Playboy

Playboy
#2# Take 34


__ADS_3

Yak, mari kita kembali emosi lagi hari ini. Aku kayaknya gak bisa nulis yang seneng-seneng itu banyak, kayak kurang greget aja gitu. Happy reading^^



“Maafin kelakuan temen-temenku kemarin, ya? Mereka kadang memang suka gak punya filter kalo ngomong,” ucap Nabila pada Juna.


Hanya ada mereka berdua di kantor itu, karyawan terakhir sudah pulang lima belas menit yang lalu dan tersisa mereka berdua. Lebih tepatnya Juna yang memaksa untuk menemani Nabila yang harus menyelesaikan pekerjaannya karena tenggat waktu yang sudah sangat mepet.


“Santai aja, Mbak. Aku malah seneng bisa kenal sama temen-temen Mbak, asik semua soalnya.”


“Kamu terlalu kegirangan ngeliat luarnya, kamu gak tahu aja gimana liarnya mereka satu sama lain.”


Juna tertawa mendnegar kalimat Nabila itu. Tapi, ia juga jujur ketika mengatakan jika semua teman-teman Nabila sangat asik dan ia justru merasa sangat bahagia jika di kelilingi oleh orang-orang yang seperti itu. Jika ia sudah di kenalkan pada teman-temannya seperti ini, Juna bisa mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari ini, kan?


“Ini udah mau selesai kok, Jun, kamu bisa pulang duluan,” ujar Nabila lagi.


“Aku bakal nungguin sampai Mbak selesai, Mbak keberatan?”


Ya, Nabila ingin mengatakan kalimat itu dengan sangat jelas. Ia tak bisa seperti ini dengan Juna. Mengenalkan Juna pada teman-temannya adalah hal lain, dan berdekatan dengan Juna seperti ini adalah hal lain lagi. Rasanya sangat tak pantas jika ia melakukan hal ini. Kalimat Liliana malam itu masih terngiang-ngiang di telinganya.


“Approved, Bil.”


“Hah? Apanya yang approve?” tanya Nabila bingung. Ia sedang mencuci beberapa piring kotor untuk meringankan beban Liliana yang sedang hamil besar itu walaupun hal itu juga sudah di larang oleh Liliana, tapi dasarnya Nabila sangat keras kepala.


“Tuh, berondong yang kamu bawa.”


“Kayak proposal aja di approve,” jawab Nabila dengan senyum geli.


Juna memang sangat mudah beradaptasi, buktinya hanya butuh beberapa jam saja hingga ia sangat akrab dengan Dimitri dan juga Richard, bahkan Kate pun sudah sedikit akrab dengan Juna. Pria muda itu benar-benar membawa aura positif ke dalam rumah Liliana dan itu sangat baik. Liliana juga sudah menetapkan jika Juna akan menajdi favoritnya.


“Udah sejauh apa hubungan kalian?” tanya Liliana lagi.


“Sedekat apa? Kami hanya rekan kerja, tak tahu bagaimana kami bisa sedekat ini.” Nabila mengangkat kedua bahunya.


Tak ada yang salah dengan pertemuan keduanya dan mungkin karena sikap ceria Juna tadi,. Karena memang tak butuh waktu lama hingga Nabila menjadi akrab dengan asistennya itu. Tapi, menurutnya akan sedikit berlebihan jika ia menganggap lebih semua perhatian-perhatian itu. Nabila cukup sadar diri untuk tak memikirkan hubungan pekerjaan ini menjadi sebuah perasaan pribadi.


“Apa karena dia lebih muda dari kamu?”


“Karena kami hanya rekan kerja biasa, Li. Aku ajak dia kesini karena kalian pengen tahu, lumayan juga kalau misalnya kalian bisa nyari dia semisal aku gak bisa di hubungi.”


Liliana menatap Nabila sedikit lama, ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan melihat kalimat dan juga ekspresi wajah Nabila saat ini, tapi urung ia lakukan. Apapun pilihan yang Nabila pilih, Liliana yakin jika itu yang terbaik.


“Jangan menganggap serius ucapan teman-temanku,” ucap Nabila tiba-tiba.


Nabila merasa ada yang perlu ia luruskan di sini agar tak terjadi sesuatu yang di inginkan, ia menginginkan seperti itu agar Juna tak memikirkan hal lain. Ini tentang banyak hal yang terjadi di antara mereka, dan jika semuanya akan berakhir dengan perasaan asing itu, Nabila tak menginginkannya.


Juna mendongak menatap Nabila yang tengah menatapnya dengan serius. Jika yang Nabila maksud adalah godaan-godaan yang di lontarkan teman-temannya, ya kenapa tak boleh? Juna sama sekali tak keberatan jika semua itu menjadi nyata, tapi sepertinya wanita di hadapannya ini tak memiliki pikiran yang sama.


“Aku sama sekali gak keberatan, Mbak. Biasanya semua di mulai dari hal kecil kayak gitu, kan?” Juna memberinya senyum kecil sebelum kembali fokus pada ponselnya lagi.


“Aku udah selesai. Ayo pulang,” ajak Nabila.

__ADS_1


Sekarang baru pukul tujuh malam. Nabila memang tak pernah lembur lebih dari jam tujuh karena ada anak-anaknya yang menunggu di rumah, kalaupun waktunya kurang, ia akan membawa pekerjaan itu ke rumah dan menyelesaikannya ketika anak-anaknya sudah terlelap. Ia sedikit mengubah kebiasaan gila kerjanya itu sedikit demi sedikit walaupun memang sedikit sulit.


Juna juga bangkit dari kursinya dan mengikuti Nabila yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. “Mbak mau makan malam dulu?” tawar Juna.


“Lain kali mungkin, Jun. Duluan, ya?”


Mobil Nabila dengan cepat meninggalkan tempat parkir kantor mereka tanpa basa basi lain. Juna hanya menatap kepergian itu dengan sedikit sesak. Entah kenapa ia merasa tertolak tanpa sebab, kalimat Nabila yang baru saja di ucapkan tadi seperti bentuk penolakan secara halus terhadap apapun yang coba Juna ungkapkan secara tak langsung. Benar kata Richard kemarin, Nabila sangat tak mudah di dekati.


Harusnya dengan kejadian seperti ini membuat Juna sedikit mengerti bahwa ia harus mundur secara perlahan, tapi ia tak bisa melakukannya. Justru semua hal ini harus membuatnya semakin semangat untuk menaklukan hati seorang Nabila, dan ia harus yakin akan hal itu.


**


Kembali ke Indonesia tak pernah menjadi pilihan Enzo dalam waktu dekat, tapi ternyata ia harus melakukannya untuk pekerjaan. Pekerjaan ini sudah terwakili oleh Kate memang, tentang pembangunan pusat perbelanjaan itu, tapi tak ada salahnya juga untuk ikut turun ke lapangan. Sepupunya itu sudah kembali ke Jerman beberapa


hari yang lalu, dan ketika tahu Enzo juga akan berkunjung ke Jakarta, ia justru merengek untuk ikut.


Ya, tak ada yang salah baca, karena Kate benar-benar melakukan itu agar bisa lebih lama bersama Richard. Seharusnya memang ia dulu tak usah sok jual mahal dengan semua rasa cinta yang di tunjukkan pria itu, kini ia menuai hasil dari semua bibit yang ia tanam. Ia menjadi sangat mencintai pria itu, dua minggu saja tak cukup untuk mereka melepas kerinduan.


Enzo adalah orang pertama yang tak peduli akan hal itu, ketika untuk pertama kali ia mendengar berita itu, ia sudah yakin jika mereka akan kembali bersama pada akhirnya. Mata keduanya tak bisa membohongi binar cinta dari keduanya, mustahil sekali jika kedua orang yang sedang kasmaran ini memutuskan untuk berpisah.


Berbeda dengan Enzo yang masih terjebak dalam hubungan kelabu dengan Elle. Hubungan mereka memang dekat, dekat lebih dari seorang atasan dan bawahan, tapi tak sedekat itu untuk bisa saling berbagi rahasia satu sama lain. Jadi, bagaimana menjelaskan hubungan seperti ini? Karena jika di bilang hubungan profesional, ya mereka memang profesional, tapi mereka juga bisa menjadi dekat.


“Bagaimana rasanya kembali ke kampung halaman?” tanya Enzo. Ia juga tahu jika Elle pernah bersekolah di Jakarta sebelum pindah ke Jerman.


Mereka baru saja keluar dari bandara dan berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan untuk mereka menuju akomodasi yang sudah di siapkan. Enzo juga kembali ke kampung halaman sebenarnya, sudah berapa tahun berlalu sejak ia terakhir kali berkunjung bersama keluarganya.


“Bagaimana jika aku bekerja saja di Indonesia? Hitung-hitung untuk melepas rindu dengan kota padat ini.”


“Ini pertama kalinya.”


Elle menolehkan kepalanya yang sejak tadi sibuk menatapi jalanan serta gedung tinggi di Jakarta ini dengan mobil yang melaju. Ia mendapati Enzo yang menatapnya dengan serius, ada apa dengan pria ini? Belakangan ini memang sikap pria itu sedikit lembut dengannya, Elle sedikit bergidik jika membayangkannya.


“Pertama kalinya melihatmu seekspresif ini,” lanjut Enzo.


“Hati-hati, jangan terlalu lama memperhatikanku. Kau akan jatuh cinta padaku nanti,” jawab Elle sekenanya.


Jangan sampai Enzo melakukan itu, karena ia takut akan menyakiti pria ini lebih jauh. Hubungan mereka hanya boleh sampai batas ini saja, mungkin sebentar lagi Elle akan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Gaji besar yang ia dapatkan sama sekali tak membuat ia tenang. Seandainya saja ia memiliki kekuatan untuk


menghancurkan Brian, ia pasti akan hidup dengan tenang saat ini.


“Kenapa? Aku tak boleh jatuh cinta denganmu?”


“Ya, kau tak boleh. Jangan lakukan hal itu.”


“Alasannya?”


“Tak harus memiliki alasan, sama seperti ketika kau memutuskan untuk jatuh cinta. Pasti tak ada alasan pasti untuk semua itu, dan alasanku juga akan seperti itu.”


Bagaimana Elle bisa jatuh cinta, ketika secara tak langsung ia sudah di miliki oleh seorang pria gila yang mengklaim kepemilikan itu. Sebanyak apapun Elle menolaknya, tak akan mengubah fakta yang ada jika Brian sudah memilikinya.


“Lalu kenapa kau harus melarangnya? Perasaan ini milikku, terserah aku bagaimana ingin mengendalikannya.”

__ADS_1


Elle kembali menoleh ke sebelahnya, tak menyangka jika Enzo masih akan menjawab kalimat itu. Kini dengan tatapan mata yang lebih serius. Apa pria tampan yang juga sangat pintar di bidangnya ini sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi? Percuma saja dengan dominasinya terhadap dunia ini jika untuk hal kecil seperti ini saja tak mengerti.


Enzo memberinya senyum kecil sebelum mengalihkan tatapannya kearah tablet yang ada di pangkuannya. Elle tak tahu lagi harus menjawab seperti apa.


**


Reni duduk di meja makan dengan sepotong roti di tangannya, ia memiliki cukup banyak kesibukan belakangan ini selain menjadi istri Reno yang sudah sangat menguras tenaga dan juga emosi. Ya, membutuhkan tenaga ekstra untuk menghadapi suaminya itu, bahkan ketika mereka hanya saling diam, tenaga yang sudah terkuras oleh Reni sudah sangat banyak.


Tak berapa lama kemudian, Reno turun dari kamarnya dan ikut bergabung di meja makan untuk sarapan. Tak ada asisten rumah tangga yang di tinggal di rumah ini, hanya ada dua orang yang bertugas membersihkan rumah ini saja. Untuk urusan makan, keduanya sudah saling mengerti dan hanya akan berakhir makan masing-masing di


luar. Rumah ini hanya di gunakan untuk tidur, selebihnya tak ada aktifitas yang terjadi.


Reno mulai mengoleskan selai di atas rotinya yang akan menjadi makanan pertama untuknya sebelum memulai bekerja. Tak ada obrolan di meja makan, dan itu sangat menyiksa Reni. Ia benci di abaikan seperti ini, sikap Reno tak seperti ini sebelumnya.


“Kapan kamu punya waktu? Papi mau ketemu kamu,” ucap Reni memecah keheningan pagi itu.


“Ada apa? Aku tak akan bekerja dengan ayahmu jika itu yang beliau inginkan.”


“Akutak tahu, dia hanya bilang ingin bertemu denganmu, dan sebaiknya mulai perbaiki sikapmu. Sejak acara resepsi itu, mulai banyak yang menyoroti kita.”


“Aku tak pernah meminta semua itu, kamu juga yang memaksaku untuk melakukan semua ini. Bukankah kamu memang yang harus bertanggung jawab untuk semua ini?” ucap Reno dingin.


Sepertinya ketegangan pagi itu akan segera di mulai lagi. Tak pernah ada yang tenang di rumah itu sejak hari pertama kepindahan mereka, atau bahkan sejak awal pernikahan mereka. Semua yang di awali dengan tak baik pasti juga akan berakhir dengan buruk, dan memang pernyataan itu tak pernah salah.


Hanya Reno satu-satunya yang paling santai dalam keadaan seperti ini, tak ada alasan untuk tak santai, yang mampu membuatnya khawatir hanyalah Nabila dan kedua putranya. Kedua hal itu masih memegang peranan penting dalam hidupnya.


“Kamu mau balas dendam sama aku?”


“Kamu pikir kayak gitu?”


Ada alasan kenapa mereka bisa bersahabat, karena sifat mereka yang bertolak belakang. Reni dengan seluruh sifat dinginnya, dan Reno yang kadang tak acuh, hangat, dan juga lembut. Sifat mereka saling melengkapi satu sama lain, dan harusnya memang sangat cocok untuk menjadi pasangan jika saja mereka memulainya dengan baik. Harusnya seperti itu.


“Sejak awal memang seharusnya kita gak menikah, karena hanya akan berakhir seperti ini. Kamu juga pasti tahu tentang hal ini, kan?” ucap Reno.


Ia yakin seratus persen, jika saja mereka tak menikah, hubungan mereka masih baik-baik saja. Setidaknya bisa menjadi lebih baik di banding saat ini. Mereka masih bisa menjadi sahabat di tengah hubungan aneh mereka, di banding mereka yang tiba-tiba menjadi sepasang suami istri seperti ini.


Persahabatan jika sudah di campur adukkan dengan perasaan lain tak akan berakhir dengan baik, kecuali jika kedua belah pihak bisa saling mengerti dan saling bekerja sama untuk perasaan mereka sendiri. Tapi, tak banyak yang bisa melakukan hal seperti itu.


“Jadi apa maumu sekarang?” tanya Reni dengan wajah tak terima. Sepertinya ia belum memiliki tempat di hati pria itu, selain sebagai sahabat dan juga mantan selingkuhan. “Aku menyukaimu sejak dulu, apa kamu gak bisa sedikit saja untuk membuka dirimu padaku?”


“Kamu juga sudah tahu jawabanku sejak dulu, kita tak bisa menjadi lebih dari sahabat dan kamu mengiyakan hal itu—“


“Kamu sudah bercerai, dan aku sangat yakin kalian tak bisa kembali bersama. Apalagi yang kamu harapkan dari itu semua? Kamu masih berharap Nabila masih mau kembali padamu?” potong Reni.


“Kamu sengaja melakukan semua ini?” Reno menatap Reni kaget.


“Sengaja atau tidak, kamu juga tak menolakku dulu, dan itu sudah terjadi.”


“Kamu merusak rumah tanggaku, Ren, dan kamu melakukannya dengan sengaja?!” tuntut Reno.


**

__ADS_1


__ADS_2