Playboy

Playboy
#2# Take 45


__ADS_3

Hai, mau ngomong apa ya hari ini? Agak telat apdet ya, soalnya part kali ini emang agak susah bikinnya kali ini. Semoga kalian masih setia baca dan tahan sama konflik yang cukup menguras emosi ini, makasih juga buat kalian yang selalu semangatin, itu berarti banget buat aku. Oke, happy reading aja ya. di tunggu komenan penuh emosi kalian^^



“Kau menyukainya?” tanya Caroline.


Elle sudah memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen sang ibu, setidaknya Brian tak akan berani menyentuhnya ketika ia berada di tempat sang ibu. Ia menginap satu malam di apartemen Enzo, karena ya, ia tak bisa menolak pria itu. Masih teringat dengan jelas mata kelam serta suara berat yang jaraknya sangat dekat itu. Tak terjadi apapun, mereka hanya tidur, dan keesokan paginya pria itu mengantar Elle menuju apartemen ibunya.


“Tidak. Aku tak memiliki waktu untuk melakukan hal seperti itu.” Elle menuang susu ke dalam mangkuk yang sudah berisi sereal itu, lalu dengan segera menyantapnya. Ia tak ingin ibunya menanyai lebih banyak tentang Enzo.


“Hubungan kita memang tak dekat, tapi ikatan batin antara ibu dan anak yang kumiliki sangat kuat. Kau menyukainya.”


Hanya dengusan kecil sebagai jawaban dari kalimat Caroline tadi. Sebisa mungkin, Elle ingin menyembunyikan kebenaran yang ada. Tak semua orang harus tahu tentang perasaan dan juga hatinya, kan? Kalaupun memang


benar perasaannya seperti itu, maka ia akan menyimpan untuk dirinya sendiri.


“Orang-orang selalu memiliki pendapatnya masing-masing, jika seperti itu yang kau pikirkan, maka aku tak akan


menghalangi.”


“Apa lagi yang ingin kau tutupi? Semua itu terlihat jelas di wajahmu.”


Elle tetap melanjutkan sarapan paginya itu dengan tenang, mungkin ia harus memikirkan ulang tentang rencana untuk tinggal bersama sang ibu. Ia bisa melakukan pekerjaan ini tanpa harus tinggal bersama, tapi jika ia kembali ke apartemen miliknya, Brian pasti sudah menunggunya di sana. Saat ini pun, Brian pasti sudah mengetahui apa yang sedang di lakukan Elle, ingat jika dia memiliki banyak mata-mata yang tersebar di seluruh penjuru kota.


“Memangnya aku boleh memiliki perasaan itu?” tanya Elle. Masih dengan fokus pada sereal coklat di hadapannya.


Kematian sang suami memang merupakan pukulan keras terhadap keluarganya, lalu hutang-hutang serta beberapa tuntutan yang masuk ke dalam keluarganya, semakin menambah kekacauan keluarga ini. Lalu kedua ibu dan anak ini memutuskan untuk berpisah satu sama lain dan mencoba menghasilkan uang untuk melunasi semua uang itu. Bukan hanya kehilangan satu anggota keluarga, tapi juga semua hal yang mereka miliki seolah di renggut paksa oleh orang-orang yang tak seharusnya.


“Aku tak ingin kau mengikuti jejakku, diam saja di sini, pekerjaanku mampu menghasilkan lebih banyak uang untuk kita berdua,” ucap Caroline.


“Benarkah? Apa tarifmu sangat tinggi? Biasanya yang lebih muda yang akan mendapatkan uang lebih banyak.”


“Pengalaman juga sangat penting di bidang ini, kecantikan tak mampu untuk menaikkan harga tubuhmu.”


Tawa kecil lolos dari bibir Elle. Ia tak percaya bisa membicarakan hal kotor seperti ini, sepagi ini, juga bersama ibunya. Agak sedikit canggung, tapi entah kenapa ia justru merasa ini sangat konyol.


“Aku tak percaya bisa membicarakan ini denganmu.”


Caroline juga tertawa mendengar ucapan itu keluar dari mulut putrinya. Tapi, bukankah ini permulaan yang baik untuk hubungan mereka? Setidaknya mereka bisa menyemangati satu sama lain dan saling melindungi juga menguatkan satu sama lain. Seharusnya mereka bisa seperti ini sejak dulu, keegoisan benar-benar tak memandang usia.


“Kau tak merindukan Ayah?” tanya Elle.


Memang tak ada panggilan ‘ibu’ yang keluar dari mulut putrinya, tapi itu tak pernah menjadi masalah. Selama hubungan mereka berjalan baik, hal lain tak akan menjadi masalah.


“Kau akan percaya jika aku menjawab ‘ya’?”


Elle terdiam. Ketika ia tumbuh semakin dewasa, dan ia mulai mengerti dengan persoalan yang di alami orang dewasa, ia mulai menyadari jika Caroline tak pernah mencintai ayahnya. Itu hanya keyakinan yang ia miliki saja, tak sepenuhnya benar. Sejak saat itu ia mulai membenci Caroline sedikit demi sedikit, lalu tragedi menimpa keluarga mereka, dan ibunya memilih menjadi wanita bayaran di sebuah rumah bordil. Keyakinan itu semakin tertanam di benaknya jika kedua orang tuanya memang tak pernah saling mencintai.


“Aku selalu mencintai ayahmu, bahkan setiap saat aku selalu merindukannya, tapi aku juga harus bertahan hidup,” lanjut Caroline.


“Ini yang membuatku benci tumbuh dewasa, semua hal harus aku pikirkan, aku bahkan tak bisa bebas untuk mengungkapkan pendapatku. Aku harus menahannya untuk kehidupanku yang setidaknya harus menjadi lebih baik.


“Maafkan aku.”

__ADS_1


“Apa kau sudah merasa bersalah sekarang?” tanya Elle. Ia tersenyum kecil melihat ibunya yang sudah menanggalkan semua topeng angkuh di wajahnya.


Di hadapannya kini hanya ada wanita yang wajahnya sudah memiliki keriput di sekitar matanya, gurat lelah itu sangat tergambar jelas. Bukan hanya ia yang melewati masa sulit, tapi selama ini yang ia lakukan hanya memperbanyak keluhan.


“Kalau begitu, lindungi aku mulai sekarang dari Brian, jangan biarkan ia mendekatiku lagi,” lanjut Elle.


“Kau memiliki pacar tampan seorang miliarder, minta saja dia untuk melakukan itu.”


Elle tak menanggapi kalimat itu, ia hanya berjalan menuju bak cuci piring dengan mangkuk serealnya yang sudah habis. Saat ini, ia hanya ingin berada di dekat ibunya untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia hanya ingin ada orang lain di sampingnya, yang akan selalu mendampinginya serta menguatkannya, dan ibunya mungkin adalah orang yang tepat. Ikatan darah selalu lebih kental di banding apapun.


**


Nabila memang tak selalu akrab dengan rekan kerjanya, baik yang bekerja langsung dengannya atau dari departemen lain. Semuanya hanya sebatas profesionalitas untuknya, Juna mungkin bagian dari pengecualian,


yang lainnya tak termasuk. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang benar seperti yang ia bayangkan, Arlina kini sedikit bersikap berbeda dengannya.


Jarak umur mereka memang hanya enam tahun, dan Arlina ini termasuk fresh graduated yang masuk melalui bantuan salah satu kenalannya. Sejauh ini tak ada masalah antara Nabila dan juga Arlina karena mereka memang sangat jarang berinteraksi secara langsung. Tapi, jika melihat tatapan sinis yang di tujukan padanya itu, rasanya


sangat tak adil. Apa ini hanya karena permasalahan Juna?


Obrolan seperti yang ia dengan di toilet kemarin itu memang hanya sekali ia dengar, tapi, bagaimana jika ia di bicarakan di tempat lain dan ia sama sekali tak mengetahui hal itu? Tak masalah juga untuk Nabila, karena ia terbiasa untuk tak mempedulikan hal sepele seperti itu. Ia hanya tak ingin membuat masalah dengan rekan kerjanya hanya karena seorang pria, ia tak kekanakan seperti itu.


“Mbak, ini—“


“Kamu ada waktu makan siang nanti? Saya mau bicara,” potong Nabila ketika Juna menghampirinya dengan berkas di tangan.


Juna tersenyum tipis. “Gimana kalau makan malam, Mbak? Steak and co.?”


“Oke.”


Hingga mereka menyelesaikan semua pekerjaan mereka, dan berjalan kaki menuju restoran yang terletak hanya di seberang gedung kantor mereka, Juna masih merasakan perasaan membuncah itu. Entah apa yang akan di


sampaikan oleh Nabila nanti, perasaannya hanya terasa senang. Ia tak ingin memikirkan kemungkinan lain yang mungkin lebih buruk, karena juga akan mempengaruhi moodnya.


Keduanya kembali duduk di lantai dua dengan pemandangan indah langit Jakarta yang cerah, bersama kerlip bintang di atasnya. Suasana ini sama ketika mereka pertama kali mengunjungi restoran ini, dan keyakinan Juna akan kabar bahagia semakin besar.


“Ini mengenai hubungan kita,” ucap Nabila memulai. “Ah, maksudku hubungan pekerjaan antara kita.” Nabila tersenyum tipis, menyadari kebodohannya atas kalimat ‘hubungan kita’ yang ia katakan tadi. Memang hubungan


seperti apa yang mereka miliki?


Kali ini Juna hanya diam tanpa membantah kalimat apapun. Oke, kali ini ia tak akan berprasangka apapun, mungkin ini tak akan berakhir seperti yang sedang ia pikirkan.


“Aku gak bisa. Hubungan kita memang seharusnya hanya sebatas rekan kerja aja.”


Keheningan kini mengisi keduanya, hingga seorang pelayan wanita datang untuk membawa pesanan mereka. Ini benar-benar jauh dari apa yang sudah ia bayangkan sejak tadi, padahal ia sudah berusaha untuk berpikir positif sejak tadi untuk menghindari kejadian seperti ini.


“Kenapa? Karena aku lebih muda?” tanya Juna.


Itu hanya salah satu dari banyaknya alasan yang ada untuk menolak Juna, tapi, Nabila tak bisa mengatakannya dengan lantang. Jika di pikir lagi, Juna ini lebih dewasa dari umurnya dan cukup bijak untuk pria seusianya.


“Kita memang lebih baik seperti itu, karena kita bekerja secara langsung. Akan canggung kalau ada hubungan lain di antara kita,” jawab Nabila.


“Ya, memang karena aku lebih muda.”

__ADS_1


Alasan itu memang tak akan di terima oleh Juna, Nabila tahu itu, dan ia juga tak sejago itu untuk merangkai kalimat lain sebagai alasan. “Juna—“


“Tapi hatiku tetap tak akan berubah, aku akan tetap menunggu sampai Mbak mau membuka hati untukku,” potong Juna.


“Kamu gak ngerti, Juna. Ini tak pernah semudah yang kamu bayangkan, dan hanya akan membuat kita berdua tak nyaman satu sama lain.”


“Bagian mana yang tak kumengerti? Aku hanya ingin tetap menyukai Mbak, hati manusia tak bisa berubah gitu aja, Mbak.”


Mungkin Nabila memang tak mensyukuri  apa yang ia terima, sudah dengan jelas ada seorang pria yang bersikeras untuk mengejarnya, bahkan menyukainya hingga seperti ini. Tapi, semua itu juga sulit untuknya. Memilih untuk mengabaikan Juna saja sudah sangat sulit.


“Aku janda, memiliki anak, dan aku bercerai, aku gagal mempertahankan rumah tanggaku. Semua itu sudah cukup untuk membuatmu mundur dan berhenti menyukaiku, jadi berhenti. Hubungan apapun yang kamu harapkan di masa depan, tak akan pernah terjadi.”


Juna menatap Nabila, ia masih sedikit bingung dengan apa yang ada di pikiran wanita ini. Kenapa juga semua alasan itu bisa membuatnya mundur? Alasan itu hanya menambah tekadnya untuk semakin meyakinkan hati dan juga perasaannya.


“Nabila.”


Apa salah jika kali ini Nabila merasa kecil di hadapan Juna? Ini pertama kalinya pria ini memanggilnya hanya dengan nama tanpa embel-embel apapun di hadapannya, dan itu terdengar sangat benar. Ia ingin Juna memanggilnya terus dengan namanya, ternyata pria muda saat ini lebih memiliki keberanian dari yang di pikirkan.


“Ada yang menyukaimu di kantor, aku tak ingin hubungan pekerjaan kita menjadi canggung karena hal ini, aku juga tak ingin terjadi salah paham di antara kita. Jadi, kumohon untuk buang semua perasaanmu untukku, karena aku tak akan menerimanya.”


**


Hari jum’at selalu menjadi hari yang di nanti-nanti oleh Reno, karena ia bisa bertemu dengan putranya. Sebenarnya ia juga ingin mengajak Alya turut serta bersamanya, tapi Nabila melarangnya dengan alasan putrinya itu masih terlalu kecil. Dan untuk kesekian kalinya juga, Nabila masih belum ingin berbicara panjang padanya.


Reno tersenyum lebar ketika mendengar putranya bersenandung dengan riang di kursi sebelahnya. Senyuman Aidan mampu membuat semua masalah yang ada di kepalanya menghilang untuk sesaat, termasuk masalahnya dengan Reni. Bagaimana bisa ia kembali bercerai ketika usai pernikahan mereka belum panjang? Memang ini pilihan yang terbaik yang ia miliki, tapi masih ada hal yang ingin ia selesaikan dengan Reni sebelum mengakhiri semuanya.


“Pa, kapan kita jalan-jalan bareng lagi sama Mama dan Alya? Aidan kangen banget kita jalan sama-sama.”


Kalimat itu berhasil membangunkan Reno dari lamunan sesaatnya. Jalan-jalan bersama. Bahkan untuk berbicara dengan Nabila saja, tak banyak kalimat yang bisa ia sampaikan. Lidahnya sangat kelu ketika sudah berhadapan dengan mantan istrinya itu. Terlalu banyak kesalahan yang ia lakukan, hingga rasanya ia sudah sangat tak pantas hanya untuk sekedar berbicara saja.


“Memangnya Aidan mau kemana?” tanya Reno.


“Ke Bandung!” teriak Aidan dengan antusias. “Terus kita metik stroberi yang banyak banget.”


Kini Reno sudah sepenuhnya tertawa dengan tingkah dan juga ucapan Aidan yang sangat riang dan juga menggemaskan itu. “Nanti kalau Aidan libur, kita jalan-jalan. Sama mama juga sama Alya.”


“Papa bohong.” Aidan menyilangkan tangannya di dada dan memasang wajah cemberut, wajahnya ia palingkan ke samping untuk menghindari tatapan sang papa.


“Kok Aidan ngomong gitu?”


Aidan masih betah dengan posisinya tanpa menjawab pertanyaan sang ayah. Mungkin kedua orang tuanya berpikir jika ia masih kecil dan tak akan mengetahui apapun yang terjadi. Tapi, satu hal yang ia tahu, orang tuanya sudah tak sama lagi, mereka tak tinggal di rumah yang sama, tak saling menyapa, dan ia harus berpindah-pindah seperti ini setiap akhir minggu.


“Gimana kalau minggu depan kita pergi ke Bandung berempat?” bujuk Reno.


“Mama sama papa gak pernah jawab pertanyaan Aidan, tapi Aidan tahu kalau mama sama papa udah gak kayak dulu lagi. Kenapa? Apa karena Aidan nakal? Sekarang nenek yang lebih sering jemput Aidan, dan mama cuman ada di rumah setiap malam.”


Reno terhenyak mendengar kalimat polos yang meluncur dari mulut putranya yang tahun ini baru akan menginjak usia enam tahun. Ia bersyukur Aidan tumbuh menjadi anak yang cerdas, tapi kadang hal itu membuatnya


kelimpungan untuk menjawab semua pertanyaan dan rasa ingin tahu putranya ini. Apalagi di saat keadaannya dan juga Nabila sedang tak baik, keduanya tak ingin membebani putranya dengan krisis yang mereka hadapi.


“Sayang …,”


“Aidan rindu mama sama papa yang akrab kayak dulu, yang selalu nemenin Aidan main. Aidan benci harus pindah setiap hari jum’at, Aidan cuman mau sama kalian aja, Aidan janji akan jadi anak baik asal kita kayak dulu lagi.”

__ADS_1


Suara tangis tertahan itu mendadak memenuhi mobil, dengan Reno yang terdiam. Ia tak tahu bagaimana untuk menanggapi kalimat sang putra, ia juga ingin kembali memiliki keluarga yang harmonis seperti dulu. Tapi, apa masih bisa ia lakukan? Ketika yang bisa ia lakukan kini hanya berharap?


**


__ADS_2