
Hai, maaf ya karena butuh waktu lama buat update. Semoga masih ada yang berkenan baca, menuju ending harus banget kalian pantengin ya ;D
Happy reading^^
Semua hal yang terlihat mustahil sebenarnya adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi jika saja kita memiliki tekat yang kuat untuk mewujudkannya. Serta, segala hal yang sudah di rencanakan dengan sangat baik, kadang berjalan keluar dari rencana itu sendiri. Itu terjadi pada kebanyakan orang, setidaknya kita pasti pernah melaluinya satu atau dua kali.
Untuk seseorang yang selalu penuh dengan perencanaan, membuat rencana sekecil apapun sangat berarti. Richard mencoba melakukan hal itu, semenjak awal ia bertunangan dengan Kate, tapi tak semua hal berjalan sesuai dengan rencana. Karena mereka pernah putus, salah satu hal yang tak pernah ada dalam buku perencanaan Richard.
“Kau … Apa yang kau lakukan di sini?” Mata Kate membelalak ketika membuka pintu apartemennya dan menemukan Richard berdiri di hadapannya dengan koper kecil di sampingnya.
Tak pernah ada janji yang mereka buat sebelumnya, bahkan satu hari sebelumnya keduanya masih berbincang seperti biasa, tanpa ada pembicaraan tentang Richard yang akan berkunjung. Jadi, ketika ia membuka pintu pagi ini, ia terkejut, Kate bahkan baru menutup matanya pukul empat pagi tadi.
“Kau tak menyukai kedatanganku?” tanya Richard. Ia tersenyum geli melihat Kate yang masih sangat acak-acakan, walaupun semua itu tetap terlihat seksi di mata Richard.
Percayalah jika cinta itu memang buta. Kalian akan sangat tergila-gila oleh seseorang hanya dengan satu tatapan, konyol, kan? Yang terlihat kacau untuk orang lain, justru akan indah jika yang melihatnya adalah pria yang jatuh cinta.
“Maksudku, kau tak mengatakan akan ke Jerman dan apa kau memiliki pekerjaan di sini? Yang aku tahu, tak ada jadwal kunjungan darimu.”
“Kejutan, mungkin?”
Kate masih menyipitkan mata yang belum terbuka sepenuhnya itu. Bukan ia tak bahagia dengan kehadiran Richard, ia hanya terlalu bahagia hingga tak bisa membedakan mana yang nyata dan hanya mimpi. Hubungan jarak antar negara ini memang cukup merepotkan, walaupun tak akan menimbulkan masalah apapun.
“Apa ini termasuk hobi barumu? Padahal kau bisa menelponku terlebih dahulu.”
Richard tertawa mendengar ocehan kekasihnya yang belum sadar seratus persen itu. Ya, ia akui jika saat ini hobi terbarunya adalah datang ke Jerman tanpa persiapan apapun terlebih dahulu. Ketika ia merasa jadwalnya sedikit longgar, ia akan segera memesan tiket ke Jerman secara spontan. Untungnya, ia sudah termasuk dalam jajaran para pengusaha muda yang cukup sukses, ia bisa pergi kemanapun tanpa perlu khawatir dengan biaya.
“Kau tahu sendiri bagaimana pekerjaanku, jika aku merencanakan jauh sebelum waktu yang di tentukan, rasanya semua akan berantakan,” ucap Richard. Ia mendekati Kate dan segera membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Setelah memberi satu kecupan di kening, Richard segera menatap wajah kekasihnya.
“Beruntunglah kau kaya.”
Alih-alih melepaskan diri dari pelukan Richard, Kate justru semakin merapatkan dirinya dalam pelukan prianya itu. “Kau merindukanku?” bisik Richard di telinga Kate.
“Menurutmu saja. Aku bahkan sudah bersiap untuk memesan tiket ke Jakarta kemarin.” Pelukan Kate semakin erat.
Sejak hubungan mereka kembali lagi, keduanya semakin dekat, Richard bahkan sudah berpikir untuk melamar kekasihnya ini setelah ucapan ayahnya di makan malam tempo hari. Tapi, secara teknis, keduanya sudah bertunangan sejak pertama kali. Hanya tinggal menunggu hari dimana mereka memutuskan tangggal pernikahan.
Tak masalah jika mereka menikah atau tidak, Richard toh sangat menikmati kedekatan mereka saat ini, ia juga yakin Kate merasakan hal yang sama. Tapi, akan lebih baik jika kepemilikan Richard akan Kate semakin di ikat dan di resmikan, pasti akan sangat baik, kan?
Terakhir kali Richard membicarakan masalah ini juga mereka berakhir dengan perpisahan, bagaimana jika kali ini juga akan sama? Kate sangat tak tertebak di balik wajah menggodanya, hal yang membuat Richard selalu merasa penasaran akan kekasihnya ini.
“Bagaimana pendapatmu tentang pernikahan?” tanya Richard ketika keduanya sudah duduk di ruang tamu apartemen Kate.
“Merepotkan.”
Beruntung Kate masih betah berada di pelukan Richard, jadi ia tak perlu melihat raut kaget kekasihnya itu. Dari banyaknya kemungkinan jawaban yang benar, hanya ini kemungkinan yang masuk akal. Kate dan pernikahan adalah diua hal yang bisa sangat mengesalkan dan tak boleh di satukan, tentu saja.
__ADS_1
“Aku ingin mewujudkan keinginan ayahmu untuk menikahimu.”
**
Nabila termangu menatap Juna di hadapannya. Juna menagih janjinya untuk membicarakan sesuatu sembari makan malam, dan Nabila menerima hal tersebut. Pesanan menu mereka baru datang, Nabila belum menyentuh makanan di piring itu, begitupun dengan Juna. Selera makannya sudah hilang ketika ia mendengar pengakuan pria yang lebih muda lima tahun darinya itu.
“Aku udah pernah bilang sebelumnya jika hubungan kita tak boleh lebih dari rekan kerja, aku tak menjalin hubungan pribadi dengan rekan kerja,” ucap Nabila.
Ada perasaan bahagia yang menyusup di hatinya ketika untuk kesekian kalinya ia mendapat pengakuan serupa dari pria ini. Well, tak ada yang salah dengan pengakuannya, karena ia juga memegang prinsip ini sejak dulu. Rasanya pasti akan tak nyaman jika berhubungan dengan rekan kerja.
“Kalau ini karena Arlina—“
“Ini bukan tentang siapapun, Juna. Ini tentangku yang tak menyukai hubungan pribadi seperti ini.”
Raut kecewa tergambar jelas di wajah Juna. Mendapatkan penolakan untuk kesekian kalinya juga tak semudah itu, dan ia juga sudah cukup bersikap tegar. Nabila memang salah satu wanita yang tak akan semudah itu di taklukan, ia juga sangat tahu tentang hal itu..
“Karena aku lebih muda?” tanya Juna.
Sudah sering Nabila pikirkan kembali tentang perasaannya pada pria ini, dan ia selalu berada di jalan buntu. Memang benar ia mulai menyukai Juna, tapi ia juga tak akan semudah itu untuk mengatakannya dengan gamblang.
Jika kini di hadapannya ada dua pilihan antara keluarganya dan juga Juna, maka pilihan Nabila tetap jatuh pada keluarganya. Ia menyukai Juna, tapi siapa yang akan menjamin jika perasaannya kini mampu bertahan lama? Tak juga dirinya maupun Juna. Pria itu juga pasti hanya memiliki perasaan ini selama sesaat, seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan hilang dengan sendiri, lalu Juna akan menemukan wanita lain yang tentunya jauh lebih baik.
“Kamu gak akan mengerti, Juna …,”
“Kenapa tak membuatku mengerti? Kenapa justru terus-terusan menolakku? Kalau memang ada sesuatu yang kurang, kamu bisa memberitahuku dan aku akan memperbaikinya.”
Tak ada panggilan ‘Mbak’ lagi, wajah Juna juga terlihat sangat serius. Juna yang jenaka sudah menghilang, kini ada pria lain yang mendiami tubuh Juna dan berusaha mengambil alih segalanya.
Bahkan sebelum kembali mengungkapkan perasaannya kembali pada Nabila, Juna sudah tahu ia akan kembali di tolak. Tapi, entah kenapa ia ingin kembali mencoba dan memenangkan hati wanita ini. Pasti ada satu cara untuk menaklukan hati Nabila, ia hanya belum mengetahui cara itu saja.
“Kupikir pembicaraan kita udah selesai, aku permisi dulu.”
Juna mencekal lengan Nabila sebelum wanita itu mampu melangkah lebih jauh lagi. Ia tak semudah itu untuk menyerah, ada beberapa hal yang membuatnya segigih ini. Pertama, ia menyukai wanita ini. Kedua, ia sangat
menyukai Nabila. Ketiga, ia mencintai Nabila. Tak ada alasan untuknya menyerah terhadap perasaan yang ia miliki.
“Apa kamu gak mau kasih kesempatan untukku sekali aja untuk membuktikan kalau aku benar-benar serius dengan semua ini? Aku mungkin terlalu muda untuk mengerti semua permasalahanmu, tapi aku tahu kalau perasaan ini tulus,” ucap Juna.
Nabila tak ingin menatap Juna, ia tak ingin goyah dengan ucapan pria ini. Sudah sejauh ini ia menahan perasaannya, ia harusnya berhasil menahan semua itu hingga kini. Tapi, sebagian kecil dari hatinya meminta untuk tinggal lebih lama di hadapan pria ini. Situasi seperti ini benar-benar mengesalkan, kenapa seluruh organ vitalnya tak mampu memintanya melakukan hal yang sinkron sedikit saja?
Cekalan tangan Juna di pergelangan tangan Nabila berpindah menuju telapak tangan wanita itu, dan menyatukan kedua tangan mereka dalam satu genggaman hangat. Hal kecil itu mampu membuat Nabila menutup kedua matanya untuk merasakan kehangatan yang seketika menjalar di sekujur tubuhnya.
Seharusnya tak seperti ini. Nabila tak seharusnya selemah ini hanya karena sebuah genggaman tangan, kan?
“Apa yang kamu harapkan dariku? Aku sudah pasti tak akan mampu memberimu apa yang gadis di luaran sana lakukan,” bisik Nabila.
Juna bangkit dari duduknya, ia berdiri di hadapan Nabila dan menatap kedua mata itu. Belum pernah ia merasakan perasaan ini sebelumnya, perasaaan yang sangat nyata ia rasakan, yang membuatnya memiliki pendirian untuk mempertahankan seorang wanita di sisinya.
“Aku gak pernah mengharapkan apapun, berada di sampingmu saja sudah merupakan salah satu hal terbaik yang aku harapkan. Jadi, sekali ini saja, tolong jangan mendorongku untuk menjauh.”
__ADS_1
Selama hidupnya, Nabila tak pernah mengharapkan pria lain selain Reno untuk menatap matanya seserius ini. Tak pernah ada pria lain yang melakukan ini padanya, karena di hidupnya, sejak dulu hingga terakhir kali, hanya Reno yang mampu menguasai hatinya. Lalu lihatlah apa yang di lakukan mantan suaminya itu, ia justru berselingkuh dengan sahabatnya, lalu kembali meminta rujuk setelah hampir satu tahun perceraian mereka.
Bagaimana Nabila bisa kembali mempercayakan hatinya pada pria lain lagi? Cinta tak bisa menjamin semua itu, kan?
**
Selama dua minggu ini, Elle sudah melakukan kegiatan selayaknya wanita pada umumnya. Sedikit banyak ia sudah merasakan kebebasan yang sebelumnya di renggut oleh Brian, ia tinggal dengan tenang bersama sang Ibu yang masih bekerja di klub malam. Elle sudah mendapatkan pekerjaan paruh waktunya di sebuah minimarket tak jauh dari apartemen milik ibunya. Ia ta ingin menjadi anak durhaka yang hanya bersenang-senang saja.
Walaupun ibunya sudah mengatakan memberinya izin untuk bersenang-senang, tapi Elle cukup tahu diri. Harapannya masih sama untuk meninggalkan Jerman dan tinggal di sebuah negara yang tak satupun orang
mengenalnya, bersama sang ibu tentu saja.
Tabungan yang ia miliki selama bekerja sejak tiga tahun lalu mungkin tak terlalu banyak dan hanya cukup untuk membeli tiket pesawat, tapi tak masalah, ia bisa kembali bekeja keras untuk menghidupi mereka dimanapun mereka berada nanti. Walau hanya sebuah gambaran di kepalanya saja sudah mampu membuat senyumnya mengembang dengan sangat lebar, impian kecil yang mampu membuat suasana hatinya lebih baik.
“Kau sudah selesai bekerja?”
Wajah Elle yang tadinya berseri, kini berubah ketika ia mendongak untuk menatap seseorang yang mengatakan kalimat itu. Enzo. Pria ini sepertinya tak pernah menyerah, kan? Suasana minimarket cukup sepi karena jam juga sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Shift bekerja Elle sudah selesai, ia hanya perlu menunggu pegawai paruh waktu lainnya untuk berganti shift.
“Kau tak akan menyerah untuk mengikutiku, kan?” cibir Elle.
Enzo menunjukkan senyum lebarnya, yang tanpa perlu di puji pun sudah sangat manis. Elle yakin jika ada pelanggan wanita yang berbelanja di sini, mereka pasti akan sangat terpesona dengan kehadiran seorang pria yang memberi senyum lebarnya dengan sangat manis ini. Elle tentu saja tak akan terpesona pada pria ini, karena ia sendiri saja sudah terlanjur jatuh pada pesona Enzo jauh sebelum ini.
“Tak baik jika wanita pulang terlalu larut dan sendirian, aku hanya ingin menjadi berguna dengan mengantarmu pulang.”
“Omong kosong. Apartemenku hanya perlu menyeberang jalan saja, carilah alasan yang lebih baik lagi.” Tak ada nada kesal dalam suara Elle, karena kali ini ia memang tak kesal dengan kehadiran Enzo yang tiba-tiba.
“Kau tak mengetahui apa yang mungkin saja akan terjadi, bagaimana jika ada orang iseng yang tiba-tiba mencegatmu? Menyeberang jalan juga merupakan salah satu bahaya yang bisa terjadi,” ucap Enzo dengan sangat
meyakinkan.
Ada senyum tipis yang terbit di bibir Elle. Ia tak akan berbohong jika ia tak menikmati perhatian kecil Enzo ini.
Tak lama berselang setelah obrolan kecil keduanya, seorang pria paruh baya memasuki minimarket tersebut. Ia adalah orang yang akan menggantikan Elle, sekaligus pemilik minimarket itu. Elle hanya bekerja dari pagi hari hingga dini hari seperti ini, setelahnya akan di gantikan oleh pemilik toko yang cukup ramah.
“Kau cocok juga bekerja di sana, aku jadi lebih sering melihat senyummu,” ucap Enzo ketika mereka sudah berada di trotoar, menunggu lampu hijau untuk menyeberang.
“Aku tak bekerja di sana untuk mendapat pujianmu.”
“Tapi aku menikmati memujimu, kau harus sering-sering di puji agar aku bisa melihat semburat merah dan senyum malu-malu di wajahmu.”
Mau tak mau Elle tertawa kecil dengan ucapan Enzo itu. Sejak terakhir kali pembicaraan dengan ibunya, Elle sudah memutuskan untu melunakkan sedikit hatinya dan menerima Enzo. Toh, pria ini juga tak memiliki motif lain untuk mencelakai keluarganya, dan pria itu juga sudah banyak membantu Elle. Tak ada yang salah jika ia mulai untuk membuka dirinya lagi.
Ketika sampai di depan gedung apartemen, ponsel Elle berdering. Tak ada nama yang tertera di layarnya, hanya deretan nomor asin yang muncul. Dengan hati-hati, Elle mengangkat panggilan tersebut, bukan tak mungkin jika itu Brian yang akan kembali muncul untuk memberi ancaman. Pria itu tak akan tinggal diam dengan semua kebebasan yang Elle rasakan.
Seiring dengan telepon yang sudah tersambung, raut wajah Elle berubah, tak ada senyum tipis ataupun tawa di bibirnya. Matanya menatap Enzo dengan gelisah, wajahnya juga memucat, ia ketakutan, dan ponsel itu meluncur begitu saja dari telinganya seiring dengan tubuhnya yang ambruk ke bawah.
“Ada apa?” tanya Enzo khawatir. Ia meraup wajah Elle di kedua telapak tangannya, mencoba untuk menyadarkan wanita itu dari keterkejutannya.
“Ibu … Ibu …,”
__ADS_1
**