Playboy

Playboy
#2# Take 25


__ADS_3

Maaf harus bikin kalian kecewa, tapi Richard hanya untuk Kate seorang, gak ada yang bisa gantiin Kate. Udah bucin banget soalnya Richard sama Kate, jadi harap di terima ya ;)


Happy reading^^


 



 


Dari semua pilihan yang ada, Reno justru memilih pilihan yang benar-benar membuat hidupnya kini berantakan. Pilihan yang benar-benar akan mengubah hidup yang sudah hancur ini. Maki saja ia dengan semua jenis makian yang ada di dunia ini, ia kadang memang bisa sebodoh dan sepengecut itu. Sia-sia saja selama ini ia kuliah di jurusan kedokteran hingga lulus, hingga ia menjadi dokter di sebuah rumah sakit.


Jika di ceraikan oleh Nabila sudah menjadi yang terburuk, maka, bagaimana dengan menikahi Reni? Lebih buruk dan bahkan sangat buruk, mungkin dari banyaknya populasi pria di Jakarta ini hanya Reno yang akan di kategorikan dalam pria yang tak memiliki pendirian. Keinginan terbesar yang ia miliki saat ini hanyalah kembali rujuk pada Nabila, tapi entah kenapa ia tak bisa berbuat apa-apa ketika Reni sudah mendiktenya.


“Aku akan menikah,” ucap Reno pada Nabila. Tak lupa ia menyerahkan sebuah undangan pada mantan istrinya itu.


Nabila memandang undangan itu dengan nanar, baru lima bulan setelah perceraian mereka dan Reno sudah memberinya undangan. Lucu sekali takdir memainkan peran mereka. Bukan berarti Nabila belum rela melepaskan suaminya ini, ia hanya tak habis pikir. Apa salahnya untuk setidaknya menunda selama satu tahun? Luka yang tertoreh lima bulan lalu saja belum kering sempurna, kini sudah di tambah dengan luka baru. Ini sama saja dengan menambahkan garam di atas luka yang masih menganga.


“Jadi, kalian benar-benar menikah,” lirih Nabila.


Tak ingin ada tangis lain lagi di sini, tapi ini tetap menyakitkan. Ada hikmah dari perceraian yang terjadi, Nabila jadi mengetahui jika Reno bukan sepenuhnya suami yang baik untuknya dan juga ayah untuk anak-anaknya. Itu mungkin hal baik, tapi tetap saja rasanya sakit. Apa kini mereka akan bahagia setelah mereka menyakiti Nabila begitu banyak?


“Aku pasti akan datang,” ucap Nabila. Ia memasukkan undangan itu ke dalam tasnya sebelum beranjak dari kursinya. Bukan ingin kabur, ia hanya harus kembali ke kantor karena jam makan siangnya sudah habis.


Tak ada gunanya juga jika ia berlama-lama di tempat ini, ia bukannya akan mengucapkan selamat pada pasangan bahagia itu. Tentu saja bahagia, kan? Entah Nabila harus menyalahkan Reno atau Reni di sini, atau bahkan menyalahkan dirinya. Nabila sudah memikirkannya berulang kali, hingga rasanya kepalanya ingin pecah, ia sama sekali tak melakukan kesalahan apapun. Ia mengerjakan pekerjaan rumah tangganya dengan baik, melayani Reno tanpa kekurangan apapun. Ia juga selalu memperhatikan Reno seperti biasanya, taka da hal lain yang mampu mengarah pada sesuatu yang bisa membuat Reno berpaling darinya. Semua tepat pada porsinya, dan ia hanya di buang begitu saja.


Nabila memijat keningnya yang tiba-tiba mendadak sakit. Ia harus segera melanjutkan pekerjaan, tapi rasanya pening yang ia rasakan ini tak bisa di toleransi lagi. Inilah yang sangat ia benci, ketika kehidupan pribadinya sangat mempengaruhi pekerjaannya. Jika sudah begini, ia tak akan bisa fokus untuk bekerja.


“Minum dulu, Mbak.” Juna tiba-tiba muncul dengan secangkir teh jahe hangat yang sudah di letakkan di meja Nabila.


“Makasih, Jun,” jawab Nabila. Ia memaksakan senyumnya pada asistennya itu.


“Mbak minum dulu tehnya, abis itu istirahat di klinik. Gak baik, Mbak, kalau di paksain kerja,” ucap Juna.


Nabila meloloskan tawa kecil di sela menahan rasa pening di kepalanya, ia lupa jika memiliki asisten yang sangat cerewet, melebihi ibunya bahkan. Tapi, setidaknya ada satu orang yang perhatian padanya di saat seperti ini. Setelah merasa bahwa dunia sudah sangat kejam untuknya, ia akhirnya bisa merasakan lagi jika dunia tak sekejam itu melalui Juna.


“Kamu memang selalu cerewet kayak gini, ya?” tanya Nabila dengan geli.


“Kayaknya sejauh ini cuman sama Mbak aja. Mbak gak perlu khawatir, aku kayak gini cuman sama Mbak aja, kok.”


Juna tersenyum manis pada Nabila yang sedang menyeruput teh jahe buatan Juna. Apa itu buatan Juna? Terlalu berlebihan sepertinya untuk seorang anak muda yang mengerti cara membuat teh jahe di jaman yang moderen ini. Tentu saja itu buatan OB kantor, Juna hanya tinggal menyerahkan pada Nabila.


“Manis banget, ya, mulut kamu. Udah berapa gadis-gadis yang kemakan sama rayuan kamu itu?”


“Mbak beneran mau tahu?” tanya Juna dengan antusias. Senyumnya bahkan sangat lebar, ia juga langsung menyandarkan tubuhnya di meja kerja Nabila.


Oke, mood Nabila benar-benar kembali dengan kehadiran Juna yang sebenarnya cukup berisik tapi juga menghibur. Ia sebenarnya tak sungguh-sungguh ketika menanyakan pertanyaan tadi, tak menyangka jika Juna akan menanggapinya dengan serius. Pria ini sangat lucu.


“Udah gak keitung sebenarnya, Mbak, tapi, di antara banyaknya cewek-cewek itu, cuman Mbak aja yang gak kemakan sama kalimat itu.”


Kali ini Nabila benar-benar mengeluarkan tawanya, pening di kepalanya sudah tak terlalu terasa, terima kasih kepada teh jahe itu dan juga Juna yang menghiburnya. Jadi, Juna ini berharap ia akan menyukai kalimat gombalan seperti itu? Lucu sekali rasanya, ia bukan gadis remaja lagi yang bisa dengan mudah masuk ke dalam perangkap pria muda semacam Juna ini, ia ibu dua anak.

__ADS_1


“Aku serius, Mbak,” ucap Juna lagi.


Kalimat itu lagi-lagi membuat Nabila tertawa, Juna sampai tak menyangka jika kalimat jujurnya itu mampu mengundang tawa yang sangat merdu dari Nabila. Ekspresi suram tadi benar-benar sudah tergantikan dengan wajah yang memerah karena menahan tawa. Juna hanya tersenyum menyaksikan perubahan yang sangat berarti itu, setidaknya untuknya. Lain kali, ia berjanji akan lebih sering untuk membuat tawa itu betah di tampilkan di wajah ayu itu.


**


Kate tak menetap di Jakarta seperti yang sudah di jadwalkan, ia harus kembali ke Jerman untuk pekerjaannya. Setidaknya ada hal baik yang terjadi sebelum ia kembali ke Jerman. Bukan hanya tentang proyek serta pekerjaannya, tapi juga tentang hubungannya dengan Richard.satu bulan berada di Jakarta banyak memberinya banyak hal, hingga ia mampu berpikir dengan jernih.


“Hubunganku dan Michael tak seperti yang kau bayangkan.”


“Memangnya apa yang kubayangkan?” tanya Richard.


“Kau menganggapku selingkuh dengan Michael, bahkan cemburu untuk itu. Kau tahu apa yang lucu?”


Richard mengangkat kedua alisnya, sedikit curiga dengan Kate yang tersenyum misterius padanya. Mereka sudah tak secanggung ketika pertama bertemu di Jakarta ini, mereka sudah lebih membaik dengan kesepakatan di antara mereka masing-masing. Lucu rasanya jika mereka terus-terusan hidup dalam kecanggungan.


“Dia temanku, dan dia juga lebih menyukai pria. Mungkin jika kita berdua ada di hadapannya, dia akan lebih memilihmu di banding aku, bagaimana aku harus selingkuh dengannya?” ucap Kate dengan geli.


Butuh beberapa detik untuk Richard menyadari hal yang janggal lalu menyadari dengan senyum geli yang masih betah Kate pertahankan, hingga ia tertawa. “Jadi cemburuku tak berdasar?” tanya Richard juga masih dengan tawanya.


Kate mengangkat bahunya. “Aku bahkan bingung harus mengatakan darimana karena kau sudah menuduhku sejak awal, aku hampir menyerah untuk menjelaskan ini padamu.”


Keduanya tertawa bersamaan lagi, merasa bodoh dengan pendapat yang mereka pertahankan masing-masing selama ini. Hingga beberapa menit kemudian, mereka juga masih mempertahankan tawa mereka. Jadi mereka hanya sia-sia saja bertengkar selama ini, hingga harus menahan sakit hati masing-masing.


Mungkin definisi pasangan konyol pantas di berikan pada mereka. “Seharusnya katakan saja sejak awal, jadi aku tak perlu salah paham seperti ini,” ujar Richard.


“Bagaimana aku harus mengatakannya? Seharusnya kau melihat raut wajahmu ketika membahas tentang Michael.”


Kini keduanya berada di bandara untuk mengantarkan kepulangan Kate ke Jerman. Sebanyak apapun mereka menginginkan untuk tetap bersama, akan sangat sulit, karena mereka memiliki tanggung jawab masing-masing. Tapi, setidaknya hubungan mereka sudah membaik, hanya itu yang terpenting saat ini.


“Kau tak ingin kembali ke Jerman bersamaku?” tanya Kate.


Richard membelai rambut Kate yang duduk di sampingnya. Tahu apa hal lucu yang justru Richard pikirkan sekarang? ‘Akhirnya ia tak akan masuk dalam perkumpulan gagal cinta lagi’ yang di buat oleh sahabat-sahabatnya itu. Ia tahu ini sangat konyol, tapi memang itu yang terlintas di benaknya ketika akhirnya masalahnya dan Kate sudah berakhir dengan baik.


“Sepertinya kau sangat merindukanku, ya?”


“Kau tahu, kan, kalau aku bukan tipe wanita yang suka mengumbar kalimat penuh cinta di tempat umum? Apa aku harus mengatakan di sini? Atau aku harus menggunakan pengeras suara agar semua orang mendengarnya?”


Kate tertawa, begitu pun dengan Richard. Rasanya dunia sudah kembali berpihak dengannya dan ia bisa menjalani kehidupan normalnya lagi seperti biasanya. Jika tahu seperti ini, Richard benar-benar tak akan repot untuk berbicara pada ayah Kate seperti melakukan pengakuan dosa. Ia benar-benar belum cukup dewasa untuk menyikapi hubungan mereka.


“Lain kali, katakan sepuasnya sebelum kita saling berpisah seperti ini,” ujar Richard. Ia masih bermain-main dengan rambut Kate, masih ada beberapa menit lagi yang bisa mereka habiskan sebelum ia berpisah dengan Kate.


“Bukankah tindakan juga lebih dari cukup? Kenapa harus susah-susah mengatakannya?”


“Jika bisa melakukan keduanya, kenapa harus memilih salah satunya?”


Mereka menghabiskan sisa waktu mereka dengan saling bercerita dan juga mengenang apa saja yang sudah terjadi pada mereka. Ini benar-benar serius, Richard bisa menghabiskan waktu satu harinya hanya untuk wanita ini , hanya dengan menatap wanita ini seharian saja sudah mampu membuat harinya membaik kembali.


Apa itu juga bagian dari kekuatan cinta yang di miliki keduanya?


**

__ADS_1


Liliana dan Dimitri akan kembali menjadi tuan rumah dalam perkumpulan rutin dengan sahabat-sahabatnya itu. Hal menyenangkan yang rutin mereka lakukan ini kadang membuat mereka semua mampu mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya dengan baik. Biasanya hanya akan ada pembicaraan tak masuk akal dan saling menyerang satu sama lain, tapi di situ lah letak keseruannya. Kalian benar-benar tak akan menemukannya di tempat lain.


Seperti biasa, hanya ada mereka serta Nabila dan juga Richard. Mereka memang hanya berempat, tapi percayalah jika mereka sangat cocok untuk mengalahkan tingkat kebisingan yang di lakukan oleh sepuluh orang. Padahal pembicaraan mereka tak pernah jauh dari kisah cinta mereka yang gagal.


“Jadi gimana sama Kate?” tanya Liliana.


“Udah pulang ke Jerman, ya udah gitu aja.”


Nabila yang duduk di samping Richard sibuk menahan tawanya, pasalnya wajah Richard sangat berseri-seri. Itu hal bagus, tapi coba bandingkan dengan wajah muram sebelum ia berbaikan dengan kekasihnya itu? Sangat jauh dan untuk Nabila itu sangat lucu.


“Beda banget, sih, yang lagi jatuh cinta. Gemes deh,” ucap Nabila.


Richard menatap sengit wanita di sampingnya itu, ia sangat tahu jika kalimat itu adalah bagian dari ledekan yang akan segera di mulai. “Kamu tahu, Al, aku sempat mikir untuk buka jasa konsultasi cinta di banding toko bunga setelah kedatangan Kate kemarin. Aku ngerasa kayak lebih berguna aja, gitu.”


“Apa kita harus mulai buka aja? Lantai dua juga kosong, kan? Bisa banget di manfaatin itu,” balas Dimitri.


Semuanya tertawa dengan ucapan itu, terutama Nabila yang terlihat sangat puas dengan apa yang terjadi. Tersisa Richard yang menatap ketiga temannya dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan. Sejak awal pun, Richard sudah tahu jika ia yang akan menjadi bahan ledekan malam ini, karena siapa lagi yang akan mengorbankan dirinya seperti Richard.


“Jadi, apa aku harus bayar mewakili Kate untuk jasa konsultasinya?” tanya Richard.


“Dalam bentuk saham aja, supaya aku bisa segera mengurus perizinan usahanya.”


Malam itu kembali di isi dengan tawa dan cerita-cerita lucu di antara mereka. Ini pertemuan mereka setelah beberapa kali semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan tak bisa melakukan hal ini.


“Reno mau nikah,” ucap Nabila.


Ketiganya sontak langsung terdiam dengan kalimat yang baru saja di ucapkan itu. Suasana yang tadinya ceria kini berubah menjadi sunyi dan hanya di isi dengan saling tatap dari ketiga orang yang ada di sana. Mereka tak menyangka jika Nabila akan membawa pembahasan itu ke dalam sini, biasanya Nabila hanya akan menceritakannya pada Liliana saja.


“Kenapa kalian terkejut banget gitu?” tanya Nabila lagi. Ia bingung karena sama sekali tak mendapatkan respon apapun, atau setidaknya respon yang sedikit lebih baik di banding saling diam seperti ini.


Tujuannya menceritakan hal ini karena ia sudah percaya pada ketiga orang yang ada di sini, dan rasanya akan lebih baik di ceritakan di banding ia tahan sendiri seperti ini. Mendapatkan sedikit dukungan dari sahabat-sahabatnya terlihat lebih baik, kan?


“Kamu gak papa, Bil?” tanya Liliana.


“Masih nanya lagi, bayangin coba waktu kamu dulu baru ketemu Dimitri lalu dia ngasih undangan pernikahan, gimana perasaan kamu?”


Nabila dan mulut pedasnya, yang tak repot-repot menyembunyikan rasa sakitnya. Apa yang harus di sembunyikan jika memang rasanya sangat sakit? Ia sudah terbebani  banyak hal, tak mungkin jika harus membebani dirinya dengan perasaan yang satu ini. Ia tak akan sanggup.


Liliana tahu dengan jelas apa yang di maksud oleh Nabila, tak mungkin sahabatnya ini akan baik-baik saja dengan kabar mengejutkan itu. Baru lima bulan setelah perceraian mereka, dan mantan suaminya itu langsung memberikan undangan pernikahan. Untuk ukuran kisah cinta Nabila, itu benar-benar sangat menyakitkan.


“Kamu mau aku temenin pergi ke nikahan dia?” tawar Richard.


Alih-alih menjawab, Nabila justru melemparkan kepalanya ke sandaran sofa. Ternyata perasaan menyakitkan itu tak bisa hilang begitu saja, setelah di ceritakan pun rasanya masih sangat menyakitkan. Liliana segera berinisiatif untuk duduk di samping Nabila, ia tahu kalimat penenang pun tak akan mampu menenangkan wanita ini.


“Padahal aku pikir semuanya bakal baik-baik aja kalau aku udah nyeritain ini sama kalian, ternayata masih perih.”


“Bil, kami siap kalau kamu mau ngelakuin balas dendam.” Kali ini Dimitri juga angkat suara.


Ada tawa kecil yang lolos dari bibir Nabila yang masih bercampur dengan sesenggukan. “Gak salah memang aku cerita sama kalian.”


**

__ADS_1


__ADS_2