Playboy

Playboy
#2# Take 19


__ADS_3

Happy reading^^


 



 


Aidan sakit. Panas tubuhnya terus meningkat bahkan ketika ia sudah di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan infus. Nabila benar-benar panik sejak tadi, ini bukan sakit pertama yang di derita Aidan, tapi entah kenapa kali ini tingkat kepanikan Nabila benar-benar meningkat. Hanya satu hal yang di gumamkan Aidan sejak tadi, ‘Papa’.


Sudah sejak tadi Reno berada di ruang rawat Aidan, menggenggam tangan putranya dengan erat. Nabila menjadi saksi semua kejadian itu, ia juga sangat tahu seberapa dekat putranya itu dengan sang papa. Setelah Aidan demam seperti ini, Nabila semakin panik dan juga merasa bersalah. Jika saja ia tak egois, mungkin Aidan tak akan jatuh sakit seperti ini, ia merasa seperti sudah memisahkan sang putra dari ayahnya.


Nabila masih meremas kedua tangannya yang sangat dingin. Ibunya ada di rumah bersama Alya, nanti ketika keadaan Aidan sudah membaik, Nabila akan meminta sang Ibu dan juga Alya untuk datang kemari. Ia masih duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang rawat Aidan, kekhawatirannya masih belum bisa hilang sejak tadi.


“Panas Aidan sudah turun, ia juga sudah makan dan meminum obatnya.”


Nabila merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya, dan mengatakan kalimat itu padanya. Itu Reno. Nabila tak bisa memberikan jawaban apapun, ia hanya menganggukkan kepalanya dan mulai melepaskan remasan di tangannya sejak tadi. Setidaknya kali ini rasa khawatirnya sudah sedikit berkurang.


“Mungkin Aidan sangat merindukan ayahnya,” ucap Nabila.


Reno juga ikut diam tanpa menjawab satu patah kata pun. Ia tak tahu jika masalah yang ia sebabkan bisa menjadi seperti ini. Ia sudah berkali-kali mengatakan betapa menyesalnya ia terhadap perbuatan yang ia lakukan, tentu ia tak bisa mendapatkan ampunan Nabila begitu saja. Membiarkan dirinya bertemu dengan anak-anaknya saja sudah merupakan hal baik yang terjadi di hidupnya, seharusnya ia tak memiliki muka untuk menemui anak-anaknya.


“Aku akan menjaga Aidan di sini, kamu lebih baik pulang. Aku akan terus mengabarimu jika keadaan Aidan membaik.”


“Menurutmu aku egois?” tanya Nabila.


Reno sangat tahu kemana tujuan pertanyaan ini, ia juga tak memiliki jawaban yang tepat untuk semua itu. Ia sangat pantas mendapatkan hukuman seperti ini, bahkan seharusnya ia mendapatkan hukuman yang lebih berat dari ini. Tapi, Nabila adalah Nabila. Mungkin semua orang akan mengatakan jika wanita ini sangat sombong dan kalimatnya sangat tajam, tapi itu semua karena kepeduliannya terhadap orang lain.


Siapapun yang memiliki hubungan dekat dengan Nabila sangat beruntung, termasuk dirinya, jika saja ia tak melakukan kesalahan.


“Setiap kali aku menatap Aidan, aku merasa sangat bersalah. Ia bahkan selalu bertanya kenapa kita tak tinggal bersama lagi, dan ketika pertanyaan itu ia lontarkan, aku selalu tak memiliki jawaban,” ucap Nabila lagi. Matanya sudah memerah menahan tangis.


Ini adalah fase dimana Nabila merasa ia sudah gagal menjadi seorang Ibu. Bagaimana ia bisa memilih egonya di banding perasaan kedua anaknya? Tak pernah sekalipun setelah perceraian ini, Nabila tak memikirkan kedua anaknya, terutama Aidan. Ini adalah pilihan terbaik, tapi juga tersulit yang pernah di berikan padanya. Hidupnya


tak pernah sama lagi setelah ini.


Reno memperhatikan itu semua. Apa yang harus ia lakukan? Ia sangat ingin membawa wanita ini ke dalam pelukannya, dan menenangkannya. Ia ingin mengatakan jika semuanya baik-baik saja, ia sendiri yang akan memastikan semua ini berjalan seperti yang sudah seharusnya. Tapi tubuhnya juga kaku. Pantaskah ia mengatakan semua kalimat itu ketika ia sendiri yang menjadi sumber masalah semua ini?


“Kalau kamu tak keberatan, bisakah aku tinggal bersama Aidan selama ia sakit ini? Aku berjanji  akan memberikan pengertian padanya,” usul Reno.


Nabila menghapus air mata yang baru saja mengaliri pipinya. Walaupun pilihan sudah di tentukan, tak ada yang bisa menjamin jika semuanya akan baik-baik saja, kan? Semua pilihan tetap memiliki resiko pada akhirnya.


“Ya, jika memang itu yang terbaik. Apa aku boleh melihat Aidan dulu?”


Reno menganggukkan kepalanya, dan Nabila segera bangkit dari duduknya untuk menemui putra pertamanya itu. Reno selalu menginginkan kesempatan kedua atas semua kesalahannya, ia ingin menebus semua kesalahannya dan membahagiakan kembali keluarga kecilnya, ia berjanji tak akan membuat kesalahan yang sama.


Itu adalah keputusan yang selalu ada di dalam hatinya hingga sekarang, tapi tak mampu ia utarakan. Mereka memang menghadapi saat-saat terburuk dalam hidup mereka saat ini, Nabila yang paling banyak mendapatkan penderitaan itu, dan ia tak mungkin untuk meminta kesempatan kedua itu setelah semua hal yang wanita itu lalui.

__ADS_1


Perbuatan Reno bukanlah suatu hal yang bisa di maafkan begitu saja. Memangnya ada istri yang akan dengan lapang dada menerima perselingkuhan suaminya begitu saja? Mungkin di luaran sana masih ada orang-orang seperti itu, tapi Nabila jelas bukan tipe wanita seperti itu. Menyakiti Nabila berarti harus bersiap dengan hasil pahit


yang harus ia terima, jadi, Reno tak akan berani menyuarakan permintaan hatinya. Ia hanya harus menerima apa yang seharusnya ia terima.


**


Richard benar. Ayah Kate, Anthony, sama sekali tak menceramahi Kate karena hubungan pertunangan yang berakhir itu. Sama sekali tak ada ceramah yang di dapat ataupun kemarahan seperti sebelum-sebelumnya. Entah apa yang di katakan Richard, tapi semua kekhawatirannya tak terjadi, tapi itu semua juga membuat kekhawatiran lain muncul. Akan lebih baik jika Kate menerima kemarahan sang ayah di banding tanpa ucapan atau kalimat seperti ini.


Malam ini, Kate dan kedua orang tuanya sedang makan malam di rumah orang tuanya. Dan baru saja sang ayah mengatakan tentang Richard yang menemuinya kemarin untuk mengatakan jika ia ingin memutuskan pertunangan dengan Kate. Yang sangat tak bisa Kate terima adalah, sang ayah yang mengatakan semua itu seolah itu hanya


permasalahan biasa.


Itu memang bukan masalah besar, kan? Buktinya ketika Kate meminta untuk putus, ia bisa dengan lancar mengatakannya seolah itu bukan hal besar. Setidaknya Kate berusaha untuk terlihat seperti itu, hatinya tetap menangis dengan keputusannya sendiri. Ia juga hanya diam sepanjang makan malam itu.


“Bagaimana dengan proyek yang sedang kau kerjakan? Apa ada kendala yang kau terima?” tanya Anthony.


“Semuanya berjalan dengan lancar, Yah. Semua sudah hampir berjalan sebanyak tiga puluh persen. Jika tak ada kendala, maka tiga bulan lagi semuanya akan selesai,” jawab Kate.


Proyek itu juga bisa berjalan dengan baik atas campur tangan Richard, tanpa pria itu, sudah di pastikan jika proyek ini akan berhenti di tengah jalan. Kate sudah menguasai pekerjaannya, tapi akan lebih baik jika Richard selalu ada di sampingnya untuk membantu. Itu yang di inginkannya, tapi juga tak mungkin terjadi.


Richard sepertinya sudah sangat kecewa, tatapan mata dan juga nada bicaranya sudah sangat berbeda. Apalagi yang harus Kate harapkan? Ia yang kembali berhubungan dengan Richard? Sudah di pastikan jika Richard tak akan menginjakkan kaki lagi di kantor Kate. Ternyata ia memang sangat bodoh jika sudah menyangkut pria dan


juga cinta.


“Richard sudah mengatakan jika ia akan tetap membantumu, tapi ia akan membantumu melalui Jakarta. Ia juga memiliki kewajiban di kota kelahirannya itu, tetap jaga komunikasi kalian dengan baik,” ucap Anthony.


Ya, pembicaraan mereka kemarin tak sampai pada Richard yang akan kembali ke Jakarta  lagi, tapi, memang sudah seharusnya jika seperti itu, kan? Pria itu pasti tak akan sudi untuk menginjakkan kaki di sini lagi setelah apa yang ia lakukan, Memang sudah seharusnya seperti itu. Dan, lagi-lagi Kate merasakan perasaan asing yang membalut hatinya, hatinya terasa sangat perih seolah ada beribu-ribu jarum yang menancap di hatinya.


“Dia tak memberitahumu? Ia memang sudah seharusnya kembali ke Jakarta dua tahun lalu, tanggung jawabnya di sana juga besar.”


Allison—ibu Kate—hanya menyimak pembicaraan ayah dan anak di hadapannya dengan serius. Sangat jarang terjadi ketika suaminya initak memarahi putrinya ketika lagi-lagi hubungan yang sudah di ikat itu kembali putus. Sepertinya Richard benar-benar sudah mendapatkan hati suaminya ini yang sangat keras kepala.


Ekspresi dan juga raut wajah yang di tampilkan sang putri juga tak mampu menutupi segalanya. Walaupun Kate sangat jarang berada di rumah besar ini, tapi ia bisa tahu hanya dengan menatap wajah putri satu-satunya ini, ia mencintai Richard. Entah apa masalah yang sedang mereka hadapi, tapi Kate tampaknya masih tak bisa merelakan


berakhirnya hubungan mereka.


“Kau bisa mengurus semua pekerjaan itu sendiri, sayang? Jika terlalu berat, kau bisa mengatakan pada Ayah,” ucap Allison lembut. Ia bukan tak mempercayai kemampuan putrinya, hanya saja, siapa yang tahu jika Kate masih membutuhkan waktu untuk mengurus patah hatinya.


“Kate bisa, Bu.” Kate memberikan senyum lebar pada sang Ibu yang sangat ia paksakan.


Ia bisa mengurus semua pekerjaan ini seorang diri, ia hanya tak yakin sanggup untuk mengurus hatinya pasca patah ahti yang ia sebabkan sendiri. Pada akhirnya ia sangat jatuh cinta pada Richard, dan ia tak tahu harus melakukan apa.


**


Apa yang akan kalian lakukan jika bertemu orang yang kalian benci secara tak sengaja di tempat umum? Apa kalian akan menyapanya dengan ramah seolah tak terjadi apapu di antara kalian, atau kalian hanya akan melewatinya? Melewatinya adalah pilihan yang sangat baik sebenarnya, tak butuh banyak tenaga untuk mengeluarkan emosi, dan hanya cara yang praktis. Siapa juga yang ingin kembali berhubungan dengan orang yang sudah sangat di benci?


Nabila ingin melakukan itu, tapi kakinya sangat sulit di gerakkan. Ia bertemu dengan Reni di sebuah supermarket ketika ia sedang melakukan belanja bulanan, dan mereka saling bertatapan ketika hal itu terjadi. Bagaimana caranya untuk melarikan diri jika seperti ini? Nabila bukannya pengecut atau ketakutan dengan sahabat yang berselingkuh dengan mantan suaminya, ia hanya muak.

__ADS_1


Sepertinya dunia juga sedang bekonspirasi dengan dirinya, ketika akhirnya Nabila memutuskan untuk melewati wanita itu dengan troli belanjaannya, wanita itu justru menghentikannya.


“Sepertinya kita harus bicara,” ucap Reni.


Nabila menghentikan langkahnya, tapi juga tak membalikkan tubuhnya. Bertemu wanita itu saja sudah menambah daftar panjang kekesalannya, lalu mereka harus berbicara berdua saja? Nabila tak yakin jika mereka berdua nanti akan pulang dengan wajah mulus. Keinginan untuk mencakar serta menjambak wanita itu sangat besar, atau jika ini bukan di tempat umum, mungkin Nabila bisa melakukan hal ekstrem lainnya.


“Aku janji ini tak akan memakan waktu lama,” ucap Reni lagi.


Pada akhirnya, Nabila tetap mengiyakan permintaan Reni. Entah apa yang akan di bicarakan wanita itu, akan bagus jika itu termasuk permintaan maaf. Tapi, maaf juga tak akan mengubah segalanya, ia tetap sudah bercerai dan keluarga kecilnya yang sudah terpecah. Maaf tak akan mengembalikan keharmonisan rumah tangga Nabila


dulu, Nabila juga tak berencana untuk memaafkan wanita ini, tak peduli jika hal ini sangat salah. Hatinya lebih penting dari semua hal yang ada di dunia ini, termasuk juga wanita ini.


“Apa yang mau kamu omongin?” tanya Nabila, tanpa basa basi.


“Aku mau minta maaf atas perbuatanku dan juga Reno, aku tahu udah nyakitin kamu, jadi aku mau minta maaf.”


Sudah mampu Nabila duga apa yang akan di katakan oleh Reni, lalu apalagi? Memang sudah seharusnya seperti itu, kan?


“Kalau gitu, aku permisi.” Nabila bangkit dari duduknya, ia rasa pembicaraan seperti ini tak perlu di bicarakan lagi. Nabila juga tak membutuhkan penjelasan lebih lanjut, tak akan ada yang berubah dari semua itu.


“Tunggu,” cegah Reni.


“Kamu bilang gak akan lama, kan?”


“Aku gak mau ada kesalahpahaman di antara kita.”


“Kesalahpahaman? Maksudmu aku yang salah paham dengan hubungan kalian? Bukankah kalian memang bersalah?” cecar Nabila. Jika seperti ini, Nabila tak yakin dengan dirinya sendiri. Ia takut mungkin akan melakukan hal lain di sini.


“Aku sudah mengenalmu sejak kuliah, aku tak ingin hubungan kita menjadi buruk karena Reno,” ucap Reni.


Nabila kembali duduk di kursinya, ia tak akan bertahan dengan baik jika masih berdiri di hadapan wanita ini. Ia juga sangat mengenal Reni dengan baik, walau mereka juga tak begitu dekat. Teman Reno juga adalah teman Nabila, begitu pun sebaliknya. Jadi, tak ada alasan untuk Nabila tak mengenal Reni.


Setelah semua itu pun, ia justru di khianati oleh teman dekat mereka. Lucu sekali, kan, lingkaran ini?


“Hubungan ini sudah buruk sejak kamu melakukannya dengan Reno. Percayalah, aku sama sekali tak membutuhkan detail hubungan kalian seperti apa. Jika kalian ingin menikah, itu juga urusan kalian, aku tak memiliki masalah dengan kalian lagi.”


“Aku pernah ada di posisimu, Bil.”


Omong kosong apa lagi yang coba di sampaikan oleh wanita ini? Apapun itu, Nabila juga sama sekali tak ingin mendengarnya.


“Jadi, kau melampiaskannya pada orang lain sebagai bentuk balas dendam? Dan orang itu adalah aku. Jadi, bagaimana rasanya? Apa menyenangkan menyakiti orang lain? Apa menyembuhkan luka yang juga mungkin ada di hatimu?”


Reni sedikit terkejut dengan cecaran kalimat dan juga pertanyaan yang di lontarkan Nabila. Ia tahu Nabila bukan seperti wanita lain yang terlihat lemah, Nabila adalah wanita bermulut pedas yang tak segan-segan untuk mengomentari apa hal yang menurutnya tak sesuai. Itulah kenapa dulu Reni sangat menyukai kepribadian Nabila, bahkan memutuskan untuk menyerah dengan perasaannya pada Reno.


“Aku justru merasakan kosong dan hampa,” ucap Reni.


**

__ADS_1


__ADS_2