Playboy

Playboy
#2# Take 18


__ADS_3

Emosinya nanti lagi ya, gantian dulu. Nanti pas puasa kita emosi-emosi lagi biar jadi cobaan berat pas pada puasa.


Happy reading^^


 



Kegiatan yang di lakukan Elle ketika akhir pekan untuk mengisi liburnya? Tak jauh berbeda dengan kebanyakan wanita di Eropa. Menikmati cuaca cerah Jerman, bersantai di kafe, berkumpul dengan teman-teman, bergendengan tangan di taman bersama kekasih, merawat tanaman, mengajak anjing jalan-jalan, atau berwisata di museum yang ada di Frankfurt. Hal-hal umum seperti itu, tapi tidak, Elle tak melakukan semua hal itu.


Pertama, ia tak memiliki teman. Kedua, jangankan teman, kekasih juga ia tak punya. Hanya itu, ia akan lebih memilih tidur di kamarnya atau menonton televisi seharian. Benar-benar tak ada yang spesial, ataupun harus di pamerkan. Dengan masa lalu yang sangat berisik bersama teman-temannya, hampir semua pesta ia datangi, tapi


kini ia sudah muak dengan semua kekayaan. Ia juga muak dengan hidupnya, semua tentangnya adalah hal paling memuakkan yang pernah ia dapatkan.


Pengecualian untuk hari ini, untuk pertama kalinya Elle menginginkan untuk menghirup udara musim panas di Frankfurt. Ia tak ingin kembali berakhir di kamar dengan segudang permasalahan yang bersarang di kepalanya. Permasalahannya sudah sangat banyak dan tak terhitung, dan lagi ia sendiri yang menanggung semua pemikiran


itu, akan jauh lebih baik jika ia sedikit menyayangi dirinya sendiri untuk satu hari.


Jadi, siang itu Elle keluar dari apartemennya, tanpa rencana apapun. Pengalaman mengajarkannya jika tak semua rencana bisa berjalan sesuai keinginan kita, melakukan secara spontan juga bisa menjadi pengalaman baru untuknya. Siapa yang tahu jika di jalan nanti ia akan mendapatkan sesuatu yang berharga, pekerjaan baru mungkin?


Setelah membaca prakiraan cuaca di ponselnya, Elle segera keluar dari apartemen dengan hot pants dan juga kemeja putih longgar. Suhu hari ini tak akan terlalu panas, masih di angka dua puluh dua derajat Celcius, angka yang normal untuk musim panas di Jerman. Eropa, termasuk Jerman pernah memasuki suhu yang sangat tinggi hingga tiga puluh derajat Celcius, di angka itu, cuaca benar-benar sudah berubah menjadi ekstrem dan sangat, sangat panas.


Elle berhenti di depan penjual es krim yang memang selalu ada di seberang apartemennya. Ia belum memiliki tujuan, mungkin hanya berkeliling di sekitar komplek apartemennya, duduk di taman, dan juga makan siang. Menurut Elle, itu sudah menjadi destinasi terjauh yang ia tempuh.


“Danke.” Elle tersenyum dengan ramah dan mengucapkan terima kasih pada lelaki paruh baya yang menjual es krim itu.


Rasanya sudah sangat lama sejak Elle menikmati es krim seperti ini, seperti kembali pada masa-masa bahagianya. Elle menundukkan tubuhnya ketika merasakan kemejanya di tarik oleh sesuatu. Seorang anak kecil yang berusia kira-kira enam tahun, berdiri di hadapannya dengan memegang sebuah balon di tangannya.


“Ya, apa ada yang bisa Bibi bantu? Dimana Ibumu?” tanya Elle. Ia menyejajarkan tingginya dengan tubuh anak kecil yang ada di hadapannya itu.


Anak kecil itu menyerahkan balon yang ia pegang pada Elle. “Paman yang ada di sana ingin memberikan ini padamu,” ucap anak kecil itu dengan polos. Ia juga menunjuk pria yang ia maksud.


Arah pandang Elle mengikuti jari kecil sang anak, mengarah pada pria yang sedang duduk di kursi taman dengan kacamata hitam menutupi matanya. Pria itu melambaikan tangannya dan tersenyum tipis pada Elle. Elle sepertinya juga sangat mengenali pria itu, bukan Brian. Pria itu tak akan repot-repot untuk menyuruh anak kecil sebagai perantaranya, ia akan datang secara langsung dan kembali mengintimidasi Elle. Itu adalah Enzo, sudah tak kaget, kan?


Elle memberikan senyum pada anak kecil yang dengan polosnya mau menerima permintaan pria dewasa. “Terima kasih sudah memberitahu, dimana ibumu?” tanya Elle.


Anak itu tak menjawab, ia justru meminta Elle untuk mendekatkan wajah padanya. Elle menaikkan alisnya dengan bingung, tapi ia juga mendekatkan wajahnya tanpa curiga sedikitpun. Anak kecil itu mengecup pipi Elle, lalu segera berlari meninggalkannya. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, anak kecil itu sangat imut.


Hanya sedetik saja, karena detik selanjutnya ia kembali menatap Enzo yang tak jauh duduk di hadapannya itu. Untuk apa pria itu ada di sekitar apartemennya? Jika urusan pekerjaan harusnya bisa menelepon saja. Ia segera berjalan menghampiri pria itu dengan wajah yang kembali datar.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elle ketika sampai di hadapan pria itu.


“Aku juga tak boleh berada di sini? Bukankah ini tempat umum? Aku berhak ada dimana pun, kan?”


Ya, Elle sangat lupa jika yang ada di hadapannya adalah Enzo yang tak pernah ingin di debat aatu di komentari untuk apapun. Orang kaya yang sangat seenaknya dan selalu menggunakan kuasanya untuk mengontrol dirinya.


“Apa ada pekerjaan yang harus kuselesaikan?” tanya Elle lagi.

__ADS_1


“Aku kebetulan melewati kota ini, jadi apa tak boleh jika aku mampir dan menyapa sekretarisku?” jawab Enzo.


“Kalau begitu, selamat menikmati akhir pekan anda,” ucap Elle. Ia lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dan kembali berpamitan.


“Kenapa kau ketus sekali?”


Elle kembali membalikkan tubuhnya untuk menatap atasannya ini. “Apa ada alasan lain untuk membuatku menyukaimu?”


Alih-alih menjawab, Enzo bangkit dari duduknya dan menatap Elle dengan saksama. “Ayo antarkan aku jalan-jalan di sekitar sini,” ucap Enzo.


Elle benar-benar tak mengerti apa yang sedang di lakukan Enzo. Pria itu selalu seenaknya saja, setidaknya jika ingin bertanya, lakukan dengan baik agar Elle sendiri mampu menerimanya dan juga mengiyakan ajakan itu.


**


Jika kemarin dasi, maka saat ini yang di rasakan Liliana adalah, ia sangat ingin membuat segala jenis makanan manis. Untuk kehamilannya kali ini, Liliana benar-benar merasakan ada perubahan pada dirinya sendiri yang tak di rasakan sahabatnya dulu. Terutama emosi dan juga mood yang sangat berubah-ubah itu.


Menurut dokter dan juga orang-orang di sekitarnya, itu adalah hal yang sangat wajar. Bisa berbeda-beda pada setiap kehamilan, dan untuk kali ini memang Dimitri benar-benar harus bersabar menghadapi Liliana yang seperti ini. Walau seperti itu, Dimitri tetap menikmati setiap prosesnya.


“Kamu buat apa, Li?” tanya Dimitri.


Ini adalah hari sabtu pagi sekitar pukul sebelas siang. Elang sudah menginap di rumah kedua orang tua Dimitri sejak kemarin malam. Setiap akhir pekan dalam satu bulan, Elang akan di ajak menginap di rumah neneknya agar mereka semakin dekat dengan cucunya. Di waktu seperti itu, Dimitri juga bisa menikmati berduaan dengan istrinya.


“Aku buat pudding, kamu suka, kan?”


“Aku selalu suka makanan apapun yang kamu masak.” Dimitri mengerlingkan matanya pada Liliana dengan senyum tipis itu, dan Liliana masih tersipu dengan hal itu.


Dengan jarak yang sedekat ini, jantung Liliana berdetak sangat kencang, apalagi tatapan mata itu yang selalu berhasil untuk menghipnotis Liliana. Mereka sudah hampir satu tahun berada di masa rujuk ini, dan Liliana masih bisa merasakan perasaan yang tumbuh di hatinya berulang kali jika sudah berhadapan dengan Dimitri lagi.


“Kamu demam? Wajah kamu cukup anget, nih,” ucap Dimitri lagi.


“Aku demam karena kamu ngeliatin aku segitu banget. Apa aku secantik itu?”


Kini Dimitri sudah membawa Liliana ke dalam pelukan pria itu, ia juga sudah mematikan kompor yang masih menyala dengan cairan pudding di dalam panik. Hari sabtu adalah hari yang sangat pas untuk di habiskan bersama orang yang ia cintai, untuk Dimitri adalah Liliana.


“Kamu cantik banget, Li, sampe bikin aku selalu grogi kalo berhadapan sama kamu,” jawab Dimitri.


Terdengar tawa renyah di dalam dekapan Dimitri yang hangat. Ah, ia sangat mencintai wanita ini. Ya, Dimitri bisa tertawa lepas seperti ini, tapi ada kalanya ketika Liliana sangat tak ingin di peluk oleh Dimitri atau sangat sensitif. Permasalahan dasi kemarin juga salah satunya, setelah itu selesai, Liliana justru minta maaf padanya dan berjanji tak akan mengulanginya. Entah apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka memilih untuk menjalani kehidupan masig-masing, mungkin tawa seperti ini tak akan terjadi.


“Al, udah, aku mau lanjut masak lagi,” ucap Liliana.


Tak ada jawaban dari Dimitri, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya. Dari semua hal yang ia miliki sekarang, mendekap Liliana adalah hal terbaik untuknya. Memenangkan proyek besar juga merupakan pencapaian besar, tapi mendekap Liliana seperti ini benar-benar tak bisa ternilai oleh uang.


“Sayang banget sama kamu, Li.”


“Biasanya kalau kamu ngomong gini sih, ada maunya pasti.” Liliana tersenyum di dada pria itu. Ia juga mengeratkan rangkulannya di pinggang Dimitri.


“Ya, aku mau kamu selalu di sampingku apapun yang terjadi. Kamu adalah hal yang paling aku cintai di sini, Elang juga, dan calon anak kita yang kedua.” Dimitri melepaskan rangkulan itu. “Pokoknya jangan pernah menghilang dari sampingku lagi,” lanjut Dimitri.

__ADS_1


Liliana menampilkan senyuman terbaik yang ia miliki. Dulu, awalnya terasa berat  untuk kembali mencintai Dimitri. Untuk hubungan yang sudah berakhir di antara mereka, lalu memutuskan untuk kembali memperbaiki kesalahan, itu juga merupakan keputusan besar. Sekalipun dengan perasaan yang sama, ada hal yang tak bisa di jelaskan di antara mereka, karenanya butuh waktu dua tahun untuk kembali meyakinkan Liliana jika memang ini yang terbaik. Untuk dirinya, Elang, dan juga rumah tangga mereka.


**


Jumat malam, dan Reno baru saja pergi untuk menjemput Aidan dari apartemen Nabila. Bahkan setelah perceraian itu pun, intensitas pertemuan mereka sangat sering terjadi. Sekarang tinggal Nabila sendirian di apartemennya, Alya sedang di bawa jalan-jalan oleh orang tua Nabila yang kebetulan sedang berada di Jakarta. Nabila kembali harus menyiapkan telinga dan hatinya untuk menerima ceramah panjang lebar dari sang ibu.


Dari awal ketika memutuskan untuk bercerai, sang ibu lebih tepatnya memang sangat menentang keputusan anak tunggalnya itu. Menjadi orang tua tunggal yang mengurus anak dan juga bekerja bukanlah pilihan baik, dan juga stigma masyarakat terhadap ibu tunggal sangat buruk. Orang tua mana yang ingin melihat anaknya semakin menderita?


Bel apartemennya berbunyi, Nabila yakin ibunya sudah sampai. Ketika Nabila membukakan pintu, ibunya sudah ada di depan pintu bersama pengasuh Alya dan juga Alya yang ada di gendongan ibunya.


“Alya udah tidur, Bu?” tanya Nabila.


“Iya, mungkin kecapekan main. Mbak, tolong tidurin Alya di kamarnya, ya?” Sang Ibu melepaskan Alya di gendongannya dengan perlahan pada sang pengasuh.


Setelah memastikan cucunya tak terbangun dengan gerakan yang sangat perlahan itu, ibu Nabila segera beranjak ke dapur di ikuti dengan Nabila di belakangnya. Ayah Nabila sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, kini tinggal tersisa sang ibu yang tinggal menikmati sisa masa tuanya dengan tenang. Harusnya tenang, jika saja putri satu-satunya itu tak memilih untuk bercerai.


Bukan salah putrinya juga, semuanya sudah terjadi. Ia tahu anaknya itu tak sekuat itu untuk berpisah dari suaminya, tapi tetap memilih keputusan itu dari semua pilihan yang ada. Yang kini bisa ia lakukan adalah mendukung keputusan putrinya dan membantu putrinya itu untuk bangkit lagi, dan juga membantu Nabila untuk


mengurus kedua anaknya.


“Aidan sudah pergi?” tanya ibu.


“Ya, belum lama tadi. Ibu mau Nabila bikinin teh panas?”


Ibunya tak menjawab, dan Nabila segera melangkahkan kakinya untuk membuatkan minuman hangat itu untuk ibunya. “Gimana kerjaan kamu sekarang?”


“Baik, Bu. Semuanya lancar, Ibu gak perlu khawatir lagi,” jawab Nabila. Semenjak perceraian ini, entah kenapa hubungannya dengan sang ibu terasa menjadi canggung.


Bukan, ibunya tak pernah sangat menyayangi menantunya hingga menentang perceraian ini. Ibunya hanya tak ingin putri tunggalnya itu menjalani kehidupan yang sangat sulit ini sendirian. Perceraian selalu memiliki dampak yang sangat terasa untuk wanita, dari semua hal, wanita yang selalu di salahkan oleh orang lain dalam situasi seperti ini. Ibunya tak ingin anaknya merasakan semua itu. Jika si pria yang bersalah, harusnya pria itu yang menerima hukuman.


“Ibu gak bisa bayangin gimana kalau Ayah kamu masih hidup, dia pasti benar-benar akan memberi pelajaran pada Reno,” ucap Ibu.


Kalimat itu bukan pertama kalinya di ucapkan oleh Ibu, sudah beberapa kali di ucapkan jika Ibunya ini mengunjungi Nabila. Tak ada respon berarti yang Nabila tunjukkan, karena pada kenyataannya, ayahnya sudah meninggal dan Nabila sudah terlanjur merasakan sakitnya dari semua hal ini.


“Ibu bisa sewa tukang pukul kalau memang masih kesal, sekarang banyak, kan, jasa kayak gitu yang ada di sini.”


“Gimana kalau sekarang Ibu tinggal sama kamu? Ibu juga gak punya tanggung jawab apapun lagi, dan ibu pikir juga ini yang terbaik, jadi kamu bisa fokus sama pekerjaanmu,” ujar sang ibu.


Nabila sangat sering memikirkan hal itu, dan ia akan selalu senang untuk membiarkan ibunya melakukan hal itu untuknya. Ia tak perlu khawatir pada kedua anaknya, dan ia juga memiliki seseorang di sampingnya.


“Ibu gak masalah kalau tinggal sama Nabila?”


“Kenapa harus masalah, sayang? Ibu juga seneng bisa deket sama cucu-cucu Ibu,” ucap Ibu dengan senyum menenangkannya.


Nabila sebenarnya sangat ingin menceritakan pada Ibunya, tentang seberapa banyak masalah yang ia hadapi, ia tak sekuat itu untuk melewatinya sendirian, dan ini juga terlalu banyak untuknya. Tapi, selalu urung ia lakukan. Ia tak ingin orang tuanya khawatir. Serta ada anak-anak yang bersamanya, jadi, ia hanya menampilkan senyum terbaiknya agar tak ada satupun yang meragukan dirinya.


Senyum adalah senjata terbaik yang ia miliki untuk meyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja, sangat lelah untuk melakukan itu, tapi harus ia lakukan. Hidup ini sudah berat, jadi mari kita ringankan semuanya dan buat menjadi sedikit lebih mudah, jangan biarkan hingga hidup mengalahkan kita sendiri.

__ADS_1


**


__ADS_2