Playboy

Playboy
#2# Take 40


__ADS_3

Hai, aku mau post tadi malem tapi aku terlalu ngantuk trus takut editannnya kacau lagi. jadi aku post siang ini. Happy reading^^


 



Pada akhirnya, Elle benar-benar menginjakkan kakinya ke dalam klub malam yang berisik ini. Benar kata Ibunya kala itu, kalau ia  hanya perlu menurunkan sedikit harga dirinya dan terima saja nasib mereka yang sudah seperti ini. Jika di suruh memilih, Elle memang lebih menyukai menjadi wanita bayaran di banding bekerja di bawah Enzo ataupun di miliki oleh Brian. Kedua pilihan itu sangat buruk dan tak bisa ia terima.


Sudah lebih dari dua tahun, dan sama sekali tak ada yang berubah dari hidup Elle. Impian untuk meninggalkan Jerman dan hidup di satu kota asing sudah pupus sejak awal, sejak Brian mulai menginvasi hidupnya dengan paksa. Tak ada yang lebih baik di banding lepas dari jeratan pria itu.


Enzo adalah variabel lain yang masuk tanpa di rencanakan, tanpa alasan, pria itu hanya masuk begitu saja dan membuat Elle kewalahan. Ia sangat paham dengan ciuman terakhir yang ia terima beberapa harimlalu, dan juga dengan kalimat yang di katakan Enzo. Tapi, ia bukan wanita yang bisa menerima itu dengan sukarela, ia sama sekali tak pantas untuk menerima apapun dari Enzo, termasuk perasaannya.


Maka, menemui ibunya sudah menjadi jalan terbaik yang pernah ia pilih. Hanya perlu menghibur para pria hidung belang dan ia akan mendapatkan uang. Sejak dulu sudah ada cara mudah seperti ini, lalu kenapa ia justru memilih jalan yang rumit?


“Kupikir kita sudah tak memiliki hubungan keluarga lagi, ada apa menemuiku?” sapa Caroline dengan sarkas.


Di usianya yang sudah memasuki pertengahan lima puluh, Caroline cukup cantik dan juga menggoda. Ayah Elle memang sangat pintar  ketika harus memilih wanita, dan kecantikan itu juga di turunkan pada Elle dengan baik. Elle menyayangi ibunya, sangat, tapi ketika wanita itu memilih untuk mengambil jalan ini, Elle mulai membencinya. Masih banyak yang bisa di lakukan, kenapa harus menjadi wanita penghibur?


“Aku juga tak ingin bertemu, bahkan menginjakkan kaki di sini,” balas Elle tak kalah ketus.


Caroline tergelak. Putrinya adalah anugerah terindah  untuknya dan juga mendiang suaminya. Wajah Elle kini adalah perpaduan antara sang ayah dan juga ibunya dengan rasio perbandingan yang sangat tepat. Sikap sarkas


dan juga angkuh itu di turunkan kepada sang anak, bahkan sejak usianya masih masih sangat sedikit.


“Kau sepertinya masih belum bisa menerima jika kita  jatuh miskin? Atau kau masih berpegang teguh pada prinsipmu itu? Kau hanya menunda penyiksaan yang sedang menantimu.”


“Masih banyak pekerjaan lain yang bisa di kerjakan, tanpa harus menjual diri.”


“Apa pekerjaan itu mampu memberikan gaji yang besar? Karena hanya itu yang kubutuhkan.”


Elle terdiam. Pikirannya sedang kacau dan ia tak bisa berpikir dengan jernih, ingatannya selalu berputar pada Enzo dan juga sentuhan pria itu. Sangat sialan, kan? “Aku ingin bekerja di sini.”


“Kau apa?”


“Itu yang kau inginkan, aku menjadi tunduk padamu dan menjadi putri yang baik. Ada yang salah?”


Kenapa ketika putrinya menemuinya seperti ini, sangat banyak hal yang terjadi. Akan lebih baik jika Elle datang dengan  panggilan ‘ibu’ untuknya. Caroline sangat merindukan kata itu keluar dari bibir putrinya. Entah sejak kapan terakhir kalinya Elle memanggilnya dengan panggilan hormat itu.


“Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? Kau tak biasanya menjadi yang pertama untuk meleponku.


“Sangat banyak hingga tak bisa kau pikirkan lagi,” jawab Elle dengan ketus.


“Dan kau masih berpikir jika harga dirimu adalah  yang terpenting?”


Elle menatap Caroline sengit. Oke, salahkan saja harga diri yang coba di junjung Elle sangat tinggi itu, walaupun ia sangat tahu jika itu semua tak akan berhasil. Harga diri, persetan dengan itu. Hidupnya kini bagai neraka karena menjunjung harga diri sialan itu.


“Kau pasti sangat senang karena pada akhirnya aku akan melepaskan embel-embel harga diri itu. Kau memang selalu benar, harga diri  tak bisa membuatku lepas dari jerat iblis ini.”

__ADS_1


Mereka adalah dua orang yang memang memiliki ikatan  darah. Lalu kenapa hubungan mereka seperti ini? Jika di pikir-pikir, tak ada satu anak pun yang akan bersikap ketus pada orang tuanya, begitupun sebaliknya. Tapi, sejak kecil, Elle memang lebih dekat dengan ayahnya. Ayahnya selalu memanjakannya dengan baik sejak kecil, berbeda dengan Caroline yang sangat tegas dan disiplin.


Mendiang Bramantyo sama sekali tak pernah memaksa Elle untuk mempelajari ilmu bisnis untuk menggantikan dirinya di masa depan. Puteri tunggalnya tak harus melewati beragam siksaan angka serta statistik, puterinya harus menjadi wanita anggun di masa depan yang akan mendampingi suaminya nanti.


Berbeda dengan Caroline yang justru sangat mendukung Elle untuk mempelajari ilmu bisnis. Tak masalah jika itu wanita atau pria, siapapun bisa memimpin sebuah perusahaan serta ribuan orang, justru lawan pengusaha lain akan menyeganinya. Dari sanalah awal mula hubungan Elle dan ibunya merenggang. Tapi, jika dulu Elle menuruti ucapan ibunya, mungkin ia tak akan seperti ini. Masa mudanya benar-benar sia-sia karena ia tak mempelajari


apapun dari ayahnya, dan justru menjadi korban di sini.


“Well, aku tak pernah benar-benar serius mengajakmu masuk ke dalam dunia gelap ini. Aku hanya ingin kau berada di sisiku, kita keluarga dan hanya memiliki satu sama lain, bukankah sebaiknya kita tinggal bersama lagi? Kau tak perlu bekerja, aku masih sanggup untuk membiayai kita.”


Kini tatapan Elle benar-benar fokus pada wajah ibunya. Rasanya ini pertama kali ia mendengar ibunya mengatakan kalimat magis seperti itu. Elle tak ingat ibunya pernah mengatakan kalimat ini padanya. Tak mungkin jika klub malam mampu membuatmu menjadi cendekiawan, kan?


**


Juna benar-benar mengantar Nabila untuk menjemput puteranya, ia adalah orang yang keras kepala dan harus mendapatkan apa yang ia inginkan, dalam hal ini adalah Nabila. Bahkan jika bisa, Juna akan mengantarkan Nabila sampai ke pelaminan bersamanya. Pikirannya benar-benar kacau jika sudah berada dekat dengan Nabila seperti ini.


“Puteraku sudah di jemput oleh ibuku,” ucap Nabila ketika masuk kembali ke dalam mobil Juna seorang diri.


“Kamu udah coba hubungi ibu kamu? Siapa tahu yang menjemput anak Mbak penculik anak, sekarang, kan, lagi marak pencurian anak kecil kayak gitu.”


Mau tak mau Nabila tersenyum karena kalimat itu. Dari semua kemungkinan yang ada, justru Juna memilih jawaban seperti itu. Inilah kenapa mereka tak bisa cocok. Nabila tak buta dengan perasaan yang dengan sangat jelas di tunjukkan oleh Juna, tapi setelah banyak pertimbangan sana sini, beserta resiko apa yang akan ia terima di kemudian hari, Nabila sudah memutuskan yang terbaik untuknya, dan juga kedua anaknya.


“Kamu mau ngomong tadi sama aku, kan? Ayo sekalian makan siang aja.”


Melihat wajah Nabila yang sudah sedikit lebih cerah, membuat jantungnya kembali berpacu dengan cepat dan langsung meninggalkan halaman taman kanak-kanak itu. Sebenarnya, belum ada satu kalimat yang bisa di pikirkan kepalanya ketika ingin mengobrol berdua dengan Nabila. Yang di butuhkannya saat ini hanya sedikit istirahat di tubuhnya.


Juna memilih restoran Jepang yang mereka lewati tadi untukmengehmat waktu. Mereka masih harus kembali bekerja dan obrolan mereka tak akan selesai dalam satu atau dua menit.


Nabila mulai membuka obrolan setelah mereka selesai memesan makan siang mereka. Kembali duduk berhadapan seperti ini, serta dalam keadaan yang lebih canggung di banding hari pertama mereka kerja, membuat Nabila sedikit tak nyaman. Ia turut andil dalam suasana ini, karena awal mulanya hanya sebuah hal kecil.


“Kenapa menjauhiku?”


“Aku tak merasa melakukannya, aku juga bersikap biasa dengan karyawan lain, apa itu masalah untukmu?”


Sepertinya akan sangat sulit untuk bicara langsung  bagi Juna, karena Nabila bukan  tipe wanita yang akan menerima semua pendapatnya. Bahkan hanya untuk menerima perasaannya saja sepertinya sangat sulit, padahal Juna sudah menunjukkannya dengan sangat jelas.


“Orang buta juga bisa tahu kalau Mbak memperlakukanku secara berbeda, aku cuma ingin tahu dimana letak kesalahanku,” jawab Juna tenang.


Nabila tak memiliki jawaban untuk pertanyaan ini, apa ia harus jujur saja pada pria di depannya ini? Tapi untuk apa? Ingatlah jika mereka hanya atasan dan bawahan, alasan yang ia miliki hanyalah alasan pribadi, dan itu sangat tak profesional untuk hubungan pekerjaan mereka.


“Baiklah, aku minta maaf karena sudah membuatmu merasa seperti ini.”


Juna menaikkan alisnya tak mengerti. Ia sudah tahu  jika wanita adalah makhluk yang sangat rumit, sejak dulu juga sudah seperti itu, tapi sepertinya Nabila adalah salah satu dari yang terumit. Mungkin karena status yang di sandang Nabila, membuat wanita ini terlihat sangat rumit dengan pikiran dan juga hatinya.


“Itu gak menjawab pertanyaanku, Mbak.” Kali ini, biarkan Juna si keras kepala yang memimpin agar ia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Biar kuperjelas di sini, Juna. Hubungan kita hanyalah rekan kerja di kantor, aku sudah melakukan bagianku dengan baik, jadi tolong pahami juga batas sebagai rekan kerja itu. Kamu sepertinya sudah cukup kelewatan,” tegas Nabila.

__ADS_1


Lagipula, kenapa Nabila harus menyukai pria seperti Juna ini, sih? Sudah sangat jelas mereka tak bisa bersama, terlalu banyak perbedaan yang sangat mencolok dan sangat tak wajar. Reno saja sudah cukup membuatnya pusing, bayangkan, bagaimana ketika kedua pasangan ini nantinya akan bersama. Apa masih bisa di bayangkan?


“Apa menyukai Mbak juga bagian dari batas hubungan itu?”


**


Ada beberapa hal yang menahan Reno tetap di tempatnya sebagai suami dari Reni walau ia tak ingin. Salah satunya adalah bagian dari rasa kemanusiaan dan juga simpati. Omeli saja Reno dan semua kebaikan—kebodohan—yang ia ciptakan sendiri. Reni sahabatnya, cukup lama mereka menyandang status itu dengan semua tingkah laku Reni yang kadang di luar batas kewajaran.


Keluarga Reni sudah tak harmonis sejak dulu, Reni sering menceritakan kisah itu pada Reno dulu, jadi ia sudah tak kaget lagi  dengan keadaan mental dan juga sifat Reni. Tapi, di sanalah letak kesalahan Reno, ia tak tahu jika apa yang di lakukan Reno justru memunculkan perasaan lain di hati Reni. Hanya Reno satu-satunya yang memperhatikan Reni dengan begitu intens, ia merasa menjadi satu-satunya gadis yang beruntung karena mendapat kelebihan itu.


Hal itu tak berlangsung lama, karena tak lama  kemudian, Reno datang pada Reni dan memperkenalkan kekasih barunya, Nabila. Bohong jika Reni tak membenci Nabila dan hubungan baru Reno, bohong sekali jika rasanya Reni tak terlena dengan semua perhatian dan sifat Reno selama ini.


Sejak saat itu, Reni menahan semua kekecewaan itu sendirian, dan memastikan untuk mengambil celah di antara hubungan mereka untuk mengklaim sahabatnya lagi. Ia obsesif? Atau memiliki gangguan mental? Reno sudah


mengetahui hal itu, tapi mungkin Reni akan menyangkalnya.


“Apa ini?” tanya Reni ketika ia sedang menyantap sarapannya. Reno tiba-tiba muncul dan memberikannya amplop putih itu.


Reni membuka amplop itu dan mulai membaca isinya dengan seksama. “Terapi? Kamu pikir aku gila?”


“Tidak. Aku hanya mau kamu menemui temanku …,”


“Dan dia seorang psikolog? Kamu pikir aku bodoh untuk menerjemahkan isi pikiranmu? Kamu berpikir jika aku gila,” potong Reni.


Tentu saja Reni tak akan mudah untuk menerima hal ini, dan tak ada satupun orang yang ingin di anggap gila. Sekarang ini, menemui seorang psikolog ataupun psikiater, maka sudah di pastikan kamu gila atau mengalami gangguan mental. Itulah yang menjadi persepsi semua orang, dan bahayanya, persepsi seperti itu sudah sangat berkembang di masyarakat.


“Aku gak pernah bilang kayak gitu, aku hanya mau kamu menemui dia.”


“Apa karena masalah putramu? Kamu pikir, aku sudah sangat kejam karena hal sekecil itu? Kalau memang begitu, maka berlakulah baik padaku mulai sekarang. Kamu yang salah di bagian ini, bukan aku.”


Reni segera meninggalkan meja makan itu dengan makanan di piringnya yang masih tersisa banyak, dan juga amplop yang ia tinggalkan begitu saja. Reno mengusap kasar wajahnya, semakin hari, permasalahan yang ia hadapi semakin pelik dan semakin rumit.


Sampai di bagian ini, ia sudah mengerti dengan semua tingkah laku istri dan juga sahabatnya itu. Ia hanya dokter umum, tapi ia juga tahu jika ada yang salah dengan wanita itu. Reno sudah memikirkan hal itu sejak sifat Reni yang berubah seperti ini, mungkin sejak perselingkuhan mereka. Bahkan saat itu, Reno masih dengan sadar melakukan hal itu dengan Reni dan  menciptakan permasalahan besar lainnya. Ia juga sangat bodoh, apa ia yang pergi saja menemui psikolog?


Lalu, di saat seperti ini juga, ia masih memikirkan bagaimana caranya untuk dapat kembali bersama Nabila lagi. Bodoh sekali, kan? Sudah sangat jelas mantan istrinya itu tak akan kembali padanya, bagaimanapun caranya. Jadi, ia tak akan mengharapkan hal itu lagi walau ingin.


Mungkin ia hanya akan fokus pada rumah tangganya saja kali ini, yang sudah rusak ini, yang sejak awal seharusnya tak pernah ada. Reni butuh seseorang di sampingnya untuk menghadapi keinginan besar dari orang


tuanya, ia masih ingat dengan jelas bagaimana perlakuan orang tua Reni yang sering ia ceritakan ketika kuliah. Reni menjadi seperti itu, bukan sepenuhnya  kesalahan yang ia miliki, ada andil dari orang tuanya.


Hal itulah yang ingin Reno luruskan dan tempatkan dengan baik pada tempat yang seharusnya. Sebagai suami dan juga sahabat yang baik, setidaknya ia bisa melakukan hal itu. Ia tak ingin persahabatan mereka selama ini berakhir dengan sia-sia.


“Pastikan kali ini kamu datang. Hanya datang dan berdiri saja di sana.” Reni muncul dan menyerahkan amplop lain berwarna emas pada Reno.


Setelahnya, wanita itu segera berlalu menuju pintu keluar. Ia sudah memiliki ekspektasi akan perbuatannya pada Reno, hubungan yang dulunya baik pasti akan menjadi seperti ini. Rumah tangga yang ia impikan akan menjadi harmonis juga tak bisa ia dapatkan. Memangnya apa yang di harapkan untuk seorang wanita rusak sepertinya? Orang tuanya tak menginginkan dirinya, lalu ada Reno di sini sebagai satu-satunya pria yang netral dan selalu ada


untuknya, tapi sayang, ia sendiri yang menghancurkan semua itu.

__ADS_1


Sudah banyak yang menyebutnya sebagai wanita gila atau parahnya pelakor, yang memang sebagian besar adalah kebenaran, jadi, ia akan meneruskan hidupnya seperti itu. Tak ada yang akan menghargainya jika ia berubah menjadi baik sekalipun.


**


__ADS_2