Playboy

Playboy
#22. Ice Cream


__ADS_3

Hai, ini beneran bonus update, gak zonk kayak kemaren :D AKHIRNYA BISA JUGA BIKIN BONUS PART! jangan kecewa ya kalo dimitri gak ada di sini, dia lagi sibuk curhat sama kevin, katanya jangan di ganggu.


Berarti senin gak update ya *ketawa jahat*


Happy weekend, happy satnight, happy reading!



Richard benar-benar pulang ke Indonesia selama satu minggu. Katherine tak mendapat kabar sama sekali, begitupun Richard yang tak menghubunginya, mereka saling tak memberi kabar. Katherine tak merindukannya, serius. Oke, sedikit. Pria itu selalu mengikutinya dan selalu ada dimanapun Katherine berada, jadi pasti akan sedikit kosong ketika pria itu tak ada, kan?


Hal-hal seperti itu tentu saja sering terjadi pada orang lain juga, jadi, itu bukan rindu. Katherine akan dengan senang hati menolak perasaan seperti itu. Jadi, ketika ia sudah menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul lima, Katherine membelokkan mobilnya ke arah kafe favoritnya. Ia ingin menikmati es krim dan juga secangkir kopi.


Berlin sedang musim panas, dan suhunya cukup tinggi dan menikmati ees krim adalah hal terbaik untuk menutup hari. Katherine bahkan sudah melepaskan blazer yang ia kenakan, dan hanya menyisakan baju tanpa lengan dengan celana kain, sudah seperti itu pun , ia masih bisa merasakan udara panas yang menjalari tubuhnya.


“Pesanan anda, Frau.” Seorang pelayan pria membawa nampan berisi secangkir latte dan wafel yang di beri toping es krim serta biskuit manis. Perpaduan yang sempurna.


Katherine mengucapkan terima kasih dengan senyuman manis pada pelayan pria itu, yang sepertinya masih muda. Pria itu membalas Katherine dengan kerlingan mata, tak ada yang menduga hal itu, jadi Katherine hanya tersenyum saja.


Tadinya Katherine ingin menyantap es krim saja, tapi raasanya akan kurang lengkap tanpa kopi. Selain alkohol, kopi adalah minuman favorit Katherine. Keduanya memiliki rasa yang kuat dan memberi sensasi tersendiri dalam tubuhnya, itulah yang ia sukai, hal-hal yang memberi kesan kuat dan sensasi berbeda pada tubuhnya.


“Menikmati kopimu?”


Katherine menaikkan pandangannya, dan menemukan Richard di samping mejanya. Terkejut tentu saja, pria ini selalu tahu di mana dirinya berada, lalu apa ini? Bukankah pria ini harusnya ada di Indonesia?


“Kenapa kau ada di sini?” tanya Katherine kaget.


“Apa aku tak boleh menemui tunanganku?”


Richard bergerak melepaskan jas yang ia kenakan, masih dengan tatapan bingun Katherine yang menatapnya penuh tanya. Ya, kedatangannya memang sangat tiba-tiba, dan untungnya wanita ini selalu mudah di tebak. Kafe favoritnya bisa dengan mudah di temukan Richard.


“Kau tahu, kehadiranmu di sini mengundang tatapan dari para pria yang ada di sini?” tanya Richard yang menyampirkan jas miliknya pada bahu Katherine.


Jika saja Katherine mengenakan pakaian yang layak untuk di pertontonkan, maka tak masalah, tapi pakaian itu hampir memperlihatkan keseluruhan kulitnya. Oke, ini Eropa, berbeda dengan Indonesia. Tapi tetap saja, Richard tak menyukainya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


Richard duduk di hadapan Katherine. “Kau hampir saja bertelanjang dada di depan umum, dan banyak pria yang memperhatikanmu. Aku hanya menutupi aset milikku.”


“Kau bercanda? Ini musim panas, dan aku hampir mati kegerahan karena cuaca, lalu kau memberiku jas ini?” omel Katherine.


Richard tak acuh, ia justru dengan lancang memotong wafel milik Katherine. Pria itu hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan rambut cepak miliknya yang sepertinya tak di berikan gel, dan hanya di biarkan sedikit berantakan seperti itu. Ya, pemandangan seperti itu cukup untuk mengalihkan perhatian Katherine sebenarnya.


“Jangan melepasnya!” perintah Richard. Ia melirik dari sudut matanya ketika Katherine akan melepas jas itu. “Kalau kau tak ingin kehebohan di sini, sebaiknya tetap pakai itu.”


Katherine kembali mendengus dengan sifat posesif Richard, ia bahkan pernah mengenakan pakaian yang lebih terbuka dari ini. Bikini sudah menjadi pakaian sehari-harinya ketika ia berlibur di pantai dan belum terikat dengan pekerjaan seperti ini, lalu pria ini dengan seenaknya ingin mengatur apa yang harus ia kenakan?


“Apa kau begitu menyukaiku? Kau sudah pasti akan mendapat serangan jantung jika tahu bagaimana pakaianku ketika musim panas seperti ini,” cibir Katherine.


“Kau tahu, aku sangat benci ketika harus berbagi pemandangan indah yang seharusnya hanya menjadi milikku saja. Jadi, sebaiknya kau jaga cara berpakaianmu selama aku menjadi tunanganmu.”

__ADS_1


Milikku. Kalimat itu menimbulkan rasa hangat di hati Katherine, itu sama saja dengan Richard yang sudah memiliki dirinya, kan? Tak ada kata cinta yang terlontar, tapi kata itu saja sudah membuat Katherine bahagia. Tentu saja tak akan ia tunjukkan pada Richard.


“Kau berpikir aku akan patuh pada semua kalimatmu?” Katherine menaikkan alisnya sebagai tanda menantang Richard yang sedang menikmati wafel miliknya.


Dengan segera, Katherine melepas jas yang tersampir di bahunya seolah tak terjadi apa-apa. Lalu dengan gaya yang sengaja di buat sedemikian rupa, ia mengikat rambut panjangnya menjadi cepolan, dan memperlihatkan leher jenjangnya.


“Kau salah jika berpikir aku akan menjadi anak manis di hadapanmu,” ucap Katherine dengan senyum miring.


Richard menatap pemandangan itu dengan wajah gelap. Kedua tangannya terlipat di dada, wanita ini benar-benar satu di antara yang lainnya. Keras kepala dan arogan, dan ia menyukainya, hanya itu poin yang penting di antara semua hal yang ada. Jangan pikir ia tak tahu bagaimana perasaan wanita di hadapannya ini, ia bisa membuat wanita ini bertekuk lutut padanya.


“Jika kau memang menginginkannya. Aku tak pernah main-main dengan semua kalimatku.” Richard berdiri dari kursinya, dan mendekat pada Katherine.


Katherine sedikit awas dengan pergerakan pria ini. Ini sama saja dengan bunuh diri sebenarnya, Richard sangat nekat dan juga tak bisa di tebak. Richard menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan wajah Katherine, tangan kanannya bertumpu pada sandaran kursi, sedangkan tangan kirinya bertumpu pada lengan kursi, mengurung Katherine dalam kungkungan tubuh Richard. Dan segalanya terjadi dengan begitu cepat, hingga Katherine tak mampu melakukan penolakan. Richard menciumnya.


**


Sudah terhitung sejak tiga minggu yang lalu Liliana bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan keuangan. Selama itu, tak ada hal-hal berarti yang terjadi. Ia berkumpul bersama rekan-rekan kerjanya, lalu kembali ke apartemen dan menjadi Ibu yang baik untuk Elang. Bulan depan usia Elang satu tahun, dan ia berniat untuk merayakan.


Wajah ceria dan bahagia sudah kembali menghiasi Liliana, ia akrab bersama rekan-rekannya. Ketika kita mengikhlaskan segalanya, dan menyerahkan segalanya pada takdir, semuanya terasa lebih mudah. Kita yang menentukan kebahagiaan milik kita, kenapa harus berkubang dalam kesedihan terus menerus.


“Apa kekasihmu akan menjemput lagi?” tanya Ally. Salah satu rekan kerja Liliana yang duduk di sebelah kubikelnya.


“Sudah kubilang dia bukan kekasihku, kami hanya berteman.”


“Aku ragu ada pertemanan antara pria dan wanita, aku saja tak bisa melakukan itu dengan Robert, kalian tahu—“


“Hentikan, Susan, kau akan membuatku muntah dengan semua kisah picisanmu itu,” potong Ally.


“Kau ingin kuaturkan kencan dengannya?” tanya Liliana pada kedua temannya itu.


“Susan pasti akan menolak, dia sudah cinta mati dengan pria bernama Robert itu.”


Susan mendelik mendengar kalimat dari Ally yang selalu mengejeknya soal Robert, yang sudah menjadi ‘teman tapi mesranya’ selama hampir satu tahun. Mereka sudah mengenal sejak bangku kuliah, tapi hubungan rumit itu memang baru saja di mulai oleh mereka.


“Jadi maksudmu, hanya kau yang bisa mendekati pria itu?” tanya Susan.


“Anggap saja seperti itu.”


Liliana kembali tertawa dengan pertengkaran rutin kedua temannya ini, ia sudah sangat hafal, tapi juga tak pernah bosan. Keduanya adalah orang-orang yang selalu membuat hari-hari kerja Liliana semakin berwarna. Ia tak perlu merasakan kesepian lagi, ternyata memiliki lebih dari satu teman juga tak terlalu buruk.


Jam kerja mereka baru saja selesai, dan Liliana hanya menunggu Enzo yang akan menjemputnya bersama dengan Elang. Mereka sudah sangat cocok menjadi keluarga kecil, tapi Liliana belum, atau mungkin juga tak menginginkannya. Menjadi Ibu tunggal sudah cukup membahagiakannya, ini bisa jadi tahun terbaiknya, di banding dengan tahun lalu.


Kesedihan adalah hal yang mutlak, tapi tak ada kesedihan yang abadi. Kita selalu bisa menemukan kebahagiaan kecil yang terselip dimanapun itu. Lebih baik mencari kebahagiaan itu, di banding menunggu kebahagiaan itu mneghampiri kita. Segala hal yang di tunggu akan berakhir menyebalkan, jadi lebih baik mencarinya.


Ponsel Liliana bergetar di mejanya. “Aku duluan, ya? Akan kusampaikan salam untuk Enzo.” Liliana mengerlingkan matanya pada kedua temannya itu.


Siapapun yang melihat Liliana saat ini pasti akan merasakan iri, jika mereka tak mengetahui apa yang pernah di alami wanita itu. Selalu seperti itu, kan? Apapun yang terlihat di luar, pasti akan langsung di puji tanpa peduli apa yang terjadi di dalamnya.


“Pasti merepotkanmu melakukan ini, aku akan mentraktirmu es krim,” ucap Liliana.

__ADS_1


Ia sudah mengambil Elang yang berada di kursi khusus bayi, untuk ia pangku. Saat ini adalah usia keemasan Elang, ketika balita itu mulai melakukan banyak hal dan tak bisa diam. Seharusnya Liliana tak melewatkan hal-hal penting seperti itu, tapi untungnya sang pengasuh berbaik ahti untuk merekam apapun yang di lakukan anaknya itu. Jadi, Liliana tetap bisa meliaht perkembangan putranya, walau melalui layar.


“Aku tak repot, tapi kau harus tetap mentraktirku. Cuaca sangat terik, es krim adalah pilihan yang baik,” ucap Enzo.


Tak masalah jika harus menjadi bayangan Liliana lebih dahulu. Teman juga hubungan yang tak bisa ia dapatkan dulu dengan Liliana, jadi, kenapa tak mencobanya? Semua hubungan juga di awali dengan pertemanan


“Setelah itu aku ingin pasta, sepertinya sangat sempurna untuk menutup hari,” ucap Enzo lagi.


“Pasta? Lagi? Apa kau tak bosan?”


“Aku tak akan bosan, karena pasta buatanmu tak bisa di temukan di manapun.”


Senyum di bibir Liliana kembali terkembang. Ya, setidaknya ia banyak tersenyum belakangan ini. Seberat masalah apapun masalah yang di hadapi, walaupun rasanya sangat ingin mati, tersenyum saja. Yakini jika semuanya akan baik-baik saja.


**


Sejak kejadian terakhir kali ketika Richard menciumnya di kafe, di hadapan para tamu kafe yang tak terlalu ramai tapi tetap cukup banyak yang menyaksikan kejadian itu. Katherine benar-benar memakai pakaian tertutup, bukan karena Richard, ia hanya tak ingin kejadian seperti itu terulang. Jujur, ciuman itu sangat memabukkan, hal yang membuat Katherine tak ingin mengulangi, ia takut akan menjadi candu.


Itu adalah ciuman terbaik Katherine selama ini, dari banyaknya pria yang pernah ia cium. Mungkin karena mereka sudah bertunangan dan saling terikat, hingga rasanya sangat berbeda. Apa ada hal seperti itu? Jika ada, berarti memang itu yang terjadi. Dan setelah itu Richard benar-benar tak menganggap ciuman itu sedikitpun, ia bersikap biasa seolah tak terjadi apapun. Padahal Katherine sudah merasakan jantungnya yang berdetak secara tak normal.


Katherine harus menghabiskan es krim di hadapannya untuk meredakan rasa gugup yang selalu menderanya, padahal ciuman itu sudah lewat dua minggu. Tahu apa yang lebih darurat dari segala hal? Es krim ini justru semakin mengingatkan Katherine dengan Richard. Sebelum ciuman itu, Richard menghabiskan waafelnya yang di


sertai es krim, dan rasa bibir pria itu adalah es krim.


Jika seperti ini, Katherine ingin meminta sang Ayah untuk menikahkan mereka. Tapi, itu tak mungkin.


“Apa kau sudah siap untuk rapat?”


Katherine terlonjak dengan suara yang muncul tiba-tiba itu, pikirannya sedang tak pada tempatnya dan ia juga sedang menikmati es krim cokelat favoritnya. Itu adalah suara Richard yang masuk dengan seenaknya ke dalam kantor Katherine.


“Apa kau tak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?!” hardik Katherine. “Rapatnya masih tiga jam lagi, dan aku sudah menyiapkan semuanya. Kau pikir aku sebodoh itu untuk lupa?”


Richard tersenyum miring. Ia sangat merasakan perubahan Katherine semenjak kejadian di kafe, dan ia juga yang menjadi sasaran kemarahan wanita itu. Richard baik-baik saja dengan semua itu, tapi semua itu semakin menambah tingkat rasa sukanya pada Katherine. Apa ia sudah terdengar seperti pria yang sangat tergila-gila pada Katherine?


“Tempramenmu sangat buruk belakangan ini, apa ciuman kemarin belum cukup untukmu?”


“Berhenti di situ!” teriak Katherine ketika Richard berjalan menuju mejanya. Beruntung ruangan ini cukup kedap suara.


Percayalah, Richard bukan tipe pria yang maniak akan sesuatu, seperti ciuman misalnya. Ia hanya ingin mengimbangi sikap Katherine yang juga sangat liar untuknya, ia bisa menyesuaikan sikap tergantung keadaan. Itu menyenangkan juga, ketika Katherine terlihat salah tingkah dan juga gugup. Padahal di lain kesempatan, Richard bisa melihat rasa percaya diri yang snagat menggebu dari Katherine.


“Kau pikir aku akan patuh pada semua kalimatmu?”


Katherine merasa tertohok ketika kalimat yang ia lontarkan pada pria itu kini di balikkan, tapi ia juga tak ingin menunjukkan betapa gugupnya ia saat ini. Jantungnya selalu bekerja melebihi aturan ketika sudah menyangkut Richard. Pada akhirnya, ia tetap menyendokkan es krim di hadapannya seolah tak terjadi apapun.


Jika pria itu akan mendekat pun, Katherine tak peduli, lagipula Richard selalu seenaknya. Apa lagi yang bisa ia lakukan?


Es krim yang siap masuk ke mulutnya mendadak berhenti ketika Richard sudah berdiri di hadapannya, hanya ada meja yang membatasi mereka. “Kau tahu, aku selalu menyukaimu ketika sedang gugup. Tak bisakah kau hanya menjadi wanita manis untukku?”


Wajah Richard menunduk, dan Katherine dengan impilsif menutup kedua matanya, membuat Richard lagi-lagi tersenyum. Tapi bukan ciuman yang terjadi, Richard menyantap es krim yang masih berada di tangan Katherine. Tak salah jika Katherine membenci Richard, sikapnya benar-benar tak tertebak.

__ADS_1


**


__ADS_2