
Hi, aku mau nanyak lagi dong, untuk yang kesekian kali kayaknya ini ya :) kalian di tim mana nih? lili-enzo atau lili-dimitri? Kalo bisa sekalian sama alasannya, aku penasaran aja sih hehe. gak papa ya?
Setelah dulu ada lili-sadewa, lili-richard, lili-sadewa, lili-diimitri lagi, aku aja gak tau ini cinta berapa segi. Setelah di pikir-pikir juga, kenapa aku bisa bikin ceritanya rumit banget kek gini? semoga kalian gak bosen ya dengan semua pikiran absurd aku ini^^
Happy reading ya :)
“Kupikir kamu belum memiliki suami,” ucap Enzo.
Liliana menoleh mendengar kalimat tersebut, ia menatap Enzo dengan sedikit bingung. Ingatan tentang pria ini sedikit memudar, tapi samar-samar ia bisa merasakan kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Anehnya Liliana sulit mengenalinya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Liliana ragu.
Enzo menatap Liliana tak terima, sudah dua hari yang lalu sejak mereka bertemu, tapi bagaimana mungkin wanita ini bisa begitu cepat melupakannya. Enzo bahkan masih bisa mengingat wanita ini dengan baik. Tak ada jawaban yang Enzo berikan, ia hanya menatap Liliana menantang, sedikit tak terima jika ada orang lain yang bisa dengan mudahnya melupakan wajah seseorang.
Liliana berusaha dengan sangat keras untuk mengingat wajah pria ini. Ia cukup banyak bertemu banyak orang, jadi bagaimana Liliana bisa mengenalnya. Raut wajah serta aura yang pria ini keluarkan seperti mengingatkannya pada seseorang yang pernah memberinya ekspresi tersebut. Tak mungkin jika orang yang sama, kan? Apalagi jika pria ini juga tinggal di gedung yang sama.
“Herr Gioto?”
Seperti baru saja mendapat kabar kalau saham perusahaannya naik, Enzo menghela napas lega. Dan entah kenapa Enzo melakukan itu. “Ingatanmu cukup buruk sebagai pramuniaga, bagaimana jika aku tiba-tiba adalah seorang pelanggan yang sudah sering mampir ke toko, apa kamu akan melakukan hal yang sama?” tanya Enzo
dingin.
“Ah, maaf, Herr. Saya benar-benar tak memiliki maksud seperti itu, saya memang sedikit kesulitan untuk mengingat seseorang yang wajahnya masih sedikit asing untuk saya,” jawab Liliana sopan.
Enzo sedikit menyesali ketika justru mengucapkan hal yang benar. Wanita ini mendadak berubah menjadi sopan ketika sudah saling mengenal, sangat berbeda ketika ia datang tanpa memperkenalkan diri.
“Kau mau kemana?”
“Ehm… Hanya mencari udara segar saja, Herr.”
Obrolan mereka terhenti ketika lift sudah berhenti di lantai satu, bahkan sesampainya mereka di luar gedung, suasana kembali canggung. “Kamu butuh tumpangan?” tanya Enzo.
“Ah, terima kasih, tapi saya hanya akan berkeliling di sekitar sini saja.”
Liliana segera menjauh dari Enzo membawa kereta dorongnya. Enzo menatap punggung Liliana yang menjauh dengan tak rela. Selama ini Enzo tak pernah berpikir jika akan menemukan wanita yang sama dinginnya. Maksudnya, wanita ini sangat berbeda jauh dari wanita-wanita lainnya yang pernah Enzo temui, dan sama sekali tak terpengaruh dengan kehadiran Enzo. Atau karena wanita ini sudah memiliki anak dan juga suami? Kenapa rasanya sangat aneh mengatakan hal ini?
Pada akhirnya Enzo memilih untuk mengikuti Liliana, ketika seharusnya ia kembali ke kantor dan menyelesaikan beberapa pekerjaannya. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
Liliana kaget dengan kehadiran pria ini yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya, ia pikir pria ini sudah pergi sejak tadi. “Pertanyaan yang mana?”
Enzo menunjuk Elang dengan menggunakan dagunya. “Kupikir kau belum menikah atau memiliki pacar,” ucap Enzo. Sama sekali tak ada tanda tanya di kalimatnnya.
Bukankah ini adalah privasi Liliana? Kenapa juga ia harus menjelaskannya pada pria asing yang menjadi pelanggan VIPnya? Dan juga, Liliana cukup terkejut dengan pria ini yang tiba—tiba mengikutinya.
“Sepertinya saya memiliki alasan tersendiri dengan tak menceritakan semuanya. Maaf, tapi saya permisi dulu.”
Tak peduli jika sikapnya saat ini sangat kasar, tapi mereka sedang tak dalam lingkungan pekerjaan. Tak ada yang salah dari ucapan Liliana, ia memiliki batas pribadinya sendiri. Dengan menjelaskan tentang Elang, ia harus menjelaskan tentang statusnya juga, dan Liliana sangat tak menyukainya.
__ADS_1
Ini juga tak seperti mereka akan kembali bertemu. Florence mengatakan kalau pria ini datang ke toko setiap enam bulan atau satu tahun sekali. pria itu tak akan datang lagi ke toko.
**
Sepertinya pemikiran Liliana kemarin sangat salah, tentang Enzo yang tak akan kembali ke toko lagi. Buktinya, pria ini sudah ada di hadapannya sejak pukul sembilan lebih empat puluh lima dengan setelan formalnya dan gaya angkuhmya. Walaupun Florence yang menghadapinya, entah kenapa Liliana merasa pria ini menargetkan dirinya lagi.
“Liliana, kemari,” panggil Florence.
Liliana menuruti ucapan Florence, dan hanya mampu berdo’a kalau-kalau pria ini memintanya melakukan hal aneh. Bisa saja, kan, pria ini merasa tak di hormati karena kejadian kemarin dan memutuskan untuk melampiaskan pada Liliana kali ini?
“Hari ini kita akan memiliki karyawan baru, dan dia adalah sepupu Herr Gioto,” ucap Florence.
Ah, Liliana baru saja mmeikirkan kemungkinan buruk di otaknya, tapi ternyata tak seperti itu kejadiannya. Tapi, apakah ini semacam nepotisme? Pria ini memakai koneksinya untuk mempekerjakan sepupunya, yang bisa saja posisi itu di isi orang lain yang bukan keluarganya.
“Aku tak ingin meminta hak spesial untuknya, perlakukan dia seperti kalian bekerja bersama rekan kerja lainnya. Dia akan bekerja sesuai seperti yang kalian kerjakan.”
Liliana hanya menganggukkan kepalanya, jika saja pria ini memiliki celah, pemikiran Liliana akan semakin baik. Pria ini sedikit terlalu sempurna, dan Liliana tak menyukai fakta itu. Pria sempurna sangat berbahaya, walau Liliana ingin
memilikinya. Sudah satu tahun berlalu, dan harusnya tak masalah jika ia kembali jatuh cinta lagi.
Beberapa kali Liliana sempat memikirkan hal tersebut, tapi setelah di pikirkan lagi, ia tak bisa melakukan hal itu. Jatuh cinta kembali terlalu mahal untuknya, dan untuk menyerahkan hidupnya pada pria lagi membuat Liliana bergidik. Tak masalah jika itu pria baik, tapi kalau prianya sama seperti yang pernah ia alami di masa lalu, perjuangannya sama saja dengan sia-sia.
“Hai, apa aku terlambat?” sapa seorang wanita dengan ceria.
Liliana sangat kaget melihat wanita itu, wanita yang sama ketika mereka berada di gedung apartemen. “Oh, kau di sini juga? Wah, kebetulan sekali, ya? Setidaknya ada yang kukenal di sini.”
“Kau terlambat,” ucap Enzo dingin.
“Ya, aku tahu. Apa kau akan memotong gajiku? Atau menelepon Ayah?” Katherine memutar bola matanya kesal, lagi.
“Florence akan menjelaskan tentang rincian pekerjaan kamu, pastikan kamu mengerjakan semua tugas dengan baik. Florence tak akan mengkhususkan dirimu.”
“Ya, ya aku tahu. Pergilah, kau membuatku muak saja.” Katherine membuat gestur tangan mengusir di depan mata Enzo.
Keduanya memang tak pernah akrab, mungkin akan terjadi perang dunia ketiga jika mereka tiba-tiba akrab dan saling mendukung satu sama lain. Intinya itu tak akan terjadi, mereka akan tetap bertengkar, inilah cara menunjukkan kasih sayang mereka. Beberapa saudara pasti pernah melakukan hal seperti ini, kan?
Akhirnya Enzo memutuskan untuk keluar dari toko itu dengan jengkel, Katherine selalu berhasil membuat Enzo jengkel dalam waktu singkat. Hal yang sudah sangat biasa terjadi sebenarnya.
“Dia menyebalkan, kan? Sebaiknya kalian hati-hati, dalam waktu dekat mungkin dia akan menjadi kepala cabang ini,” ucap Katherine setelah Enzo keluar. “Ah, kita belum berkenalan, kan? Aku Katherine, yang sudah menjadi tetanggamu.”
Katherine mengulurkan tangannya, dan Liliana menerima dengan canggung. Katherine sepertinya terlalu ceria, sama seperti Nabila, dan sepertinya Liliana akan sulit menanganinya. “Liliana.”
“Jangan terlalu canggung, anggap saja kita teman.” Katherine kembali tersenyum dengan lebar.
“Mari, Frau, saya antarkan untuk berganti pakaian.”
Florence dan Katherine berjalan ke belakang untuk menyelesaikan pakaian kerja dan juga ketentuan-ketentuan apa saja yang di butuhkan untuk pekerjaan ini. Liliana hanya menatap keduanya dengan sedikit canggung, ia berpikir wanita tadi adalah kekasih Enzo. Mungkin Liliana masih sedikit antipati pada pria seperti Enzo yang kemungkinan memiliki banyak perempuan di luar sana.
Bukan urusan Liliana sebenarnya, dan ia juga tak ingin ikut campur. Lagian mereka hanya orang asing yang tak saling mengenal, tapi semenjak Enzo menanyakan statusnya kala itu, pikiran Liliana agak sedikit terganggu. Bukan terganggu secara romantis, ia hanya tak menyukai tatapan Enzo ini, dan sikap dinginnya tentu saja.
__ADS_1
Kenapa semua pria yang Liliana tahu harus bersikap dingin dan menyebalkan? Ini tak seperti Liliana ingin mengenal Enzo lebih jauh, mereka jelas tak akan cocok. Dan Liliana juga tak ingin mencocokkan diri dengan pria itu. Enzo tak akan cocok dengan dirinya.
**
Nabila menatap Dimitri dengan tak bersahabat. Pria ini yang sebelumnya sudah sangat ia percayai untuk kembali menjaga sahabatnya justru kini kembali menyakiti. Ia tak tahu bagian mana yang salah di sini, entah ini kesalahpahaman sepihak atau memang kesengajaan. Dimitri selalu diam untuk beberapa masalah yang ada, ia tak
menjelaskan tapi juga tak ingin di salahkan. Mengatakan masih mencintai Liliana, tapi semua tindakannya jauh dari kata mencintai seseorang.
Sepertinya memang ada bagian yang salah di otak Dimitri, mungkin system syaraf di otaknya ada yang sudah putus, hingga perkataan dan juga tindakannya sangat tak sinkron. Bagian yang paling menyebalkan adalah, Dimitri selalu menemuinya untuk mencari informasi tentang sahabatnya ini, yang membuat Nabila kadang merasa bersalah.
Kenyataannya, kali ini Liliana benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Wanita itu tak ada di Bali, bahkan di rumah orang tuanya, yang lebih buruknya, orang tua Liliana juga sama sekali tak mengetahui keberadaan anaknya. Mereka hanya saling berkomunikasi melalui ponsel, dan Liliana benar-benar tak memberitahukan keberadaannya.
Selama satu tahun ini, Nabila juga cukup sering berkomunikasi dengan Liliana. Ia hanya tahu sahabatnya itu ada di luar negeri, tapi Liliana bersikeras tak mengatakan keberadaannya. Nabila menghargai keputusan itu, hanya saja ia cukup khawatir, entah bagaimana cara sahabatnya itu bertahan hidup dan apa saja yang sudah di lalui sang sahabat. Kepergian ini sama sekali berbeda dengan kepergian Liliana dahulu.
“Kenapa kamu selalu berpikir kalau aku tahu keberadaan Liliana? Karena aku sahabatnya?” tanya Nabila dingin.
“Aku tahu betapa gak tahu malunya aku, tapi aku cuma ingin tahu bagaimaan kabar Liliana dan juga anaknya.”
“Kalau kamu sadar semua hal itu, sebaiknya kamu introspeksi diri. Bahkan Lili sama sekali gak ngasih tahu keberadaannya, harusnya kamu sadar betapa tersakitinya dia saat ini. Aku gak tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu itu, kamu sendiri yang berjanji dan kamu sendiri juga yang mengingkarinya. Ini pertama kalinya aku ketemu pria kayak kamu.”
Ini adalah pertama kalinya Dimitri berani menemui Nabila, ia sangat sadar dengan kesalalahan apa yang sudah ia buat. Karena itu ia menahan diri sendiri untuk bertemu Nabila, bagaimanapun, Nabila adalah orang yang sangat berjasa dalam menyatukannya dengan gadis yang ia cintai.
“Kamu tahu, aku gak pernah melakukan ini dengan maksud buruk, aku mencintai Lili—“
“Aku gak tahu kenapa kamu selalu nyebut mencintai Lili, tapi kamu mengingkari semua itu. Lagipula kalian udah bercerai, apalagi yang kamu mau dari Lili?” potong Nabila.
Nabila akan selalu berdiri di barisan paling depan untuk membela Lili, sahabatnya itu entah kenapa selalu tak pernah beruntung dalam urusan percintaan. Jika saja Liliana dulu memilih perjodohannya dengan Richard, Nabila yakin semuanya tak akan sesulit ini. Dimitri benar-benar contoh pria paling buruk yang pernah Nabila temui.
“Aku punya alasan atas semua perbuatanku, Nabila,” ucap Dimitri. Helaan napas berkali-kali Dimitri hembuskan, ia sudah sangat sadar betapa salah dirinya, ia ingin menebus semua kesalahan ini dan meminta maaf serta pengampunan dari Liliana.
“Dan baru sekarang ini baru mau kamu jelasin? Setelah kalian bercerai? Kamu pasti bercanda, kan? Kamu anggap apa Liliana selama ini?” tanya Nabila dengan penuh penekanan.
Sekarang Nabila bisa merasakan apa yang selama ini Liliana rasakan ketika berhadapan dengan pria seperti Dimitri ini. Beruntung mereka sudah bercerai.
“Aku gak pernah punya kesempatan untuk menjelaskan semua ini, posisiku juga serba salah ketika itu. Aku hanya gak mau semakin menyakiti Liliana ketika kondisinya sedang lemah seperti itu.”
“Kamu punya, hanya saja kamu dengan bodohnya menyia-nyiakan semau itu. Apa menurutmu diammu selama ini bisa menyelesaikan masalah? Apalagi pembelaanmu?”
Dimitri menatap Nabila yang sudah sangat siap untuk menelan tubuhnya bulat-bulat setelah percakapan ini. Ia bisa maklum dengan semua kemarahan Nabila, beruntung Liliana memiliki sahabat seperti Nabila yang selalu berada di garda depan untuk membela Liliana mati-matian.
“Aku di jebak waktu itu, dan aku sama sekali gak ingat apa yang sudah aku lakukan. Lalu aku terikat kontrak, kamu sangat tahu berapa banyak kerugian yang aku dapat setelah semua ini. Ini juga berat untukku, Bil, dan aku tak ingin Lili ikut menanggung semua ini. Aku berniat untuk mengatakan segalanya pada Lili ketika masalah ini selesai dan kontrakku berakhir. Ini semua memang salahku,” ucap Dimitri.
Nabila menatap tajam Dimitri, ia tak berniat untuk mengasihani pria ini apapun yang ia katakan. Lagipula semua itu juga tak akan mempengaruhi kehidupan Liliana yang sudah kembali hancur untuk kesekian kalinya. Artinya, percakapan ini sama sekali tak ada gunanya, memangnya apa yang akan berubah ketika Dimitri jujur sekalipun? Apa seluruh rasa sakit yang Liliana tanggung sendirian akan segera sembuh?
“Percayalah, sekalipun kamu jujur saat ini, itu semua tak akan mengubah apapun. Jadi, jangan buang-buang tenagamu dan fokuslah pada kehidupanmu, dan tak perlu menanyakan keadaan Liliana, aku yakin semuanya lebih baik ketika ia sudah lepas darimu.”
Tanpa berpamitan pada Dimitri, Nabila segera beranjak dari kursinya dan meninggalkan Dimitri sendiri lagi. Karma memang kejam, kan? Setidaknya, apa yang kamu tanam, itulah yang kamu tuai. Maka berbuat baiklah pada siapapun itu, di masa depan nanti kamu akan mendapatkan balasan atas semua perbuatan baikmu.
Dimitri menundukkan kepalanya, hampir semua orang terdekatnya meninggalakan ia sendiri, kecuali Richard. Ia tahu alasan dari semua itu, tapi rasanya tetap menyakitkan. Walaupun ia berusaha sangat keras, waktu tak bisa di putar kembali, ia hanya bisa menikmati penyesalan ini sembari merenungkan semua kesalahan yang ia perbuat. Harusnya setelah semua ini, ia benar-benar akan menjadi pria sejati yang tak akan menyakiti wanita manapun lagi.
__ADS_1
Mari do’akan yang terbaik untuk Dimitri.
**