
Hai, tim dimitri ayo merapat, ada hadiah dari dimitri nih ;)
“Bagaimana pekerjaan barumu?” tanya Katherine.
Ia dan Liliana memutuskan untuk bertemu, atas paksaan Katherine tentu saja. Dengan alasan kesepian dan tak memiliki teman lain, akhirnya Liliana menyetujui hal tersebut. Ini juga hari sabtu, dan hari liburnya, sore itu mereka bertemu di restoran yang tak jauh dari apartemen Liliana. Sepertinya itu akan menjadi restoran langganan Liliana, karena selain dekat, tempatnya juga nyaman. Elang sibuk sendiri di dalam kereta dorongnya di sertai dengan kumpulan mainan.
“Kau ingin aku menjawab seperti apa? Pekerjaan kantor selalu membosankan, kan?”
“Ya, aku setuju. Aku juga bosan, setiap hari hanya berkas-berkas yang kuhadapi di sertai dengan rapat-rapat yang sangat menjengkelkan. Hidupku benar-benar berubah total.”
Liliana tertawa mendengar nada putus asa yang keluar dari bibir Katherine, ia setuju dengan hal itu, tapi bagaimana lagi? Pekerjaan ini menjanjikan gaji yang lumayan. “Bukankah kau punya tunangan? Kalian pasti bisa membunuh waktu membosankan bersama,” ucap Liliana.
“Ah, aku hampir lupa, aku mengajaknya kemari. Aku sangat yakin kau akan terkejut melihatnya.”
“Kenapa kau selalu mengatakan hal yang sama? Apa dia setampan itu hingga aku harus terkejut?” tanya Liliana dengan geli.
Jika di pikir-pikir kembali, Katherine selalu mengatakan jika ia di pastikan akan sangat terkejut ketika melihat sang tunangan. Setiap pertemuan mereka, atau hanya obrolan di ponsel, hal itu tak pernah absen Katherine ucapkan. Atau kali ini, pria yang menjadi tunangan wanita ini tak terlalu tampan dan sangat tua? Seperti yang biasa terjadi dalam drama dan telenovela.
“Tunggu dan lihat saja,” jawab Katherine. “Oh ya, kudengar kau akan mengadakan acara ulang tahun untuk Elang?” tanya Katherine.
Katherine menjawil pipi Elang dengan gemas. Bayi yang satu ini sama sekali tak pernah terganggu dengan orang asing yang ingin mendekatinya, ia malah akan berteriak dengan gembira ketika orang lain mendekatinya. Seperti yang di lakukan Katherine saat ini.
“Ya, bukan perayaan meriah, hanya kecil-kecilan saja. Mengundang teman-teman kerjaku, lalu tetangga apartemen, dan kalian. Aku tak memiliki banyak kenalan di sini.”
Liliana mengamati Katherine yang asik bermain dengan Elang. Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin ia merasakan sakitnya melahirkan, berjuang sendirian mengurus Elang masih sangat awam untuknya, lalu sekarang, bayi mungil itu semakin bertumbuh besar. Liliana menikmati prosesnya, dan akan semakin terus menggali semua itu untuk menjadi Ibu yang luar biasa untuk Elang.
Walaupun awalnya sangat merepotkan, tapi lama kelamaan semuanya sudah menjadi kebiasaan, dan kini sudah menjadi rutinitas yang wajib. Jika mengingat semua kesakitan yang ia rasakan dulu, lalu di bandingkan dengan sekarang, ia merasa sudah melewati banyak rintangan dan semuanya berhasil ia lalui dengan baik.
“Kapan kau akan menikah kalau begitu? Bukankah lebih baik kalian cepat menikah?” tanya Liliana.
“Aku ragu bisa menikahinya, kau tahu, ia sangat mirip dengan pria yang sering memainkan wanita. Siapa yang menjamin aku bisa bahagia bersamanya?”
Ucapan Katherine itu seperti menyindir Liliana. Ia dulu juga berpikir seperti itu sebelum memutuskan untuk berhubungan dengan Dimitri, dan terbukti mereka sekarang berpisah. Oke, tak akan ada kalimat pengandaian di sini, memikirkan kata ‘seandainya’ saja sudah membuat Liliana mual. Semua itu hanya akan menambah rasa penyesalannya saja, walau faktanya ia juga sangat mencintai pria itu.
“Oh, dia sudah sampai,” ucap Katherine.
Arah pandang Liliana tertuju pada seseorang yang baru saja memasuki pintu restoran. Matanya membulat seketika, ini bukan orang yang salah, kan? Kenapa Richard bisa ada di tempat ini? Dan Liliana tak salah lihat, kan? Katherine tadi melambaikan tangan pada Richard.
“Richard? Kamu kok bisa ada di sini?” tanya Liliana setelah Richard sampai di meja mereka.
“Benar, kan? Kau pasti sangat terkejut melihatnya,” ucap Katherine.
“Kalian bertunangan? Bagaimana bisa?” cecar Liliana.
Richard tertawa saja melihat raut kaget dalam wajah Liliana. Mungkin Liliana tak mengingat ketika mereka sempat bertemu di pesta beberapa bulan yang lalu, tapi Richard sangat ingat karena mereka berpapasan. Kesimpulan Richard adalah, Liliana dan Katherine berteman, dan ternyata memang benar.
“Kamu menyesal karena menolakku dulu?” goda Richard.
Senyuman Katherine seketika pudar ketika Richard hanya menatap Liliana saja, sama sekali tak menyapanya yang jelas-jelas sedang duduk berdampingan saat ini. Oke, mereka berteman, tapi Katherine tak tahu dulu hubungan mereka seperti apa. Tapi, bukankah ini sangat berlebihan, ia tunangan Richard di sini.
__ADS_1
Liliana tertawa, pria ini masih seperti dulu, sangat suka bercanda dan juga menggodanya. “Jika aku menyesal, aku tak akan mempunyai anak sekarang.”
Pandangan Richard beralih pada Elang yang menatap ketiga orang dewasa itu dengan mata bulatnya. Richard juga menjawil pipi bulat itu dengan gemas, ia memiliki keponakan saat ini, andai saja kedua sahabatnya ini tak berpisah.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Richard.
Katherine benar-benar di abaikan, karena fokus Richard hanya pada Liliana, dan sesekali memperhatikan Elang. Ia tak mungkin sedang cemburu, kan? Toh, mereka datang dari Berlin ke Frankfurt bukan untuk liburan. Saat ini ia membenarkan semua pendapat yang ia pikirkan sejak tadi, jika Richard memang benar pemain wanita. Lagipula,
pertunangan mereka juga hanya di dasarkan pada bisnis, kan?
Pria ini benar-benar lihai memainkan perannya. Tak ada alasan untuk ia semakin mencintai pria ini.
**
Sebenarnya, Katherine tak memiliki alasan untuk cemburu dengan Liliana, wanita itu tak terlihat tertarik pada Richard. Mereka terlihat seperti teman lama, terlepas dari hubungan apa yang pernah mereka jalani dulu. Faktanya, Katherine hanya tak menyukai cara Richard yang dengan lembut menatap Liliana. Sementara ketika mereka sedang berdua, tatapan seperti itu sama sekali tak pernah Katherine dapatkan. Wajar, kan, jika ia cemburu?
Tunggu, ini tak wajar. Kenapa Katherine harus cemburu? Hubungan mereka tak sedekat itu, dan Richard pasti akan besar kepala jika tahu perasaan yang sedang ia rasakan saat ini. Inilah yang ia benci dari perjodohan, apalagi itu perjodohan bisnis. Tak ada cinta di dalamnya, hanya ada material di dalamnya. Ia ingin mendapatkan pria dengan cara normal, jatuh cinta, lalu bahagia hingga akhir.
Jika di pikir-pikir lagi, semua itu tak akan bisa ia dapatkan. Enzo juga sama seperti itu, perjodohan terus menerus datang dari sang Ayah. Mereka kolot atau bagaimana, sih? Apa ketika dulu mereka menikah juga berdasarkan bisnis? Sejauh yang ia tahu, kedua orang tuanya menikah karena memang saling mencintai, bukan atas dasar perjodohan.
“Kau akan mabuk malam ini?”
Tanpa perlu menoleh, Katherine sudah tahu siapa yang menanyakan hal itu. Sudah sangat jelas itu Richard, ia pasti bahagia sekali karena sudah bertemu Liliana. Harusnya ia tak perlu bersikeras mempertemukan keduanya jika akan berakhir seperti ini. Jika seperti ini, Katherine takut akan melihat Liliana dalam cara yang berbeda.
“Ya, dan sepertinya itu bukan urusanmu. Aku sudah dalam usia legal untuk mabuk,” jawab Katherine dengan ketus.
Richard memiringkan tubuhnya, lalu menopangkan telapak tangan pada dagunya, dan memperhatikan Katherine yang terlihat sangat menikmati minuman pahit itu. Sejak tadi, wanita ini tak banyak berbicara, dan sekarang ia ketus. Padahal tadi siang ia masih bisa melihat senyum tunangannya ini, mengerikan sekali perubahan mood seorang wanita.
“Menjadi urusanku karena kau adalah tunanganku.”
“Ah, aku sangat benci ketika pria sudah mengatakan hal seperti ini. Dengarkan aku, Richard. Tak semua wanita menyukai sifat berkuasa dan teritorial seperti itu, awalnya memang manis, pada akhirnya itu hanya kedok untuk hubungan lain,” ucap Katherine.
Ia belum mabuk. Ingat jika toleransinya pada alkohol sangat baik? Ya, memang seperti itu. Ia tak mungkin mengatakan hal penting dalam kondisi mabuk. Alkohol membantunya memberi keberanian untuk mengatakan semua itu, karena di kondisi yang biasanya, ia tak akan mengatakan semua ini.
“Kau sepertinya mabuk.” Richard mengeraskan ekspresinya, ia hanya tak menyukai ketika Katherine mengatakan semua kalimat itu. Tak ada candaan ataupun rasa gugup dalam kalimat itu.
Katherine tak menggubris ucapan Richard. Ia mengeluarkan beberapa lembar euro dari tas tangannya, dan
meletakkannya di meja begitu saja. Setelahnya ia bangkit dari duduknya, ia masih sangat sadar, mungkin ia akan kembali mabuk di kamar hotelnya. Tak menyenangkan jika ia kembali mabuk di hadapan pria ini.
Richard mencekal lengan Katherine. “Kembalilah ke hotelmu, aku sedang tak ada mood untuk meladenimu,” ucap Katherine. Cekalan tangan Richard terlepas begitu saja, dan Katherine segera beranjak dari klub itu.
**
Dimitri memutuskan untuk datang lagi ke Jerman, karena panggilan Liliana beberapa hari yang lalu. Ia tak menyangka akan mendapatkan panggilan itu, walaupun itu semua ada hubungannya dengan Elang. Di antara mereka saat ini, hanya Elang yang menjadi alasan mereka bertemu, serta alasan-alasan lain dalam pembahasan
mereka. Setidaknya Dimitri di libatkan dalam hal seperti ini.
Acara itu di adakan di apartemen Liliana, karena memang bukan perayaan besar. Hanya beberapa saja yang di undang, termasuk beberapa tetangga, dirinya, serta pria bernama Enzo. Apakah mereka sudah ada rencana menikah di masa depan?
Sepanjang acara, Liliana dan Enzo terlihat dekat, mereka bahkan tertawa bersama. Ada rasa sesak mengalir di sepanjang jantungnya, tapi di satu sisi ia juga merasa lega. Setidaknya ia bisa melihat senyum Liliana lagi, setelah banyaknya tangisan yang ia lihat dari wanita itu. Mungkin bahagia mereka bukan bersama.
__ADS_1
“Tinggallah lebih lama, kamu udah datang jauh-jauh ke sini,” ucap Liliana pada Dimitri.
Acara itu sudah berakhir sejak lima belas menit yang lalu, beberapa tetangga juga sudah pulang satu persatu. Hanya tersisa Liliana, Dimitri, dan juga Enzo. Situasi yang canggung, kan?
“Mungkin kamu harus ongkosin aku pulang, kamu milih negara yang jauh buat di tinggali.”
Liliana terdiam sesaat untuk mencerna kalimat Dimitri. Melihat hal itu, membuat Dimitri menjadi geli sendiri. “Garing banget, ya? Aku niat awalnya bercanda,” ucap Dimitri.
Liliana tersenyum simpul, ia berusaha untuk tak terlalu canggung di hadapan Dimitri. Perceraian mereka adalah satu hal, dan soal Elang juga satu hal lain yang harus di benahi mulai sekarang. Mereka tak bisa canggung satu sama lain, ketika menyangkut Elang setidaknya.
“Kamu mungkin harus ikut kelas ngelawak kalau ada waktu.”
“Seburuk itu?”
Liliana tersenyum geli melihat wajah serius Dimitri ketika bertanya. “Anak kamu bisa kabur kalau tahu Bapaknya selalu serius,” ucap Liliana. Tak sulit, kan? Hanya perlu di biasakan saja agar mereka bisa tetap seperti ini.
Dimitri juga tersenyum mendengar kalimat itu, ia tak percaya bisa tersenyum seperti ini setelah perceraian mereka. Ia ingin menyesal, tapi juga ingin bersyukur. Dua hal itu sangat bertolak belakang.
“Liliana, aku akan pulang sekarang,” ucap Enzo. Keduanya menoleh ke arah Enzo bersamaan yang sepertinya baru saja keluar dari kamar Elang. Pria itu bahkan sudah memasuki kamar anaknya, haruskah ia merasa marah?
“Ah, ya. Terima kasih sudah mau datang,” ucap Liliana.
Enzo tersenyum pada Liliana, lalu menatap Dimitri sekilas. Ia ingin berada lebih lama di rumah ini bersama Elang, dan juga Liliana, tapi tidak ketika ada mantan suami wanita yang ia sukai. Ia ingin melarang pria itu untuk datang atau bahkan menemui Liliana dan juga Elang, tapi ia tak memiliki hak tersebut. Enzo bahkan belum mengetahui penyebab perceraian keduanya, hubungan mereka belum sejauh itu, karena Liliana juga selalu memberi batasan tak kasat mata.
“Kamu yang memasak makanan untuk hari ini?” tanya Dimitri.
Sebenarnya ia ingin bertanya lebih jauh tentang pria itu pada Liliana, tapi urung. Ia ingin tahu apakah pria ini adalah yang terbaik untuk Liliana, ia ingin pria itu benar-benar mencintai dan menjaga Liliana, tak seperti dirinya. Hal-hal seperti itu masih di perbolehkan, kan?
“Ya, termasuk kue ulang tahunnya. Bagaimana rasanya?”
“Kamu benar-benar Ibu yang hebat, karena rasanya sangat enak, dan di antara semua kesibukanmu, kamu masih bisa melakukan semuanya sendirian.” Pujian itu tulus dari hati Dimitri, bukan untuk sindiran atau segala hal lainnya. Ia selalu tahu jika Liliana akan menjadi wanita yang hebat, dan juga Ibu yang hebat.
Liliana tersenyum, ucapan Dimitri membuat hatinya menghangat. Tapi agak aneh karena mendengarnya dari mantan suaminya langsung. Ia tak bisa melupakan status mereka begitu saja. Di awali dengan persahabatan, lalu menghadapi berbagai masalah sebelum benar-benar bersama, bahkan setelah mereka bersama, permasalahan tak
pernah berhenti datang hingga kini mereka berpisah kembali dan menjadi dua orang yang tak memiliki hubungan apapun.
Tapi, bagaimana menyebut hubungan mereka? Mantan suami dan istri, kenapa terdengar cukup menyakitkan?
“Bagaimana kabarmu?” tanya Liliana.
“Kamu sendiri?”
Ada senyum kecil yang tersungging di bibir Liliana. Berbincang hanya berdua seperti ini, membuat memori masa lalu kembali bangkit lagi. Ketika mereka masih sama-sama menjadi mahasiswa, pertemuan pertama mereka, hal-hal membahagiakan di saat-saat itu.
“Aku ingin menjawab bahagia, tapi takut akan menyakitimu,” ucap Liliana.
“Setidaknya jangan terlalu jujur, coba buat sehalus mungkin.” Bibir Dimitri melengkung karena jawaban Liliana. Lucu ketika mereka tersenyum seperti ini di kala status mereka sebagai pasangan sudah berakhir.
Hari itu berakhir dengan keduanya yang saling bercerita hingga matahari kembali ke ufuk, hingga Elang terbangun dari tidurnya. Mereka sudah tak menjadi suami istri lagi, tapi kali ini ada hal lain yang mengikat mereka. Walaupun mereka memiliki hidupnya masing-masing, mereka tetap akan memiliki alasan untuk kembali.
**
__ADS_1
THE END
***ketawa jahat (2)**