Playboy

Playboy
#2# Take 55


__ADS_3

Hai mohon maaf atas keterlambatannya,masih ada yang nungguin kan ya? Selamat datang juga buat kalian pembaca baru di playboy ini, makasih udah mampir, udah sempetin baca. Dan buat pembaca lama, makasih masih mau baca playboy sampe sekarang, kalian sabar banget 🙏🙏 happy reading 😇


**


"A...air...,"


Hanya dengan suara lirih itu mampu membuat Elle terjaga dari tidurnya. Semalam ia memutuskan untuk tidur bersama ibunya.


"Ibu."


Elle segera mengangsurkan gelas berisi air mineral yang sudah memiliki sedotan, yang memang khusus di sediakan untuk Caroline.


Caroline menenggak air itu beberapa kali hingga di rasa tenggorokannya sudah teraliri air dengan baik. Kondisinya sudah jauh lebih membaik di banding beberapa hari sebelumnya. Terima kasih pada Enzo dan semua tim dokter yang sudah merawat Ibunya dengan baik.


"Gimana perasaan ibu?" tanya Elle hati-hati.


Dokter mengatakan untuk tak terlalu banyak mengajak sang ibu untuk berinteraksi, agar proses pemulihannya bisa lebih cepat.


Caroline mengangguk lemah. "Aku baik," ucapnya lirih.


Ada senyum lebar yang menghiasi bibir Elle. Senyum tulus yang tak mungkin Caroline dapatkan beberapa tahun sebelumnya, mengingat hubungan mereka yang tak baik dulu.


"Syukurlah, Ibu harus cepat membaik, aneh rasanya melihatmu terbaring lemah seperti ini."


"Ternyata kau memang benar Elle, kupikir aku baru saja bertemu malaikat. Mendengarmu mengatakan hal itu, aku lega karena masih hidup."


Itu adalah kalimat terpanjang yang di ucapkan Caroline sejak pertama kali sadar. Elle ingin berharap jika setelah ini kondisi ibunya semakin membaik.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Caroline.


"Menjadi lebih baik melihatmu sudah sadar dan mampu berbicara banyak."


"Jam berapa sekarang?"


"Masih pukul tujuh tepat, kembali lah istirahat dan jangan banyak aktifitas agar kau cepat pulih."


"Rasanya aku akan mati jika terus-terusan terbaring di sini."


Ada senyum jenaka di bibir Caroline ketika mengatakan hal itu. Bahkan ketika ia di pukuli, ia sudah tak berharap untuk selamat, cukup ada seseorang yang menemukannya agar ia tak mati secara menyedihkan bersama para pria itu.


"Jangan pernah berpikir untuk cepat mati, kau harus hidup untuk merawatku," ucap Elle.


"Bukankah kau seharusnya sudah menyiapkan sarapan Enzo? Jadilah calon istri yang baik, agar nama baik kita tetap terjaga."


Elle mendengus. Ia hampir lupa dengan hal itu. Malam tadi ia tidur sangat nyenyak hingga tak bisa terbangun lebih pagi. Kejadian dua hari yang lalu masih tercetak jelas di memorinya dan ia sangat malu. Entah harus berapa kali lagi ia menangis di hadapan Enzo, pria itu terlalu banyak melihat kekurangannya.


"Jangan pernah bersikap baik padanya hanya karena ia menolong kita. Pebisnis sepertinya bisa lebih licik."


Dengan berat hati, Elle bangkit dari kursinya untuk menuju dapur. Caroline yang melihat hal itu hanya mampu tersenyum. Masih di berikan kesempatan untuk hidup adalah anugrah terbesar yang pernah ia dapatkan, dan ia sangat berhutang budi pada Enzo. Lalu masih mampu melihat senyum putri satu-satunya juga merupakan anugrah lain yang tak terhingga. Bahkan pendosa sepertinya masih mampu merasakan nikmat itu.


"Kau sudah bangun?" tanya Enzo ketika melihat sosok Elle muncul dari kamar ibunya.


Sudah terhidang berbagai jenis makanan di meja bar. Jika tahu begini, Elle akan memilih melanjutkan tidur lagi karena Enzo juga sudah mendapatkan sarapannya.


"Ayo sarapan. Aku tak tahu apa kesukaanmu,jadi aku meminta mereka untuk memasakkan semua makanan ini," ucap Enzo lagi.


Hanya satu hal yang tetlintas di kepala Elle saat ini. Enzo sangat berpengalaman dalam hal ini, dan entah kenapa kenyataan itu seolah menamparnya. Ia bukan siapa-siapa di sini.


"Kupikir kau belum mendapatkan sarapanmu," ujar Elle.


"Kau khawatir padaku, ya?"


Elle mendengus, ia bermaksud untuk meninggalkan ruang makan itu dan kembali ke kamar.


"Duduklah, aku butuh teman sarapan," pinta Enzo.


"Aku si...,"


"Bahkan asistenku juga tahu seberapa tak sibuknya dirimu," potong Enzo.


Apalagi yang pria ini tak ketahui tentangnya? Ia bagaikan kertas putih yang terbuka dengan jelas di hadapannya, tinggal menunggu hingga pria ini menggores kertas itu dengan apapun yang pria ini inginkan.


"Sebenarnya aku tak terbiasa dengan makanan ini, aku sudah terbiasa dengan masakanmu," ucap Enzo.


"Kalau begitu mulai sekarang jangan di biasakan, ibuku sudah sadar dan kami akan keluar dari sini setelah ibuku pulih."

__ADS_1


Enzo menurunkan sendok garpu serta pisau makannya. Seketika nafsu makannya menguap entah kemana, ia tak suka dengan pembicaraan ini.


"Aku tak mengizinkanmu untuk keluar dari sini,kau tak pernah tahu bagaimana Brian di luar sana."


"Lagipula sejak awal Brian sudah menjadi masalahku, aku pasti bisa mengatasinya."


Tidak. Elle tak bisa mengatasinya. Ia bahkan bingung harus bagaimana setelah ini, setelah sang ibu sadar dan harus keluar dari perlindungan Enzo. Ia sangat takut untuk bertemu Brian, entah apalagi yang akan di perbuat pria itu padanya.


"Aku tetap tak mengizinkan, kau dan ibumu adalah tanggung jawabku mulai saat ini."


"Jangan konyol, Enzo...,"


"Kau yang jangan konyol, Elleanor. Aku tak pernah mempermainkanmu, tapi kau selalu menghindariku. Apalagi yang harus kulakukan untuk membuatmu mempercayaiku?"


Senyum kecil yang mampir di bibir Elle seketika menghilang. Tatapan mata Enzo menyiratkan keseriusan, bahkan hanya dengan mendengar nada suara itu mampu membuat jantung Elle berdetak dengan sangat kencang.


"Sepertinya aku sudah cukup berhubungan dengan orang kaya seperti kalian. Aku ingin lepas dari masalah ini dan hidup dengan tenang," jawab Elle.


Itu adalah salah satu hal yang sangat Elle impikan, ia tak perlu menjadi kaya atau menguasai apapun, cukup hidup tenang bersama sang ibu.


"Kenapa kau tak bisa mempercayaiku sedikit saja?"


Tatapan mata Enzo menghujam kedua bola mata teduh Elle. Ia ingin munafik sedikit saja, Elle ingin mengikuti logikanya sekali ini saja. Ia tak bisa bersama Enzo apapun yang terjadi, pria ini terlarang.


"Aku sangat berterima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini padaku, tapi hanya itu saja, aku...,"


Elle kehilangan kalimat yang ingin ia lontarkan hanya dengan menatap manik tajam Enzo. Hati kecilnya sangat ingin bersama pria ini, tapi ia juga tahu kalau semua itu tak bisa ia lakukan.


"Hanya...Sudah cukup semua yang kau lakukan. Kalaupun aku harus berakhir di tangan Brian, maka memang seperti itu takdirku," lanjut Elle.


**


Ucapan Elle pagi tadi benar-benar mengusik pikiran Enzo hingga siang ini berlalu. Ia bahkan tak menyentuk makan siang yang di pesankan oleh asistennya.


Selain keras kepala, wanita ini juga berhasil mengisi seluruh ruang yang ada di kepalanya, dan itu sangat tak baik untuk dirinya. Untuk pertama kalinya lagi, ia merasakan perasaan seperti ini terhadap wanita lain selain Cecillia.


"Ada apa denganmu?"


Enzo menepis dengan keras tangan yang menyentuh dahinya barusan.


"Hei! Ada apa denganmu? Kau ingin mematahkan tanganku?!" Sentak Katherine tak terima.


"Sejak kau melamun entah memikirkan masalah apa," jawab Kate ketus. Ia memijat tangannya yang ditepis dengan keras oleh sepupunya ini.


"Maaf untuk itu, kupikir orang lain."


Enzo terlihat menyesal dengan perbuatannya. Pengaruh Elle di pikirannya benar-benar luar biasa. "Ada perlu apa kemari?" tanya Enzo.


"Aku hanya mampir sekaligus penasaran. Siapa wanita yang ada di apartemenmu? Pengawalmu bahkan dengan keras mengusirku ketika aku berkunjung."


"Bukan siapa-siapa. Lagipula untuk apa kau ke apartemenku?"


Kate tersenyum misterius menatap Enzo. Bisa di bilang ia cukup dekat dengan Enzo, cukup dekat untuk mengerti tentang pria ini.


"Benarkah? Aku tak mempercayainya."


"Urusanmu jika kau tak percaya, sebaiknya urusi saja pernikahanmu dengan Richard, pastikan itu berjalan dengan lancar."


"Apa dia adalah wanita yang sempat memiliki skandal denganmu? Aku sangat ingat karena beritanya menghiasi koran dan juga tabloid gosip."


Kate dan mulut besarnya. Entah kenapa Richard yang sangat pintar itu bisa memilih untuk menikahi sepupunya ini. Jika di lihat dari sisi manapun, tak ada hal baik yang menjadi pesona Kate selain wajah dan mulut besarnya.


"Aku tak akan menjawabnya."


Tawa renyah keluar dari bibir Kate. Jika Enzo memilih diam, maka itu kebenarannya. Pria ini sebenarnya misterius, tapi di satu waktu ia bisa sangat mudah di baca.


"Itu adalah jawaban dari, 'kau memang memiliki hubungan dengan wanita itu'."


"Bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanya Enzo. Ia berusaha keras agar tak terpancing dengan kalimat Kate barusan.


"Sebaiknya segera bawa ia menghadap pada Paman dan Bibi, aku kasihan padamu yang masih melajang hingga kini."


Enzo melengos. Kate tak akan berhenti berbicara hingga apa yang ia dapatkan tercapai. Sepupunya ini sama keras kepalanya seperti Elle, hanya saja Elle lebih unggul di banding Kate.


"Ayahku mungkin jauh lebih tahu tentang wanita itu di banding dirimu."

__ADS_1


"Ah, aku lupa. Kau seharusnya lebih memahami ayahmu yang sangat ingin melihat putra tunggalnya ini menikah," ujar Kate berapi-api.


"Sebaiknya kau pergi, kau mengganggu waktu tenangku," usir Enzo.


"Baiklah." Kate bangkit dari duduknya. "Aku akan mencari tahu tentang wanita ini."


"Lakukan semaumu, aku tak peduli."


**


Setelah konfrontasi dari Bu Diah, hari Nabila berjalan seperti biasa, ia akan menganggap jika hari itu ia hanya sedang tak beruntung. Toh, ia tak melakukan kesalahan apapun, justru ia yang sangat di rugikan disini.


Lihat saja, Arlina kini semakin melihatnya dengan sinis, dan juga dengan terang-terangan membenci Nabila. Nabila akui sikap itu sangat kekanakan, dan ia tak akan terpancing.


"Mbak, salinan untuk deadline besok udah aku email, tinggal di periksa lagi," ucap Juna.


"Oke, kamu makan siang dulu sebelum nanti kita bahas salinan yang kamu kirim."


"Mbak gak makan siang juga?"


Nabila memandang beberapa tumpukan dokumen yang harus ia periksa, lalu kembali memandang Juna dengan wajah melas.


"Well, bungkusin nasi padang ya, lauknya ayam bakar aja yang dada plus tambahan kuah sama sayurnya," pinta Nabila dengan senyum ramah.


"Oke, Mbak."


Tak ada yang berubah antara dirinya dan Juna, Nabila hanya berusaha bersikap profesional sebagai atasan. Lagipula mereka sedang berada di lingkungan pekerjaan, apalagi yang bisa Nabila lakukan selain bersikap ramah?


Nabila bangkit dari kursinya, meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan, dan itu akan menguras energinya, ia butuh kafein untuk menambah energi itu.


Pantry kosong, dan kantor juga sedikit sepi, hanya beberapa orang saja yang terlihat tekun di meja kerjanya. Ini jam makan siang, tentu saja semuanya memutuskan untuk makan siang di luar, atau hanya sekadar menghirup udara luar.


Baguslah, Nabila juga tak menyukai keramaian. Kantor yang sepi seolah menambah energinya menjadi semakin bertambah.


"Eh, Mbak Nabila gak makan siang?"


Seorang wanita yang usianya sepantaran denganku masuk ke pantry dengan senyum ramah. Aku sedikit lupa dengan wajahnya, tapi ia berada di divisi pemasaran jika aku tak salah ingat.


"Biasalah deadline, ini baru mau bikin kopi," jawab Nabila ramah.


"Akhir bulan, sih, ya, semua orang pada sibuk."


Nabila hanya tersenyum saja menanggapi ucapan wanita itu. Karena jujur, Nabila sendiri lupa nama wanita ini, dan ia juga tak terlalu mengenalnya.


"Bener ya, Mbak Nabila katanya lagi deket sama bawahannya?" tanya wanita itu lagi.


Gosip tetaplah gosip. Mungkin urusannya dengan Bu Diah sudah selesai karena ia merasa tak bersalah, tapi ia lupa dengan gosip yang sangat mudah menyebar. Bahkan dinding kantor pun sudah mengetahuinya.


"Iya, aku memang dekat dengan bawahanku. Aku gak mau buat mereka takut karena aku yg terlalu serius bekerja, jadi ya kami memang harus dekat."


Peraturan pertama dalam menanggapi gosip adalah,jangan menyangkalnya. Semakin kalian menyangkal gosip itu, maka akan semakin banyak gosip lain yang menyertai.


"Enak dong, jadi bawahannya Mbak Nabila, apalagi kalo bawahannya berondong, ya, Mbak?"


Sindiran pertama yang Nabila terima dari entah siapa, yang tentu saja akan di sertai oleh orang lain lagi. Wanita ini hanyalah pembuka dari sindiran lain yang mungkin akan di lontarkan oleh karyawan lain nanti.


Mungkin, ini salah satu taktik yang di mainkan oleh Arlina.


"Well, ya. Kamu seharusnya masuk divisiku, jadi bisa deket sama berondong. Apalagi status janda itu bikin hampir semua laki-laki bisa do bikin bertekuk lutut," balas Nabila tenang.


Kopinya sudah selesai, dan ia harus menyudahi perdebatan kecil ini. Ia tak ingin pembukaan ini menjadi sia-sia karena Nabila terlalu banyak mengoceh.


"Aku balik ke meja dulu, ya. Kalau di bagian kamu ada berondong, mungkin bisa di rekomendasiin buat masuk ke jadi bawahanku."


Dengan kerlingan mata dari Nabila, perdebatan kecil itu selesai. Tinggal menunggu besok, apa yang akan terjadi selanjutnya dari babak memperebutkan seorang pria. Lucu sekali mereka.


"Mbak, ini titipannya."


Nabila menatap Juna heran, pasalnya belum lama sejak pria ini pergi dan juga ia yang membuat kopi di pantry tadi.


"Kamu belum makan siang?" tanya Nabila.


"Ah, itu, tadi rame banget di sana, aku sampai gak kebagian kursi. Jadi, aku bungkus juga biar gak makan waktu lama."


Inilah yang ia takutkan dari banyaknya kemungkinan yang mungkin terjadi. Juna yang semakin menempel padanya, gosip tak bertanggung jawab dari luar sana, lalu apalagi setelah ini?

__ADS_1


Nabila tak ingin di salahkan dalam hal ini, ia hanya menjalani apa yang seharusnya ia jalani. Ia harus profesional, ia juga harus menangani gosip itu seorang diri. Bukan salahnya juga menjadi seorang janda, tapi lagi-lagi statusnya lah yang membuatnya menjadi seperti ini. Dan selalu ia yang dianggap sebagai penggoda. Mereka belum merasakan berada di posisi di selingkuhi dan harus memilih bertahan atau melepaskan. Mereka semua yang membuat gosip ini sama sekali belum pernah berada di posisi itu.


**


__ADS_2