Playboy

Playboy
#2# Take 6


__ADS_3

Di part ini dan juga seterusnya,nama Katherine akan aku tulis sebagai Kate biar lebih pendek dan gak ribet aja gitu, begitu juga nama Elleanor yang juga bakal aku tulis sebagai Elle. Jadi jangan bingung ya. Tulisan tentang anak yang mungkin kalian temuin, itu semua berdasar pendapatku pribadi, jadi jangan dibawa ke hati ya. Aku belum punya pengalaman punya anak, atau nikah, apalagi cerai, semua yang ada di sini bener-bener cuman fiksi dan apa yang aku tahu. Kalian mungkin bisa komen part itu dan sama-sama koreksi kalau ada yang melenceng, biar belajar bareng-bareng juga.


Oke, sekian ngocehnya. Happy reading ;)


 



Hubungan Katherine dan Richard belum membaik, mereka masih saling mendiamkan tanpa ujung yang bisa di raih. Richard yakin jika hal ini harus di bicarakan, dua minggu tanpa komunikasi benar-benar membuat kepalanya nyaris pecah, tapi bagaimana dengan Kate sendiri? Wanita itu sendiri yang memiliki banyak alasan untuk menolak semua pertemuan dengan Richard, dan lagi-lagi hanya Richard yang tak mengetahui alasan di balik semua penolakan itu.


Memangnya siapa yang tahan dalam keadaan seperti itu? Tunggu, apa ini bagian dari karma karena sudah sempat mengejek Dimitri dulu? Bisa saja, kan? Richard sendiri percaya akan hal itu, tapi apa yang ia katakan dulu adalah hal yang sebenarnya. Ia tak akan mengatakan semua kalimat itu jika tak berdasar apapun.


Dulu ia bisa dengan sangat lantang memberikan semua pendapat dan juga nasihat pada Dimitri, tapi ketika kini ia di hadapkan pada permasalahan serupa, ia tak bisa melakukan apapun. Semua karena ini masalah kita, dan kita juga yang mengalaminya, memang di butuhkan orang lain untuk memberikan semua solusi dan nasihat.


Lagipula siapa yang menyangka jika akan seperti ini ketika hubungan mereka dulu sangat hangat dan jauh dari kata bertengkar dan saling mendiamkan seperti ini. Richard mengedarkan pandangan ke penjuru restoran, ia sedang menikmat makan siangnya seorang diri. Hal yang biasa ia lakukan ketika Kate sibuk dengan pekerjaannya. Tak ada pemandangan spesial hingga mata Richard tertumbuk pada pemandangan yang tak asing.


Itu Kate, sangat jelas dari tempat Richard duduknya. Wanita itu terlihat tertawa lepas dengan apapun yang lawan bicaranya sampaikan, dan Richard yakin itu adalah seorang pria yang duduknya membelakangi Richard. Apa ini? Apa Richard sedang menyaksikan sang tunangan melakukan perselingkuhan?


Richard segera mencari ponselnya untuk memastikan sendiri, dari semua hal, perselingkuhan adalah kesalahan yang tak termaafkan olehnya. Richard sangat membenci kebohongan.


“Hai, sayang. Aku sedang berada di sekitar kantormu, apa kau ada di kantor sekarang?” ucap Richard.


Jarak kursi mereka cukup jauh, dan sepertinya Kate juga tak menyadari keberadaan Richard, tapi Richard bisa dengan jelas melihat perubahan ekspresi tunangannya itu.


“Ah, aku sedang mengadakan rapat di luar. Aku akan menghubungimu lagi ketika kembali.”


Hanya itu saja sudah mampu menjawab kecurigaan Richard. Ia bukan tipe pria yang suka menyimpulkan segala hal tanpa bukti atau apapun hanya berdasarkan pandangan matanya. Perubahan ekspresi itu mampu menjawab semua pertanyaan di benaknya. Siapa yang akan tertawa lepas dan akrab seperti itu di hadapan klien ketika sedang rapat, sedekat apapun keduanya?


Ketika Kate beranjak dari kursinya, Richard segera melakukan hal yang sama. Ia adalah pengelola emosi yang sangat baik, tak akan terlihat ketika Richard sedang kecewa ataupun marah. Kate memasuki toilet wanita, dan Richard bersandar di dinding luar toilet tersebut. Ia tak memiliki banyak pengalaman romantis terhadap wanita, ini adalah yang pertama dan mungkin terlama. Tak salah jika ia memiliki ekspektasi lebih untuk kali ini, kan?


Terdengar bunyi ketukan stiletto yang di kenakan Kate, Richard mengangkat wajahnya. Pandangan keduanya bertemu, Kate terlihat sangat kaget dengan kehadiran pria itu.


“Richard, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kate dengan kaget. Dari semua hal, ia sama sekali tak menyangka jika akan bertemu Richard di sini.


“Apa kau sedang rapat di sini? Kau terlihat sangat bahagia sejak tadi,” ucap Richard dingin.


Kate seperti kehilangan kalimat untuk menjawab. Melihat Richard dengan wajah datar dan nada yang dingin saja sudah membuat Kate tercengang. Pertemuan ini benar-benar tak terduga.


“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Richard lagi.


Richard hanya menatap Kate dengan datar, tanpa emosi. “Aku tak tahu apa yang sedang kau mainkan di sini, apapun itu, sudah sangat membuatku kecewa.”

__ADS_1


Hanya itu saja dan Richard segera berlalu, ia tak ingin emosi mengambil alih kewarasannya dan melakukan hal yang mungkin akan di sesali nanti. Hubungan tiga tahun mereka seolah terbuang dengan sia-sia karena hal ini.


**


Elle berhasil selamat dari pukulan pria yang ia klaim sebagai penguntit dan memotret secara diam-diam. Berkat bantuan Enzo yang tiba-tiba muncul di sana, mungkin atasannya itu mendengar keributan yang terjadi ketika akan keluar dari restoran. Ya, itu salahnya juga yang terlalu gegabah ketika menghampiri pria misterius itu.


Setelah di periksa dari kartu memori yang di rebut paksa oleh Elle, ia memang menemukan jika seluruh kartu memori itu berisi foto-foto Enzo dalam berbagai lokasi dan  juga berbagai acara. Elle tak salah sasaran, ia hanya tak mengetahui pria itu di perintah siapa, bisa jadi memang benar si blonde itu atau orang lain, Elle juga tak yakin. Apapun itu, ia hanya tak ingin siapapun yang ada di dekatnya menjadi korban dari semua masalah yang ada.


“Bapak tak perlu mengantarkan saya seperti ini,” ucap Elle dengan sungkan. Ya, semuanya berjalan baik kecuali Enzo yang memaksa untuk mengantarkan Elle pulang.


“Kita tak tahu apa yang bisa di perbuat pria itu setelah kau menghancurkan kameranya, aku hanya mengantisipasi.” Itu yang di ucapkan Enzo ketika Elle menolak niat baik sang atasan.


Elle sudah pernah mengalami yang jauh lebih buruk, hanya saja sang atasan tak perlu mengetahui semua tentang kehidupan pribadinya. Tak ada hal yang terjadi, jika mungkin ada yang berpikir keduanya akan menjalin hubungan romantis. Tapi, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


“Lain kali kau tak perlu melakukan itu, mereka memang selalu mengambil fotoku secara diam-diam untuk di jadikan sebagai bahan gosip, pria itu bukan yang pertama,” balas Enzo.


“Ah, begitu, saya minta maaf. Anggap saja yang tadi hanyalah gerakan impulsif. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Tanpa menunggu jawaban Enzo, Elle segera turun dari mobil mewah itu. Enzo menatap punggung sekretaris barunya itu yang menghilang di balik pintu kaca gedung apartemen di hadapannya. Jika Enzo tak mendengar keributan di dalam restoran tadi, entah apa yang akan terjadi pada Elle. Ia sedikit heran sebenarnya, bagaimana bisa wanita itu sangat berani menghadapi pria yang dari segi fisik sudah jauh berbeda.


Enzo akan mengakui wanita itu karena keberaniannya, tapi juga hal itu seperti kembali membawanya ke memori lama. Dua tahun lalu tepatnya, di depan pemakaman Cecillia. Ia yakin mereka wanita yang sama, dan itulah kenapa Enzo merasa sangat familiar dengan wanita itu, dan mengingat wanita itu membuatnya harus bekerja dua kali dengan mengingat Cecillia. Itu sangat berat.


“Sampai kapan kau akan menangisi makam ini dan membuat dirimu sendiri sakit karena kehujanan?”


Tak ada jawaban yang di berikan oleh wanita yang baru saja menghampiri Enzo itu. Ia tak peduli sedang berbicara


dengan siapa, karena ia juga tak mengenal siapa wanita yang tiba-tiba muncul ini.


“Seberat apapun rasa kehilanganmu, tak seharusnya kau terus-terusan berada di sini. Hal itu hanya akan menambah rasa sedihnya yang sudah pergi ke atas sana,” lanjut wanita itu lagi.


Enzo membalikkan tubuhnya ke belakang untuk melihat siapa wanita yang sudah dengan lancangnya menasehati. Ia menemukan wanita mungil yang juga mengenakan gaun selutut berwarna hitam, mata wanita itu bengkak, mungkin karena menangis terlalu lama. Ia juga tak membawa payung dan hanya membiarkan tubuhnya di guyur dengan tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras.


“Tak ada gunanya jika kau menangisi makam ini, ia sudah pergi, dan tak akan pernah akan kembali lagi untuk kita.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, wanita anonim itu segera beranjak pergi meninggalkan Enzo dengan semua kebingungannya, yang juga masih menciba untuk mencerna semua kalimat yang di katakan oleh wanita itu.


Enzo tak mengerti maksud wanita itu dulu, tapi kini, Enzo mulai mengerti dan mengingat kembali kalimat itu dengan baik. Mungkin saat itu, wanita itu atau yang ia kenali sebagai Elle sekarang juga sedang kehilangan seseorang yang sangat berharga. Semuanya terasa semakin masuk akal ketika di ingat lagi saat ini, entah Enzo yang kemungkinan salah dengan tebakannya, tapi ia masih bisa mengingat dengan jelas jika wanita itu dan juga Elle juga memiliki kesamaan. Dari suara, postur tubuh, dan juga caranya berbicara.


**


Sore itu, ketika waktu menunjukkan pukul tiga sore, Liliana masih duduk di ruang tengah untuk menikmati waktunya. Elang sedang tidur siang, putranya itu biasa akan tidur hingga pukul empat sore. Tak selalu tepat seperti itu, hanya tak pernah meleset dari waktu itu. Liliana mengatur jam itu untuk mendisiplinkan Elang. Setidaknya waktu untuk bermain, belajar dan juga istirahat sudah di atur dengan baik, karena di jam ini juga Dimitri akan pulang dari kantor, dan keduanya akan menghabiskan waktu bersama hingga jam makan malam.

__ADS_1


Kemampuan memasak Liliana semakin baik seiring waktu berjalan, berkat kursus masak yang ia ikuti dan juga berbagai buku resep yang ia temukan di toko maupun yang sering ia temukan melalui internet. Ia benar-benar menjadikan dirinya ibu rumah tangga dan tak menyentuh pekerjaan apapun selain membantu Mbak Tari yang kini


sudah di beri kekuasaan penuh untuk mengurus Lili’s Florist.


Tentu saja tak ada yang membahagiakan kecuali mampu melihat tumbuh kembang Elang dengan baik dan juga tumbuh kembali bersama suami. Setelah semua hal yang terjadi, ini adalah ahl terbaik yang ia miliki. Mungkin ini tak akan bertahan lama, tapi ia akan mengusahakan jika yang lebih buruk datang, karena roda kehidupan selalu berputar.


Suara deru mesin mobil mulai terdengar dari tempatnya duduk, itu suara mobil suaminya, dan itu adalah hal yang sangat baru. Ini baru pukul tiga sore, dan Dimitri sudah kembali.


“Kamu pulang lebih awal,” ucap Liliana.


Dimitri segera mengahmpiri sang istri yang sedang duduk di sofa. “Ya, tak banyak yang harus kulakukan, jadi aku lebih memilih pulang.” Dimitri mencium kening Liliana dan tersenyum menatap wajah ayu di hadapannya.


Bahagia rasanya ketika ada yang menyambut kepulangan kita di rumah, terlebih itu adalah wanita yang sangat ia cintai. Dimitri tak ingin menyombongkan dirinya, tapi ia selalu yakin jika ia dan Liliana akan kembali bersatu. Perpisahan pertama mereka, ia harus menunggu selama satu tahun hingga mereka kembali bertemu dan mulai menjalin hubungan yang lebih serius. Lalu perpisahan kedua, ia membutuhkan sekitar satu tahun untuk kembali bertemu dan dua tahun untuk memutuskan kembali bersama.


Lebih banyak waktu mereka ketika berpisah di banding ketika mereka bersama. Bagian itu sedikit menyakitkan, tapi dari semua waktu yang sangat lama itu mereka mulai mempelajari banyak hal hingga mereka bisa sampai di tahap ini lagi. Semoga semua kebahagiaan ini akan bertahan lama.


“Kamu beliin mainan lagi buat Elang?” tanya Liliana. Ia baru saja memperhatikan kantong kertas yang cukup besar itu.


“Ah, ini, kemarin ketika kami bermain Elang tiba-tiba menginginkan mobil remot. Jadi aku membelinya, dia pasti akan senang.”


Dimitri menatap Liliana yang sudah menatapnya dengan dingin. “Kamu kenapa?” tanya Liliana heran.


“Aku udah pernah bilang untuk gak terlalu manjain Elang. Kamu tahu, mainan dia udah banyak banget, dan sekarang kamu nambahin lagi. Aku gak mau Elang tumbuh menjadi anak yang manja, ada batas untuk semua itu, Al.”


“Ini bukan hal besar, Li. Ini hanya mainan, dan wajar kalau usia Elang untuk mendapatkan semua yang dia mau. Selama aku masih mampu, kenapa enggak, Li?”


“Ini bukan soal kamu mampu atau enggak, Al. aku hanya gak mau—“


“Sayang, gak masalah. Kamu tahu dia di usia aktif dan akan bergerak kesana kemari, hal lumrah ketika aku beliin dia mainan lebih banyak,” ucap Dimitri dengan lembut.


Kalimat lembut Dimitri sama sekali tak membantu Liliana untuk tenang. Jangan anggap Liliana sebagai orang tua yang tak menyayangi putranya atau terkesan pelit. Justru sejak dini, ia harus membentuk putranya menjadi anak yang menghargai usaha seseorang. Maksudnya, akan ada saat ketika mereka sudah tak dalam keadaan


berkecukupan seperti ini.


Sifat empati dan juga simpati harus di mulai sejak dini, agar semakin mereka dewasa, mereka bisa mengerti dan tumbuh menjadi anak yang peka terhadap sekitarnya. Ketika orang tua memanjakan anaknya dengan menuruti semua yang di inginkan, itu akan membuat sang anak menjadi memudahkan segala hal.


“Ini hanya mainan, Li,” ucap Dimitri lagi.


Raut wajah Liliana belum juga berubah, ia masih menatap Dimitri dengan dingin. “Baiklah, hanya kali ini saja. Aku akan membicarakannya denganmu jika ingin membelikan Elang mainan lagi.” Dimitri hanya pasrah, ia tak akan menang jika sudah bersama Liliana. Apapun keinginan atau perintah Liliana, adalah hal yang wajib Dimitri kabulkan.


Terdengar seperti budak cinta? Ini cara Dimitri mencintai dan membangun kembali rumah tangganya. Lagipula Liliana memiliki alasan atas kalimatnya, jadi semuanya sudah jelas. Kecuali ketika Liliana hanya mengkonfrontasi Dimitri tanpa alasan yang jelas. Inilah bagaimana mereka akan menjalankan rumah tangga mereka.

__ADS_1


**


__ADS_2