Playboy

Playboy
Bonus Chapter : Sweet Lies


__ADS_3

Menurut kalian konflik Lili cukup gak sih? tadinya aku mau bikin yang lebih nyiksa lagi, tapi kok gak tega gitu ya^^



Aku tak menutupi apa yang sedang terjadi pada perasaanku, setelah pertengkaran kami malam itu, aku mendiamkan Dimitri. Aku tak menyiapkan sarapannya, tak mengantarnya ketika akan berangkat ke kantor, bahkan tak tersenyum padanya. Untuk kesekian kalinya, aku tak bisa memaafkan kebohongan lagi, dan lagi Dimitri memilih diam ketika aku menginginkan kejelasan dari semuanya. Agar masalah ini tak berlarut-larut.


“Masalah kamu sama Dimitri belum selesai?” tanya Nabila.


Nabia tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu rumahku membawakan berbagai makanan serta camilan, dan juga buah-buahan. Aku bahkan tak memintanya untuk datang, hanya memberitahunya kalau aku sudah keluar dari rumah sakit.


“Dimitri yang nyuruh kamu kesini?” tanyaku curiga.


“Bukan berarti aku ngebelain Dimitri, dia cuman bilang aku harus nemenin kamu, karena kamu lagi proses pemulihan. Dia takut kamu bosen di rumah sendirian.” Nabila sedikit merasa tak enak ketika mengatakannya.


Aku tak masalah dengan hubungan dekat antara Dimitri dan juga Nabila, hanya saja aku sedikit terganggu ketika Nabila lebih berpihak pada Dimitri. Kami kenal lebih lama di banding Nabila mengenal Dimitri, tentu saja aku


mempermasalahkannya, dan lagi hanya Nabila satu-satunya yang mengetahui semua kisahku.


“Dimitri cerita apa aja?” tanyaku.


“Dia gak cerita apapun, cuman minta aku datang ke sini.”


Aku menganggukkan kepalaku. “Kalau Dimitri nelpon kamu lagi dan minta kamu datang ke sini, kamu bisa nelpon aku dulu. Kadang aku juga butuh waktuku sendirian.”


Kami duduk di ruang tengah dengan televisi yang menyala dan juga Nabila yang sedang mengupas buah. Pikiranku sama sekali tak tertuju pada acara yang sedang di tayangkan di layar datar itu, pikiranku kembali memikirkan semua perbincangan yang penuh emosi itu.


“Dimitri masih gak mau ngomong soal wanita itu?”


Lamunanku buyar, dan aku menatap Nabila. Cukup lama karena kami hanya saling menatap, aku mencoba mencerna apa yang baru saja di tanyakan oleh Nabila, dan Nabila yang hanya menatap ketidaktahuanku.


“Ah, wanita itu. Dimitri bilang kalau hubungan mereka hanya profesionalitas…”


Aku memberikan senyum terpaksaku pada Nabila. “Tapi, aku tahu masih ada yang belum lengkap dari semua ucapan Dimitri itu.” Aku menundukkan kepalaku.


Tonjolan di perutku yang mulai terbentuk ini selalu meanrik perhatian dari pandanganku. Karena janin ini yang menguatkanku, tapi aku selalu tak bisa menjaganya dengan baik. Bahkan aku membahayakannya.


“Kamu baik-baik aja?”


“Aku harus baik-baik aja, kan kamu sendiri yang bilang buat prioritasin bayiku dulu di banding yang lain,” ucapku masih mencoba untuk tersenyum.


“Iya, sih, lagian keterlaluan banget itu Dimitri. Kenapa dia gak ngomong aja semuanya biar jelas? Segitu susahnya buat dia ngomong? Dia gak inget apa gimana frustrasinya kamu tinggalin sampe mohon-mohon sama aku, sekarang dia giniin kamu?!”


Aku tak bisa berkata apapun ketika Nabila menumpahkan kekesalannya. Ya, aku tahu dia sangat jago untuk masalah yang satu ini, tapi di lain sisi juga sangat menghiburku. “Kamu juga, kan, dulu yang belain Dimitri waktu aku ragu tentang lamarannya. Kamu bilang dia udah berubah, tapi nyatanya dia masih kayak gini,” ucapku tak mau kalah.


“Soal itu…,” Nabila terlihat berpikir sebelum melanjutkan kalimatnya. “…Aku sendiri gak tahu dia kayak gini, tapi dulu dia benar-benar berubah. Dia bahkan nolak semua ajakan Kevin ke klub langganan mereka, jadi aku percaya.”


Aku mencoba menahan tawaku mendengar kalimat Nabila. Kepolosannya sangat berbanding terbalik dengan semua kecerewetannya. “Kamu mau aku datengin Dimitri sekarang? Aku bisa hajar dia dan buat dia ngaku.”


Dan tawaku pecah begitu saja. Mungkin jika aku memilih untuk menyendiri saja tadi, aku tak akan tertawa lepas seperti ini. Setidaknya, dari semua kebohongan yang di ucapkan Dimitri, ia masih memikirkanku sedikit. Walau itu tak bisa membuatku langsung memaafkannya.


“Apa aku harus dateng ke rumah kamu terus biar kamu bisa ketawa?”


Aku menghentikan tawaku. “Kalau kamu bisa kenapa enggak?”


“Yang aku maksud dengan kamu proritaskan bayi kamu, itu termasuk kebahagiaan kamu. Kamu gak bisa fokus dengan kehamilan kamu kalau untuk bahagia aja kamu gak bisa. Keadaan kamu itu juga penting untuk pertumbuhan bayi kamu di dalam sana,” ucap Nabila serius.


“Aku lagi berusaha, bukan keinginanku juga mau seperti ini,” ucapku lirih.


Nabila menyerahkan piring berisi apel yang baru saja ia kupas. “Bahagia, dan makan sehat. Selain itu kamu harus hindari semuanya, ingat saat-saat bahagia kamu aja.”


“Apa aku bisa ngelakuin itu?”

__ADS_1


**


Rumah sakit kali ini cukup ramai, beberapa wanita yang juga sedang hamil bersama dengan suaminya sedang menunggu antrian sepertiku. Ini jadwal rutin untukku mengecek kehamilanku, menurut buku harian yang di berikan dokter khusus untuk Ibu hamil, ini adalah bulan keempatku. Dan selama itu aku bertahan dengan semua sikap diam Dimitri.


Jangan tanyakan di mana keberadaan Dimitri, karena kami masih perang dingin. Rumah sudah sangat tak nyaman untukku, aku hanya mencoba menyamankan diri saja. Padahal dalam beberapa bulan saja, kami akan merayakan ulang tahun pertama pernikahan kami. Tapi, kurasa itu tak akan terjadi. Bagaimana jika tiba-tiba sebelum hari itu tiba, aku sudah menagjukan gugatan cerai?


“Ibu Liliana.”


Aku segera berdiri ketika perawat sudah memanggil namaku. Jika di pikir-pikir, Dimitri hanya sekali menemaniku memeriksakan kehamilan, ketika usia kehamilanku delapan minggu sebelum kami berlibur ke rumah orang tuaku. Ketika usia kehamilanku memasuki dua belas minggu, aku memang sudah berada di rumah sakit, dan ini tepat satu bulan setelah aku di rawat dan perang dingin kami.


“Selamat siang Ibu Liliana, hanya sendiri?” tanya dokter wanita di hadapanku dengan ramah.


“Ah, dia bilang akan terlambat, jadi saya terlebih dulu kemari.”


Dokter wanita itu hanya tersenyum sebelum memulai memeriksaku. Aku sangat berharap Dimitri ada di sini menemaniku, sangat menyenangkan ketika kami berdua tersenyum menatap bayi kami dari hasil USG. Aku masih sangat ingat senyum Dimitri ketika pertama kali menatap hasil USG dari bulan pertama, walau itu hanya berupa titik kecil.


“Detak jantung bayi normal, dan untuk saat ini semuanya baik-baik saja. Perbanyak makan sayur-sayuran untuk memberi nutrisi sang bayi. Bulan depan mungkin kita bisa melihat jenis kelamin sang bayi. Dan jangan terlalu lelah.”


Setelah selesai, aku segera berpamitan keluar. Mataku sangat memanas ketika melihat gambar bayiku di monitor tadi. Dia tumbuh dengan sangat baik, walaupun kadang aku melakukan banyak hal buruk padanya. Aku mengelus perutku yang sudah mulai membesar, andai saja ada Dimitri di sini seperti wanita-wanita hamil lainnya.


Aku mengangkat kepalaku, dan mencoba tersenyum. Aku tak boleh berlarut-larut seperti ini, aku harus ingat betapa pentingnya nyawa di tubuhku ini. Duniaku nanti akan berpusat padanya, semua kebahagiaanku akan ada padanya, jadi aku tak boleh berlarut-larut dengan kesedihan ini.


Aku mencari Pak Rizal yang mungkin menungguku di kursi di dekat taman di dekat tempat parkir, tapi tak melihat jejaknya sama sekali. Mobilnya juga tak terlihat di manapun. Apa aku baru saja di tinggal? Aku mengecek ponselku, siapa tahu Pak Rizal mengirimiku pesan. Tapi tak ada satupun.


“Nyari Pak Rizal?”


Richard berdiri di belakangku dengan senyum manisnya. “Kamu ngapain di sini?” tanyaku penasaran.


“Nungguin kamu.”


Aku mengerutkan kening menatap Richard. Kupikir dia sudah kembali ke Singapor, karena memang dia tinggal di sana, kan? Lalu bagaimana dia juga bisa tahu aku di sini.


Dan kenapa juga dia datang ke rumahku? Richard memang sudah berbaikan dengan Dimitri, tapi datang ke rumah kami untuk menemuiku. Ini sama saja dengan mengundang pertengkaran lain di antara mereka.


“Aku ke rumah kamu untuk ketemu Dimitri, kami terlibat kerja sama. Jadi, kupikir dia ada di rumah tapi dia ada di kantornya—“


“Jadi kenapa kamu malah di sini?” potongku.


Bukan aku tak menyukai kehadiran Richard, hanya saja terlihat sangat aneh melihatnya di sini dan sepertinya ia juga memang sengaja ada di sini.


“Aku juga dokter di sini dulu, karena aku tahu kamu di sini, jadi aku sekalian mampir ke sini sebelum ketemu sama Dimitri.”


Aku tahu kalau Richard sedang berbohong padaku, walaupun dia sangat alami karena mampu mengontrol reaksi wajahnya. Sayangnya aku sudah sangat ahli dengan kebohongan orang lain, jadi yang satu ini sangat mudah tertebak.


“Kamu mau aku anter pulang?” tawar Richard.


“Aku naik taksi aja.”


“Aku maksa, Li.” Walaupun di ucapkan dengan tegas, masih ada senyum jahil yang terbit di wajah Richard.


Aku menatap Richard yang masih menebarkan senyumnya. “Kamu sengaja ada di sini, kan?” tanyaku ketus.


Richard memberikan cengiran tak bersalahnya. “Anggap aja aku kangen banget sama kamu, makanya aku nyari kamu sampe di sini.”


**


Richard membawaku ke sebuah restoran bintang lima, yang tak perlu lagi kusebutkan betapa mewahnya tempat ini. Aku tahu kalau Richard bisa saja adalah suruhan Dimitri, aku hanya tahu saja. Belakangan ini banyak orang yang mendatangiku, atas perintah Dimitri tentu saja. Dari kiriman makanan, bunga, bahkan pernah seorang wanita dari spa mendatangiku untuk memijatku tentu saja.


Terharu? Tentu saja. Hanya saja akan lebih baik jika dia yang mendatangiku sendiri. Aku tahu kami sedang bertengkar, tapi jika ia bisa mendatangiku dengan penjelasan miliknya, aku dengan senang hati akan memaafkannya. Aku tak pernah tahu Dimitri yang sepengecut ini, dia buka tipe pria yang seperti ini.


“Dimitri yang minta kamu nemuin aku?” tanyaku ketus.

__ADS_1


Richard menatapku bingung. Kuakui aktingnya cukup bagus, bahkan mampu membuatku menerka-nerka apakah ia jujur atau bohong. “Jadi itu yang bikin kamu ketus dari tadi?” tanyanya.


Aku mengedikkan bahuku. Bisa saja Richard sudah mengetahui masalahku dan juga Dimitri. Jika sampai sekarang Richard masih di sini sampai sekarang, itu artinya mereka sudah bertemu.


“Aku datang kesini karena memang ingin, bukan karena Dimitri. Dia bisa marah besar kalau tahu kita pergi berdua.”


Tapi, sayangnya aku tak percaya pada ucapan Richard barusan. Mungkin karena terlalu banyak mendapatkan kebohongan, bahkan jika Richard memang mengatakan yang sebenarnya, aku tak akan semudah itu untuk percaya. Aku tahu sikapku ini berlebihan, tapi memang seperti ini yang sedang terjadi padaku.


Aku tak akan mempermasalahkan ini lebih panjang, anggap saja ku sudah percaya padanya. Lagipula memang bisa saja Richard mengatakan yang sebenarnya, aku saja yang terlalu sensitif dengan masalah ini. Hal bagus juga karena aku bisa bertemu Richard, aku tak perlu menangisi Dimitri.


“Anggap aja aku percaya,” ucapku singkat.


“Ternyata bener, ya, kalau wanita hamil itu kecantikannya semakin bertambah. Soalnya kalau di liat-liat kamu memang tambah cantik dari terakhir kali kita ketemu.”


Seketika aku tersedak mendengar kalimatnya. Benarkah ini Richard yang di hadapanku? Kenapa dia bisa menjadi sangat picisan seperti ini?


“Kamu gak salah ngomongin itu buat aku?”


Richard hanya tersenyum manis. Apapun yang terjadi, Richard akan terlihat sangat manis, bahkan ketika ia cemberut. “Itu memang kenyataan, Lili.”


Aku hanya tertawa kecil menanggapinya. “Mungkin udah saatnya kamu menikah, harus ada wanita di samping kamu supaya kamu gak gombalin semua wanita.”


“Wanita yang mau kunikahi justru menikah dengan sahabatku, padahal dia adalah wanita tercantik yang pernah aku temui.”


Siapa wanita yang tidak suka di puji? Aku juga sangat menyukainya, walaupun lebih sering menyangkalnya. Jika di depan Nabila, aku akan sangat senang mengiyakannya. Jadi, aku akan menyimpan pujian itu di dalam hati saja.


“Kalau tujuan kamu ke sini untuk bikin aku ketawa lagi, kamu berhasil,” ucapku. Aku berusaha menyembunyikan senyumku walau gagal.


Richard juga tersenyum. Makanan yang kami pesan baru saja tiba, dan aku di suguhkan dengan berbagai macam makanan yang memenuhi meja. Ada salmon, sayur-sayuran, kue-kue kecil, pencuci mulut, bahkan stik daging.


“Ada orang yang bakal datang ke sini?” tanyaku ngeri.


“Ini buat kita aja, kamu harus makan yang banyak. Aku gak mau keponakanku kekurangan gizi, kamu ini terlalu kurus untuk ukuran wanita yang hamil enam belas minggu.”


“Tapi ini banyak banget.”


“Udah ayo makan aja, bayi kamu pasti kelaperan karena kamu kebanyakan curiga.”


Aku selalu menghargai mereka yang belakangan ini selalu ada untukku, walaupun tentu saja dengan campur tangan Dimitri. Aku tetap merindukan pria di balik semua ini walaupun dengan semua sikapnya selama ini. Jika dia memang sepeduli itu padaku, kenapa tak datang langsung padaku? Kenapa harus membawa orang lain?


Bagianku dalam hubungan rumah tangga ini sudah kulakukan. Aku mencoba berbicara padanya, aku mencoba menyelesaikan masalah kami yang berlarut-larut ini agar tak ada yang perlu tersiksa seperti ini.


“Salmon baik buat kesehatan kamu dan juga bayi kamu.” Richard memberikan potongan salmon padaku. mungkin karena dia melihatku melamun alih-alih makan.


“Aku memang ke sini karena Dimtri, tapi setelah ngeliat kamu tujuanku mulai berbeda lagi.”


“Kamu mau gombalin aku lagi?” tanyaku.


Benar, kan? Semua ini ada campur tangan Dimitri. Aku tersenyum miris. “Sampai kapan dia mau kayak gini?”


Richard terlihat gelagapan ketika aku menanyakan hal ini. “Aku cuman mau kamu terlihat lebih bahagia. Kenapa kamu gak coba kasih waktu untuk Dimitri. Aku yakin dia akan bilang semuanya sama kamu, kamu istrinya.”


Aku mengabaikan kalimat Richard dan mulai menyantap makanan di hadapanku. Aku selalu melupakan waktu makanku hanya untuk memikirkan banyak hal. Jika tanpa Bibi di rumah, dan Mbak Tari, aku mungkin akan melupakan jam makanku. Aku selalu memikirkan di mana salahku sebagai istri, atau mungkin ada hal yang membuat Dimitri enggan mengatakan semuanya. Itu semua yang kupikirkan selama ini.


“Ini sudah satu bulan, dan dia tetap diam. Menurutmu harus berapa lama lagi? Apa satu tahun?”


“Kamu mungkin sudah mengetahui semuanya,” lanjutku.


Richard diam, tak tahu harus mengatakan kalimat apalagi. Aku juga tak menyalahkan diamnya itu, suasana ini sangat canggung untuk kami. “Lain kali kamu bisa nemuin aku tanpa perlu perintah Dimitri, aku lebih suka kita ketemu sebagai teman, sekarang kamu menemuiku sebagai sahabat Dimitri.”


**

__ADS_1


__ADS_2