keduanya beradu pandang lagi, seolah mereka bisa menemukan jawaban jika sudah saling menatap seperti ini. “Aku tak pernah mencintaimu dari awal, Richard. Apa jawaban itu bisa memuaskanmu?”
Bukan Richard ingin menolak jawaban itu, ia hanya merasa ada hal lain lagi dan bukan hanya itu alasanannya. Richard benar-benar merasakan hal itu. “Jadi, kau memang mempermainkanku sejak awal?” tanya Richard dengan santai. Ia mencoba untuk santai.
Kate sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. “Memang sejak awal tujuan kita seperti itu, kan? Semuanya sudah di awali dengan sebuah taruhan, bagaimana aku juga bisa mempercayai itu?”
“Yah, jika memang itu alasan sebenarnya, aku akan menerimanya. Kau tak ingin melihat wajahku lagi setelah ini, kan? Aku akan mengabulkannya, mungkin kita akan sesekali bertemu untuk pekerjaan, selebihnya aku tak akan muncul di hadapanmu.”
Richard kali ini benar-benar beranjak dari kursi itu dan segera meninggalkan kafe itu. Seperti ini saja, bisa jadi memang ada alasan yang sebenarnya, tapi karena terlalu sulit untuk Kate mengatakannya, ia mencari alternatif lain. Richard akan mempercayai itu, mungkin mereka memang harus menjauh dulu untuk sementara waktu.
__ADS_1
**
Sudah dua bulan sejak perceraian Nabila, wanita itu sudah kembali menjalani kehidupannya dengan baik lagi. Ia kini sudah kembali bekerja sebagai editor lagi di sebuah majalah mode. Perceraian tak seharusnya membuat seseorang semakin terpuruk, kan? Justru itu adalah awal untuk memulai semuanya lagi dari awal. Cinta dan pria tak bisa menghancurkan Nabila sebanyak itu, walau memang rasanya benar-benar sakit.
Mungkin ada beberapa hal yang kembali membuatnya bersedih, mungkin lebih tepatnya menjadi banyak berpikir ulang lagi. Tentang pertanyaan Aidan jika malam tiba.
“Ma, kenapa papa gak tinggal di sini lagi? Aidan kangen sama papa.”
Pertanyaan itu beberapa kali keluar dari mulut Aidan ketika malam beranjak dan ia akan tidur. Bagaimana Nabila bisa menjelaskan tentang semuanya pada anak berusia lima tahun? Memang itu konsekuensi yang harus di terima Nabila, kan? Tapi tetap saja itu selalu membuatnya kembali memutar otak lagi.
Memang sudah di tentukan waktu pertemuan Reno untuk anak-anaknya, dan itu setiap satu minggu sekali. Reno akan menemui anak-anaknya di hari sabtu hingga minggu jika Aidan meminta menginap bersama Reno. Nabila tak akan menjadi jahat jika itu menyangkut anak-anaknya, perceraian itu sama sekali tak di sesali oleh Nabila, memang sudah seharusnya terjadi. Untuk bagian anak-anaknya yang menjadi korban, itu resikonya, dan harus di terima bagaimanapun keadaannya.
“Aidan, kan, selalu ketemu sama Papa setiap hari sabtu,” ucap Nabila lembut.
Aidan akan mengerucutkan bibirnya jika seperti itu. “Aidan mau kayak dulu, jalan-jalan bareng Papa sama Mama lagi, Aidan juga kangen tidur sama kalian. Aidan gak suka kayak gini.”
Nabila akan menambahkan rutinitas malam seperti ini pada kegiatannya sebelum tidur, pasalnya pembicaraan seperti ini akan terjadi setiap malam. Aidan seolah tak bosan ketika harus menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang, dan Nabila juga akan kembali dengan sabar memberi penjelasan pada Aidan.
“Aidan mau tidur sama Mama?” tanya Nabila.
“Nanti siapa yang jagain Alya kalau Aidan tidur sama Mama?”
Kamar untuk Aidan dan Alya memang menjadi satu, dan letaknya berdampingan dengan kamar yang Nabila tempati. Ada pintu yang akan menyambungkan kamar mereka, jadi tak perlu keluar kamar untuk melihat keadaan kedua anaknya ketika malam. Nabila hanya ingin membiasakan kedua anaknya tidur seorang diri, walaupun bisa saja Nabila membawa kedua anaknya itu tidur bersama di kamarnya. Kasurnya terasa sangat kosong saat ini.
Kembali senyum itu terbit di wajah Nabila. “Nanti hari sabtu kita ketemu Papa, ya?”
Aidan menganggukkan kepalanya dengan semangat, dan senyum yang kembali terbit dengan bahagia. Nabila hanya tersenyum melihat pemandangan tersebut. Setelah memastikan kedua anaknya tidur dengan baik, ia mematikan lampu kamar itu lalu membuka pintu yang menghubungkan pada kamarnya.
Nabila membuang napas yang sudah ia tahan sejak tadi. Seperti ini, ya, rasanya menjadi Ibu tungggal? Nabila tak sedang mengeluh, ia hanya sedang mencoba membayangkan apapun yang masuk ke dalam pikirannya. Perceraian, perselingkuhan, anak-anaknya, ibu tunggal, ia sepertinya sudah kembali membuat khawatir kedua orang tuanya dengan keputusan besar yang ia ambil ini.
Keputusan yang ia ambil ini walaupun sangat benar, kadang membuatnya sedikit kewalahan. Selama dua bulan ini ia sudah melewati semuanya dengan baik, ia tak ingin menyerah begitu saja lalu menyerahkan kedua anaknya pada orang tuanya untuk di rawat. Rasanya akan sangat tak adil untuk Aidan dan juga Alya, karena ia harus bertanggung jawab pada keputusan ini.
Nabila luruh di lantai, tubuhnya masih bersandar di pintu sambung kamarnya. Ia juga tak bisa tidur dengan tenang selama ini, malam-malam yang ia jalani selama ini sangat menakutkan. Pernah ia tak tidur selama satu malam itu, di samping karena mengerjakan pekerjaannya, ia juga sangat sulit untuk memejamkan matanya. Bayangan
tentang Reno masih selalu hadir, semua kenangan bahagia mereka, hingga kenangan buruk mereka. Semuanya berlomba-lomba hadir di kepalanya.
Tidak, ia sudah tak menangis. Sudah cukup tangisannya selama ini, dan ia juga tak berencana untuk kembali menambah daftar kesedihannya dengan tangisan pilu setiap malam. Menangis memang melegakan untuk hatinya, tapi terlalu banyak menangis juga akan membuatnya lelah. Nabila hanya menatap seisi kamarnya dengan
pandangan kosong, mungkin ia harus memikirkan opsi lain untuk menyewa apartemen, rumah ini terlalu besar untuknya dan juga banyak kenangan di dalam rumah ini.
Rumah ini adalah hadiah pernikahan Reno untuk Nabila, dan ia memberikannya begitu saja pada Nabila. Tak terjadi perselisihan masalah harta yang mereka miliki ketika sidang cerai itu di mulai, mereka juga sudah memiliki perjanjian pra nikah, yang sudah di buat sejak awal pernikahan mereka. Rumah ini berdiri atas nama Nabila, dan Reno yang mengalah pada Nabila lalu memberikannya pada Nabila.
Ingatkan Nabila nanti untuk mencari apartemen untuknya, ia tak ingin lebih lama berada di rumah ini. Mungkin ia akan menjualnya saja nanti, ia juga tak ingin lebih lama berada di sini. Kenangan yang tinggal di sini semuanya sangat indah, tapi sudah ternodai dengan kenangan buruk tentang pengkhianatan. Nabila tak bisa mengenang kenangan indah itu lagi karena kesalahan itu.
**
__ADS_1