Playboy

Playboy
#2# Take 16


__ADS_3

Hai, apa kabar kalian? aku kangen banget sama kalian, ada yang kangen juga? Mungkin kedepan bakal ngaret juga updatenya, kerjaan lagi numpuk banget, harap maklum ya. Apa ada yang udah siap buat ngata-ngatain Reno lagi?


 



“Kenapa kamu mau rujuk sama Dimitri, Li?” tanya Nabila.


Liliana mengangkat alisnya, sedikit tak mengerti dengan alur pertanyaan sahabatnya ini. Ya, Liliana tahu yang sedang di alami sahabatnya ini tak mudah, siapa yang akan baik-baik saja setelah perceraian, dimana kedua belah pihak masih sangat saling mencintai. Liliana tahu betapa Nabila sangat mencintai Reno, ia yakin begitu juga sebaliknya. Entah kenapa Reno mengkhianati keperrcayaan itu begitu saja.


“Aku udah sering cerita sama kamu, Bil. Banyak hal yang aku pertimbangin di sini, mungkin cinta jadi alasan yang entah keberapa, semua ini tentang Elang. Permasalahan kami juga sebuah kesalahpahaman, dan aku yang kabur gitu aja. Menurutku ini juga alternatif yang terbaik.”


Perselingkuhan, pelakor, dan juga orang ketiga selalu menjadi alasan utama sebuah perpisahan. Liliana tak akan mengatakan jika ini merupakan pilihan terbaik Nabila, tapi ini juga tak buruk. Pasti akan sulit untuk bertahan setelah semua yang terjadi, mungkin anak bisa menjadi alasan untuk mereka tak berpisah, tapi pasti banyak keputusan sulit yang harus Nabila ambil.


“Kamu mau rujuk sama Reno?” tanya Liliana dengan hati-hati.


Nabila hanya diam. Banyak hal yang berlarian di kepalanya saat ini, dan semuanya harus ia pikirkan secara menyeluruh. Menjadi Ibu tunggal ternyata tak semulus yang ia pikirkan. Tentu Nabila sudah mengetahui konsekuensi yang ia dapat dari keputusan yang ia pilih, Ibunya juga bahkan sudah memberinya banyak nasihat dan


juga wejangan sebelum akhirnya Nabila sampai pada keputusan untuk bercerai.


Bukan hanya sulit menjadi ibu tunggal, tapi juga stigma yang di berikan orang-orang sekitar tentang seorang wanita yang menjadi janda. Wanita selalu mendapatkan beban baru ketika mmeutuskan untuk bercerai, tak peduli jika yang bersalah adalah sang suami. Kebanyakan orang selalu memandang rendah wanita yang bercerai.


“Memangnya kenapa si suami selingkuh, kalau bukan karena si istri yang gak becus ngurusin keluarganya.”


“Makanya kita harus bisa menjaga diri kita supaya suami gak jajan di luar.”


“Pasti itu alasan si istri aja, jangan-jangan istrinya yang punya selingkuhan tapi nuduh si suami.”


“Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, sih.”


“Kasian banget anaknya, harus jadi korban orang tuanya.”


Percayalah jika kalimat-kalimat seperti itu masih sering di lontarkan beberapa orang kepada para wanita yang sudah menjadi janda dan menjadi ibu tunggal. Nabila tak terlalu mempermasalahkan semua itu sebenarnya, karena ia juga tahu tuduhan itu tak benar. Kenapa kita harus di salahkan ketika pria yang menjadi sumber masalahnya? Apa karena wanita selalu identik dengan seseorang yang sangat lemah.


Bukan, kalimat di atas bukan yang menjadi pokok permasalahan dari diamnya ia kini. Ia sudah mendapatkan apartemen untuk ia tinggali, hanya perlu memindahkan barang-barang saja, dan ia akan terbebas dari smeua kenangan tentang Reno. Bagaimana keadaan mantan suaminya itu sekarang? Apa ia hidup bahagia saat ini bersama selingkuhannya?


“Aku gak pernah kepikiran buat rujuk, Li. Aku cuma … kamu tahulah gimana rasanya setelah cerai,” jawab Nabila.


Mungkin ini terdengar aneh, tapi Liliana bersyukur ia pernah bercerai, jadi ia bisa merasakan apa yang di rasakan Nabila. Perpisahan memang selalu mengajarkan banyak hal dan mendewasakan kita. Jika tak percaya, maka coba sekali-kali agar kalian juga  mengetahui bagaimana rasanya. Putus dan berpisah adalah salah satu fase yang sudah sangat pasti akan kita lewati, atau setidaknya ada fase pasang surut dalam suatu hubungan.


Mustahil untuk memiliki hubungan yang sangat adem tanpa perselisihan sedikitpun, jika sekarang belum terjadi, maka tunggu untuk beberapa waktu dan kalian pasti akan merasakannya.


“Status  baru ini kadang bikin aku seneng juga, walaupun lebih banyak capeknya,” ujar Nabila.


“Bagian mana yang bikin kamu seneng?”


Nabila mengangkat kedua bahunya. “Kamu tahu, kadang anak-anak cowok di kantorku ada yang godain, dan karena itu aku jadi ngerasa muda lagi. Eh, tapi aku masih muda juga, kan? Hanya karena aku punya dua anak aja, sih.”


Tak perlu menunggu waktu lama hingga Liliana tertawa dengan sedikit heboh. Lucu rasanya mendengar kalimat itu setelah sekian lama, Nabila benar-benar belum berubah dengan semua kosakata yang ia miliki.


“Berasa janda kembang gitu, gak, sih?” tanya Liliana dengan geli.

__ADS_1


“Aku gak ngerasa kayak gitu, tapi kalau ada yang dengan sukarela ngasih julukan itu, aku gak masalah.” Nabila ikut tertawa dengan percakapan ngawur mereka.


“Kamu juga lagi gak ngebet buat nikah lagi, kan? Jangan-jangan kamu udah punya cowok baru lagi,” tebak Liliana.


Nabila tertawa lagi, kali ini lebih keras. Sebenarnya tak ada candaan dalam kalimat itu, tapi entah kenapa terdengar sangat lucu untuk Nabila. Mungkin karena belakangan ini ia merasakan banyak tekanan yang ia terima, belum lagi


masalah-masalah kecil yang mengikutinya, hanya karena hal sepele seperti ini saja sudah mengundang tawanya. Ia merindukan tawanya sendiri, ia merindukan kebahagiaan yang selalu ia terima sejak dulu.


“Aku gak nolak, sih, kalau kamu memang mau nyariin buat aku. Patah hati obatnya memang jatuh cinta lagi, kan?” ujar Nabila setelah tawanya reda.


Liliana menatap Nabila dengan saksama, mungkin jika orang lain yang sedang bersama Nabila tak akan merasakan perbedaan yang kentara, tapi ini Liliana. Mereka hampir menghabiskan masa muda mereka bersama, jadi, detail sekecil apapun akan mampu Liliana rasakan, dan Nabila sedang tak baik-baik saja.


“Jadi, apa aku yang harus buka sesi konseling sama kamu sekarang?”


**


Dasi dengan berbagai motif yang tertata rapi di ranjang kamarnya membuat kening Liliana mengkerut dengan dalam. Pagi ini, seperti biasa sebelum turun ke dapur untuk membuat sarapan, Liliana menyiapkan pakaian kerja yang akan di kenakan Dimitri. Rutinitas itu sudah terjadi sejak awal mereka rujuk, dan biasanya ia tak pernah sebingung ini dalam memilih apa saja yang harus di kenakan oleh Dimitri.


“Sayang, kamu ngapain di situ?” tanya Dimitri. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, dan menemukan Liliana yang berdiri di depan ranjang dengan berbagai dasi yang tersusun rapi di ranjang.


“Aku bingung harus milih dasi buat kemeja kamu yang mana,” jawab Liliana. Matanya belum lepas dari dasi-dasi itu.


Dimitri yang penasaran pun menghampiri sang istri yang masih terpekur dengan khidmat. Hanya dasi, tapi bisa membuat Liliana sangat fokus seperti itu? Sepertinya sebelum ini ia tak pernah seperti ini, apalagi hanya sebuah dasi.


“Itu  cuman dasi, Li, kenapa kamu fokus banget? Aku gak masalah mau pakai yang mana.” Dimitri sudah berdiri di samping Liliana dengan perhatian yang juga tertuju pada dasi-dasi itu.


“Justru karena dasi, Al. Dasi juga harus cocok sama kemeja yang aku pilih, sama celana kerja dan juga jas kamu. Walaupun kecil, dasi juga bagian terpenting.”


“Li—“


“Karena kemeja kamu hitam polos, kayaknya dasi garis-garis ini cocok, kan?” potong Liliana. Ia menunjuk dasi dengan motif garis-garis berwarna putih dengan sedikit berbinar.


Percayalah, Dimitri tak terlalu memperhatikan penampilannya harus seperti apa. Yang paling penting adalah ia mengenakan pakaian formal yang rapi, masalah dasi yang cocok atau kemeja yang cocok dengan satu sama lain sepertinya tak terlalu penting. Ia bukan model yang akan berjalan di atas runway dengan memamerkan busana buatan desainer. Apa ini salah satu hormon kehamilan yang mempengaruhi Liliana?


“Cocok, kok. Aku selalu suka sama pilihan kamu.”


“Kamu pasti cuman asal setuju, kan? Setidaknya kamu harus kasih komentar juga, dong. Kamu itu pemimpin di perusahaan kamu, jadi udah seharusnya kamu berpakaian yang rapi.” Liliana menatap Dimitri dengan kesal.


Oke, kali ini Dimitri benar-benar tak mengerti dengan apa yang di pikirkan Liliana. Sejak bangun tidur tadi, tak ada hal aneh yang terjadi. Semua aktifitas yang terjadi juga berjalan dengan baik, tapi kenapa hanya karena dasi jadi seperti ini?


“Gimana kalau yang ungu gelap ini?” usul Dimitri. Ia mengambil dasi yang di tunjuk itu dan mulai memengepaskannya di bagian leher. “Gimana?”


“Terlalu gelap, Al. Seharusnya yang warna sedikit cerah, tapi juga gak keliatan norak gitu.”


“Yang putih garis-garis ini aja, warnanya juga lembut, kan? Kontras juga sama kemeja itemnya.”


“Tapi terlalu kontras deh, menurutku,” ucap Liliana. Ia kini kembali berbalik menatap dasi-dasi itu dengan saksama.


Dimitri tak tahu jika Liliana bisa serumit ini, istrinya ini selalu menjadi wanita yang sangat sederhana sejak dulu, dalam semua segi. Caranya berpakaian juga sangat sederhana, lalu kenapa dengan dasi-dasi ini?


“Atau aku gak usah pakai dasi aja? Hari ini aku juga gak punya rapat-rapat bareng klien, mungkin juga cuman bahas-bahas yang gak terlalu penting. Jadi, aku bakal seharian di kantor,” ucap Dimitri.

__ADS_1


Jika di biarkan seperti ini, pemilihan dasi ini tak akan berakhir dalam waktu dekat, dan tentu saja akan membuang banyak waktu. Dimitri bukan takut terlambat datang ke kantor atau bagaimana, ia hanya tak ingin Liliana hanya berdiam diri di sini dan memperhatikan dasi-dasi itu.


“Sayang, gimana kalau aku aja yang milih dasinya? Kamu masih harus bangunin Elang, kan? Aku bisa milih sendiri, kok,” lanjut Dimitri. Kali ini selembut mungkin, ia sangat yakin jika istrinya ini masih sangat sensitif.


Liliana menatap Dimitri tajam. “Jadi maksud kamu pilihan aku gak ada yang bagu gitu?!”


“Bukan gitu, Li, aku cuman—“


“Jujur aja kalau kamu memang gak suka lagi sama pilihan aku. Aku gak mau ngomong sama kamu pokoknya,” potong Liliana. Dengan kesal, Liliana berjalan keluar dari kamar mereka dengan debuman pintu yang cukup kuat.


Ia salah bicara lagi? Yang Dimitri lakukan benar-benar hanya ingin meringankan beban Liliana, ia tak ingin istrinya itu menjadi pusing sendiri hanya karena dasi. Dimitri kini menatap dasi yang berjejer rapi itu dengan kesal. Dasi sialan.


**


Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Sebaik-baiknya orang baik, mereka juga pernah melakukan kejahatan atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsipnya selama ini. Tak ada manusia yang sempurna. Kalimat itu sangat cocok untuk menggambarkan perasaan Reno selama ini.


Dari banyaknya pilihan yang ada, ia justru memilih untuk berselingkuh dengan teman baiknya dan menyakiti hati istrinya yang sangat ia cintai itu. Reno tak berbohong ketika mengatakan jika ia sangat mencintai Nabila. Mereka sudah bersama sejak mereka masih dalam kondisi yang labil hingga mulai mengenal dan masuk dalam dunia menuju kedewasaan. Nabila tetap di sampingnya ketika banyak masalah yang menimpa Reno, dan tetap di sampingnya bahkan tanpa di minta.


Lalu semua itu berakhir dalam waktu yang sangat singkat. Salahnya memang, ia tak akan menolak untuk mengakui atau berusaha menyangkal. Itu semua benar-benar salahnya, dan walaupun tahu jika itu salah, ia justru tetap melanjutkannya. Kalian boleh memakinya dan juga hal-hal lainnya, ia sangat pantas untuk itu.


“Ren, sebaiknya kita akhiri saja semua ini. Ini adalah hal yang sangat salah, dan gak seharusnya kita ngelakuin ini,”


ucap Reno.


“Kamu bercanda, kan, No. Setelah sekian lama, dan kamu baru memutuskan hubungan ini sekarang? Kenapa gak dari dulu aja kita akhiri ini?”


Reni adalah teman yang sangat dekat dengan Reno sejak tahun ketiga perkuliahan mereka. Mereka benar-benar hanya teman yang saling mendukung satu sama lain, Reni juga mengenal Nabila sebagai kekasih Reno yang selalu lengket. Ia mnegenal Nabila, tapi hanya sebatas itu, ia juga tak terlalu dekat dengan wanita itu.


Reno dan Reni sudah seperti saudara kembar yang memiliki nama yang sama, dan mereka juga selalu bersama, entah memang sudah di takdirkan seperti itu atau benar-benar hanya murni sebuah kesengajaan, karena mereka pun kini bekerja di rumah sakit yang sama.


Kesalahan itu berawal dari Reni yang menceritakan tentang kekasihnya yang meminta putus secara sepihak, yang ternyata hanya sebuah alasan. Kekasihnya itu memiliki wanita lain di belakangnya. Wanita mana yang tak hancur setelah tahu apa yang di lakukan sang kekasih di belakangnya, dan malam itu ia menceritakan semuanya pada Reno dengan perasaan sakit hati yang mendalam.


Kebetulan lain yang mendukung kesalahan itu adalah mereka yang berada di jam jaga malam yang sama. Mereka sudah sering seperti itu, hanya saja, malam itu ada yang berbeda. Tebak apa yang ada di pikiran seorang wanita patah hati?


Ya, ia butuh seseorang untuk mendengarkan kisah itu dan membela rasa sakit hatinya dan berada di pihaknya.


“Kamu gak salah, Ren, dia aja yang bodoh karena mutusin kamu, dan kamu gak seharusnya terpuruk kayak gini. Kamu harus bisa buktiin kalau kamu baik-baik aja, bahkan tanpa dia yang seorang pengecut itu.”


“Kamu mau bantuin aku buat bales dia?” tanya Reni dengan datar. “Aku sama sekali gak rela sama putusnya hubungan ini, aku harus nunjukin kalo aku dia gak selayak itu untuk dapetin aku.”


“Maksudku kamu gak harus balas dendam. Balas dendam justru akan semakin buruk, Ren,” ucap Reno.


“Nggak, balas dendam juga bagian dari pembuktian.” Reni mengambil ponsel dari saku jas dokternya. “Kita mulai dari sesuatu yang dasar.”


Reno benar-benar tak tahu jika ‘dasar’ yang di maksud Reni adalah berciuman, dan reni mengabadikan momen ciuman tersebut dalam sebuah foto dari kamera ponselnya. Gila? Reni terkenal dengan hal-hal ekstrem seperti itu. Ia bukan tipe wanita anggun seperti yang kalian bayangkan.


Dari ciuman yang hanya sesaat itu, Reni dengan beraninya mencium sang sahabat dengan dalam. Awalnya memang untuk pembalasan dendam, tapi mencuri ciuman dari sahabatnya ini juga sepertinya tak masalah. Hanya ciuman saja, dan akan mereka akhiri begitu saja.


Tapi, berawal dari ciuman itu, kesalahan lain mulai mengikuti. Kesalahan yang melibatkan hawa nafsu dan juga kebutuhan. Selama tak ada yang mengetahui, semua akan baik-baik saja.


**

__ADS_1


__ADS_2