Playboy

Playboy
#2# Take 58


__ADS_3

"Apa yang membuat kamu tertarik denganku? Aku sama sekali gak merasa kalau kita cocok," ucap Nabila.


Ia dan Juna sedang menikmati makan malam di restoran seberang kantor mereka. Banyak yang ingin Nabila ungkapkan, tapi ia menjadi bingung harus seperti apa mengatakannya. Bukan keinginan Nabila juga untuk menjalin kasih dengan Juna, ia hanya lelah dengan rumor yang ada, semakin ia menolak rumor itu, semakin tinggi pula bisik-bisik di belakang Nabila.


"Pertama-tama, aku mau mengubah panggilan kita kalau udah di luar kantor, gimana menurut, Mbak, maksudku kamu?"


Pengalaman percintaan Nabila hanya Reno, selain itu ia tak pernah menjalin hubungan dengan pria lain lagi, apalagi yang lebih muda seperti Juna ini. Baginya satu kali saja sudah cukup dan ia berharap bisa untuk selamanya, tapi itu hanya harapan semu ketika pernikahannya berakhir di depan meja hijau.


Nabila tersenyum kecil, ya Juna memang manis apalagi di usia itu, usia yang seharusnya pria ini gunakan untuk mengejar wanita lain di luar sana yang menggilainya. Bukan berakhir dengan seorang janda beranak dua yang usianya cukup terpaut jauh.


"Aku gak pernah bilang kalau aku menyukaimu sebagai pria, kamu junior yang baik dan aku menghargai itu. Hanya sebatas itu saja. Jadi jangan mengharapkan banyak hal dariku dan hubungan ini."

__ADS_1


"Kenapa? Karena aku masih dua lima?"


"Bukannya sudah sering kukatakan? Dari semua segi kita tak akan cocok, kamu lihat sendiri bagaimana omongan orang kantor tentang kita, kamu pantas mendapatkan wanita muda yang lebih baik dariku."


"Baiklah, di luar jam kantor seperti ini aku akan mengganti panggilan 'mbak', dengan 'kamu'."


Nabila pernah mendengar jika menjalin hubungan dengan pria lebih muda, mereka akan jauh lebih dominan dan keras kepala. Ada juga yang mengatakan jika itu adalah perpaduan yang sempurna.


"Aku hanya ingin menjaga apa yang menjadi milikku."


Pembicaraan ini tak akan selesai dengan mudah, dan Juna juga tak akan mendengarkan apa yang Nabila sampaikan tadi.

__ADS_1


"Pertama, aku bukan barang yang bisa kamu miliki sesuka hati. Kedua, aku sudah bukan wanita muda yang bisa bebas sesuka hati, aku gagal menikah dan memiliki dua orang anak. Keputusan kamu yang gegabah ini--"


Anggap saja mereka memang sepasang kekasih walaupun kenyataannya memang seperti itu. Melihat tatapan Juna yang menghunus matanya dengan tajam itu mengingatkan Nabila pada mantan suaminya karena keduanya sungguh bertolak belakang. Reno cenderung selalu menatap Nabila dengan lembut dan Nabila lah yang lebih dominan dalam hubungan mereka. Kali ini, Juna lah yang lebih dominan.


"Aku bahkan udah ketemu sama anak kamu, aku gak pernah mempermasalahkan status atau masalah kamu. Kamu bisa menyelesaikan masalah kamu dan mantan suami kamu dulu, dan aku tetap bisa menunggu kamu disini," ucap Juna.


"Dan juga, aku sudah mengikuti kemauan kamu, aku selalu profesional dikantor," lanjut Juna.


"Justru itu masalahnya," ucap Nabila lirih.


Karena Juna terlalu keras kepala, karena pria ini selalu teguh pada pendiriannya, karena pria ini terlihat tulus dengan semua tindakannya, itulah yang membuat Nabila takut. Ia takut ingin memiliki pria ini, bagaimana jika hubungan ini hanya sesaat? Mungkin bukan mereka yang mempermasalahkannya, tapi orang luar lah yang mengacaukannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2