Playboy

Playboy
#2# Take 41


__ADS_3

Hai, maaf ya atas keterlambatannya. Seminggu ya? semoga masih ada yangg nungguin ya. Semoga juga kalian masih bisa sabar dan maklum ya, karena aku gak sepenuhnya nulis juga, jadi aku gak sesering itu juga buat nulis. Tapi aku selalu usahain buat update.


Happy reading^^



Enzo sudah menduga jika ini akan terjadi, ketika sang ayah ingin menemuinya tanpa memberi alasan terlebih dahulu. Sudah pasti ini menyangkut gosip yang sudah menyebar ke seluruh penjuru kota tentang dirinya dan juga wanita misterius itu. Selama ia menjalani hidupnya sebagai pengusaha muda, ayahnya tak pernah mencampuri pekerjaannya, pria yang lebih tua darinya itu hanya akan merecokinya perihal kekasih dan wanita mana yang harus


di nikahinya, serta harus di pastikan jika wanita itu akan memberikan keuntungan dalam bentuk yang terlihat.


Hal yang sudah mutlak terjadi di hidup Enzo yang sudah menjadi sangat tak berwarna itu, sampai muncul wanita asing bernama Elle yang berani-beraninya masuk ke dalam hidupnya secara perlahan. Ketika ia sudah menetapkan hatinya, kenapa harus sesulit ini untuk menggapai wanita itu? Belum pernah Enzo menemui wanita sesulit ini, Cecilia dulu juga keras kepala, hanya saja Elle berada di tahap yang sudah sangat luar biasa.


Sepertinya sangat sulit untuk mengingat Elle tanpa harus membawa Cecilia ke dalam pikirannya. Waktu yang sudah lama seperti ini pun belum mampu menghapus kenangannya tentang wanita itu. Kenangan mereka


terlalu dalam dan terlalu menyakitkan untuk di lupakan begitu saja, dan Enzo juga tak bisa melakukannya.


“Ada apa ayah ingin menemuiku?” tanya Enzo.


Dengan kedok makan malam bersama, Gioto berhasil menyeret kembali putranya untuk pulang ke rumah—interogasi tepatnya—karena memang Enzo sangat jarang mengunjungi rumah kedua orang tuanya itu jika tak di


hubungi oleh sang ibu.


Alasannya hanya satu, dan sejak dulu tak pernah berubah. Sang ayah akan kembali merecokinya dengan seluruh prinsip yang ia miliki, bahwa harus ada wanita di samping Enzo yang akan semakin menyukseskan kariernya menjadi pengusaha muda. Padahal jika di pikir-pikir lagi, sejak dulu juga sudah sangat sukses tanpa kekasih di sampingnya.


“Gosip itu benar?” Gioto menatap tajam putranya yang duduk dengan malas-malasan di sofa ruang kerjanya.


“Ayah bisa menelponku, tanpa harus memintaku untuk datang,” gerutu Enzo.


Hubungan keduanya sudah sedikit membaik, walau perdebatan satu atau dua kali selalu tak terhindari. Jangan tanya lagi apa yang di perdebatkan, itulah alasan Enzo jarang berkunjung, karena berbicara dengan ayahnya tak akan cukup hanya dengan satu atau dua jam. Pada akhirnya mereka akan melewati malam, dan Carra akan datang untuk memarahi keduanya.


“Rasanya akan lain ketika kau yang mengatakannya langsung. Jadi apa hubungan kalian?”


“Jika kukatakan ya, apa ayah akan berhenti merecokiku dengan semua perjodohan yang ayah buat itu?”


“Berarti jawabannya adalah ya. Apa kau menyukai wanita ini?”


Ini seperti bukan ayahnya. Prabowo Gioto tak akan dengan mudah menanyakan hal tersebut dalam keadaan santai seperti ini, pasti ada sesuatu yang tak menyenangkan. Seharusnya, ayahnya itu mengomelinya dan mulai memberinya nasihat panjang, lalu baru menanyakan pertanyaan tersebut.


“Ayah tak salah menanyakan pertanyaan itu? Karena rasanya sangat janggal sekarang.”


Gioto menyeringai dari balik meja kerjanya. Ternyata sang putra sangat mengerti dirinya, ia tak akan semudah itu untuk merestui berita apapun tentang putra satu-satunya. Apalagi dengan wanita tanpa asal usul yang jelas. Hanya satu yang selalu ia pikirkan, keuntungan untuk keluarganya.


“Kalau begitu, apa ia alasanmu menolak wanita yang sering ayah jodohkan?”


“Kalau sudah tahu jawabannya, kenapa harus menanyakan padaku lagi? Untuk kali ini, aku akan menolak siapapun yang ayah jodohkan padaku. Lagipula, aku bisa mendapatkan keuntungan dengan caraku sendiri.”


Ya, itu memang benar. Selama ini Enzo sudah mengabdikan dirinya untuk beberapa perusahaan milik mereka yang memang berdiri dengan sukses, semua atas kerja keras serta tangan dingin Enzo. Gioto sangat mengakuinya, hanya saja ada beberapa hal yang ingin ia capai, untuk menyempurnakan apa yang sudah ia miliki, Enzo termasuk di dalamnya dan impian memiliki menantu dari keluarga yang juga utuh dan memiliki nama di dunia pengusaha.


“Apa kau masih memikirkan kematian Cecilia?”


“Aku sudah melupakan dia lebih lama dari yang bisa ayah pikirkan, jadi tak perlu khawatir. Cecilia dan Elle adalah dua wanita yang sangat berbeda, jangan bandingkan mereka.”


Pada dasarnya, Enzo belum sepenuhnya melupakan Cecilia. Wanita itu masih selalu masuk dalam pikirannya beberapa kali, dan Elle kadang membuatnya mengingat Cecilia secara tak sengaja. Tapi, perasaan yang ia

__ADS_1


maksud kemarin adalah perasaan tulus untuk Elle, Cecilia tak pernah turut andil dalam urusan perasaan itu.


“Kuharap kau jujur mengatakan itu. Tak ada yang salah dengan wanita yang kau sebut Elle ini, tapi kuharap kau juga tahu jika wanita ini memiliki hubungan dengan Brian Dennis Park, pria yang kau ajak berinvestasi itu.”


Senyum misterius terbit di bibir Enzo, dalam kurun waktu tujuh atau delapan tahun, mungkin ini adalah nasihat pertama yang di berikan oleh sang ayah. “Ayah tak berpikir kalau aku tak mengetahui semua itu, kan?”


Gioto mengangkat bahunya. Putranya sudah sangat dewasa, dan ia pun juga semakin bertambah tua. Yang ia inginkan untuk kehidupan masa tuanya hanya ketenangan. Kalian tak percaya itu? Maka dari sekarang kalian harus belajar untuk memahaminya.


“Kuharap wanita ini tak membuatmu hilang arah lagi, karena aku dan ibumu hanya memilikimu saja.”


**


“Menurutmu, MbakNabila sama Juna punya hubungan apa? Aku gak yakin mereka hanya sekadar rekan kerja.”


“Aku juga sering banget ngeliat mereka makan malam bareng abis pulang kantor, mana sering lembur bareng, kan?” si wanita dengan potongan rambut bob menimpali.


“Dan dari semua hal itu, gak mungkin kalau Juna yang dengan sukarela ngelakuin semua itu. Pasti Mbak Nabila yang godain si Juna, tahu sendiri gimana janda zaman sekarang, mereka lebih gak tahu malu.” Wanita dengan lipstik merah dan rambut yang tergerai indah juga ikut masuk kedalam obrolan kedua temannya itu.


“Berarti kamu harus kencengin usaha kamu, Lin. Masa kamu kalah sama janda.”


“Tenang aja, aku udah banyak rencana untuk narik perhatian Juna, kalian tunggu aja. Arlina gak bakal nyerah hanya karena satu rintangan aja.”


“Kamu belum tidur, Bil?”


Lamunan Nabila seketika buyar karena tepukan lembut di bahunya itu. Ia baru saja menidurkan Aidan dan juga Alya, jam baru saja merangkak menuju angka sepuluh. Masih terlalu awal untuknya menjemput alam mimpi, dan ia juga tak bisa tidur. Pengakuan Juna tempo hari berhasil menyita pikirannya, di tambah dengan kalimat yang ia dengar di toilet wanita berminggu-minggu sebelumnya.


Itu bukan pertama kalinya, tapi setelah beberapa kali mendengarkan kalimat seperti itu yang keluar dari mulut  rekan kerja dari divisi yang berbeda, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit. Ia juga masih memiliki hati dan pikiran untuk menentukan apa pilihannya.


“Belum ngantuk, Mama belum tidur?”


Nabila melepaskan kacamata yang ia kenakan. Karena masih terlalu awal untuk tidur, menyelesaikan pekerjaannya adalah jalan terbaik. Mungkin hanya untuk sekedar penenang atau pereda beban pikiran yang selama ini menggelayuti kepala cantiknya itu. Semua itu sudah di mulai sejak ia mengetahui perselingkuhan Reno hingga saat ini.


“Baru aja tidur, Ma. Mama gak istirahat? Pasti capek ngurusin Aidan sama Alya seharian ini, kan?” ucap Nabila dengan senyum lembutnya.


“Mama seneng ngurusin mereka, masa tua mama jadi lebih berwarna karena mereka. Semua capek itu terbayarkan dengan melihat senyum mereka.”


Senyum Nabila terkembang. Ia menganggukkan kepalanya tanpa ragu, rasa lelahnya seketika hilang ketika mendapati kedua anaknya tersenyum menyambut kepulangannya. Obat yang tak akan di dapatkan dimanapun.


“Kamu lagi ada masalah?” tanya sang mama.


“Nabila bahkan sampai lupa, kapan tepatnya hidup Nabila terbebas dari masalah,” jawab Nabila dengan senyum tipis. Sudah terlalu banyak yang ia lalui, hingga ia kebal menghadapinya.


“Apa ini masalah pria?”


“Lebih tepatnya berondong.”


Mama menepukkan kedua tangannya dengan antusias, melihat dari raut wajah murung putrinya sejak tadi, ia sudah menduga bahwa masalah kali ini sangat spesial. Karena jika menyangkut pekerjaan, Nabila akan sangat berisik dan uring-uringan.


“Kalau mama seusiamu, pasti akan mama terima pria ini.”


“Walaupun dalam status janda?”


Tatapan keduanya bertemu cukup lama, tak perlu menjelaskan dua kali atau kali-kali lainnya, mama sudah mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan putrinya. Bukan rahasia umum lagi jika status janda memang memiliki stereotipe yang lebih eksklusif. Nabila tumbuh menjadi wanita yang baik dan juga mandiri walau ia anak tunggal, tak ada yang salah dalam didikannya, putrinya ini hanya salah ketika menerima pria.

__ADS_1


Permasalahannya bukan tentang cinta, walau itu yang juga di butuhkan oleh kedua sejoli. Ketika sudah berada di tahap pernikahan, maka ada dua keluarga yang di libatkan, ada komitmen di dalammya, kepercayaan yang juga sangat di butuhkan. Jika hanya butuh cinta, maka bisa segera mencari gadis-gadis remaja tanggung saja.


“Kalau kamu memang gak nyaman, kamu bisa dengan jujur melepas dia. Mama nggak mau kamu merasa terbebani lagi, lepaskan perasaan itu sebelum semuanya berkembang semakin dalam.”


Nabila ingin melakukan hal itu, ia ingin melepaskan sebelum semuanya menjadi semakin serius, ia tak ingin menjadi bahan gunjingan di kantornya, ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang bersama sang mama dan juga kedua anaknya, tapi juga masih ada kebimbangan di sana.


“Gimana kalau Nabila juga sudah terlanjur mencintai dia, Ma?”


**


Sudah sejauh ini ia sampai di Jerman, hingga memilih tempat liburan yang juga cukup jauh, rasanya masih ada yang tertinggal jika Richard tak mengunjungi kedua orang tua Kate. Sepertinya, berita jika keduanya sudah kembali bersama sudah tersebar lagi, dan tentu saja hal itu sampai hingga ke telinga calon mertuanya—nanti.


“Jadi, kalian sudah memutuskan tanggal yang bagus?” tanya Anthony—ayah Kate.


Tanpa memproses pertanyaan itu juga, Richard sudah mengerti tanggal apa yang di maksud ayah Kate. Tentu saja tanggal pernikahan. Spageti ayam jamur yang tengah ia kunyah hampir saja keluar lagi dari tenggorokannya dengan pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu. Bahkan, jika Richard ingin, ia bisa langsung mencari gereja terdekat dan segera melangsungkan upacara pernikahan.


“Ayah tak memiliki pertanyaan lain?” tanya Kate.


“Hanya itu hal penting yang ingin ayah ketahui, hubungan kalian sudah sangat cocok untuk melangkah ke tahap yang lebih serius. Ayah bahkan tak mengetahui kalau kalian sudah kembali bersama lagi.”


Ada alasan kenapa Kate melarang Richard untuk hadir di acara makan malam mereka ataupun pertemuan lainnya, karena pertanyaan seperti ini. Bayangkan jika dalam satu hari mereka memiliki janji makan siang hingga makan malam, hanya dalam beberapa jam dan mereka akan segera kehilangan nafas karena pertanyaan tentang pernikahan itu sendiri.


“Ah, itu …,”


“Tak perlu terburu-turu, Paman. Kami masih menikmati waktu berdua kami,” potong Richard. Ia menggenggam tangan Kate yang ada di bawah meja, tangan yang mendadak berkeringat dingin karena pertanyaan dari sang


ayah.


“Bahkan tiga tahun belum cukup untuk kalian saling mengenal? Dan kau juga masih memanggilku Paman, sudah berkali-kali kukatakan untuk memanggilku Ayah,” ucap Anthony tegas.


Richard tertawa kecil. Walaupun kalimat itu di ucapkan dengan tegas oleh Anthony, tapi ia tahu jika ayah Kate ini tak sungguh-sungguh memarahi mereka. Tapi melihat Kate yang sudah keringat dingin di sampingnya, memberinya sedikit hiburan.


“Baiklah, Ayah. Beri kami waktu lagi, bahkan tiga tahun berhasil membuat kami berpisah, kan? Kami hanya masih belum bisa menahan ego kami masing-masing.”


“Bukan tentang seberapa lama kalian saling mengenal atau memahami satu sama lain, setiap hubungan memiliki pasang surutnya sendiri, bahkan kami yang sudah puluhan tahun bersama juga masih mengalaminya. Jadi, jika kalian sudah merasa matang, tak masalah untuk sampai ke jenjang yang lebih serius.” Allison—ibu Kate—menimpali.


Wanita paruh baya itu sangat jarang berbicara, tapi sangat baik dan juga pengertian, ia bertutur kata lembut dan juga sopan, sangat bertolak belakang dengan Kate yang sama sekali tak menuruni sifat itu dari ibunya. Banyak orang yang berpikiran jika Kate bukan anak kandung keduanya, karena mereka memang sangat bertolak belakang


Meja makan itu mendadak hening setelah kalimat yang di ucapkan oleh Allison, sebesar itulah pengaruh Allison terhadap keluarga kecilnya. Ia benar-benar di takdirkan untuk meredam sikap dan tempramen suaminya yang kadang bisa melebihi batas itu, serta jangan lupakan Kate yang juga selalu melewati batas.


“Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tak lapar?” tanya Allison dengan polos, ada senyuman kecil di wajahnya.


“Bu, maaf jika aku lancang menanyakan ini, tapi aku benar-benar penasaran kenapa Kate sama sekali tak menuruni sifat Ibu?” tanya Richard.


Allison langsunng tertawa mendengar pertanyaan serius dari Richard, lihatlah wajah itu yang sama sekali tak menunjukkan raut jenaka, benar-benar pertanyaan yang serius.


“Apa itu yang membuatmu hingga kini enggan menikahi Kate?” tanya Anthony tak kalah serius.


“Richard, wanita yang kau bicarakan ada di sini,” balas Kate dengan kesal. “Apa pertanyaan seperti itu sangat penting untuk di tanyakan? Apa kamu akan memutuskanku lagi setelah tahu jika ternyata aku bukan anak kandung mereka? Hanya karena sikap yang berbeda? Sangat konyol.”


Tipikal Kate ketika sedang kesal dan merajuk, ia akan mengucapkan sesuatu dalam satu tarikan napas. Entah Richard yang sangat tak peka dengan keadaan atau ia hanya ingin melihat Kate dan seluruh rasa kesalnya, ia justru hanya mengangkat bahunya seolah tak peduli dengan Kate.


“Lebih tepatnya, aku ingin membuatmu kesal.” Richard tersenyum jenaka. “Lalu kamu tiba-tiba bisa berubah menjadi seperti ibumu yang anggun.”

__ADS_1


Kate menatap Richard yang sedang tertawa dengan puas dengan kesal. Anthony dan juga Allison hanya menyaksikan romansa itu dengan senyum tertahan. Melihat tatapan Richard terhadap Kate sudah mampu meyakinkan Anthony jika ia tak salah memilih pria untuk putrinya.


**


__ADS_2