Playboy

Playboy
#26. Revealed


__ADS_3

**Gak mau ngomong banyak. Happy monday and happy reading^^


**


**


Semua yang di pikirkan oleh Katherine benar-benar bertolak belakang dengan yang sedang terjadi. Setelah pertengkaran kecilnya dan Richard hari itu, ia berpikir jika Richard mungkin akan menjauhinya, tapi nyatanya tidak. Pria itu justru tetap melakukan segala sesuatunya seperti biasa, kali ini pria itu mulai memiliki ruangan kantor sendiri untuk memudahkannya dalam membantu Katherine mengatur manajemen.


Pasti ada campur tangan dari sang Ayah, Richard tak mungkin mampu melakukan itu seorang diri walaupun ia juga memiliki kuasa. Yang berbeda dari semua itu adalah, sikap Richard yang kali ini lebih dingin dari sebelumnya. Untuk yang satu itu, Katherine mampu memhaminya, justru akan terlihat sangat aneh jika Richard menjadi akrab.


“Kami akan menghubungi kembali ketika keputusan sudah bulat,” ucap Richard. Ia menjabat tangan pria paruh baya yang akan menjadi klien perusahaan milik Ayah Katherine. Ada Katherine juga di samping Richard yang sibuk mencatat pembicaraan penting keduanya.


“Suatu kehormatan untuk kami jika kita nanti bekerja sama.”


Richard tersenyum di hadapan pria ini, giginya sudah sangat kering karena melakukan hal itu sejak tadi. Ini adalah bagian yang paling ia benci ketika rapat dengan klien, harus tersenyum, akrab, dan sejenisnya. Jika bisa, Richard akan meninggalkan pria ini begitu saja, mereka juga tak akan rugi jika Richard menolak kerja sama ini.


Richard juga tak bodoh, ia tahu sejak tadi pria ini menatap Katherine tak berkedip. Pakaian wanita ini memang sudah tak terbuka di sana sini, tapi tetap saja tak bisa menyembunyikan lekuk tubuh Katherine yang pas di tempatnya. Bukan kesalahan Katherine juga, sedari tadi ia fokus pada catatan penting di hadapannya.


“Jika sudah selesai, saya akan pergi lebih dulu. Istri saya perlu mampir di suatu tempat,” ucap Richard.


Pria itu dan juga Katherine serentak menatap Richard yang menatap keduanya tanpa emosi. “Ah, apakah saya belum memperkenalkan wanita cantik ini? Dia adalah istri saya, dia biasanya juga membantu saya melakukan hal kecil seperti ini,” lanjut Richard lagi.


Tanpa berniat mengurangi rasa hormatnya pada klien kali ini, Richard langsung bangkit menggandeng Katherine. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit pada pria asing ini. Jika lebih lama sedikit saja, mungkin Richard akan kehilangan satu klien potensial dan potensi untuk di jebloskan penjara juga.


“Apa-apaan tadi itu?” tanya Katherine dengan sengit. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil, wajah Richard bahkan masih memerah akibat menahan amarah. Walaupun pria tadi tak mengatakan secara langsung, sudah jelas kalau ia tertarik pada Katherine.


“Aku hanya tak menyukai tatapan pria tadi padamu.” Richard mulai menyalakan mobilnya, mereka harus kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang menumpuk.


Katherine terdiam. Ia menyukainya, tapi juga tak ingin menunjukkannya. Ia berusaha keras untuk tak tertarik pada apapun yang Richard lakukan padanya. Kalimatnya yang mengatakan bahwa ia melakukan pertunangan ini karena Ayahnya, membuat Katherine sedikit tak aman. Bukan berarti semua pria yang di jodohkan pada Katherine mencintainya, tak ada satupun yang menggunakan hatinya, kebanyakan karena pengaruh sang Ayah.


Tapi, kali ini, sedikit saja Katherine berharap Richard berbeda. Tapi, nyatanya sama. Semua ungkapan cinta dan cara pria ini menggoda juga sudah pasti adalah bagian dari akting. Katherine harus memberikan penghargaan pada Richard, karena untuk sesaat, Katherine mempercayai semua ucapan pria itu.


“Aku akan meminta Ayah untuk membatalkan pertunangan kita, sedikit banyak aku juga sudah menguasai semua yang kau ajarkan. Kau bisa kembali ke Indonesia tanpa terbebani olehku,” ucap Katherine.


Tak ada jawaban dari Richard, Katherine melirik ke arah pria itu, dan genggaman tangannya di kemudi mobil sangat kuat. Apa pria ini marah? Tapi kenapa harus marah? Bukankah ia harusnya senang dan bahagia? Bisa terbebas dari jeratan Katherine saja sudah sangat luar biasa, walau ada rasa enggan untuk melakukan hal tersebut.


Mobil berhenti di bahu jalan jembatan layang menuju kantor mereka. Hanya perlu berkendara sampai ujung jembatan layang ini, dan mereka akan sampai di kantor. Jalanan masih cukup ramai, dan pasti akan selalu ramai karena ini adalah pusat kota.


“Apa kau tak pernah mengerti? Setidaknya sedikit saja untuk belajar memahami perasaan di antara kita, kau tak pernah melakukannya, kan?” tanya Richard. Wajahnya dingin tanpa sedikitpun menatap Katherine.


Sepertinya suasana hati Richard sedang tak dalam kondisi baik, atau memang Richard tak ingin berbaik hati lagi pada Katherine? Sepertinya kedua alasan itu adalah yang paling tepat, ini pertama kalinya Katherine merasakan aura yang tak baik menguar di sekitar mereka.


“Kau sendiri yang mengatakan kalau semua ini karena Ayahku, aku hanya membantumu lepas dari permintaan konyol Ayahku.”


Memang Richard mengatakan kalimat itu, tapi bukan dalam maksud yang buruk. Jika Richard juga menyukai Katherine, maka ia tak akan menjalani semua ini dan bertunangan dengan Katherine. Mungkin nada bicara Richard kemarin salah dan menimbulkan salah paham pada wanita ini.

__ADS_1


Richard melakukannya dengan cepat, bahkan Katherine tak mengantisipasi semua itu. Richard menciumnya, keras, tak ada kelembutan di dalamnya, ia ingin menyalurkan rasa frustrasi yang sudah ia tahan sejak awal. Ia frustrasi karena Katherine yang terlihat mencintainya, tapi justru menunjukkan hal yang sebaliknya.


“Apa ini belum cukup untuk meyakinkanmu? Apa sikapku selama ini belum mampu meyakinkanmu bahwa aku benar-benar menyukaimu, ah, tidak, aku mencintaimu,” ucap Richard.


Richard menyatukan kening keduanya setelah ciuman yang cukup menghabiskan napas mereka, ia menatap tepat di mata Katherine. Lalu, Richard kembali menyatukan bibir mereka, kali ini lebih lembut. Ia ingin Katherine juga merasakan cinta dalam ciuman itu, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya benar-benar mencintai Katherine.


**


Liliana sudah kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa, tak ada hal tertentu yang ia lakukan kecuali bekerja dan mengurus Elang. Dua hal yang menjadi prioritasnya saat ini. Enzo sudah jarang mengunjunginya, entahlah, sejak


lamaran pria itu yang sangat mendadak, Enzo jarang muncul. Menghubunginya pun hampir tak pernah. Apa mungkin pria itu marah karena jawaban Liliana?


Jawaban Liliana kemarin memang sedikit keterlaluan, setelah semua hal yang pria itu lakukan. Tapi, Liliana hanya ingin jujur pada perasaannya, ia tak ingin menjadikan Enzo sebagai pelarian sesaat lalu meninggalkannya begitu saja. Hatinya sama sekali tak siap untuk pria baru yang akan masuk ke dalam hidupnya. Tak ada keinginan untuk kembali menjalin kasih kembali, Liliana sudah mengatakan itu pada dirinya berkali-kali.


“Kekasihmu sepertinya sudah jarang menjemput,” ucap Ally. Hanya beberapa menit lagi hingga jam pulang kantor mereka, karena kubikel Ally dan juga Liliana berdampingan, inilah yang mereka lakukan sembari mengerjakan pekerjaan mereka.


“Sudah kubilang dia bukan kekasihku, Al.”


“Memangnya kenapa jika dia kekasihmu? Dia cukup tampan, dan sangat sangat tampan untuk di perkenalkan pada keluarga dan teman-teman,” bisik Ally. Ia tak ingin di marahi oleh manajer mereka karena selalu mencuri-curi waktu untuk mengobrol.


Siapa yang akan meragukan ketampanan Enzo, tapi bukan itu yang Liliana cari. Hatinya memang berdetak tak karuan jika pria itu melakukan hal-hal di luar kehendaknya, tapi tak pernah mampu menggerakkan hati Liliana untuk mulai mencintai Enzo.


“Aku hanya merasa tak cocok, dan aku juga belum siap. Aku ingin fokus pada Elang.”


Ally dan Susan, serta hampir seluruh karyawan kantor sudah mengetahui bahwa Liliana sudah bercerai dan memiliki seorang putra. Tak ada alasan bagi Liliana untuk menyembunyikan statusnya ini, ia janda, lalu kenapa?


“Bibiku juga seperti itu dengan suaminya. Dia memutuskan untuk tak menikah lagi, dan hidup dengan mantan suaminya. Mereka menolak untuk kembali bersama karena tak ingin hubungan mereka kembali merenggang, hal yang lucu sebenarnya, karena mereka menjadi akur kembali setelah bercerai,” timpal Ally.


Liliana merenungkan ucapan Ally barusan. Ia seperti bisa merasakan apa yang Bibi Ally rasakan, karena kemarin ia juga merasakan hal yang sama pada Dimitri. Apa ini karena mereka mencoba lebih dekat satu sama lain demi Elang? Atau mereka hanya mencoba menciptakan alasan agar tetap dekat?


“Sepertinya aku bisa merasakan apa yang bibimu rasakan,” ucap Liliana.


Ally dan Susan bertatapan, mereka sudah tak peduli jika manajer akan menegur mereka, toh ini sudah masuk jam pulang kantor. Keduanya mendekatkan kursi mereka pada kubikel Liliana, ini topik hangat dari rekan kerja mereka yang sangat sayang untuk di lewatkan. Mereka sangat kekurangan informasi tentang Liliana, kecuali pria yang sering menjemputnya itu.


“Jadi benar kau masih mencintai mantan suamimu?” tanya Susan.


Liliana mengangkat kedua bahunya. “Aku juga tak yakin. Apa aku memang masih mencintainya, atau ini hanya perasaan sesaat karena kami masih berhubungan baik demi Elang? Aku tak yakin antara keduanya.”


“Kami juga tak yakin sebenarnya, situasi seperti ini belum pernah kami alami. Tapi pasti ada beberapa pertimbangan yang mungkin dapat membuatmu kembali padanya,” ucap Ally.


Mereka kini benar-benar dalam mode serius tanpa raut candaan sedikitpun. Mungkin ini pertama kalinya mereka seperti ini. Ketika Susan menceritakan tentang Robert, mereka tak pernah seserius ini, justru mereka membuat suasana yang ada menjadi seperti candaan.


“Aku bahkan berpikir sangat keras ketika memutuskan untuk bercerai. Ini juga tak mudah untukku, aku memikirkan anakku, kedua orang tuaku, bahkan kedua orang tuanya. Setelah sidang itu, aku merasa lega dan juga kosong.” Liliana menatap kedua temannya, mereka adalah orang kedua setelah Nabila yang mendengar kisah ini.


“Ya, pernikahan pun juga sama. Ada dua keluarga yang menjadi fokus, bukan hanya kita saja. Jika sudah seperti ini, bukankah lebih baik jika mengikuti isi hatimu saja?” tanya Susan.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Liliana begitu terbuka pada orang lain, ia tak pernah menceritakan hal-hal tentang perasaannya pada orang yang baru saja di kenal. Pada Katherine pun, Liliana tak menceritakan banyak hal dan cenderung cuek. Kali ini, ia hanya ingin lebih membuka diri dan bersosialisasi lebih luas pada sekitar. Semenjak perceraian itu, Liliana terus mengatakan hal itu pada dirinya berulang-ulang. Ada perbedaan besar dalam dirinya ketika ia kabur ke Jerman, dan ketika ia kabur kedua kalinya lagi setelah perceraian itu.


Perbedaan besar itu merupakan hal yang baik dan memang harus ia lakukan, ia tak bisa selamanya menutup diri karena kekecewaannya pada Dimitri. Mereka berdua juga tersakiti dengan keputusan yang sudah bulat ini. Aneh rasanya jika harus kembali bersama lagi setelah keputusan besar yang di pilihnya.


**


Enzo meletakkan kembali ponselnya setelah membaca pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Entah sudah keberapa kalinya pesan singkat itu masuk ke ponselnya, dan dari nomor asing yang sama. Enzo sangat tahu siapa pengirim pesan itu, ia hanya tak ingin peduli. Pertemuan mereka kemarin saja sudah mampu membuat Enzo


kembali mengingat kenangan yang ingin ia lupakan.


Tujuh tahun sudah berlalu, dan wanita itu baru menampakkan batang hidungnya setelah waktu yang lama itu. Setelah semua rasa sakit yang Enzo tanggung selama ini, dan ketika rasa sakit ini akan hilang, wanita itu muncul dengan tidak tahu dirinya. Ayahnya tak mengetahui hal ini, jika tahu, entah apa yang akan terjadi.


Entah sudah berapa hari berlalu, dan ia mengabaikan Liliana. Perasaannya sedang kacau, apalagi setelah penolakan secara halus itu. Ia saja yang terlalu terburu-buru dan tak ingin menunggu, Liliana bukan tipe wanita yang spontan seperti itu. Mata wanita itu tak bisa berbohong, bahkan ketika pertama kali Enzo mengatakan


kebohongan sebagai kekasih Liliana.


Mobil yang di kendarai Enzo memasuki pelataran parkir gedung apartemennya, dan ada satu hal yang masuk ke dalam retina matanya. Wanita dengan tubuh kurus dan masih terlihat pucat seperti terakhir kali mereka bertemu. Cecilia. Wanita itu bahkan mengetahui alamat apartemennya, apakah ia juga tahu nomor apartemennya?


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Enzo sinis.


Cecilia menegakkan kepalanya tiba-tiba, ia sedikit kaget dengan kehadiran pria ini. Ia gelagapan ingin menjawab setelah melihat tatapan dingin pria ini. Ia tak bisa mengharapkan tatapan hangat Enzo lagi seperti dulu, itu masa lalu dan juga kenangan yang sangat manis untuknya. Hanya satu kesalahan yang membuat mereka seperti ini.


“A…aku menunggumu,” jawab Cecilia gugup.


“Pulanglah. Aku tak ingin berbicara ataupun bertemu denganmu lagi.”


Sakit. Tentu saja. Pria yang dulunya hangat, kini menjadi sangat dingin padanya. Ini memang salahnya, seandainya saja ia tak menuruti perintah Ayahnya yang sangat gila harta itu.


“Aku akan menyerahkan diri kepada polisi.”


Langkah Enzo terhenti mendengar kalimat itu. “Memang itu yang harus kau lakukan sejak dulu, kau sadar berapa banyak kesalahanmu dan juga Ayahmu, kan? Pastikan Ayahmu juga melakukan hal yang sama,” ucap Enzo. Ia sama sekali tak menoleh pada Cecilia.


“Ayahku sudah meninggal, dua tahun yang lalu,” ucap Cecilia.


Enzo kini membalikkan tubuhnya untuk menatap Cecilia. Wanita ini sangat berbeda, tiga ratus enam puluh derajat. Wanita hangat, ceria, penuh senyum yang dulu di cintai Enzo sudah menghilang. Enzo tak menyayangkan semua itu, apapun yang terjadi, hanya dendam dan rasa sakit hati yang ia rasakan ketika melihat wanita ini kembali. Jangan lupakan penyesalannya.


“Ah, sayang sekali, tapi setidaknya ia sudah menebus kematian adikku dengan nyawanya. Lalu kau di sini untuk menebus kesalahan Ayahmu, tapi jika di pikir-pikir lagi, kau memang berkomplot dengan Ayahmu. Apa kau siap menanggung kesalahan Ayahmu juga?”


Tatapan mata Cecilia berkaca-kaca, ini bukan Enzo. Walaupun sedikit, ia masih berharap Enzo yang hangat masih tersisa di dirinya dan menunjukkan itu pada Cecilia. Ia juga menderita selama tujuh tahun ini, dan itu bukan hal yang mampu membuatnya baik-baik saja.


“Ya, aku siap menanggung dosa yang kulakukan di masa lalu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal sebelum aku menebus dosaku,” ucap Cecilia. Air matanya benar-benar luruh, padahal ia sudah berjanji untuk tak menangis.


Enzo diam di tempatnya, melihat air mata di pipi yang tirus itu membuat sudut hatinya nyeri. Bisakah ia merasakan itu ketika wanita ini adalah penyebab bekunya hati Enzo?


“Perasaan itu tulus, sejak dulu, dan aku mencintaimu. Dulu, hingga sekarang.”

__ADS_1


**


Terakhir, aku cuman mau bilang kalau ini udah menuju ending. Aku gak tahu ini bakal sesuai harapan kalian atau nggak, jadi dari sekarang siapin deh ya hati kalian trus juga siapin deh protes kalian setelah ending. Oke? ;D


__ADS_2