
Hai aku balik lagi, ada yang kangen Reni, eh maksudnya aku? ;D Aku gak tahu ini bakalan cocok atau gak di baca siang-siang, tapi kalo gak mau ambil resiko mendiing bacanya pas lagi buka aja. Aku gak tangggung jawab sama emosi kalian soalnya :)
Happy reading^^
Dimitri berhasil melewati masa kritisnya, setelah di pindahkan ke ruang perawatan dan pengaruh infus yang di pasang, dalam waktu delapan jam Dimitri sudah siuman. Wajah lega dan juga syukur tergambar di wajah Liliana dan juga kedua orang tua mereka yang kini tengah berkumpul di rumah sakit. Lingkaran hitam di bawah mata
Liliana tak bisa menyembunyikan berapa banyak rasa khawatir yang ia rasakan selama kurun waktu itu.
Suaminya itu sudah membaik walau masih bisa di lihat dengan jelas beberapa luka di dahi dan juga perban yang masih membebat kepala pria itu. Dimitri masih bisa memberikan senyum lemahnya pada sang istri yang masih setia duduk di samping ranjangnya dengan tangan yang menggenggam erat jemari pria itu.
“Kamu gak tidur?” tanya Dimitri lirih.
Hanya gelengan lemah yang di berikan Liliana, bagaimana ia bisa tidur jika ia tak bisa berhenti memikirkan suaminya ini. Ia benar-benar akan menyalahkan dirinya sendiri jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya ini
“Aku gak papa, gimana perasaan kamu sekarang?”
“Masih pusing di bagian kepalaku, tapi yang lainnya baik-baik aja, kok.”
Liliana mengecup jemari Dimitri yang ada di genggamannya. Rasanya seperti semua beban di pundaknya terangkat ketika mendengar kabar bahwa suaminya ini sudah siuman. Kabar kecelakaan Dimitri saja sudah lebih buruk di banding perceraiannya dulu, jadi ia tak bisa menerima ini. Ia hanya sangat lega hingga tak bisa mengatakan
apapun lagi.
“Aku baik-baik aja, Li.” Dimitri ingin bergerak untuk menenangkan istrinya bahwa ia baik-baik saja, tapi itu tak memungkinkan karena ia belum boleh banyak bergerak. Ia berakhir dengan membalas genggaman Liliana tak kalah erat.
“Kamu tahu seberapa takutnya aku waktu denger berita kamu kecelakaan? Aku udah gak bisa berpikir sama sekali dan gak ada yang aku pikirin selain keselamatan kamu, seandainya aja kamu gak keluar, seandainya kamu—“
“Lili, jangan pikirin yang macem-macem. Aku di sini, aku baik-baik aja, jangan khawatir lagi, hm?” potong Dimitri lembut.
Liliana menatap wajah suaminya yang pucat, tapi tetap memberikan senyum itu. Harusnya memang itu yang ia pikirkan, tapi otaknya justru memproses hal lain yang tak berguna. Ia sangat bersyukur karena suaminya baik-baik saja, harusnya hanya itu yang ia pikirkan.
“Dokter bilang kamu belum boleh banyak gerak, kamu juga harus di rawat dulu di sini sementara, di tambah pemulihan setelah kamu keluar dari rumah sakit ini. Kamu bener-bener harus dengerin apa kata dokter biar cepet sembuh.”
Hanya senyum yang mampu Dimitri berikan pada Liliana. Istrinya ini bisa menjadi wanita yang paling cerewet dalam hidupnya dan mengkhawatirkan semua hal, tapi Dimitri juga tahu jika semua itu ia lakukan karena rasa sayangnya yang sangat besar. Kemarin rasanya Dimitri sudah tak bisa memikirkan banyak hal ketika berada di antara mobil-mobil itu, berada di antara perasaan hidup dan mati, memikirkan istri, anaknya dan juga calon bayi mereka. kini, ia bisa melihat istrinya yang sangat cerewet ini sedang mengomelinya.
Keajaiban ini pasti karena kekuatan dari keluarga kecilnya yang sangat ia cintai ini, jika bukan karena keinginan untuk melihat istri serta calon anak keduanya yang akan lahir, ia pasti tak akan ada di sini.
“Kamu juga harus jaga kesehatan kamu, Li, ada nyawa lain di tubuh kamu. Pulang dan istirahat, aku gak mau istri cerewetku ini juga jadi ikutan sakit,” ucap Dimitri.
Ia melepaskan genggaman tangan mereka. Kini tangannya beralih untuk membelai lingkaran hitam di bawah mata istrinya, memang tak mengurangi kecantikan sang istri, tapi jika itu sumber dari rasa sakit istrinya maka ia tak akan menyukai. Liliana cantik apapun yang terjadi, tapi ia tak ingin ada sedikitpun sesuatu yang menghalangi kecantikan itu, termasuk rasa gelisah dan khawatir yang wanita itu rasakan.
“Aku janji bakal cepet sembuh, kamu jangan sedih lagi, ya,” hibur Dimitri untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Sudah ada banyak hal yang bisa Dimitri syukuri sejak beberapa tahun ini, karena banyak kejadian yang juga ia alami. Dari kesedihan dan juga kebahagiaan, hidup memang benar-benar berputar seperti roda, kita tak pernah tahu akan melewati jalanan seperti apa nantinya. Dari semua hal itu, membuat Dimitri semakin sadar dengan tindakannya dan selalu ingin mensyukuri apapun yang ia lalui
Memiliki Liliana dan juga Elang juga merupakan hal yang sangat ia syukuri, lalu selamat dari kecelakaan yang mungkin saja sudah mengambil nyawanya. Semuanya sangat ia syukuri, entah apa jadinya jika dulu ia tak memperjuangkan Liliana dengan begitu keras dan melalui banyak tikungan tajam di perjalanannya.
**
Pernikahan Reno dan Reni kemarin adalah salah satu pernikahan terburuk yang pernah terjadi, walaupun mereka sudah sah menjadi suami istri, acara kemarin adalah yang sangat di kutuk bahkan harus di hentikan lebih cepat. Tak bisa di bayangkan bagaimana rasa malu itu sudah melingkupi kedua orang tua Reni. Reni hanya anak satu-satunya, tapi di pernikahannya pun banyak kejadian yang sangat memalukan.
“Apa yang sebenarnya kamu lakuin selama ini, Reni? Kenapa sampai ada kejadian memalukan seperti ini?!”
Sang ayah yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan nama baik keluarganya sangat murka malam itu. Malam pengantin yang seharusnya berakhir dengan bahagia, atau setidaknya tenang justru berakhir dengan amukan sang ayah. Lagipula orang tua mana yang tak akan marah jika pesta yang ia banggakan justru menjadi bumerang untuk nama baiknya sendiri.
“Memangnya Papi akan peduli? Papi hanya peduli pada nama baik papi, bukan anak papi ini,” balas Reni tak kalah tegas.
Reni memang tak banyak menentang perintah sang ayah selama ini, ia selalu menuruti. Sang ayah meminta Reni untuk mengambil fakultas kedokteran, ia turuti, menjaga kelakuannya di depan umum untuk—lagi-lagi—menjaga nama baik keluarga juga sudah ia lakukan. Dengan catatan ia bisa bergaul dengan siapa saja yang ia inginkan. Pertengkaran kedua orang beda generasi itu memang tak bisa di hindari dan memang akan selalu terjadi.
“Kamu ngelawan papi?”
Bukan hanya ayahnya yang merasa sangat malu di pesta tadi, ia juga sangat malu bahkan rasanya ingin menyembunyikan wajahnya di balik kursi pelaminan tadi. Ia tak mengetahui siapa wanita tadi dan apa yang sedang wanita itu lakukan di pesta pernikahannya, dan juga sekumpulan wanita paruh baya yang juga melemparinya
dengan telur. Reni benar-benar tak tahu siapa yang coba mengacaukan pesta pernikahaannya itu.
“Pi, kita berdua sama-sama lelah, jadi sebaiknya bicarakan ini besok saja dengan kepala dingin.” Reni beranjak dari ruang kerja ayahnya dan keluar begitu saja.
“Kamu pikir wartawan bisa menunggu kita berpikir dengan kepala dingin? Mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan kita!”
Ia kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, ia memang melarang Reno untuk mengikutinya bertemu dengan sang ayah. Sedikit banyak Reni mengalami rasa bersalah karena sudah menyeret Reno dalam masalah pelik ini, sudah dua kali pria itu menjadi saksi dari kejadian memalukan yang Reni alami
Sebenarnya ini benar-benar di luar kehendak Reni, tentang kejadian di restoran dan juga hari ini. Ia tak mengetahui jika istri dari suami yang pernah ia dekati dulu mengetahui kebejatannya, walau itu sudah berakhir, sekali dua kali ia masih berkomunikasi tapi bukan untuk kembali menjalin hubungan. Hanya sekadar saling berbagi cerita antara dua orang dewasa saja. Kenapa wanita belakangan ini sangat sensitive?
“Apa yang di katakan ayahmu?” tanya Reno. Pria itu baru saja keluar dari kamarmandi.
Pernikahan keduanya ini, orang tuanya tak hadir, mereka memilih untuk kembali menetap di Malaysia untuk waktu yang entah sampai kapan. Mereka tak mendukung perceraian anaknya, apalagi dengan kesalahan yang di lakukan oleh putranya hingga menyakiti hati wanita sebaik Nabila. Apalagi yang bisa ia lakukan, bukan hanya kebencian dari mantan istrinya, tapi juga kebencian dari kedua orang tuanya.
“Bukan masalah besar, maaf melibatkanmu dalam masalahku.”
Reni kini berjalan masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. “Apa yang sebenarnya kamu lakuin selama ini? Berhubungan dengan suami orang? Merebut suami mereka? Kenapa kamu sangat berubah seperti ini?” tanya Reno.
Langkahnya terhenti. Reno benar. Entah apa yang menyebabkan perubahan drastis ini. Setidaknya dulu ia bukan wanita yang sangat mengerikan seperti ini, bergonta ganti pacar sudah menjadi hal wajar untuknya, tapi ia tak pernah menyentuh pria yang sudah di miliki orang lain. Ini benar-benar di luar kuasanya.
“Banyak, No. Kamu tahu, aku menikmati saat-saat yang kadang aku habiskan bersama pria yang sudah memiliki istri. Kamu bisa menganggapku murahan atau segala jenis hujatan yang kamu miliki, tapi mereka benar-benar memberiku sesuatu yang tak bisa kudapatkan dari pria lajang. Hanya bercerita dengan mereka saja sudah membuatku merasa di inginkan, mereka mendengarkan kisahku dengan baik dan kadang memberiku banyak nasihat. Jadi, itu bukan semata-mata hanya karena ****. Kami sama-sama menikmatinya.”
Reno menatap sahabat yang saat ini sudah menjadi istrinya, memang ada yang salah dengan wanita di hadapannya ini. “Tapi itu tetap salah, kamu gak pernah mikirin gimana perasaan istri mereka?”
Reni tertawa sumbang. “Kamu sendiri gimana? Apa yang kamu pikirin waktu tidur sama aku? Apa Nabila pernah terlintas di kepala kamu? Kita semua gak akan bisa berpikir jernih jika sudah berada di puncak kenikmatan.”
**
__ADS_1
Awalnya Nabila berpikir jika ia mungkin akan sedikit terbebani ketika menghadiri acara resepsi Reno dan selingkuhannya itu, tapi, hal itu sama sekali tak terjadi padanya. Ia tak menyangka jika akan ada tragedi pelemparan telur seperti anak sekolah yang sedang mengerjai temn-temannya ketika ulang tahun. Lagipula siapa
yang memiliki ide seperti itu.
Acara itu segera di bubarkan begitu saja setelah di rasa sangat kacau, Nabila bahkan belum sempat menyalami kedua mempelai itu. Ia tak tahu apa boleh merasakan perasaan ini, tapi ia merasa sedikit terhibur dengan hal yang kemarin terjadi, apalagi ucapan singkat wanita tak di kenal di pesta itu.
Jika sudah seperti ini, Nabila benar-benar berpikir jika ada yang salah dengan Reni. Jika tidak, mana mungkin kejadian seperti ini bisa terjadi. Ia jadi merasa sedikit bersalah sudah menceraikan Reno begitu saja, bisa saja itu di lakukan karena Reni yang memang sudah biasa berhubungan pada lelaki yang sudah beristri. Mungkin seharusnya Nabila memberi kesempatan kedua pada Reno dan memperbaiki apa yang salah di antara mereka.
“Mbak, aku bener-bener baru pertama kali ngeliat pengantin di lemparin telor kayak kemarin.”
Juna, yang duduk di kursi berodanya membalikkan tubuhnya hanya untuk mengatakan itu pada Nabila. Letak meja kerja mereka tak jauh, tak di batasi oleh pintu ruangan juga, begitu pula dengan meja kerja karyawan lainnya, kecuali para petinggi majalah yang memang memiliki ruangan mereka sendiri.
“Kamu gak videoin kemarin? Lumayan buat di bikin viral itu,” jawab Nabila dengan senyum.
“Bukan jamannya lagi, deh, Mbak. Gak penting banget videoin kayak begituan.”
Nabila hanya ertawa saja dengan jawaban Juna itu. Pekerjaan mereka tak terlalu banyak, dan tadi Richard sudah menghubunginya jika ia akan menjemput Aidan dari sekolahnya. Mungkin Nabila benar-benar harus mempertimbangkan pria itu untuk menjadi supir tetap, agar ibunya juga tak perlu menggunakan taksi jika harus
keluar untuk menjemput Aidan.
“Mbak, boleh nanya, gak?” tanya Juna.
“Kerjaan kamu udah selesai?”
Ini hal yang sangat sensitif untuk Nabila, jika pekerjaan yang ada belum selesai, maka ia benar-benar tak akan meladeni candaan Juna. Dalam bekerja memang sekali-kali di butuhkan pengalih agar tak terlalu fokus dan juga tegang atau akan berujung stres.
“Mau aku kirim ke email sekarang biar bisa Mbak periksa?”
Nabila hanya memberikan senyum pada Juna, dan Juna seolah sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Tak butuh waktu lama untuk mengirim pekerjaannya pada sang atasan, lalu ia kembali membalikkan kursinya dan sedikit mendekat pada meja kerja Nabila. Karyawan lain mungkin akan mengira mereka sedang mendiskusikan
sesuatu, kalau saja mereka tak mendekat.
“Pria yang sering Mbak telpon terus ngomongin soal anak, itu siapa, Mbak?” bisik Juna.
Ini benar-benar pertanyaan yang di ajukan oleh Juna? Nabila hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Sebanyak apa yang di perhatikan Juna hingga ia bisa hapal detail seperti itu. Ya, maksudnya jika tak di perhatikan secara serius, tak akan ada yang tahu siapa yang sedang di hubungi Nabila. Untuk apa juga mereka melakukan itu? Nabila saja tak peduli pada kehidupan pribadi rekan kerjanya yang lain.
“Aku pikir kita tak membicarakan masalah pribadi di kantor.”
Juna tahu itu sebenarnya, ia hanya mencoba peruntungannya saja. Jika ia bernasib baik, maka ia bisa tahu siapa pria yang sangat terdengar akrab bersama Nabila walau hanya melalui telepon itu. Yang Juna tahu, Nabila sudah bercerai dan memiliki dua anak yang ia urus. Tak mungkin jika pengasuh terdengar akrab itu, kan?
“Gimana kalau makan malam? Steak and co.?” tawar Juna.
“Hanya untuk pertanyaan seperti itu?”
“Untuk mengenal Mbak lebih jauh mungkin, aku juga punya janji sama Mbak kemarin, kan?”
**
__ADS_1