
Nabila masih menjalani hidupnya seperti biasa, dengan gosip yang masih terus berputar di sekelilingnya. Pada dasarnya gosip memang sangat sulit untuk hilang, justru sangat mudah untuk tersebar dari mulut ke mulut. Menerima adalah bagian dari mencegah gosip semakin menyebar dengan tak terkendali.
Sebuah ide gila bahkan sudah menghiasi pikirannya, semua hal sudah terlanjur terjadi seperti ini, kenapa tak sekalian membuatnya semakin terekspos? Nabila ingin melihat bagaimana penyebar gosip ini justru semakin gigit jari karena rencana yang ia buat tak berhasil.
Salah satu yang tergila adalah menerima pernyataan cinta Juna, dan ada salah satu hal yang sudah sangat gila yang di lakukan oleh Nabila. Merealisasikan hal itu, menerima pernyataan cinta Juna.
Sudah satu minggu sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih yang sangat fenomenal di perusahaan. Keduanya bahkan tak menutupi lagi, dan Juna sangat bahagia karena hal itu, keinginannya terkabul.
"Kamu beneran, kan? Bukan karena mau balas dendam atau yang lainnya?" tanya Liliana dengan cemas.
Siapa yang tak akan cemas jika sahabatnya ini baru saja menggali lubang kuburnya sendiri dan secara sadar melakukan hal yang tak pernah ingin ia lakukan bahkan setelah sahabatnya yang lain membujuknya.
"Tenang aja, Li. Kok jadi kamu yang khawatir gini?"
"Ya iya lah! Kemana aja kamu dari kemaren, baru sekarang nerima Juna setelah masalah kamu makin parah. Kamu beneran cinta sama Juna apa gimana?" cerocos Liliana
__ADS_1
"Gilak ya kamu, makin nambah anak makin cerewet," seloroh Nabila.
Ya, Liliana akui ia memang berubah menjadi istri dan ibu yang cerewet untuk suami dan anaknya. Percayalah itu terjadi dengan sangat alami.
"Selama itu gak melanggar hak suami, istri, serta anak, kenapa nggak?" Liliana mengangkat bahunya acuh. "Eh, jangan ngalihin topik pembicaraan, ya."
Nabila tergelak. Liliana belum juga berubah sejak dulu, masih polos dan juga sangat ceria. Bahkan ketika terlibat hubungan teman tapi mesra dengan Dimitri dulu. Yah, jalan cerita orang lain berbeda-beda. Tuhan juga selalu memiliki cara dalam menyatukan setiap hambanya.
"Aku gak tahu, mungkin aku memang suka sama Juna, mungkin juga aku cuma kesel sama gosip yang gak ada abisnya itu. Kamu tahu sendiri gimana stresnya aku ngadepin gosip yang gak bermutu itu."
"Dia suka banget sama aku. Ini bukan bermaksud untuk aku biar kepedean atau gimana, tapi ya memang itu yang terjadi. Untuk sekarang, jalanin aja dulu, selebihnya bakal aku putusin tergantung dengan kondisi yang ada."
Nabila di kenal sebagai wanita yang memiliki perencanaan yang sangat bagus, dia tak akan bertindak kalau memang ia tak memiliki rencana yang matang. Tak apa jika akan memakan waktu lama, asal rencananya berjalan mulus. Sekarang semuanya sangat berbeda, kan?
"Apalagi yang bisa aku rencanakan? Bahkan bercerai gak pernah ada dalam rencanaku, tapi terjadi gitu aja, kan?" ucap Nabila.
__ADS_1
"Well, aku pernah ada di posisi itu. Ketika semua hal gak bisa berjalan sesuai yang kita inginkan. Aku bahkan selalu berpikir kalau bunuh diri mungkin bisa ngilangin permasalahan yang ada."
"Aku tau kalau bunuh diri bisa jadi satu-satunya pilihan, pilihan untuk para pengecut. Kamu punya pilihan buat menghadapi, tapi kamu justru menghindari. Aku bakal benci banget sama kamu kalau itu sampai kejadian."
Liliana tersenyum. "Tapi aku di sini, memilih buat menghadapi semua, ya, walaupun rasanya pait banget. Kalah deh, rasa kopi yang sering kamu minum itu."
"Tapi, kamu bahagia, kan, sekarang?" tanya Liliana tulus.
"Aku selalu berharap kalau aku bisa bahagia, Li."
Liliana menggenggam tangan Nabila erat, tak ada yang bisa ia lakukan selain menguatkan sahabatnya ini di tengah badai yang sedang menerpa. Nanti pasti ada pelangi yang akan menghias hidup Nabila, hanya saja butuh sedikit waktu lagi.
"Aku selalu mendukung pilihan kamu, asal itu untuk kebahagiaan kamu," ucap Liliana.
**
__ADS_1