Playboy

Playboy
#2# Take 4


__ADS_3

Cuman mau bilang, kalau misalnya di akhir kalian ngeliat ada kalimat yang gak sinkron atau gimana, maaf ya. Aku bener-bener bikin ini tanpa edit, jadi harap maklum ya. Happy reading^^


 



 


Pernah di katakan jika sesuatu yang manis dan bahagia tak akan pernah bertahan lama. Itulah kenapa Katherine lebih menyukai kopi dan juga minuman alkohol. Ia lebih suka menikmati minuman pahit itu di banding minuman manis lain. Semuanya pernah ia lalui, dari hubungan yang sangat manis dan indah, lalu sangat membahagiakan,


lalu semua itu berakhir begitu saja. Seolah hal itu tak pernah terjadi.


Kini bersama Richard, ia bahagia. Walaupun awal hubungan mereka yang cukup aneh dan sudah tertebak, maksudnya, tanpa di pikirkan dua kali pun Richard akan tetap bersamanya. Orang tua mereka sudah memutuskan, perjanjian bisnis seperti yang di katakan Michelle kemarin. Juga karena Katherine memang tertarik sejak awal


pertemuan mereka


Katherine tak meragukan rasa cinta Richard, walau jarang di ungkapkan dengan kalimat. Ungkapan cinta sendiri kadang tak menjamin seseorang benar-benar memaksudkan yang sudah terjadi, karena itu di butuhkan tindakan. Apalah arti sebuah kalimat jika tak di barengi dengan tindakan.


Kalimat Michelle kemarin terus-terusan berputar di kepala Katherine seperti kaset rusak, dan kenapa juga ia harus merasa seperti itu? Katherine tak pernah goyah oleh apapun.


“Ada apa dengan wajahmu itu?” tanya Enzo.


Katherine mendongak, ia hampir lupa jika sedang makan siang bersama Enzo. Akibat ia yang terlalu larut dalam pikirannya tentang Michelle dan juga hubungannya dengan Richard. Ia lebih menyukai hidup seperti Enzo yang keras kepala dan selalu membangkang. Buktinya, dari semua perjodohan yang sudah di siapkan oleh sang Paman, tak ada satupun yang Enzo terima. Permasalahannya adalah, ayah Katherine lebih keras kepala di banding Enzo dan Enzo sendiri yang selalu membantu ayahnya itu untuk menyiapkan berbagai perjodohan untuk Katherine.


“Apa menyenangkan hidup selibat?” tanya Katherine.


“Memangnya selama ini aku selibat?”


“Apa kau tak menyadarinya juga?”


Begitulah, tak pernah ada pertanyaan yang terjawab jika mereka berdua sudah bertemu. Anehnya lagi, Enzo selalu mengiyakan pertemuan yang di ajukan oleh Katherine ini. Mungkin karena mereka hanya memiliki satu sama lain, membuat mereka menjadi memiliki hubungan sepupu yang saling membenci tapi juga saling menyayangi.


Enzo menghela nafasnya, seharusnya ia tinggal saja di kantornya tadi jika hanya akan bertambah kesal setelah menemui sepupunya ini. “Biasanya kau selalu bersama tunanganmu? Aku tak melihatnya sejak tadi.”


“Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaanmu yang lain, atau aku akan langsung pergi dari sini,” ucap Enzo lagi. Katherine yang baru membuka mulutnya terpaksa mengurungkan kalimat lain yang sudah ada di ujung lidahnya.


“Aku sepertinya ingin membatalkan pertunangan ini.”


Enzo mengamati Katherine yang memang berbeda dari biasanya. Sudah selama ini, dan baru akan di akhiri? Sepupunya ini memang sangat luar biasa. Mungkin hanya ada satu jenis manusia seperti Katherine di muka bumi ini, karena tak bisa Enzo bayangkan memiliki ratusan Katherine yang bisa ia temui. Katherine ini bisa dengan seenaknya memutuskan suatu hubungan tanpa memikirkan pihak lain. Jika sudah begitu, Enzo lagi yang akan menjadi korbannya.


“Apa lagi alasannya kali ini?” tanya Enzo.


Katherine hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Apa alasannya? Tak ada alasan khusus, ia hanya tak ingin menikah, tapi ia juga tak ingin kehilangan Richard. Apa itu masuk akal? Tentu saja tidak. Tapi, jika Katherine yang melakukan itu, semuanya harus masuk akal apapun yang terjadi.


“Aku hanya merasa tak cocok.”


“Tak cocok dan kalian sudah menjalaninya selama tiga tahun. Siapa yang ingin kau bodohi?”


“Jika kuceritakan, kau juga tak akan mengerti. Jadi, jangan menceramahiku,” kilah Katherine.


“Lalu untuk apa kau meneleponku? Aku yakin ini hanya keputusan sepihak milikmu, Richard sama sekali tak mengetahui hal ini, kan?”


Ya, pemikiran untuk membatalkan pertunangan ini selalu menghantuinya sejak beberapa minggu yang lalu, dan menurut Katherine, ini adalah keputusan terbaik yang terpikirkan olehnya. Jika di pikir-pikir lagi, ia sama sekali tak tahu banyak tentang kehidupan Richard. Ia hanya tahu jika Richard bersahabat baik dengan Liliana dan juga suaminya, hanya itu saja.

__ADS_1


Tentang Michelle juga baru ia ketahui belum lama ini, dan hanya dalam waktu singkat Michelle berhasil menyakiti hati Katherine. Atau ini artinya ia sudah sangat mencintai Richard? Tapi, apa korelasinya?


“Ini hanya acak, jika keputusanku sudah bulat, kau yang pertama kuhubungi,” ucap Katherine.


“Apa kau harus menyeretku dalam hubungan kalian?” Enzo menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran Katherine.


Padahal Enzo sudah sangat senang jika Richard benar-benar bisa mengubah sepupunya ini menjadi lebih baik, dan mulai menjalani hubungan yang serius. Tiga tahun bukan waktu yang singkat dalam menjalin hubungan, jika memungkinkan, keduanya sudah sangat cocok untuk mulai memikirkan pernikahan. Mungkin benar jika ada yang


salah dalam rangkaian otak Katherine, karena wanita normal tak akan bersikap seperti Katherine.


**


Liliana tak mempercayai pandangannya saat ini, ia kembali ke Jerman lagi setelah hampir dua tahun tak kembali ke negara itu. Terima kasih kepada suami tercintanya yang sudah menghadiahi tiket perjalanan ke Jerman.


“Anggap saja ini sebagai bulan madu kesekian kalinya, atau program untuk menambah adik untuk Elang,” ucap Dimitri ketika memberikan tiket itu.


Apapun itu bentuknya, Liliana akan tetap menyukainya. Walau hanya sekadar tiket untuk ke Bali pun, Liliana juga tetap akan senang, karena yang terpenting dari sebuah perjalanan adalah bukan tempat mana yang di tuju, tapi akan bersama siapa di perjalanan itu. Beberapa orang mungkin ada yang akan setuju dan tidak, tapi coba tanyakan saja pada mereka yang sudah memiliki pasangan, pasti jawaban mereka akan serupa.


Melakukan perjalanan seorang diri juga tak buruk, tak kalah menyenangkan dengan pasangan-pasangan lain yang juga sedang melakukan perjalanan. Kebahagiaan setiap oranng sangat berbeda kadarnya, jadi tak perlu untuk menyamakan.


Elang tak ikut dalam perjalanan itu, karena kendala sekolah, dan juga Dimitri memang hanya ingin menghabiskan waktu berduanya dengan Liliana. seperti yang di bilang tadi, anggap saja perjalanan mereka kali ini adalah bulan madu mereka atas pembatalan perceraian mereka enam bulan yang lalu.


“Kita akan menginap dimana?” tanya Liliana. Mereka sudah berada di taksi yang akan membawa mereka menuju penginapan yang sudah di siapkan.


“Aku punya apartemen di Frankfurt.” Dimitri menampilkan senyum manis pada Liliana yang duduk di sampingnya. Tangannya juga tak lepas dari genggaman Liliana sejak tadi, persis seperti pasangan muda yang baru saja melangsungkan pernikahan.


“Aku gak pernah tahu soal itu.”


“Aku membelinya ketika aku pulang pergi Jerman-Jakarta, untuk menghemat biaya tiket dan juga penginapan.”


Dimitri mengacak rambut Liliana. Siapa yang menyangka jika mereka akan kembali bersama setelah semua hal yang terjadi? Bahkan kedua orang tua mereka sudah tak mengharapkan jika keduanya rujuk kembali. Mungkin mereka memang sudah di takdirkan untuk bersama, hingga rintangan apapun bisa mereka taklukan kembali


bersama.


Hubungan yang hanya mulus tanpa rintangan akan sangat membosankan, kan? Kita memerlukan badai agar bisa bertumbuh dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Setidaknya, hal seperti itu memang yang sering terjadi.


Mereka tiba di apartemen milik Dimitri setelah berkendara sekitar dua puluh lima menit. Apartemen itu sama seperti apartemen kebanyakan, tak ada hal yang terlalu spesifik dan sudah ada furnitur lengkap di ruangan itu.


“Kamu beli apartemen mahal kayak gini, dan masih bilang kalau biaya tiket Jakarta-Jerman mahal?” Liliana menggelengkan kepalanya tak percaya.


Sudah tak terhitung berapa lama kebersamaan mereka, tapi, Liliana belum bisa mengerti dengan jalan pikiran Dimitri. Suaminya ini kadang bisa menjadi sangat serius, penuh candaan, dingin, dan tak biasa. Oh, jangan lupakan sifat Dimitri yang suka memberi Liliana kejutan yang tak terduga. Semua sifat itu, hanya Liliana yang mengalaminya dan melihat sendiri. Menyebalkan, tapi juga sangat mencintainya.


Kira-kira, sebesar itulah rasa cinta Liliana pada Dimitri. Dimitri sendiri, jangan tanyakan sebesar apa rasa cintanya pada Liliana. Jika Liliana menginginkan seluruh dunia ini menjadi miliknya, maka dengan senang hati Dimitri akan


mengabulkan permintaan itu.


Sudah bisa di bayangkan, kan?


“Kamu udah nelpon Richard?” tanya Liliana.


Dimitri tak menjawab, ia justru menghampiri Liliana dan memeluk istrinya itu dengan erat. “Kita udah dateng jauh-jauh ke sini. Apa harus ada Richard di antara kita?” rajuk Dimitri.


Liliana tertawa mendengar suara Dimitri yang sudah sangat mirip anak kecil. Apa suaminya ini tak sadar jika ia sudah memiliki putra berusia tiga tahun? Percayalah, jika berada di tempat umum ataupun di kantor, Dimitri tak akan menunjukkan sifatnya barusan. Bayangkan betapa jatuh harga diri Dimitri jika semua itu terjadi.

__ADS_1


“Seenggaknya kita bisa nyapa dia walaupun cuma sebentar. Aku juga kangen sama Katherine. Oh, sama Enzo juga.” Liliana tertawa lebar dengan candaannya itu. Ia juga semakin mempererat pelukan mereka.


Sudah tahu, kan, jika Dimitri juga sangat cemburuan dan posesif? Liliana sering menggoda Dimitri dengan cara seperti itu. Membuat Dimitri kesal memang bagian dari kesenangan yang lainnya.


Dimitri menyandarkan kepalanya di bahu Liliana. Membicarakan Enzo benar-benar memaksanya untuk mengenang tahun-tahun yang penuh perjuangan. Ia selalu menebak-nebak apa hubungan Enzo dan juga Liliana, berpikir apakah benar jika Enzo yang akan menggantikan perannya sebagai suami dan Ayah untuk Liliana dan juga Elang.


Tak ada dendam tertentu memang, hanya saja rasanya tak menyenangkan jika bertemu pria itu. Atau itu hanya ego prianya saja. Pria dan ego adalah dua hal yang tak bisa di lepaskan, apalagi jika itu menyangkut wanita yang di cintainya.


“Kadang aku nyesel ngajak kamu ke Jerman, aku juga benci banget sama Enzo-Enzo itu.”


“Dia tetap baik sama aku dan Elang dulu, kalian cuma belum akrab aja.” Tawa kecil lolos dari bibir Liliana.


Apakah kebahagiaan yang ia rasakan ini bisa bertahan lama? Karena rasanya sangat menyenangkan, dan Liliana juga belum sanggup jika harus melepaskan begitu saja.


**


Sudah sejak satu jam yang lalu Liliana dan Dimitri berada di restoran yang menyajikan pemandangan indah kota Frankfurt pada malam hari. Mereka sedang makan malam dan juga menunggu kedatangan Richard, atas paksaan Liliana tentu saja. Walaupun Richard dan Dimitri bersahabat, Dimitri tak ingin liburannya terganggu karena


sahabatnya itu. Sebenarnya tak akan menjadi masalah, Dimitri hanya tak ingin di ganggu oleh siapapun ketika ia sedang berdua saja dengan Liliana.


“Sorry, aku lama, ya?”


Liliana dan Dimitri menoleh ke arah sumber suara, dan menemukan Richard yang masih mengenakan setelan kemeja dan juga jas. Mau itu jas dokter ataupun jas lainnya, Richard tetap terlihat tampan, ia memang terlahir untuk mengenakan jas. Jas hujan sekalipun, mungkin akan berbeda jika Richard yang mengenakannya.


“Kamu sendiri aja? Katherine mana?” tanya Liliana. ia bahkan harus melihat ke sekelilingnya untuk memastikan jika wanita itu juga ikut.


“Aku siap jadi obat nyamuk kalian malam ini, jadi kalian harus ngasih tip lebih untukku.” Richard duduk dengan santai di kursi yang ada di hadapan kedua sejoli di hadapannya seolah tak ada yang terjadi. Memang tak ada yang terjadi, kan?


“Mungkin dia lagi sibuk sama kerjaannya, gak masalah buat kalian, kan?”


“Kalian bertengkar?” tanya Liliana lagi.


Richard hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Memangnya mereka bertengkar? Di bagian mananya mereka bertengkar? Yang terjadi adalah Katherine yang mendiamkannya tanpa mengatakan alasan di balik semua itu. Apa yang bisa ia ketahui dari semua itu? Memberi petunjuk pun cukup untuk Richard, jadi Richard bisa memperbaiki kesalahannya. Jika seperti ini, apa yang akan terjadi? Putus begitu saja?


“Gimana kabar kalian? Gimana kabar Elang?” tanya Richard yang berusaha untuk menghindari topik yang sedang di buat.


Mungkin saat ini akan lebih baik jika tak melibatkan pembicaraan tentang Katherine. Keduanya butuh hiburan dan juga kepala yang dingin. Berbicara dalam keadaan stres dan amarah hanya akan menghasilkan pada keputusan yang pasti akan di sesali nanti.


“Well, kayaknya kamu baru aja dapet masalah besar, ya? Ada apa sama tunanganmu itu?” tanya Dimitri.


Richard tertawa miring, ia tak bisa menutupi rasa geli karena Dimitri yang berhasil menangkap basah dirinya. Dari semua teman-temannya, hanya Dimitri saja yang mampu membuatnya seperti ini.


“Hanya pertengkaran kecil, dalam hubungan udah biasa yang kayak gitu, kan?”


“Tapi kalimatmu mengatakan sebaliknya.”


“Kayaknya suami kamu ini harus pindah profesi, Li. Tebakannya akurat banget,” ledek Richard.


Hening menyelimuti ketiganya, masih menanti Richard untuk mengatakan pada apa yang sudah terjadi. Richard tahu apa yang sedang di pikirkan kedua orang di hadapannya ini, ia hanya tak ingin mengatakan yang sebenarnya.


“Oke. Katherine diemin aku udah lebih dari dua minggu, dan aku sama sekali gak tahu apa alasannya hingga sekarang.”


Liliana dan Dimitri saling menatap satu sama lain. Walaupun mereka sudah kembali dan baik-baik saja, tapi Liliana tetap tak bisa memberikan kalimat penghiburan untuk Richard. Mereka hanya ahli dalam hal saling menyakiti, tanpa tahu cara untuk menghibur diri dari semua itu. Muungkin memang ada benarnya juga mereka berkunjung ke Jerman saat ini, sahabat mereka sedang terpuruk dari masalah percintaan.

__ADS_1


**


__ADS_2