
Happy reading^^
Setelah Liliana, Elle adalah wanita kedua yang berhasil menyita pikiran Enzo. Ya, Enzo akan mulai mengakuinya, tapi bukan dalam artian jika ia benar-benar tertarik pada Elle. Hanya saja, ada sebagian dari diri Elle yang terus membuat Enzo bertanya-tanya dan ingin ia ketahui lebih jauh. Mungkin lebih tepat jika di katakan sebagai rasa penasaran
Pertama, karena potongan kenangan di makam dua tahun yang lalu, jika bukan karena ucapannya kala itu, mungkin saat ini Enzo masih sangat terpuruk akan kematian Cecillia. Kedua, karena ia putri tunggal Danuwijaya, pria yang ia kenal dekat dan mungkin saja hampir menjadi menantunya jika Enzo tak menolak untuk di jodohkan pada anak perempuannya yang tak pernah ia ketahui dulu. Ketiga, dan mungkin yang terakhir, Elle dengan sifat yang misterius dan mudah terbaca di saat yang bersamaan.
Dari ketiga alasan itu, mungkin alasan terakhir yang membuat ia selalu memikirkan Elle. Tak selalu, hanya di saat-saat tertentu saja, ya, pasti seperti itu. Setelah kematian Cecillia, ia tak yakin bisa kembali tertarik lagi dengan wanita. Kenangan yang di tinggalkan wanita itu sangat membekas di pikirannya.
“Permisi, Pak. Ini laporan hasil rapat kemarin.”
Elle masuk ke ruangan Enzo dan sudah berdiri di hadapan pria itu, ia bahkan tak sadar dengan kehadiran wanita ini. Seberapa banyak pun Elle mampu menyita pikirannya, tak akan sebanyak Cecillia yang selalu hadir di pikirannya.
Enzo menatap Elle yang hanya memberikan senyum tipisnya, sepertinya ia tak akan melihat senyum ramah Elle seperti hari pertama ia bekerja lagi. Tak masalah untuk Enzo, yang terpenting untuknya adalah profesionalitas dan pekerjaan yang di kerjakan selesai dengan baik, serta wajah itu tak di tunjukkan ketika menghadapi klien.
“Siang ini kita ada pertemuan,” ucap Enzo.
“Pertemuan? Tapi, siang ini Bapak sama sekali tak memiliki jadwal apapun.”
“Dia memintaku secara pribadi, dan aku belum memberitahumu. Dia klien selanjutnya yang berencana untuk menanamkan sahamnya di sini, kau pasti juga mengenalnya, kudengar dia dulu orang kepercayaan mendiang Ayahmu.”
Hanya sedetik setelah Enzo mengatakan kalimat tersebut, wajah Elle langsung pucat, seperti Enzo baru saja memberinya vonis hukuman mati. Apa ini karena Enzo menyebut ayahnya? Apa Elle memiliki trauma tersendiri dengan kematian sang ayah? Karena perubahan wajah Elle sangat kentara ketika ada orang lain yang secara tak sengaja menyebut ayahnya.
“Begitu, apa ada yang perlu saya siapkan?” tanya Elle dengan gugup. Matanya masih belum fokus, pandangannya masih berlari kesana kemari. Tanpa di sebutkan namanya juga Elle bisa mengetahui siapa yang di maksud oleh Enzo tadi.
Orang kepercayaan ayahnya hanya satu, Brian Dennis Park, dan pria itu juga baru mengunjunginya tadi malam.
“Apa saya harus mengikuti pertemuan ini?” tanya Elle memastikan. Ia sangat berharap Enzo akan menjawab tidak, tapi tentu saja tak mungkin. Ini juga bagian dari pekerjaan.
“Tentu saja.”
Hanya dua kata yang di ucapkan oleh Enzo, dan kini ia berakhir di satu meja bersama Brian dan juga Enzo. Elle sangat yakin jika ini adalah bagian dari rencana yang di miliki Brian, apapun yang di pikirkan pria itu, hasilnya tak pernah bagus. Orang awam tak akan pernah tahu jika Brian adalah otak di balik kematian ayah Elle, tak akan ada yang peduli dengan kisah itu.
Uang dan kekuasaan benar-benar berperan besar dalam kehidupan sosial saat ini. Walaupun kita mengatakan jika kebahagiaan tak akan mampu di beli oleh uang, nyatanya tanpa uang kita tak bisa melakukan apapun. Elle tak mengetahui banyak tentang alasan di balik tindakan Brian dua tahun yang lalu, satu hal yang pasti, Elle sangat membenci pria ini. Jangan tanya sebesar apa rasa benci itu, kalimat tak akan mampu menjelaskan semuanya.
“Kami dulu sangat dekat, Tuan Danuwijaya adalah pria yang mengajarkan banyak hal pada saya, hingga saya menjadi seperti saat ini. Sangat banyak orang yang menyesali kepergiannya yang sangat tiba-tiba itu,” ucap Brian.
Enzo hanya menganggukkan kepalanya, fokusnya sejak tadi sebenarnya tertuju pada Elle yang sangat pendiam dan hanya menundukkan kepalanya pada buku catatan yang ada di mejanya. Apa ini bukan keputusan yang tepat dengan membawa Elle ke pertemuan ini? Atau karena pria yang mereka temui saat ini adalah teman baik sang ayah?
“Apa kau pernah bertemu dengan putri Danuwijaya? Kudengar dia masih berada di Frankfurt,” tanya Enzo. Kali ini Enzo akan berpura-pura untuk tak mengetahui siapa putri Danuwijaya yang mendadak terkenal itu. Entah mengapa ia melakukan hal tersebut, insting, mungkin?
__ADS_1
“Sayang sekali aku juga belum pernah bertemu dengannya, mungkin akan lebih baik jika kami bertemu. Sebelum ayahnya meninggal, kami sudah di jodohkan.” Brian tersenyum penuh arti sembari menatap Elle yang masih tertunduk, sama sekali tak bereaksi atas apapun yang sedang di bicarakan di meja itu.
Terlalu banyak informasi sepertinya. Jadi, Brian juga belum pernah bertemu tapi ia sudah di jodohkan oleh Danuwijaya. Mungkin seperti, Danuwijaya ingin putrinya di jaga oleh orang-orang yang ia percayai. Hal seperti itu sudah sering terjadi, tentu saja orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
“Sepertinya pertemuan kali ini kita cukupkan sampai di sini saja, saya akan kembali menghubungi untuk detail lebih lanjut,” ucap Enzo.
Brian bangkit dari kursinya, di ikuti oleh Enzo dan juga Elle. Mereka bersalaman sebentar sebelum Brian melangkahkan kakinya meninggalkan restoran itu. Bahkan setelah pria itu pergi, Elle masih bisa merasakan aura dominasi yang di berikan oleh Brian. Ini bukan sebuah pertanda yang baik, mungkin pekerjaan Elle akan terancam juga dengan kemunculan Brian. Ia sangat ingin menyerah, tapi ia tak ingin memberikan seluruh jiwanya pada seorang pembunuh serta psikopat seperti Brian. Tapi, apalagi yang bisa Elle lakukan di sini, ia tak bisa kabur dari
pria itu, dan ia hanya seorang diri di Frankfurt.
Hanya ada pilihan lain untuk lepas dari Brian, mati.
**
“Maaf mengatakan ini, aku belum memberitahukan pada Papa tentang hubungan ini, dan Papa sudah meminta kita
untuk hadir di makan malam perusahaan lusa.”
Kalimat itu terus berputar di kepala Richard. Jadi, pada dasarnya Kate memintanya untuk kembali berpura-pura menjalani pertunangan ini seolah semuanya baik-baik saja. Richard sangat mengerti jika memang Kate membutuhkan waktu untuk memberitahukan kedua orang tuanya tentang kejadian yang sudah terjadi beberapa minggu yang lalu.
Bagian yang terpenting adalah, ini semua tak akan mudah untuk Richard. Ia belum menata hatinya pasca patah hatinya, kini dengan seenaknya Kate memintanya untuk menemani. Bukankah seharusnya wanita itu memiliki banyak alasan untuk datang seorang diri, atau apapun itu yang tak akan melibatkan Richard dalam hal ini? Tapi
sebenarnya ada rasa senang samar yang ia rasakan ketika Kate memintanya untuk menemani.
Wajar saja, kan? Memang semudah itu untuk memutuskan bahwa kita benar-benar sudah melupakan wanita yang sudah tiga tahun menjalin hubungan. Mungkin banyak pria di luar sana yang memiliki lebih dari satu wanita untuk di cintai, tapi Richard tidak termasuk dalam tipe itu, ia hanya akan setia pada satu wanita. Apa masih bisa di sebut cinta jika di hatinya ada dua wanita? Itu hanya nafsu.
“Ya.”
Richard tak tahu bagaimana kemampuan aktingnya, tapi semoga bisa mengalahkan aktor-aktor papan atas di luaran sana. Kate berjalan selangkah di hadapannya, wanita itu tetap cantik seperti biasanya. Richard menahan tangan wanita itu agar berhenti melangkah.
“Ada apa?” tanya Kate sedikit canggung. Anggap saja kali ini Kate sedang mencari alasan untuk lebih dekat pada Richard setelah keputusan bodohnya itu. Ia egois, Kate sangat mengerti itu. Egois sudah sangat menyatu dalam jiwanya.
Richard tak mengatakan apapun, ia justru mendekati Kate yang masih kaku di hadapannya. “Kita biasanya melakukan ini.”
Kate sempat menahan nafasnya ketika dengan lembut Richard memeluk pinggulnya, seolah tak terjadi apapun. Dulunya mereka adalah pasangan yang sangat romantis, yang bahkan sempat membuat iri beberapa orang yang kebetulan atau tahu tentang mereka. Dulu, ketika mereka belum menjadi asing.
Makan malam perusahaan yang di maksud bukan pesta mewah seperti biasanya, itu benar-benar hanya makan malam yang di hadiri para pemegang saham dan juga para investor terbesar di perusahaan yang kini di jalankan oleh Kate. Ketika keduanya memasuki ruangan itu, semua orang terlihat sudah duduk di tempatnya masing-masing dalam sebuah meja panjang yang sudah terisi oleh berbagai macam hidangan dan juga wine. Ada yang membawa pasangannya, ada juga yang seorang diri.
“Ah, pasangan masa depan kita sudah sampai,” ucap salah satu pria di meja itu.
“Bukankah mereka sangat serasi? Anthony sangat jeli ketika melihat pria tampan yang sangat kompeten untuk putrinya.”
Anthony—ayah Kate—hanya tersenyum terhadap pujian yang di lontarkan. Pilihannya kali ini memang tak salah, ia tak pernah melihat putrinya sebahagia ini ketika bersama seorang pria. Yang sangat penting, hubungan mereka bertahan untuk waktu yang
lama. Katherine sudah tumbuh dewasa.
__ADS_1
Kate dan Richard segera duduk di kursi yang tersisa dengan senyum tulus yang mereka berikan. Setidaknya di hari yang sedikit normal, mereka akan melontarkan tawa dan bercanda sedikit pada orang-orang yang ada di ruangan ini.
Makan malam itu berlangsung secara damai, damai dalam artian tak ada yang menanyakan tentang hubungan Kate dan Richard saat ini. Obrolan hanya di dominasi oleh orang-orang yang lebih tua yang melibatkan tentang harga saham saat ini, proyek-proyek yang sedang di kerjakan, dan Richard juga sesekali menimpali ketika ada yang bertanya padanya.
Setiap makan malam Richard juga akan melakukan yang sama, jadi setidaknya ini bukan sesuatu yang sulit untuknya. Anggap saja malam ini, Richard dan Kate sedang kembali bersama, dan akan lebih bagus lagi jika itu benar-benar terjadi. Itu yang di harapkan Richard akan terjadi.
**
Selingkuh adalah sebab utama dari retaknya sebuah hubungan, itu adalah yang terburuk. Pengkhianatan
yang paling besar dari sebuah hubungan, bukan hanya dalam pernikahan, tapi juga dalam kisah cinta para remaja. Kadang juga akan menimbulkan bekas trauma pada orang yang mengalaminya. Selingkuh sendiri sudah sangat salah, bagaimana jika itu di lakukan dengan teman baik yang kita kenal dengan baik.
Reni Aprilia adalah nama yang sudah Nabila kenal dengan baik. Wanita itu adalah rekan kerja Reno yang sering beberapa kali bertemu dengan Nabila ketika ad acara dari rumah sakit itu sendiri. Nabila memang tak mengenal dengan baik wanita itu, tapi dari luar saja Nabila bisa menilai jika Reni Aprilia adalah wanita yang sangat baik. Bahkan sempat terpikirkan oleh Nabila untuk menjodohkan wanita itu dengan salah satu temannya.
Tapi, sayang, wania itu justru berjodoh dengan suami—mantan—sebagai selingkuhan. Maksudnya, bagaimana bisa hal yang sangat tak mungkin itu menjadi mungkin? Dan Reno mengatakan itu sebagai kekhilafan. Manusia memang tak luput dari salah dan dosa, tapi untuk yang satu itu sangat tak bisa Nabila anggap hanya sebagai angin
lalu.
“Aku benar-benar tak sengaja melakukannya malam itu, kami berdua sangat lelah karena banyaknya pasien, dan
malam itu berakhir begitu saja…,”
Nabila sudah tak mampu menahan laju air matanya. Suaminya bahkan sudah tidur dengan wanita lain selama enam bulan itu, entah jenis dosa apa yang pernah di lakukan Nabila. Ia hanya selalu memojokkan Liliana dulu, selebihnya tak ada dosa lain yang ia lakukan, Liliana juga sam sekali tak menunjukkan dendam yang sangat berarti. Lalu kenapa, ia harus mendapati suaminya selingkuh dengan rekan kerja?
“Kamu bahkan lebih buruk dari Dimitri, kamu tahu itu, kan? Aku…aku sama sekali gak nyangka ini yang bakal kamu lakuin. Apa hubungan kita sama sekali tak berarti untukmu? Untuk apa enam tahun ini kita habiskan bersama jika pada akhirnya kamu memilih untuk mengkhianatinya?!”
“Nabila, aku mohon maafin aku, aku benar-benar gak akan ngulangin ini lagi. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Reni, kumohon jangan memilih perceraian.”
“Kamu berharap aku bisa melihat wajahmu lagi dengan cara yang sama? Kenapa sangat mudah untukmu untuk mengkhianati ini semua dan meminta maaf seperti ini? Kamu pikir aku lelucon? Kamu pikir pernikahan ini hanya lelucon?!” Nabila menaikkan nadanya sedikit lebih tinggi.
Rumah itu kosong, kedua anaknya juga sudah ia titipkan pada kedua orang tuanya. Jadi, ia akan bebas untuk berteriak di rumah ini.
“Kamu juga gak merasa bersalah di sini, kan? Hanya aku yang kamu salahkan sejak tadi.”
“Beritahu aku, dimana kesalahan yang kubuat? Aku akan dengan senang hati mendengarnya, dan akan dengan senang hati juga untuk merubah sifat itu,” tantang Nabila.
Reno membalikkan tubuhnya. Ia tahu hari ini akan tiba, tapi ia juga tak tahu jika akan menjadi besar seperti ini. Cerai sama sekali tak pernah masuk dalam daftar hidupnya. Ia sangat mencintai Nabila. “Aku sama sekali tak berhubungan serius dengan Reni, kami hanya—“
“Kalian hanya tidur bersama. Sudah berapa kali kalian melakukan itu? Kamu tahu, sekarang aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri. Kamu menyentuhku setelah berhubungan dengan wanita lain, apa kamu sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana perasaanku ketika mengetahui itu?”
Reno terdiam. Ia sangat tahu dimana letak kesalahannya. Pasien yang semakin banyak, selalu lembur untuk menunggui pasien. Hingga ia menenmukan hiburan lain di sela padatnya jadwal kerja itu.
“Apa pernah kamu memikirkan aku, Aidan, bahkan Alya ketika kamu tidur dengannya? Apa tak pernah sedikitpun terlintas di benakmu ketika kalian tidur bersama?”
Reno sangat tahu rasa sakit apa yang ia berikan pada Nabila, ia menyesal sekarang. Nafsu selalu lebih dulu di banding perasaan lain, kan? Nafsu tak bisa menunggu otak dan hati yang sedang saling menyesuaikan diri. Nafsu selalu lebih dulu muncul di banding cinta, dan kebanyakan orang selalu menafsirkan nafsu itu sebagai cinta.
__ADS_1
**