
Sudah enam bulan berlalu Luna masih betah dengan keadaannya, Edar sangat berubah dia semakin dingin dan kejam dia masih membawa putrinya ke kantor.
Sejak peristiwa Delia tidak ada lagi yang berani membicarakan putrinya dikantor, sikembar pun menjadi dibgin selain pada adiknya dan mommynya bahkan opa dan omanya hanya bisa menghelakan nafasnya melihat tingkah cucu kembarnya.
saat ini hanya ada Anindira bersama Luna karena Edar ada pekerjaan bersama Dion di ruangannya, Ayu dan Cinta sudah melahirkan seorang putra, mereka sangat sedih sebab Luna tidak dapat melihat putra mereka lahir.
Semua orang berkumpul di kediaman Perkasa karena hari libur, mereka sengaja berkumpul disana untuk menghimbur sikembar dan Anindira.
Anindira sangat aktif dan sehat Edar sangat protektif terhadap kesehatan putrinya, Anindira sangat senang dia menggerakan badannya, tengkurap dia melihat Luna disampingnya dia pukul pipi Luna bahkan menaikinya.
" Adik apa yang kamu lakukan nanti mommy sakit, turun ya sayang" kata Aidyen , dengan lembutnya meminta adiknya turun dari tubuh Luna.
Tapi Anindira terus memukul wajah Luna dengan tangan mungilnya. " Aidyen teruslah membujuk adik Al akan memanggil Daddy" kata Alfatih yang baru masuk, dia meletakan tasnya dimeja kemudian mencari Edar.
Mimpi Luna
Luna sedang duduk di kursi dengan permandangan yang sangat cantik dia tidak tahu sudah berapa lama dia disana, yang dia tahu bahwa sangat menyukai permandangan yang cantik dihadapannya seakan ada magnet yang membuatnya tidak mau pergi dari sana.
__ADS_1
Tiba ada cahaya yang sangat menyilaukan membuat matanya silau. " Ini cahaya apa silau sekali" kata Luna, menghindari cahaya .
" Luna, Luna" ada suara yang memanggilnya. " Siapa anda mengapa tahu nama saya?" Luna. " Kesinilah sayang ikut bersama kami" kata seorang .
Luna terus mendengarnya dan mengikuti suara yang memanggilnya ketika akan sampai di cahaya langkahnya terhenti oleh bayi dihadapannya. Jantungnya berdebar sangat kencang seakan dia mengenal bayi ini.
" Sayang kamu cantik sekali, bersama diapa kesini sayang" kata Luna, dia menggendongnya tiba saja air matanya keluar.
" Ada apa denganku seakan aku pernah memilikinya" kata Luna, mengelus perutnya.
" Mommy ada disini bersama adik" kata Aidyen berlarian memeluk Luna. " Kalian. mengapa disini sayang ayo pergi dari sini " kata Luna, melihat putra kembarnya memeluknya.
" Mommy kami tidak ingin pergi, hiks hiks. Kami telah mencari mommy kemana lihat adik sendiri yang menemukan mommy" kata Alfatih dengan bahagianya.
" Adik?" Luna. " Ya mommy adik yang mommy lahirkan namanya Anindira putri perkasa itu daddy yang memberinya" kata Aidyen.
Luna menangis mencium putrinya diseluruh wajahnya. " Sayang maafkan mommy karena tidak merawatmu sejak bayi" kata Luna.
__ADS_1
" Sayang dimana Daddy?" Luna. " Daddy dan lainnya menunggu mommy, ayo kita pergi dari sini mommy" kata Aidyen, memegang tangan Luna sedangkan Alfatih berjalan didepannya.
Luna membalikan badannya terlihat ada yang tersenyum padanya. " Ayo mommy kita pergi" kata Aidyen. Luna tersenyum dan menanggukan kepalanya. Mereka pergi dari sana menuju sebuah pintu yang terbuka dan memasukinya.
End
Alfatih dan Edar menuju ke kamar Luna setelah diberitahunya mereka langsung berlari, membuat lainnya bertanya dan mengikuti mereka masuk ke kamar Luna.
Edar membuka pintu dan masuk diikuti oleh lainnya, langkahnya terhenti meliha permandangan terharu di hadapannya. Dia melihat Luna sudah sadar dari komanya dan memeluk putrinya dalam pelukannya.
Keluarga dan sahabat juga menangis bahagia ini adalah berita membahagiaakan.
" Mommy sudah sadar, hiks hiks. mengapa bangunnya lama" kata Alfatih, sambil bersenggukan. Luna tersenyum memeluk putra kembarnya tapi tidak menyakiti adiknya.
Luna melihat Edar yang menangis ada rasa rindu dalam hatinya pasti suaminya sangat menderita mengurusi anak- anaknya.
" Panggil dokter" teriak Daddy Prabu.
__ADS_1