
A letter for you,
Dari judul di surat itu saja sudah membuat Liliana bertanya-tanya apa isi dari kertas yang berada di tangannya. Surat itu datang bersama satu buket bunga lili yang sangat besar dengan berbagai jenis lili di dalamnya, padahal jika di pikir-pikir lagi ini bukan hari ulang tahunnya.
Terima kasih sudah mencintaiku selama ini, terima kasih sudah bersabar menghadapiki, terima kasih sudah bertahan di sisiku untuk waktu yang sangat lama ini. Aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan ini melalui lisan, karena ada begitu banyak yang ingin kusampaikan.
Ini bukan bagian dari kalimat pemanis, tapi ini bagian dari isi hatiku. Setelah menyadari bahwa aku mulai mencintaimu, aku sadar ini akan sulit. Bahkan setelah berbagai badai yang menghadang, kamu selalu berakhir di sisiku untuk menyambut pelangi indah.
Untuk semua kekurangan yang kumiliki, kamu tetap melengkapinya. Jangan pernah bosan mendengarnya, karena aku akan mengatakan kalimat ini berulang kali.
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, terima kasih sudah menerimaku untuk ada di sisimu, melalui ini bersama. Untuk esok, nanti, dan seterusnya, aku akan tetap mencintaimu.
Selamat hari jadi pernikahan, kamu pasti melupakan momen penting ini.
Kekasihmu, suamimu.
Senyum haru itu tak bisa Liliana kendalikan, ini adalah pertama kali ia menerima surat cinta dari suaminya sendiri. Siapa yang menyangka pria dingin itu bisa menulis surat seperti ini, lalu juga rangkaian bunga yang sangat indah. Ia bahkan lupa jika hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka.
Liliana tak membutuhkan semua hal sepele ini, cukup suaminya itu berada di sampingnya dan selalu di sampingnya dan mendukung semua yang ia lakukan, maka itu sudah cukup.
__ADS_1
Tapi ia akui, surat serta bunga yang dikirimkan oleh Dimitri ini membuat hatinya luluh. Wanita mana yang tak akan luluh oleh surat singkat serta buket bunga yang sangat besar itu. Pantas saja suaminya itu menolak berbicara dan bersikap dingin sejak malam tadi.
Tak lama setelah itu, Liliana di kejutkan dengan deringan ponsel yang membuyarkan lamunannya tentang sang suami.
Husband : Sebentar lagi Pak Jefri akan menjemputmu, kenakan gaun terbaikmu.
Well, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat spesial untuk Liliana dan juga Dimitri.
**
"Aku sudah berencana untuk membawa ibuku pulang setelah a benar-benar pulih. Suster bilang dalam seminggu ini mungkin kondisinya akan benar-benar membaik," ucap Elle di sela sarapan paginya dengan Enzo.
"Sarapan ini di buat untuk mengabulkan permintaanmu ini?"
Ada satu hal yang sangat Enzo benci kini, ketika wanita ini mengatakan ingin pergi dari sisinya. Ia tak mengerti kenapa Elle begitu ingin meninggalkannya, bahkan setelah pengakuan seriusnya kala itu.
"Apa yang membuatmu begitu tak mempercayaiku?" tanya Enzo. Ia sudah meletakkan pisau dan juga garpunya, toast sandwich di hadapannya sudah tak menggugah selerana lagi.
"Aku sudah pernah mengatakan ini padamu, tak ada alasan untuk kita bersama. Apa kau ingin selamanya terlibat masalah ini denganku? Sejak awal juga ini sudah menjadi masalahku, berhenti seolah kau peduli--"
__ADS_1
"Bagaimana jika aku memang peduli dan ingin berada di sampingmu?" potong Enzo.
Obrolan Elle dan juga Enzo tak pernah luput dari pertengkaran, tak ada yang benar-benar di bicarakan karena ego keduanya.
"Kalau begitu berhenti untuk peduli, aku--"
Kalimat Elle terhenti ketika tiba-tiba Enzo bangkit dari duduknya dan mengukung Elle di kursi yang ia duduki. Tatapan keduanya bertemu, membuat Elle mau tak mau menatap jelaga hitam yang dingin di hadapannya.
"Bisakah sebentar saja kau mempercayaiku? Akan kukatakan dengan jelas jika aku menyukaimu, dan aku tak akan pernah membiarkanmu keluar untuk kembali bertemu dengan Brian atau siapapun di luar sana."
Elle terjebak dalam lautan kelam di mata pria itu, ia tak bisa mengalihkan pandangannya sedetik saja. "Kenapa? Kenapa menyukaiku?"
"Karena itu kau."
Bukan jawaban yang di harapkan Elle, ia berharap setidaknya pria ini akan mengatakan jika ia sengaja memanfaatkan Elle untuk kepentingan bisnis yang sedang pria itu jalani.
"Aku--"
Sudah cukup, Enzo tak bisa menahannya lagi. Selama ini ia sudah cukup menahan untuk tak menyentuh wanita di hadapannya ini. Elle begitu keras kepala, tapi Enzo lebih keras kepala, jadi ia memutuskan untuk mencium Elle dengan segala keputusasaan yang sudah ia tahan selama ini. Ia ingin menyampaikan pada Elle jika ia juga sangat frustrasi dengan sikapnya yang tak tersentuh dan keras kepala. Ia juga ingin mengatakan jika ia tulus dengan perasaannya saat ini.
__ADS_1
**