Playboy

Playboy
#2# Take 11


__ADS_3

Hai hai, gimana sejauh ini sama cerita playboy? Aneh, kah? Atau ada saran dan masukan mungkin untuk cerita ini?


Happy reading^^


 



 


“Surat pengunduran diri?”


Enzo mengangkat kedua alisnya dengan bingung dan bertanya-tanya. Sepertinya tak ada masalah yang sedang terjadi belakangan ini, dan Enzo juga tak terlalu menekan Elle untuk melakukan pekerjaan yang melebihi kapasitas. Tak ada yang salah selama ini, tapi kenapa Elle memberinya surat pengunduran diri seperti ini, dan ini baru sekitar dua bulan ia bekerja sebagai sekretaris.


“Jelaskan secara rinci, alasanmu memberiku ini?” tanya Enzo lagi.


Elle berusaha membuang napasnya dengan perlahan. Ia juga tak mungkin beralasan karena ia adalah putri Danuwijaya. Setidaknya Elle sudah memantapkan pilihan untuk mengundurkan diri, ia hanya belum bisa menemukan alasan yang masuk akal untuk ini.


“Saya hanya merasa tak cocok untuk pekerjaan ini, saya juga sudah mendapat tawaran untuk pekerjaan yang lain.”


Kembali Enzo mengangkat alisnya. Ia segera menyobek surat pengunduran diri yang masih terbungkus amplop itu, tak perlu untuk mengetahui isinya. “Saya menolaknya.”


Mata Elle membola melihat hal itu, ia menatap dengan nanar kertas yang sudah menjadi beberapa potong itu. “Alasanmu tak masuk akal, jika ini tentangmu yang merupakan putri Danuwijaya, maka kita bisa mendiskusikannya sekarang,” ujar Enzo.


Kesan pertama Enzo terhadap Elle adalah, wanita ini sangat mudah di baca. Ada kalanya ia merasa jika Elle sangat misterius dan memiliki banyak rahasia, ada kalanya juga Elle menjadi wanita yang sangat mudah di tebak. Anggap saja itu sebagian dari alasan Enzo menerima Elle, sebagian lainnya karena ia merasa familiar dengan wajah itu, yang ternyata memang benar dugaannya sejak kemarin.


Entah ada masalah apa antara Elle dan juga nama sang ayah, karena Enzo sangat merasakan perubahan aura ketika nama Danuwijaya di sebut. Pria dewasa yang pernah menjadi guru Enzo tentang dunia usaha adalah Danuwijaya, yang mengenalkannya pada banyak hal seputar dunia wirausaha. Anggap saja ini sebuah kebetulan yang mempertemukan mereka.


“Dan kau masih terikat kontrak kerja, kau harus membayar denda jika ingin mengundurkan diri sebelum waktu yang di tentukan,” lanjut Enzo lagi.


Ya, Elle juga sangat tahu hal itu. Dan ia juga tak memiliki uang sebanyak itu hanya untuk membayar denda, hutang-hutang ayahnya masih menunggu untuk di lunasi. Apa yang sebenarnya ia pikirkan sekarang? Emosi memang menuntunnya untuk membuat surat pengunduran diri itu. Ternyata ia memang masih bodoh, kan?


“Kalau begitu, saya permisi dulu,” ucap Elle akhirnya. Nada bicaranya sudah lebih turun, atau lebih ke perasaan pasrah. Seharusnya memang sejak awal ia tak melamar untuk pekerjaan ini.


Elle berbalik. Ia akan bertahan sebentar, jika rasanya sudah tak memungkinkan untuk melanjutkan, maka ia benar-benar akan berhenti. Tak peduli dengan konsekuensi yang ada, atau jika ia sudah benar-benar tak bisa berpikir lagi, ia akan mengikuti jejak sang ibu. Darah selalu lebih kental dari air, kan? Jika memang harus menjual diri untuk bisa melunasi semua hutang yang ada, maka memang sudah begitu jalannya.


“Aku sudah tahu semuanya,” ujar Enzo.


Sudah bisa Elle duga jika akan seperti ini. Enzo dan semua kekuasaan yang pria itu miliki, serta banyak koneksi yang ada, tak mungkin jika ia tak mengetahui atau mencari tahu tentang siapa Elle sebenarnya. Elle membalikkan tubuhnya untuk menatap atasannya itu. Jika tak memiliki pemahaman tentang profesionalitas, maka Elle akan dengan senang hati segera meneriaki pria itu.


“Maaf jika apa yang kulakukan lancang dan melanggar privasimu, aku hanya ingin mengetahui orang seperti apa yang menjadi sekretarisku. Dan aku mengatakan ini juga ingin kau mengetahui fakta yang kuketahui, aku tak akan berpura-pura untuk tak mengetahui apapun, dan akan seperti itu untuk ke depannya,” jelas Enzo.


“Apa kau takut jika aku mungkin menjadi mata-mata atau menjual semua informasi perusahaan ini pada orang lain atau mungkin perusahaan sainganmu?”


“Aku tak menuduhmu, mungkin hanya karena rasa penasaran. Aku dan ayahmu adalah rekan kerja yang baik, dan kami tak memiliki dendam apapun—“


“Bahkan teman dekat juga bisa menusuk dari belakang, apa yang harus di percayai? Aku hanya akan menjadi sekretaris di sini, dan tolong jangan pernah melewati batas untuk mengurusi privasiku,” potong Elle.


Setelah itu, Elle segera keluar dari ruangan itu dengan rasa kesal yang mendominasi. Tapi semua itu juga bukan kesalahan Enzo, ia akan berusaha untuk memahami pendapat Enzo tadi. Ia sama sekali tak mengenal Enzo, baik melalui mendiang sang ayah ataupun secara langsung, tak ada alasan untuk membenci pria itu.


Satu-satunya pihak yang bersalah adalah Elle sendiri, dan rasa kesal itu juga ia tujukan untuk dirinya sendiri, ia hanya butuh pelampiasan untuk semua rasa kesalnya. Bukan tak mungkin jika sebenarnya Enzo juga memiliki niat buruk pada dirinya, atau mungkin sekadar balas dendam kecil. Semua itu sangat mungkin, tak ada yang bisa Elle percayai di dunia ini, termasuk sang ibu—keluarga satu-satunya yang ia miliki.


**


Sebenarnya Kate sudah tahu dengan reaksi apa yang akan di berikan kedua orang tuanya jika ia mengatakan untuk membatalkan pertunangan yang sudah ada. Richard sudah sangat dekat dengan sang ayah, ibunya juga, dan selama ini keduanya juga tahu jika hubungan pertunangan ini baik-baik saja tanpa ada permasalahan lain.

__ADS_1


Berkat Richard, Kate bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari sang ayah untuk meneruskan usaha sang ayah.


Saat ini, Kate merasa jika sifatnya sudah sangat keterlaluan. Memutuskan Richard begitu saja tanpa ada alasan yang jelas, dan hubungan mereka berakhir sia-sia. Tiga tahun mereka terbuang begitu saja hanya karena kalimat Michelle yang mengusik pikiran Kate dan juga ‘pernikahan’. Tak ada peristiwa traumatis yang Kate alami, ia hanya merasa pernikahan membuat kehidupannya terbatas. Kebebasan berhenti ketika pernikahan sudah terjadi, dan tak akan ada yang menjamin jika mereka bisa bersama terus hingga akhir hayat.


Wajar jika ada yang memiliki pemikiran seperti itu, karena tak semua orang akan dengan rela memilih untuk menikah.


Richard menyampirkan jas yang ia kenakan di bahu Kate. Itu adalah malam musim panas, mengenakan pakaian yang sedikit transparan adalah hal wajib karena suhu di Frankfurt sangat meningkat drastic.


“Berapa kali harus kukatakan jika kau harus mengenakan pakaian yang lebih tertutup?” ucap Richard.


Kate hanya tertawa penuh arti dengan ucapan Richard. Sepertinya kalimat itu sudah sangat sering ia dengarkan dan Richard juga sangat sering mengatakan itu, yang selalu di langgar oleh Kate. Menjadi patuh tak pernah masuk ke dalam daftar hal yang ingin Kate lakukan, termasuk di hadapan Richard. Ia selalu menikmati kecemburuan yang tak pernah Richard sembunyikan, dan bagaimana cara pria itu akan dengan sangat protektif melindungi Kate.


“Ada kau di sampingku, dan aku selalu menyukai caramu untuk melindungiku.” Kate tersenyum dengan sangat lebar.


“Jadi aku harus selalu mengawasimu?”


“Tentu saja, kau harus selalu ada si sampingku. Apa kau rela jika banyak pria yang mencuri pandang, bahkan


menggodaku?” pancing Kate.


“Ya, aku akan terus ada di sisimu, asal kau tak akan bosan untuk melihat wajahku.”


Kate mengaduk-aduk jus yang ada di hadapannya, ia sama sekali tak memiliki nafsu untuk menyedot jus yang sangat menggoda itu. Pikirannya kembali mengembara untuk membuka kenangan-kenangan yang tersisa bersama Richard. Ia menyesali keputusan itu, ia menyesal dengan semua kalimat yang pernah ia ucapkan kemarin, lalu melihat betapa terlukanya Richard karena hal itu.


Tapi, di sisi lain ia merasa jika ini adalah yang terbaik. Bagaimana ia bisa tetap bersama Richard ketika ia tak bisa melanjutkan hubungan itu ke tahap yang lebih lanjut dan serius? Pernikahan adalah impian semua orang, atau bahkan wanita di dunia ini, hanya saja, itu tak berlaku untuk Kate. Menghindari pernikahan adalah hal pertama yang muncul dalam pikirannya, sedikitpun tentang pernikahan tak pernah terpikirkan olehnya.


Ia tetap wanita normal yang mencintai pria—Richard—tapi pernikahan sedikit terlalu memberi beban yang banyak untuk Kate. Mereka sudah bertunangan, sudah ada yang mengikat hubungan itu menjadi sedikit lebih serius, pernikahan hanya menambah beban.


“Sebaiknya kurangi untuk minuman kafein juga alkohol, itu sangat tak baik untuk kesehatan tubuhmu,” ucap Richard.


“Jika kau tak keberatan, kau akan lebih buruk jika terus-terusan mengkonsumsi dua minuman itu.”


“Ah, aku lupa jika tunanganku ini mantan dokter. Tak heran jika kau hanya minum teh, lalu buah-buahan, hidupmu sangat sehat, Tuan,” cibir Kate.


Richard yang selalu mengingatkannya untuk meminum jus buah-buahan, lalu memperbanyak air putih, hindari kafein, dan banyak hal-hal menyehatkan lainnya. Saat ini, jus apel dan wortel yang warnanya sangat cantik itu, sama sekali tak menggugah selera. Ia ingin Richard yang hadir di sini, bukan semua kenangan yang kembali


muncul itu.


**


Liliana sebenarnya sangat ingin memberitahukan berita kehamilannnya pada Nabila, tapi ia mencoba untuk menahan diri. Sahabatnya itu sedang dalam keadaan bersedih, dan ia juga tak mungkin tega untuk mengatakannya sejelas itu. Dimitri juga sudah memintanya untuk menahan berita itu, masih banyak waktu lain dan juga mungkin akan lebih baik seperti itu, anggap saja kejutan.


“Jadi kamu udah mulai ngelamar kerja lagi?” tanya Liliana.


“Ya, kantor lamaku juga udah nawarin dari lama, tinggal aku terima. Aku bingung juga harus pilih yang mana.”


Liliana dan Nabila saat ini memiliki banyak waktu yang di habiskan berdua. Biasanya mereka melakukan ini sepulang dari menjemput anak-anak mereka. Elang dan Aidan bersekolah di komplek yang sama, jadi mereka sangat sering bertemu. Tak seperti Liliana, Nabila sudah memiliki pengasuh sendiri untuk mengawasi putra dan


putrinya. Pengasuh itu sendiri sudah di pekerjakan jauh sebelum perceraian ini terjadi.


“Asal kamu gak terlalu sibuk sama pekerjaanmu sampai lupa kalau kamu punya anak. Mereka tetap prioritas utama kamu.”


“Ya, aku tahu itu. Mungkin memang aku udah di takdirin untuk bercerai, kamu tahu, kan, kalau Reno ngelarang aku kerja lagi setelah melahirkan. Bahkan setelah Alya lahir, dia semakin bersikeras supaya aku gak kerja,” ujar Nabila.


“Kalau aku jadi kamu sih, gak masalah. Kamu hanya perlu duduk manis di rumah aja, itu keuntungannya, Bil.”

__ADS_1


Nabila tertawa mendengar jawaban Liliana, tak salah juga karena memang itu keuntungan yang sangat bagus. Tapi, untuk Nabila yang sangat mencintai pekerjaan, itu menjadi hal yang sangat buruk.


“Dan sekarang, seorang Liliana yang sangat gila kerja juga mulai menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga.”


Keduanya tertawa secara bersamaan karena kalimat itu. Ya, Liliana si ‘gila kerja’ sudah benar-benar mencintai pekerjaan barunya mengurusi dua orang berbeda generasi yang menjadi pusat dunianya, yang semoga bisa bertahan hingga akhir hayat mereka.


“Mama!”


Teriakan itu menghentikan tawa yang sedang mereka nikmati. Aidan berlari untuk menghampiri sang mama yang terheran-heran di kursinya. Ia segera memeluk Nabila dengan sesenggukan. Mereka tengah berada di restoran yang memiliki tempat bermain anak, dengan pengasuh yang Nabila pekerjakan untuk mengawasi kedua anaknya, dan juga Elang.


“Kenapa, sayang?” tanya Nabila.


Belum sempat Aidan menjawab, Elang juga berjalan menghampiri sang ibu yang juga terheran-heran. Apa kedua anak-anak itu bertengkar selagi bermain?


“Elang ambil mainan aku, padahal aku yang dapet bola itu duluan,” adu Aidan.


Elang yang sudah masuk ke dalam pelukan Liliana pun ikut menangis. Nabila dan Liliana saling bertatapan dengan bingung, lalu mereka menatap sang pengasuh yang baru muncul dengan Alya di gendongannya. Nabila menatap Mbak Anisa dengan pandangan bingung.


“Mereka rebutan bola tadi, tapi dua-duanya gak mau ngalah, akhirnya mereka nangis barengan,” ucap Mbak Anisa, pengasuh anak-anak Nabila.


“Ada apa ini?”


Dimitri yang baru saja muncul, sedikit heran dengan keadaan yang ada. “Ayah!”


Elang yang tadinya nyaman di pelukan Liliana, segera menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara sang ayah. Elang sekarang jauh lebih manja pada ayahnya, mungkin karena naluri sesama pria. Liliana akan dengan mudahnya terlupakan jika Dimitri sudah pulang bekerja, dan Elang akan dengan sukarela bermain dengan sang ayah.


Aidan melihat pemandangan itu dengan nanar, usianya memang baru lima tahun tapi ia sudah mengerti dengan apa yang terjadi. Ia tak akan bisa bertemu ayahnya setiap hari dan mendapat pelukan hangat seperti yang di lakukan oleh Elang dan ayahnya.


“Aku mau main lagi, Ma,” ucap Aidan.


Nabila menatap putranya sesaat sebelum melepaskannya lagi untuk kembali bermain, ia memberi kode pada Mbak Anisa untuk mengikuti Aidan. Alya yang sudah tertidur kini bergantian Nabila gendong, ia tak ingin membebani sang pengasuh dalam keadaan seperti ini, walau itu memang pekerjaannya.


Elang yang melihat kepergian Aidan, juga segera turun dari gendongan sang ayah. Ia masih belum puas bermain tadi, dan kini ia kembali ingin bermain lagi. “Mereka kenapa?” tanya Dimitri bingung.


“Rebutan mainan, dan mereka juga nangis barengan karena gak ada yang mau ngalah,” jawab Liliana.


“Richard, kamu kapan pulang ke Jakarta?” tanya Liliana. Ia baru menyadari sosok Richard setelah beberapa saat.


“Seminggu yang lalu mungkin. Hai, Bil, kamu sendirian aja?”


Nabila meringis mendengar pertanyaan itu. Tak banyak yang tahu tentang perceraiannya, kecuali Liliana dan mungkin juga sebagian teman Reno di rumah sakit. Ia juga bukan artis terkenal yang perceraiannya akan di liput berbagai media cetak dan elektronik.


“Aku baru aja cerai, kamu gak tahu?”


“Cerai? Kamu dan Reno?” tanya Richard dengan terkejut. Ia segera menatap Liliana dan Dimitri bergantian, mencoba untuk meminta klarifikasi, dan keduanya hanya mengangguk secara samar. “Ini lagi ada hari pisah internasional apa gimana, sih? Kok bisa pas banget?”


“Kenapa emang?” tanya Liliana.


“Aku juga di putusin sama Kate.”


Kini giliran Liliana yang terkejut, Nabila masih sedikit bingung karena tak menegtahui kisah lengkapnya, sedangkan Dimitri sudah tahu sejak pertama ketika ia mengajak Richard makan siang. Pria itu sudah mengatakan terlebih dahulu.


Mungkin benar, sedang terjadi bulan pisah internasional, jadi akan banyak pasangan yang putus.


**

__ADS_1


__ADS_2