
Pagi semuanya. Gimana kabar kalian? Dimanapun kalian berada sekarang, tetep stay safe ya, semoga kalian selalu sehat. Cuman mau ingetin lagi kalau ini detik-detik penghabisan kisah lili.
Happy friday, happy reading 😊
**
Dedaunan sudah mulai berguguran, angin juga sudah berubah semakin sejuk. Musim benar-benar sudah berganti, membawa nuansa yang berbeda di setiap langkah. Liliana dan Dimitri berjalan menyusuri jalan setapak di sekitar apartemen Liliana.
Ini adalah hari terakhir Dimitri berada di kota ini, seperti biasa, ia akan menghabiskan dua minggu untuk melepas rasa rindu terhadap Elang---Liliana. Tak banyak yang ia lakukan, hanya seperti tur singkat untuk melepas lelah setelah bekerja di Indonesia.
Walaupun harus menempuh perjalanan hampir satu hari untuk sampai di sini, tapi tak ada penyesalan. Ia menyukainya, bertemu dengan Elang dan Liliana mampu melepas semua lelah di dadanya.
"Bagaimana dengan orang tuamu? Kalian masih belum berbaikan?" tanya Liliana.
Mereka memutuskan untuk menitipkan Elang pada sang pengasuh, karena cuaca yang sedang tak bersahabat untuk si balita. Liliana tak ingin mengambil resiko jika Elang terkena demam lagi. Kemarin adalah saat terburuk Liliana ketika mengetahui Elang sakit, dan ia tak ingin hal tersebut terulang lagi.
"Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Dimitri.
"Apa terlihat seperti itu?"
"Setidaknya aku ingin menganggap seperti itu," ucap Dimitri.
Tak bisa ia pungkiri, jika selama dua minggu ini adalah yang terbaik untuknya. Mereka menjalani semuanya tanpa kendala ataupun drama yang berlebihan.
"Well, aku tak bisa menghalangi hal itu, kan?" Liliana tersenyum. Perasaannya perlahan mulai membaik, tapi ia tak tahu semua ini akan mengarah kemana.
Berapa lama mereka sudah saling mengenal sejak pertama kali? Tujuh tahun? Atau hampir sepuluh tahun? Sepertinya memang sudah selama itu. Mereka juga sudah mengalami semua fase dalam hidup, yang benar-benar mereka alami bersama. Lucu jika harus di ingat dari awal, tapi itu juga bagian dari kisah mereka yang tak akan hilang.
Saat ini juga mereka sudah lebih baik, kecanggungan perlahan mulai menghilang. Mereka sudah seperti sahabat baik lagi.
"Aku ingin bertanya padamu, sebagai mantan istrimu," ucap Liliana.
Dimitri tersenyum tipis. "Ya, tanyakan apapun. Aku sebisa mungkin akan menjawabnya sebagai mantan suamimu."
Liliana menatap Dimitri, ia berusaha menimbang sedikit pertanyaan yang akan ia ajukan. "Apa…apa hubunganmu dengan Evelyn? Apa kalian benar-benar tak saling mencintai? Atau memiliki hubungan apapun?"
Pertanyaan itu sedikit banyak mengukir kembali rasa sakit yang pernah ada. Tapi, Liliana membutuhkan jawaban. Walaupun ia sudah pernah mendengar penjelasan Dimitri kala itu, ia masih belum puas. Masih ada yang mengganjal hatinya.
"Kami sama sekali tak memiliki hubungan apapun, dan aku sama sekali tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengannya. Kami murni hanya klien bisnis, sebelum ia menjebakku." Dimitri menatap Liliana tepat di matanya.
Walaupun Liliana mungkin tak akan mempercayainya, tak apa. Pernyataannya masih belum berubah sejak pertama Dimitri menjelaskan hubungannya dengan Evelyn.
Liliana menganggukkan kepalanya. Krisis kepercayaan yang ia miliki untuk orang lain, termasuk Dimitri belum berubah. Ia masih sangat ingat dengan rasa sakit yang ia alami dan bagaimana ia mencoba untuk bertahan dari semua itu sendirian.
Bohong jika ia mengatakan sudah sembuh dari semua itu. Perasaannya sudah membaik, ia sudah berusaha mengikhlaskan semua hal yang terjadi. Rasa sakit selalu mengajarkan banyak pelajaran padanya, dan Liliana kembali menerimanya. Tapi, untuk kembali mempercayakan hatinya kepada orang lain, ia masih belum bisa.
"Aku sudah mengerti sekarang," ucap Liliana.
Ia kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah di penuhi dengan dedaunan gugur. Angin yang berhembus sesekali masih menerbangkan helaian rambut Liliana. Walaupun cukup dingin, tapi itu membuat pikirannya kembali jernih.
"Bisakah aku juga bertanya? Sebagai sahabatmu, atau mantan sahabatmu."
Liliana membalikkan tubuhnya untuk menatap Dimitri yang berjalan mendekatinya. "Aku juga cukup bingung dengan hubungan yang satu itu, tapi aku akan tetap menjawabnya."
"Sudah sejauh apa hubunganmu dan Enzo?"
Liliana menaikkan alisnya. Apa ia belum pernah menjelaskan sebelumnya pada Dimitri tentang Enzo? Sepertinya memang belum. Apa ia harus jujur, atau tetap pada pernyataan awal bahwa mereka adalah sepasang kekasih?
"Jawaban seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Liliana.
"Aku boleh memilih? Jika begitu, aku lebih memilih jika kalian tak memiliki hubungan apapun," jawab Dimitri.
Liliana menatap Dimitri. Mereka sudah berhubungan sangat lama, mereka bisa dengan mudah mengerti perasaan masing-masing. Liliana juga tahu jika mereka berdua ini masih memiliki perasaan satu sama lain, mereka hanya tak tahu bagaimana harus menyikapi perasaan yang masih tersisa ini.
__ADS_1
"Aku tak akan memberi jawaban agar lebih adil." Liliana kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan tanpa memedulikan Dimitri.
Nanti, ketika ia sudah memastikan sendiri hatinya, ia akan memberi jawaban pada Dimitri. Dimitri tiba-tiba sudah berada di samping Liliana, menyejajarkan langkahnya dengan wanita ini.
"Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya," ucap Dimitri lagi.
Liliana menghentikan langkahnya. "Apa kita sedang ada di sesi tanya jawab?"
Dimitri tertawa. Ya, setidaknya ia harus memanfaatkan waktu yang ada ini untuk menanyakan apa yang sangat ingin di tanyakan. Ia tak tahu apa di lain waktu memiliki waktu seperti ini.
"Kali ini aku akan bertanya sebagai pria. Apakah kita bisa terus seperti ini? Setidaknya menjadi teman bicara?"
Liliana tak pernah tahu jika mantan bisa kembali menjadi teman? Mungkin ada beberapa, ketika mereka sudah saling memahami perasaan masing-masing dan mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Liliana sendiri tak tahu apa mereka bisa seperti itu.
"Untuk saat ini, mungkin."
Kali ini, Liliana kembali berjalan dan tak akan berbalik jika Dimitri kembali memanggilnya. Angin semakin dingin, ia akan membeku jika lebih lama berada di luar ruangan.
**
"Malam ini kau ada acara?" tanya Richard.
Seperti biasa, walaupun ia sudah di siapkan ruangan sendiri yang menjadi kantornya, ia tetap saja selalu berada di ruangan Katherine dengan pekerjaannya. Katanya lebih nyaman jika berada di ruangan Katherine, juga agar Richard tak perlu kesana kemari untuk menjelaskan hal yang sulit di mengerti oleh Katherine.
Mereka juga sudah bertunangan, jadi sah-sah saja jika harus berada di ruangan yang sama. Ayah Katherine juga tak mempermasalahkan hal tersebut.
"Ada apa?"
"Makan siang bersama?"
Hubungan mereka sudah membaik, hanya sesekali masih canggung. Tapi, mereka tetap masih dingin pada satu sama lain. Sepertinya gengsi mereka masih sangat tinggi, setidaknya untuk Katherine. Richard sendiri sudah tak terlalu mempermasalahkan harus menunjukkan perasaannya atau bermain tarik ulur.
"Bukankah kita setiap hari makan siang bersama?" tanya Katherine dengan alis terangkat. Ia menatap Richard tak mengerti.
Katherine tertawa geli mendengar kalimat Richard. Pria ini benar-benar di luar dugaan. Apa mereka adalah remaja yang harus bergandengan tangan di bawah pepohonan yang daunnya sudah menguning? Yang benar saja. Apa Dimitri pikir ini kisah telenovela? Atau jangan-jangan Richard sudah teracuni dengan berbagai telenovela yang ia tonton?
"Aku tak tertarik, sangat kekanakan."
Ya, Richard sudah menduga jawaban itu. Mana mungkin wanita seperti Katherine akan melakukan hal-hal seperti itu, tapi ia tetap merasa lucu hanya dengan membayangkan adegan seperti itu.
Richard segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja Katherine. "Aku tak peduli jika kau tak tertarik. Aku akan tetap mengajakmu," ucap Richard.
Ia menggandeng tangan Katherine, keluar dari ruangan membosankan itu. Ia akan membuat wanita ini merasakan apa yang belum pernah ia rasakan. Tak peduli dengan taruhan yang Richard ciptakan, toh ia akan membuat wanita itu tetap jatuh ke pelukannya. Tak peduli apa yang akan terjadi.
Richard dan Katherine memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Katherine tak memutuskan sebenarnya, ia hanya mengikuti Richard yang sangat bersemangat siang ini.
"Pekerjaan kita masih banyak, kau tahu? Dan kita makan siang sejauh ini?" omel Katherine. Tapi dalam hatinya, ia sangat menyukai pemandangan yang di sajikan oleh restoran ini. Daun-daun berguguran seperti yang di harapkan Richard.
"Perusahaan itu tak akan bangkrut hanya karena kita makan siang di sini. Kau lupa siapa yang sedang bersamamu sekarang?"
Katherine mendecih. Ia sudah berubah sedikit kalem di banding awal-awal hubungan mereka. Mungkin Katherine lelah harus bersikap dingin pada pria yang ia sukai.
Setelah makan siang mereka selesai, Richard kembali menarik Katherine untuk berjalan-jalan di sekitar taman yang bersebelahan dengan restoran itu sendiri. Pria itu benar-benar memenangkan trofi kali ini, karena Katherine yang sangat penurut hari ini.
Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak itu, tak ada gandengan tangan karena Katherine dengan mudahnya menepis.
"Apa di Indonesia tak ada yang seperti ini?" tanya Katherine geli.
"Lebih tepatnya karena tak ada kau di sana."
Katherine tak menanggapi kalimat itu. Hatinya sudah berdetak tak karuan karena kalimat singkat itu.
"Kau mau menikah denganku?"
__ADS_1
Langkah Katherine terhenti, ia membeku. Ia tak menyangka jika kalimat tersebut benar-benar akan keluar dari mulut Richard, dan dalam waktu sesingkat ini? Pria ini sedang mabuk atau bagaimana? Ini yang membuat ia memaksa Katherine untuk kemari? Benar-benar tak terduga.
"Kau melamarku?" tanya Katherine santai. Santai di saat jantungnya melakukan senam aerobik adalah hal yang sangat sulit di lakukan.
"Apa aku terlihat sedang bernyanyi untukmu?"
Katherine mengangkat bahunya tak acuh. "Lamaranmu tak romantis, dan perjanjian kita masih ada tiga bulan lagi. Jangan melanggar ucapanmu sendiri," ucap Katherine.
Richard sangat tak menduga akan mendapat jawaban seperti ini. Ia bahkan sangat berusaha keras untuk mengatakan semua itu, dan hanya itu reaksi Katherine? Wanita itu benar-benar tak punya hati. Tapi, memang dia yang mengajukan taruhan itu, ia tak bisa menarik begitu saja ucapannya, kan? Karena ia seorang pria sejati.
**
Cecilia kritis. Wanita itu tak ingin satu orang pun untuk menjenguk dirinya, kecuali sang pengacara. Enzo tak bisa melakukan apapun untuk wanita itu. Walaupun ia selalu mendapat kabar terbaru, ia ingin menemui wanita itu.
Tak ada lagi rasa benci yang tersisa. Ia terlalu mencintai wanita itu, saat itu maupun saat sekarang, karena itu semuanya terasa sangat menyakitkan. Bahkan di saat terakhirnya, ia masih bisa mengatakan jika ia mencintai Enzo.
Enzo mengacak rambutnya frustrasi, ia sedang di luar ruang rawat Cecilia, dan tak bisa melakukan apapun. Jika Ayahnya tahu apa yang sedang Enzo lakukan saat ini, mungkin ia tak bisa melakukan hal ini. Ia benar-benar hanya ingin bertemu wanita itu dan menanyakan alasan kenapa Cecilia meninggalkannya tujuh tahun lalu.
"Maafkan aku, tapi aku tak bisa mengizinkanmu masuk. Cecilia benar-benar tak ingin di temui siapapun," ucap Sir Nicholas---pengacara yang memdampingi Cecilia.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja, apa sama sekali tak bisa?" tanya Enzo lagi.
Bahkan sebanyak apapun uang yang ia miliki tak akan bisa membuatnya memasuki ruang rawat itu. Percayalah, ia menyesali semua kalimat menyakitkan yang sudah ia lontarkan. Cecilia tak bersalah, ia yakin itu.
"Sebaiknya kau pulang, aku akan mengabari jika ada berita terbaru."
Enzo tak memiliki pilihan lain selain mengikuti semua intruksi yang di berikan Sir Nicholas. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Ia berjalan dengan gontai di sepanjang lorong rumah sakit. Ia belum mengetahui akan kemana dirinya saat ini, sudah musim gugur, udara juga semakin lama semakin dalam. Menambah rasa pedih di hati Enzo.
Mobil berhenti di depan gedung apartemen Enzo, apa ia harus bertemu dengan Liliana? Hatinya langsung kembali tenang jika menemui wanita itu. Tapi ia juga tak ingin menyusahkan, tapi ia juga butuh bertemu wanita itu.
Liliana kaget dengan kedatangan Enzo yang tanpa pemberitahuan sama sekali. Pria itu tersenyum lelah pada Liliana. Senyuman yang mampu membuat hati para wanita takluk sudah di ganti dengan segaris senyun paksaan.
"Ada apa, Enzo?" tanya Liliana. Ia sangat heran dengan kedatangan pria ini dan juga sifatnya.
"Apa aku boleh memulukmu?" pinta Enzo.
Liliana tak mengerti apa yang sedang di bicarakan Enzo, tapi tiba-tiba pria itu memeluknya. Liliana hanya diam di dalam rengkuhan Enzo. Pria itu terlihat sangat lelah dan memiliki banyak beban. Apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Pelukan itu semakin mengerat, Liliana bisa merasakan keputusasaan di dalam pelukan ini. Liliana juga tak memiliki pilihan lain selain memeluk kembali pria itu, apapun yang sedang terjadi, ia ingin membuat pria ini tenang.
Mereka masuk ke dalam apartemen atas saran Liliana. Tak enak juga rasanya jika menjadi bahan gosip di antara tetangga yang mungkin saja lewat.
"Minum dulu," ucap Liliana. Ia memberi Enzo segelas jus jeruk.
Enzo menurut dan meneguk cairan oranye itu. Pikirannya masih berkecamuk, tapi sedikit lebih membaik dari sebelumnya.
"Maaf mengejutkanmu," ucap Enzo.
"Tak masalah."
Liliana tak banyak menanggapi, ia ingin memberi waktu pada Enzo untuk berpikir dan tak ingin memaksanya. Memaksa adalah bagian paling buruk, dan hampir semua orang tak menyukai hal itu.
"Aku sepertinya terlalu mencintainya, itulah kenapa rasanya sangat sakit ketika dia meninggalkanku. Bahkan sekarang, ketika aku sedang ingin berusaha untuk membencinya, tak pernah berhasil. Rasa cinta itu tetap terselip di hatiku," ucap Enzo.
Liliana tak tahu siapa yang di bicarakan pria ini, atau apa maksud dari semua kalimatnya itu. Yang jelas kalimat itu tak di tujukan untuknya. Tak mungkin Liliana, kan?
"Aku pikir rasa cinta itu bisa menghilang seiring waktu yang terus berjalan, tapi, rasa benci yang kurasakan justru menambah rasa cinta yang ada. Aku bahkan tak bisa membedakan, apakah sedang membenci atau mencinta."
Permasalahan Enzo sepertinya sangat berat. Tapi ia tak mengatakan apapun dan tetap mendengarkan ucapan pria itu. Ia tak tahu apa yang harus di lakukannya untuk menenangkan pria ini, tapi tetap memutuskan untuk menggenggam tangan pria itu.
"Aku ternyata masih mencintainya," ucap Enzo lagi.
**
__ADS_1