Playboy

Playboy
#2# Take 49


__ADS_3

Hai, apa kabar kalian? Aku kembali lagi buat kalian, oh ya buat tulisan garis miring di cerita ini nyeritain kilas balik atau hal-hal yang udah terjadi ya. Mau nanya dong, kira-kira ending yang paling kalian baca buat semua tokoh di sini itu kayak gimana, sih?


 



Arjuna kembali. Kembali pada Nabila dengan semua sifat manis seperti sebelumnya, bahkan sejak pagi tadi senyumnya tak pernah luntur dari bibir pria itu. Tak ada pikiran buruk di pikiran Nabila, mungkin saja pria itu berhasil menyatakan cinta pada Arlina dan keduanya resmi menjadi sepasang kekasih. Seseorang yang jatuh cinta memang seperti itu, kan?


Bukan urusan Nabila juga jika keduanya berpacaran atau tidak, ia sudah memutuskan untuk tak mempedulikan pria itu sebisa mungkin. Ya, sepertinya sudah ia pastikan sendiri jika pada akhirnya ia mengakui jika mencin—menyukai—Juna. Perasaan seperti itu memang selalu datang belakangan, dan menimbulkan penyesalan bagi siapapun yang merasakan.


Tapi, bukan itu poin utamanya. Nabila bisa saja dengan semua otak gilanya menyatakan cinta, jika saja pria itu bukan Juna. Untuknya, rekan kerja dan pria lebih muda adalah hal yang terlarang, dan Juna memiliki dua hal itu. Jadilah ia menahan semua perasaan apapun untuk pria itu. Mungkin bukan umur permasalahannya, tapi status yang kini ia pegang.


“Gak ada orang tua yang mau anak berharganya punya hubungan sama janda, punya anak lagi dan bercerai. Mungkin kalau statusku karena di tinggal meninggal suami, akan ada yang berbeda. Aku gagal mempertahankan rumah tanggaku sendiri, bagaimana mungkin aku berpikir untuk menjalin hubungan lagi dengan pria baru lagi?”


Richard menghela napasnya lelah. Walaupun keduanya lebih sering tak akur dan lebih banyak bertengkar, tapi Richard peduli pada mantan istri sahabatnya ini. Ia sudah cukup sangat kecewa pada apa yang di lakukan Reno pada mantan istrinya yang tanpa cela ini.


“Kalau kalian saling mencintai, apa yang bisa orang tua lakukan? Dan perceraian ini juga bukan salah kamu, kenapa kamu terus-terusan menyalahkan perceraian kalian?”


“Dan hanya ada satu jawaban buat itu, ‘suaminya sampai selingkuh, pasti ada yang salah dengan istrinya’,” ujar Nabila dengan menirukan para ibu-ibu yang suka bergosip.


Kali ini napas Richard terdengar semakin berat. Memangnya pikiran semua orang tua seperti itu? Kenapa terdengar sangat mengerikan? Atau jangan-jangan ada yang salah dengan rakyat Indonesia kini?


“Itu cuman kekhawatiran kamu aja, Bil. Aku yakin gak semua orang tua kayak gitu.”


“Percaya sama aku, Chad, aku udah pernah denger komentar yang lebih nyakitin dari itu.”


“Reno kayaknya gak kayak gitu, dia bahkan udah nikah waktu kalian masih baru banget cerai.”


“Aku perempuan, Chad. Aku pikir, semua hal buruk yang menimpa perempuan selalu meninggalkan bekas yang sangat jelas di diri mereka, seberapa keras pun aku coba buat memperbaiki semuanya.”


Ya. Ia perempuan dan semua bekas luka serta noda itu akan membekas pada dirinya, tak peduli seberapa keras ia menunjukkan prestasi yang ia dapatkan. Ia tetaplah seorang janda yang tak berhasil mempertahankan rumah tangga hingga mampu membuat sang suami berselingkuh di belakangnya.


Miris, kan? Tapi memang seperti itu yang terjadi. Orang-orang hanya akan berfokus pada pertanyaan ‘apa saja yang sudah di lakukan sang istri hingga sang suami berselingkuh?’ alih-alih, ‘kenapa sang suami berselingkuh


pada sahabatnya sendiri?’. Beruntung Nabila bukan publik figur, bayangkan jika Nabila adalah artis atau apapun, sudah pasti kabar perceraian serta perselingkuhan ini akan menghiasi semua tabloid, koran, bahkan mungkin acara


gosip murahan di televisi.


“Mbak … “


“Mbak Nabila.”


Lamunan Nabila seketika buyar mendengar panggilan itu, ia menemukan Juna yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Memikirkan tentang statusnya dan juga kisah pilu tentang hubungan romantisnya dulu dan saat ini sungguh memuakkan, dan selalu menyita otaknya.


“Ada apa, Jun?” tanya Nabila.


Juna menyerahkan map yang ia bawa, bahkan setelah map itu berpindah tangan, Juna tetap tak beranjak dari tempatnya berdiri. Tentu saja masih dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya sepanjang hari. Kalaupun


Juna sedang kasmaran, senyuman itu bukankah sangat berlebihan? Ini bukan karena Nabila cemburu jika ia tak menjadi alasan dari senyum itu, tapi memang benar-benar hanya menyebalkan.

__ADS_1


“Malam ini ada waktu, Mbak? Ada yang mau aku omongin.”


Kening Nabila berkerut. Jika di pikir-pikir lagi, keduanya selalu menghabiskan makan malam berdua sebelum kembali membicarakan masalah serius. Apa kali ini juga sama? Atau malam ini Juna akan menyampaikan jika ia sudah resmi bersama Arlina dan meminta Nabila untuk tak mengganggu? Tapi Nabila juga tak membantu, ia tak peduli pada apapun hubungan keduanya.


“Apa ada hal yang penting untuk di bicarakan?”


“Mungkin penting, mungkin juga enggak. Mbak sendiri yang akan mutusin nanti setelah denger.” Senyum itu sudah sedikit luntur ketika Nabila justru sudah berasumsi banyak hal.


“Mungkin lain kali, aku ada janji malam ini,” ucap Nabila.


Senyum di bibir Juna sedikit turun dengan jawaban itu. Ya, walaupun ia juga tak terlalu berharap jika Nabila akan menerimanya dengan tangan terbuka, tapi harapan kecil itu tetap ada, kan? Semua orang pasti memiliki harapan-harapan kecil di hatinya ketika ada hasil yang mereka tunggu-tunggu.


“Ah gitu, mungkin besok malam?” Juna tetap tak akan menyerah.


“Aku usahain. Selesain kerjaan kamu biar kita bisa pulang tepat waktu,” jawab Nabila.


**


Janji makan malam Nabila adalah dengan mantan suaminya. Walau Nabila tak ingin menemuinya, tapi tak bisa ia lakukan. Mereka sudah bercerai, tapi keduanya tetaplah orang tua untuk Aidan dan juga Alya. Keduanya tetap harus bertemu untuk membahas dua anak mereka. Semakin putra dan putri mereka tumbuh dewasa, semakin banyak rasa penasaran yang timbul di diri mereka.


“Aku udah coba ngasih pengertian sama Aidan, semoga setelah ini dia baik-baik aja,” buka Reno.


Tak perlu di jelaskan bagaimana rasa canggung itu menggantung di atas mereka, kan? Hubungan mereka kini akan tetap seperti ini hingga banyak waktu ke depannya nanti. Sepasang mantan kekasih saja bisa saling memutus kontak satu sama lain untuk menghindari rasa sakit, bagaimana dengan sepasang mantan suami istri seperti mereka yang harus berdampingan untuk masalah anak mereka dengan menahan rasa sakit dan kerinduan masing-masing.


“Semoga aja, aku gak terbiasa liat Aidan yang tiba-tiba ceria jadi murung kayak gini.”


Ada keheningan panjang di antara mereka setelah obrolan pembuka tadi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Keheningan yang sangat canggung, semua tentang Nabila dan juga Reno hanyalah rasa canggung dan


“Kamu apa kabar?” Pertanyaan pertama setelah keheningan panjang itu, karena Reno sangat penasaran dan ingin tahu semua tentang Nabila. Ia masih merindukan hubungan mereka yang dulu.


“Kayak yang kamu lihat sekarang ini, aku jauh lebih bahagia.”


Bukan sebuah kebohongan, walau selama ini lebih banyak rasa sakit yang ia rasakan, tapi ia juga sangat bahagia saat ini. Ia bahagia menghabiskan waktu bersama kedua anaknya, ia bahagia menghabiskan waktu dengan


berkumpul bersama para sahabatnya, serta banyak hal yang menjadikannya sebuah kebahagiaan.


Walaupun Nabila merasakan perih yang teramat dalam, ia hanya perlu untuk tak menunjukkan apapun, karena memang itu semua tak penting. Apa gunanya dengan menunjukkan kesedihannya? Apa semua masalah akan


langsung hilang hanya dengan menangis? Ia harus kuat dan menyelesaikan  semuanya, itu yang harus ia lakukan pada hari penuh mendung yang selalu ada di atas kepalanya.


“Apa …  Apa aku gak punya kesempatan untuk memulai kembali dari awal denganmu?” tanya Reno dengan hati-hati.


Nabila menatap Reno tak berkedip. Ia sama sekali tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari bibir Reno, setelah semua hal yang terjadi. Nabila rindu, ia sangat rindu dengan kebersamaan yang mereka lalui dengan kedua buah hati mereka. Tapi, ia juga tak bisa sembarangan merasakan perasaan terlarang itu.


Kenapa semua perasaan yang di rasakan Nabila kini justru semakin terdengar terlarang dan sangat haram untuk ia rasakan? Entah kemana perginya Nabila yang dingin itu.


“Apa kita harus kembali bersama lagi?” tanya Nabila dengan tenang.


Pertanyaan itu lebih di tujukan pada dirinya sendiri, Nabila bukan tipe wanita yang akan memaafkan seseorang sebegitu mudahnya. Bagaimana caranya memaafkan jika sakit hati itu masih berdiam diri di hatinya dengan kuat?

__ADS_1


Rindu dan sakit hati itu bercampur menjadi satu, berlomba-lomba untuk saling menguasai hatinya. Yang mendominasi, itulah pemenangnya. Permasalahannya, dua hal itu sama-sama saling mendominasi hatinya dengan sangat kuat, keduanya dalam porsi yang sama hingga salah satunya tak bisa memenangkan tempat di hatinya. Jika ia merasakan rindu, rasa sakit hati akan mengingatkan kembali semua hal yang sudah menyebabkan ia menjadi se-menderita ini.


Lalu, ketika rasa sakit hati itu mendominasi, akan ada rindu yang membayangi. Perasaan itu selalu datang bersamaan, membuatnya semakin gundah dan memikirkan banyak hal.


“Aku … masih mencintaimu,” lirih Reno.


Cinta? Lalu kenapa ada pengkhianatan jika masih cinta? Bukankah itu sangat egois? Walaupun di katakan jika kita harus mengesampingkan ego demi tumbuh kembang anak-anak mereka, Nabila tak bisa melakukannya. Bagaimana ia bisa bertahan di atap yang sama dengan mantan suaminya, setelah tahu apa saja yang di lakukan pria itu di belakangnya.


Enam bulan. Selama waktu itu mereka melakukan kesalahan, dan kini Reno mengatakan jika ia masih cinta? Dimana terakhir kali Reno meletakkan otaknya? Atau otak itu sudah hilang di suatu tempat yang tak bisa di ketahui? Apapun itu, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Ada hati yang terluka dari pengkhianatan itu.


“Kenapa kamu gampang banget ngomong cinta, padahal kamu udah punya istri? Apa cinta se-bercanda itu untuk kamu?”


“Bukan itu maksudku, Bil—“


“Urusan kita hingga saat ini hanya menyangkut Aidan  dan juga Alya, aku gak berniat untuk melakukan apapun karena rasa sakitku masih basah banget. Gak yakin kapan luka ini mengering.”


Tanpa berniat menunggu jawaban Reno, Nabila segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan pria itu sendirian. Tak ada yang lebih baik dari patah hati seseorang selain membuat orang tersebut tak peka dan berakhir dengan penyesalan serta meratapi dirinya.


**


Kedua pria dewasa yang berbeda usia itu saling menatap satu sama lain. Ada tatapan enggan di mata kedua pria itu, atau lebih tepatnya saling tak menyukai. Mereka tak mungkin saling menyukai pada kondisi ini, sudah bisa duduk berhadapan seperti ini saja merupakan kabar baik, apalagi jika mereka saling menyukai satu sama lain.


Hanya satu hal yang membuat keduanya bisa saling tak menyukai seperti ini. Elle. Keduanya sama-sama menyukai Elle dengan alasan yang berbeda.


“Aku tak pernah tahu jika kau juga bisa selicik ini? Bukankah itu sangat jahat? Bagaimana kau akan menjelaskan hal ini pada media?” tanya Brian dengan dingin.


Setelah berita yang keluar dan pembatalan saham itu berhasil, Brian segera menghubungi pihak Key East Corporation untuk meminta kebenaran. Dan kebenarannya adalah pria yang sedang duduk di hadapannya saat ini.


Key East sendiri merupakan anak perusahaan milik Enzo, tujuan Brian meletakkan sahamnya di perusahaan kecil itu adalah menguasainya. Tapi ya, memang semua hal tak bisa ia kuasai seorang diri. Semuanya semakin terasa jelas ketika ia memutuskan berurusan dengan Enzo, pengusaha muda yang sangat terkenal di kalangan para pengusaha senior.


Sepertinya selama ini ia salah menilai pria ini, kini ia seperti terjebak dengan apa yang telah di lakukan pria ini. Brian sepertinya kecolongan kali ini.


“Aku tak melakukan apapun, saham yang kau miliki di sana memang tak sah. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai pemimpin tertinggi. Bermain curang tak pernah ada di kamusku, dan aku sangat membencinya, hanya itu alasannya,” ujar Enzo tenang.


Beberapa waktu yang lalu sepertinya hubungan mereka baik-baik saja ketika menandatangani perjanjian kerjasama di antara mereka. Tunggu, apa kerjasama itu juga merupakan bagian dari trik busuk yang di lakukan Enzo untuk menghancurkan apa yang ia miliki?


“Benarkah? Kenapa aku tak melihat kalimat itu di lembar perjanjian? Aku seperti di khianati.” Brian tersenyum miring.


Enzo sama sekali tak terintimidasi dengan apa yang di katakan atau di lakukan Brian, baginya, pria ini hanyalah seorang pengecut yang sembunyi di balik kekuasaan. Dari semua data yang ia miliki dari asistennya tentang pria ini, ia sudah mampu dengan mudah menyimpulkan, serta cara Brian mengancam Elle. Enzo berpikir semua hal itu sangat menjijikkan, bagaimana ada pria seperti itu yang hidup di antara mereka.


“Jangan berpikir untuk tahu segalanya jika kau sama sekali tak tahu apa yang sedang kau hadapi. Jangan jadi naif, Tuan Brian.”


Percayalah jika aura di sekeliling kedua orang itu sangat mencekam, ketika dua orang pria yang memiliki kekuasaan saling bersaing dan menguarkan aura mendominasi. Jika Brian pikir, ia bisa menaklukan Enzo hanya dengan tatapan tak berguna seperti itu, maka pria itu sangat salah. Tak ada lagi yang ia takuti di dunia ini, dunia saja sudah sangat tak adil untuknya, ia sudah hidup di sebuah tempat terdalam yang memenjara dirinya bersama kenangan tentang wanita yang ia cintai.


Perlakuan ayah Cecilia terhadap perusahaan mereka sudah sangat licik dan tak bisa ia terima. Selama bertahun-tahun ia tak mengetahui kebenarannya, dan ketika semuanya terbongkar, hatinya lebih sakit dari yang pernah orang lain bayangkan. Kini, akan Enzo pastikan sendiri jika hal yang sama tak akan pernah terulang lagi.


“Dengar, di bidang ini, aku sudah hampir menguasai segalanya. Jadi—“


“Jangan terlalu percaya diri, kau bisa saja menguasai segalanya, tapi tidak untuk mengerti segalanya. Bersiaplah untuk menyerah.”

__ADS_1


**


__ADS_2