Playboy

Playboy
#13. Colors


__ADS_3

Bagaimana kalian memaknai kebahagiaan? Apa ketika kalian memiliki segalanya? Ketika semua hal yang kalian rencanakan berjalan mulus tanpa kendala, apa seperti itu? Atau kalian memiliki definisi bahagia itu sendiri, itu tergantung kalian sendiri. Bahagia tak selalu harus di bandingkan dengan kepemilikan orang lain, itu bukan bahagia, tapi rasa iri.


Ketika kalian sudah mensyukuri segala hal yang ada di hidup kalian, itu sudah bisa di anggap kebahagiaan. Ukuran bahagia menurut orang lain itu berbeda-beda, jadi kita hanya perlu mencari kebahagiaan kita sendiri tanpa perlu perbandingan. Tapi, tak semua orang memiliki pemikiran seperti ini, sebagian orang memaknai kebahagiaan dengan keharusan untuk memiliki segalanya.


Ya, kita tinggal memilih ingin seperti apa, hidup juga termasuk pilihan. Sampai akhir pun, kita tetap akan memilih.


“Ini terlalu berlebihan, kau tak perlu melakukan ini.” Liliana menatap tas belanja yang baru saja di bawa oleh Enzo ke apartemennya, ia sangat yakin kalau semua itu berisi mainan.


“Aku hanya kebetulan lewat, dan aku teringat dengan putramu, anggap saja ini cinderamata dari perjalanan bisnisku,” ucap Enzo dengan senyum.


Total ada lima kantung belanja yang di bawa oleh Enzo, Liliana menatap semua itu dengan kengerian yang belum sirna. Liliana memang sengaja tak membeli terlalu banyak mainan untuk putranya, bukan karena tak menyayanginya, tapi karena itu hanya berakhir menjadi pajangan. Elang bahkan lebih memilih memainkan barang-barang yang ada di apartemen itu di banding mainan yang Liliana belikan di toko.


Hal itu wajar terjadi, dan Liliana juga tak ingin memanjakannya. Jika harus membeli mainan, ada aturan yang Liliana terapkan untuk itu.


“Oh, dan ini untukmu.” Enzo menyerahkan kotak persegi yang tak terlalu besar pada Liliana. “Aku tak tahu apa kau menyukainya, aku hanya bergantung pada keberuntunganku saja kali ini,” ucap Enzo lagi.


“Boleh kubuka sekarang?”


Enzo mengangguk, dan Liliana segera membuka kotak persegi itu dengan penasaran. Isinya cokelat, beruntung hanya cokelat, bagaimana jika diam-diam Enzo memasukkan emas batangan atau uang ke dalam kotak itu. Itu akan lebih mengerikan.


“Cokelat?” tanya Liliana heran. Mungkin ini pertama kalinya seseorang menghadiahinya cokelat.


“Hanya tebakanku saja, biasanya wanita sangat suka jika di beri cokelat atau bunga.” Enzo mengangkat bahunya tak acuh.


“Apa masih ada spesies wanita seperti itu? Kupikir mereka lebih menyukai uang tunai ataupun di belikan rumah, hal-hal seperti itu.”


“Kau harus menikahiku terlebih dahulu jika begitu.”


Liliana menatap Enzo yang juga sedang menatapnya dengan polos. Mungkin jika candaan seperti itu di lontarkan pada gadis-gadis muda di luaran sana, mereka akan dengan senang hati menerimanya dengan senyum lalu serta rona pipi yang memerah. Tapi, ini Liliana, apa yang di harapkan dari menggoda Liliana? Itu adalah hal paling mengganggu hidupnya.


“Kau sepertinya salah orang jika ingin menggodaku,” ucap Liliana dengan senyum geli.


“Benarkah? Padahal aku benar-benar mengatakannya dengan sungguh-sungguh.”


Liliana mengabaikan kalimat itu, sekalipun ia tahu kalau yang di ucapkan Enzo serius, ia tetap akan menganggap kalau itu candaan. Akan lebih mudah seperti itu. “Aku tidak menyukai makanan atau minuman yang terlalu manis, mungkin itu bisa jadi referensimu ketika ingin membelikanku oleh-oleh.”


“Apa ini artinya kau sudah ingin lebih akrab padaku? Karena itu yang kuyakini dari kalimatmu.”


Apa Liliana sudah mulai benar-benar ingin membuka hatinya pada Enzo? Setelah pertemuannya dengan Dimitri kemarin? Karena tak ada larangan resmi juga untuk tak melakukan semua itu, mungkin ini bisa menjadi jalan untuknya menemukan kebahagiaan yang lain.


“Kau sudah banyak membantuku, bahkan membeli semua ini.” Liliana menunjuk semua mainan yang berasal dari Enzo. “Jadi, kupikir sangat tak sopan jika tak mengenal satu sama lain dengan baik,” ucap Liliana.


Senyuman lebar Enzo seketika memudar, rasanya seperti terbang tinggi di awan, lalu sayapmu tiba-tiba patah, dan tak ada pilihan selain menjatuhkan diri ke bumi. Itulah yang di rasakan Enzo saat ini, ia juga tak mengerti kenapa harus merasakan semua ini, bahkan membeli mainan untuk putra Liliana


“Lamaranku masih berlaku jika kau berubah pikiran.”


“Lamaran?”


“Ya, tadi aku memintamu untuk menikahiku.”


Liliana tergelak. “Kau melamarku dengan cokelat ini?”

__ADS_1


“Itu hanya permulaan, lain kali aku akan melakukannya dengan benar.” Enzo mengedipkan sebelah matanya pada Liliana. Setelah mencium kening Elang sejenak, ia segera pamit untuk pulang.


Liliana masih terpaku di tempatnya berdiri, mencoba untuk memproses semua kalimat Enzo barusan. Perkenalan mereka di awali dengan kecanggungan luar biasa, lalu semakin lama hubungan mereka juga cukup aneh. Liliana tersenyum geli, jika memang Enzo adalah pria yang mampu mengubah jalan ceritanya, maka ia tak keberatan untuk mencoba. Berdiam diri dengan meratapi kehidupan dan juga mantan suami adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan, dan sudah saatnya untuk Liliana mengubah jalan cerita hidupnya.


**


“Jadi, kamu menolakku?”


Fokus Dimitri sama sekali tak berpindah dari layar laptopnya, ia sebenarnya di berikan kantor sendiri untuk mengerjakan seluruh pekerjaannya, tapi ia lebih menyukai bekerja di kafe seperti ini. Dan sejak kemarin, Evelyn masih terus-terusan mengikutinya, entah apalagi yang di inginkan wanita ini.


“Sejak kapan aku menerimamu? Aku bahkan tak bisa mengingatnya, kamu yang selalu mengikutiku kemanapun,” jawab Dimitri.


Ia sangat jengah dengan keberadaan wanita ini, tapi sekeras apapun Dimitri mengusir wanita ini, tak ada perubahan yang berarti. Jadi, Dimitri hanya mengabaikan saja, lama kelamaan wanita ini akan lelah sendiri.


“Kamu sangat menyedihkan. Mengemis kembali cinta pada istri yang sudah kamu campakkan, dia bahkan sudah bahagia dengan pria pilihannya, tapi kamu masih belum berubah,” ucap Evelyn dengan angkuh.


Dimitri masih mencoba tenang dengan semua pekerjaan yang sedang ia tangani. Ia benar-benar tak ingin memulai masalah baru dengan wanita yang sangat ingin ia hindari.


“Jika wanita itu benar-benar mencintaimu, maka ia tak akan secepat itu untuk menemukan penggantimu. Kamu masih saja bodoh dengan menginginkan wanita seperti itu untuk kembali,” lanjut Evelyn lagi.


Baiklah, kesabarannya sudah menipis. Tak masalah jika ingin menjelekkan dirinya, tapi, jika ini sudah menyangkut Liliana, ia tak bisa berdiam diri saja. “Ada lagi yang ingin kamu bicarakan?” tanya Dimitri dingin.


“Aku bahkan lebih terlihat menyedihkan lagi ketika mengenalmu, apa kamu tak menyadari betapa lebih menyedihkan dirimu? Aku tak ingin menyakitimu lebih jauh, jadi sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku.”


Evelyn menatap Dimitri tak percaya, pria ini sangat berbeda dengan yang ia temui dulu. Dimitri yang dulu sangat ramah dan menuruti semua keinginannya, tapi sekarang, pria ini mengabaikan dan juga mengucapkan kalimat kasar padanya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Evelyn segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja itu. Dimitri tak sekalipun melihat kepergian wanita itu, hidupnya benar-benar sial hanya dengan bertemu wanita itu.


Dimitri sudah sangat mengenal wanita itu luar dalam, dan tak ada yang berubah dari wanita itu kecuali sikapnya yang semakin dingin. Ia tak ingin bersikap egois, tapi bagaimanapun Liliana masih miliknya, dan ia akan memenangkan hati wanitanya itu untuk kesekian kalinya. Tak akan ada lagi kesalahan untuk ketiga kalinya, ia akan kembali memastikan kalau tak akan menyakiti Liliana lagi.


Lamunan Dimitri buyar ketika mendengar denting di ponselnya, sebuah pesan masuk.


Apa kamu punya waktu? Elang ingin bertemu denganmu.


**


“Kamu yakin sama keputusan kamu ini?”


“Yakin, Bil, biar gimanapun Dimitri tetap ayah kandung Elang dan dia juga berhak atas putranya,” jawab Liliana. Ia sudah menceritakan tentang kedatangan Dimitri ke Jerman lagi, semuanya sudah Liliana ceritakan pada Nabila tanpa terkecuali.


“Kamu sendiri yang keras kepala gak mau pertemuin mereka, atau kamu kembali berpikir untuk rujuk sama Dimitri?”


Liliana tertawa kecil, perasaannya menjadi ringan setelah pertemuan dengan Dimitri kemarin. Walaupun rasa sakit hati tetap mendominasi bagian hatinya, tapi ia dengan sadar mengambil keputusan untuk mempertemukan putra dan ayah kandungnya. Memang sudah seharusnya seperti ini, kan?


“Atau jangan-jangan kamu mau nikah lagi?” tebak Nabila.


“Jangan mikir yang macem-macem, deh. Bukan di antara itu semua, aku cuman ngerasa kalau ini memang udah seharusnya.”


Terdengar helaan napas di seberang sana, setelah kejadian ini, Nabila memang menjadi lebih sensitif dengan Dimitri, hubungan mereka yang dulu cukup dekat, kini sudah merenggang. Liliana tak bisa menyalahkan itu, itu keputusan Nabila tentang bagaimana dia seharusnya bersikap pada Dimitri.


“Aku selalu do’ain yang terbaik buat kamu, apapun itu, aku cuman gak mau semakin tersakiti aja.”

__ADS_1


Liliana menganggukkan kepalanya, lalu ia tersadar kalau mereka bukan melakukan panggilan video. “Pasti. Aku bakal berusaha supaya gak ada yang tersakiti lagi sekarang.”


Liliana mematikan sambungan telepon mereka setelah mengucapkan selamat tinggal. Ia juga sudah lelah dengan semua drama yang terjadi di hidupnya, ia ingin sedikit saja merasakan kebahagiaan. Dirinya dan juga Elang harus bahagia, apapun pilihan yang ada di hadapan mereka. Semuanya akan di mulai ketika Liliana kini merelakan seluruh rasa sakit hatinya, tentu saja hatinya masih merasakan pedihnya tersakiti, tapi perlahan ia akan merelakan rasa sakit itu.


Setelah menyiapkan semua keperluannya, tak banyak yang harus di siapkan karena Liliana memilih untuk bertemu di restoran terdekat dari gedung apartemennya. Mereka hanya bertemu saja, dan semoga tak ada hal yang berlebihan. Ia sudah menebak kira-kira apa yang akan terjadi, hati tak bisa berbohong, masing-masing mereka


masih memiliki perasaan.


Sedikitpun Liliana tak berharap akan ada perasaan yang terbawa dalam pertemuan kali ini, bisakah? Mereka dua sejoli yang pernah berbagi perasaan, bahkan sudah ada putra di antara mereka, dan siapapun juga tahu kalau keduanya masih memiliki perasaan yang sama.


Dua puluh menit kemudian, Liliana sampai di restoran yang di maksud dengan Elang yang berada di dalam kereta bayinya. Liliana memang memilih untuk berjalan kaki, selain untuk menikmati udara segar musim semi, ia juga tak memiliki kendaraan, dan menggunakan angkutan umum hanya membuang-buang waktu saja menurutnya.


Dari pintu masuk restoran, Liliana sudah melihat Dimitri yang duduk di sudut restoran, dengan pemandangan kebun kecil dari restoran itu sendiri. Pilihan tempat duduk pria itu cukup bagus, kebun kecil itu setidaknya mampu menenangkan ketika mungkin saja keduanya terlibat emosi yang berlebihan.


“Sudah lama menunggu?” tanya Liliana. Ia merasa sedikit canggung, tapi tetap mencoba untuk biasa saja, ia cukup ahli untuk yang satu ini.


“Aku tak terlalu sibuk, jadi tak masalah.” Dimitri memberikan senyumnya, lalu tatapannya beralih pada makhluk mungil yang berada di kereta bayi itu.


“Aku sudah memesankan untukmu, gak masalah, kan?”


“Ya, gak masalah.”


Lalu keduanya terdiam lagi. “Ini Elang, tampan, kan?” ucap Liliana. Ia mengelus pipi gembil putranya itu yang terjaga sejak tadi.


Dimitri tersenyum pada bayi di hadapannya itu, senyumnya sangat lebar. Ia merasa seperti waktu berhenti, dan ia hanya bisa menatap putranya ini sampai nanti. Wajahnya sangat tampan, dan mampu menenangkan gelisah yang sejak tadi ia rasakan.


“Wajahnya sangat mirip denganmu,” ucap Dimitri. Wajahnya masih terpaku memperhatikan bayi mungil itu, ia adalah seorang Ayah dan kenyataan itu semakin membuat senyumnya semakin lebar.


Senyuman Dimitri seperti penyakit menular yang mampu membuat Liliana juga tersenyum. Inilah yang seharusnya terjadi ketika pertama kali Liliana melahirkan, hatinya seketika menghangat. Untuk sesaat, rasa sakit hati yang masih tersimpan mampu tergeser dengan rasa hangat di hati Liliana karena tatapan Dimitri.


“Mau mencoba menggendongnya?” tanya Liliana.


“Aku tak tahu bagaimana cara melakukannya. Seperti ini saja sudah cukup.” Dimitri menatap Liliana dengan senyumnya, ia ingin melakukan itu, tapi ia takut terjadi hal yang tak di inginkan ketika Dimitri mulai menggendongnya. Ia tak berpengalaman untuk yang satu ini.


“Aku akan menunjukkan bagaimana melakukannya, usianya sekarang sudah delapan bulan, tak akan serentan ketika baru lahir.”


Liliana segera menunjukkan cara menggendong Elang pada Dimitri, yang dengan serius menatap Liliana. “Kamu bisa membawanya ke dadamu sama seperti ketika sedang memeluk, dia sangat tenang, dan sepertinya sudah hampir masuk waktunya ia tidur siang.”


Lalu setelahnya Liliana segera menyerahkan Elang dengan hati-hati pada Dimitri. Elang mulai merengek ketika sudah berada di pelukan Dimitri. “Kamu bisa mengelus punggungnya seperti ini agar dia nyaman,” ucap Liliana. Ia mengelus pundak Elang dengan lembut agar putranya itu tenang.


Jarak mereka saat ini cukup dekat, Dimitri bahkan bisa mencium parfum yang di gunakan Liliana. Dari jarak ini ia juga bisa puas menatap Liliana, terima kasih kepada tinggi badan mereka yang membuat segalanya berjalan lancar. Ia sangat merindukan wanita ini.


“Ah, maaf…,”


Liliana sepertinya menyadari jarak mereka yang begitu dekat, ia memutuskan untuk menarik tangannya yang masih di punggung Elang, lagipula rengekan itu sudah berhenti. Sebelum sempat melakukan hal itu, Dimitri sudah lebih dulu mendaratkan telapak tangannya yang bebas untuk di atas tangan Liliana yang ada di punggung Elang.


“Apa seperti ini?” Dimitri menggenggam tangan itu dengan erat, dan menggerakkan secara perlahan di atas punggung putra mereka.


Andai saja perceraian itu tak terjadi, saat ini mereka adalah keluarga bahagia yang sangat harmonis. Liliana menundukkan tatapannya, ini kontak fisik pertama mereka, dan rasanya ada aliran listrik di antara jemari mereka, menimbulkan detakan tak beraturan di jantungnya.


**

__ADS_1


Gimana? Baper gak? Baper aja lah ya biar aku seneng, kalo gak baper, di baperin aja ;)


__ADS_2