
Hai, mau tes ombak dulu, masih inget gak sama aku atau cerita playboy ini? Semoga kalian masaih inget dan berkenan buat baca ya :)
***
Segala sesuatunya harus di coba terlebih dahulu, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika belum mencobanya. Kalimat yang di ucapkan Dimitri itu terus terngiang di kepalanya sepanjang malam, bahkan hingga ia bekerja. Memangnya apa yang akan terjadi jika ia memutuskan untuk mencoba? Apa ia masih memiliki kesempatan untuk mencoba di usianya saat ini?
Tapi, jika harus kembali di tanya tentang perasaannya pada Juna, maka ia menyukainya. Ia tak boleh mengorbankan keluarga dan juga pekerjaan untuk kisah cinta sesaat yang mungkin akan ia jalani, terlalu beresiko. Tak ada yang menjamin ia akan baik-baik saja selama hubungan itu.
Mencoba memang salah satu cara terbaik yang ia miliki, tapi ia juga memiliki opsi lain yang bisa ia coba. Nabila sudah berjanji untuk tak melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Suara dering ponsel berhasil memecah lamunan Nabila dan satu nama di layar itu berhasil membuyarkan semua pikiran tentang Juna. Reno.
“Nabila, apa kita bisa bertemu?” tanya suara di seberang.
Ada alasan Nabila masih menyimpan nomor ponsel mantan suaminya itu, untuk urusan sang anak tentu saja. Ia sudah tak mengharapkan apapun dari sang mantan suami, setelah pria itu memutuskan untuk menikahi sahabatnya sendiri, entah itu untuk alasan cinta atau yang lain.
“Apa ada hal penting yang harus kita bicarakan?” Nabila tak akan menemui mantan suaminya jika itu bukan tentang anak mereka.
Memang sudah tak ada lagi perasaan yang tersisa untuk mantan suaminya, ia justru memilih untuk menghindarinya sebisa mungkin. Sudah hampir satu tahun berlalu, Nabila berharap goresan luka itu segera pulih agar ia bisa menjalani hidupnya sendiri dengan lebih baik. Tapi mungkin, ia butuh lebih lama lagi. Mungkin ia harus seperti Liliana yang memilih untuk pergi, lalu kembali lagi.
“Ya … ini tentang anak-anak.”
“Kirimi saja alamatnya.”
Nabila segera mematikan sambungan telepon itu sepihak. Tahu kapan hari tenangnya? Ketika ia kembali kerumah di malam hari dan bertemu kedua anak-anaknya. Hanya pada saat itu saja ia bisa merasakan ketenangan. Jangan tanya bagaimana dengan hari lainnya, sudah pasti terasa sangat berat.
Helaan napas berat Nabila terdengar hingga telinga Juna. Pria itu memutar kursinya untuk menatap Nabila yang terlihat sangat kusut. Baru saja akan memasuki jam makan siang, dan wajah wanita itu sudah sangat tak enak di lihat. Entah seberapa banyak beban yang di bawa olehnya, hingga ia bisa merasakan beban seberat itu.
“Ada masalah, Mbak?” tanya Juna.
“Nggak ada, lanjutin aja pekerjaan kamu. Jam makan siang ini aku mungkin harus izin keluar, kamu nggak apa-apa, kan?”
Nabila terlihat membereskan berkas-berkas yang ada di meja, dan memasukkan barang-barang yang sekiranya akan ia bawa. Masih tiga puluh menit menuju jam makan siang, tapi tahu sendiri bagaimana macetnya jalanan pada jam ini, serta Reno sudah mengirimkan alamat tempat pertemuan mereka.
“Aku pergi dulu, ya.”
Juna melihat kepergian Nabila dengan hampa. Mengejar wanita itu sangat sulit, dan bisa di bilang ini pertama kalinya ia merasakan suka yang menggebu seperti ini. Ia sangat menyukai Nabila, dan semua hal yang ada di diri wanita itu. Ia tak peduli dengan status yang kini di miliki wanita itu, juga dengan anak yang di miliki Nabila.
Ia menyukai Nabila apa adanya. Lagipula ia juga tahu penyebab kandasnya rumah tangga wanita itu, semuanya bukan salah Nabila, justru wanita itu yang sangat menderita dengan semua beban yang ia pikul di pundaknya.
**
Nabila selalu merasakan dirinya yang tak stabil jika sudah berhadapan dengan Reno seperti ini. Pria itu masih menimbulkan jejak tak kasat mata di hati dan juga batinnya. Siapa yang tahu jika hubungan yang sudah ia deklarasikan sebagai hubungan abadi hingga maut memisahkan, justru kandas karena wanita lain.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Nabila.
“Maaf, aku memintamu kemari bukan karena masalah anak-anak. ini … tentang kita,” jawab Reno. Ia sedikit ragu dengan kalimat yang ia ucapkan.
“Bukankah aku sudah sering bilang kalau aku tak ingin membicarakan masalah kita? Kita sudah selesai, No. Apa lagi yang kamu inginkan?”
Pantas saja, Nabila sejak tadi merasakan firasat buruk dalam perjalanan ke restoran ini. Ia sama sekali tak merasa lapar, padahal ia hanya melahap satu potong roti untuk sarapannya. Sebanyak apapun pekerjaan yang ia miliki, Nabila selalu menyempatkan untuk makan, karena ia sangat butuh tenaga untuk menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
“Aku sangat tahu betapa egoisnya perasaanku ini, tapi aku ingin kita kembali bersama. Kita dan anak-anak.”
Nabila bukan wanita yang mudah, ia memiliki prinsip yang ia tanamkan pada dirinya sendiri, bahkan sebelum ia memutuskan untuk menerima lamaran Reno. Ia tak akan kembali pada sesuatu yang sudah menyakitinya, seberapa banyak pun ia menginginkan jalan kembali itu.
Hening memenuhi meja keduanya. Butuh keberanian besar untuk mengatakan hal itu untuk Reno, ia sama sekali tak ingin menerka bagaimana reaksi Nabila nanti, ia hanya ingin mengatakannya saja.
Sejauh ini, Nabila sudah merasa cukup dengan semua hal yang sudah terjadi, maupun akan terjadi. Tak pernah lagi ia merasakan ketenangan, semenjak perceraian yang terjadi. Sudah hampir satu tahun, atau mungkin sudah lebih. Entahlah, Nabila sudah lupa menghitung berapa lamanya mereka sudah berpisah.
“Kalau kamu tahu itu egois, untuk apa mengatakannya? Lebih baik kamu pendam saja, dan simpan itu untuk semua rasa bersalah untukku.”
Menjadi orang baik itu sangat melelahkan, padahal Nabila juga tak merasa menjadi orang baik, tapi rasanya sangat lelah. Sepertinya, inilah yang di rasakan Liliana selama ini. Ada yang sangat ingin Nabila lakukan sejak tadi, kabur dari sini. Tapi, ia tak ingin menjadi pengecut. Ia ingin Reno tahu jika sudah tak ada tempat lagi untuknya, baik itu di hatinya,maupun bersama anak-anaknya.
“Apa karena pria itu?” tanya Reno.
Pria? Apa Reno sedang membicarakan Juna? Helaan nafas lelah kembali keluar dari mulut Nabila. Bukankah menyenangkan menjadi pria, yang memiliki pikiran sangat pendek? Nabila tak ingin merendahkan atau menjustifikasi, ia tak ingin melakukan itu.
“Kenapa pikiranmu sangat pendek? Kamu tak sadar betapa kejam perbuatanmu padaku? kamu pikir aku bisa semudah itu untuk kembali percaya pada pria setelah semua yang kamu lakukan? Kamu gak pernah, kan, sekali
aja berpikir kalau aku sangat hancur saat itu?”
Reno melihatnya. Rasa putus asa dan juga kemarahan di kedua mata Nabila, ia menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap mata sang mantan istri lebih lama lagi. Mungkin memang benar ucapan Nabila bahwa ia sangat egois.
Semudah itu ia menyakiti hati sang istri, lalu semudah itu juga ia kembali menyakitinya dengan semua keegoisan yang ia miliki. Seharusnya ia sadar dan juga berkaca, ia tak pantas untuk kembali ke sisi Nabila lagi. Ialah penyebab awal kehancuran rumah tangga yang sudah di bangun begitu harmonis.
“Aku minta maaf, Nabila. Aku benar-benar menyesalinya, aku …,”
“Kalau kamu benar-benar menyesalinya, tolong jangan pernah memintaku untuk kembali. Aku bahkan masih berbaik hati untuk membiarkanmu menemui Aidan dan juga Alya,” potong Nabila.
**
Brian bukan pria bodoh, ia sudah tahu jika Enzo akan melindungi Elleanor apapun yang terjadi. Kisah romantis yang sangat menyentuh, bukan? Semuanya tak berjalan sesuai yang ia rencanakan karena campur tangan
pria ingusan itu. Brian tahu betapa besarnya pengaruh pria itu di Jerman ini. Tapi, ia juga ingin menunjukkan, jika pria itu bukan satu-satunya yang memiliki kuasa di sini. Ada Brian Dennis Park yang juga sangat besar sama seperti pria itu, bahkan lebih.
Menghabisi keluarga Elleanor adalah hal yang sangat mudah di lakukan, tapi sepertinya ia belum puas jika hanya menghabisi saja. Wanita itu, Elleanor harus menjadi miliknya apapun yang terjadi. Ia tak ingin tahun-tahun yang ia habiskan untuk membuat wanita itu takluk padanya hanya terbuang sia-sia.
“Saat ini, Elleanor tinggal bersama Enzo. Dia berada di kawasan pria itu, kita tak akan bisa mendekatinya untuk sementara waktu,” lapor seorang pria yang mengenakan setelan jas lengkap berwarna hitam itu.
Brian tersenyum miring. Lawannya kali ini bukan pria bodoh, ia harus lebih berhati-hati lagi dalam menyikapi semuanya. Ia yakin Enzo juga sudah menyelidikinya sejak awal.
“Menurutmu mereka memiliki hubungan apa?” tanya Brian.
“Akan kami pastikan lagi hal itu sebelum kembali menyusun rencana untuk mendapatkan Elleanor.”
“Tak perlu buru-buru, waktu kita masih banyak. Kita bisa menyusun rencana lebih matang lagi agar semuanya berjalan lancar.”
Lagi, senyuman miring yang terlihat sangat menakutkan di wajah dingin Brian muncul. Ia sangat tak menyukai ketika apa yang ia miliki di usik orang lain. Hanya butuh beberapa langkah lagi untuk memiliki Elleanor, sebelum pria asing itu muncul.
“Ini akan sangat menarik, aku akan memastikan itu.,” ucap Brian pelan. “Mari kita beri istirahat sejenak untuk Elleanor, karena hal yang lebih melelahkan akan segera muncul.”
Pria yang mengenakan setelan jas hitam lengkap itu hanya menganggukkan kepalanya sebelum berlalu dari ruangan kantor itu. Menjadi tangan kanan Brian sudah ia lakoni sejak dulu, dan selama itu pula ia sangat setia terhadap pria dingin yang memiliki tatapan dingin ini.
__ADS_1
**
Hanya ada satu tempat untuk menumpahkan segala amarah yang ia alami saat ini. Kembali ke rumah hanya akan membuat sang Ibu menjadi khawatir, karena awan gelap yang berada di atas kepalanya sudah menjawab apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Hanya pada Liliana ia mampu menumpahkan semua keluh kesahnya. Melihat kehidupan sahabatnya saat ini, ia merasa seperti takdir sedang membalik kehidupan mereka. Liliana pernah ada di posisinya, begitupun sebaliknya. Benar ternyata jika sahabat memiliki ikatan batin yang sangat kuat.
“Padahal cuaca di luar cerah banget, kenapa kamu jadi mendung banget?” tanya Liliana.
Sudah pukul lima sore, Elang sedang bermain dengan ayahnya, lalu sang adik sedang menikmati tidur larut siangnya. Jadi, hingga waktu makan malam nanti, waktu Liliana hanya untuk Nabila. Melihat raut wajah sahabatnya yang terlihat sangat kelabu.
Nabila meminum jus apel yang di suguhkan oleh Liliana, jus itu hampir habis hingga setengah gelas. Ia sangat haus, juga sangat lelah dengan hidupnya, jus apel saja belum cukup untuk membuat dahaga emosinya reda. Beberapa bulan belakangan benar-benar sangat menguras emosi jiwa dan raga.
“Gimana kamu bisa ngelewatin waktu setelah perceraian kamu?” tanya Nabila.
Liliana terlihat berpikir sebentar. Mungkin karena mereka sahabat, yang mereka rasakan pun seperti bergantian, mereka harus merasakan apa yang lainnya rasakan. Mungkin seperti itu.
“Rasanya aku pengen loncat dari balkon apartemen, atau yang paling ringan mungkin mukul kepala ke dinding kali, ya.”
“Aku tinggal di lantai enam belas, menurut kamu presentase bakal sukses berapa?”
Perceraian benar-benar mengubah Nabila menjadi sosok lain yang belum pernah Liliana temui, sahabatnya ini bukan wanita yang akan dengan mudah mengeluhkan masalahnya seperti ini bahkan putus asa.
“Kenapa? Apa lagi kali ini?” tanya Liliana serius.
Nabila mengangkat bahunya, ia bingung bagaimana menceritakannya, ia hanya menenangkan pikirannya sejenak agar ia tak kembali ke rumah dalam keadaan seperti ini. Ini adalah badai kehidupan terberat yang ia rasakan.
“Kenapa kamu akhirnya rujuk lagi sama Dimitri? Kamu gak takut kalau suatu saat mungkin bakal terulang lagi?”
“Kamu bukannya udah pernah tahu alasannya?”
Helaan napas Nabila sangat mengganggu Liliana. Seandainya saja ia memiliki kekuatan untuk membantu sahabatnya ini. “Aku masih ngerasa trauma sama masalah yang pernah aku alami dulu, tapi aku juga tahu kalau aku akan tetap seperti ini kalau aku sendiri gak menginginkan perubahan. Jadi itu adalah keputusan yang menurutku baik, aku sedang berusaha percaya lagi.”
Nabila juga merasakan itu, trauma yang masih menjalari dirinya. “Reno minta rujuk,” ucap Nabila.
Keduanya saling menatap, entah kenapa Liliana sudah bisa memastikan hal ini akan terjadi. Liliana membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi menutupnya lagi, ada yang ingin ia katakan, tapi masih ragu untuk ia ungkapkan dahulu.
“Aku tahu ini bakal terjadi juga, Reno gak mungkin semudah itu ngelepasin kamu apalagi setelah bertahun-tahu yang sudah kalian lewati.”
“Aku tahu, aku juga tahu kalau anakku masih mengharapkan ayahnya kembali kayak dulu lagi, tapi aku juga gak bisa buat kembali kayak dulu lagi.”
Liliana tahu bagaimana ada di posisi itu, bagaimana rasa bimbang yang menyelimuti hatinya. Pilihan untuk kembali atau bertahan di posisinya yang sendirian. Entah keyakinan itu berasal dari mana, tapi akhirnya Liliana memutuskan untuk rujuk dengan Dimitri, hingga saat ini.
“Kamu gak perlu memaksakan diri kalau memang hati kamu gak mau. Kebahagiaan kamu dan anak-anak kamu lebih penting,” ucap Liliana.
“Tapi gimana kalau kebahagiaan anak-anakku itu juga ada bersama ayahnya?”
Nabila menitikkan air matanya, ia sudah cukup lelah dengan pekerjaan yang menyita waktunya, di tambah masalah Reno dan juga anak-anaknya. Kadang bercerai juga tak mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Kenapa ia tak bisa menemukan sedikit saja titik terang dari masalahnya?
Liliana membawa Nabila ke pelukannya, sahabatnya ini terlihat begitu kuat dan mandiri di luar, tapi ia juga sangat tahu, jauh di dalam lubuk hatinya ia terluka. Luka yang semoga saja bisa sembuh seiring berjalannya waktu.
**
__ADS_1