
Mereka masih berada di ruang tamu melihat antusias Alfatih terus menatap foto USG.
" Luna kamu tadi kenapa?" Ayu, mengingat kejadian di Rumah sakit. " Memangnya ada apa Ayu ?" Cinta. menatap kedua sahabatnya.
Luna yang sudah baik jadi teringat suaminya di rumah sakit tentang pertanyaannya itu membuatnya pindah dan duduk disamping Aidyen, membuat mereka heran dan Edar menghela nafasnya.
" Ini sebenarnya ada apa?" Ayu. " Kamu yang salah menangakan hal itu kata Edar, meminjit keningnya.
" Memangnya letak kesalahannya dimana, kak" kata Ayu. Gilang tertawa dan paham yang terjadi.
" ini kak Gilang mengapa tertawa" kata Cinta. " Itu kakakku yang dingin itu bertanya pada dokter apakah boleh berhubungan, padahal dok Mira pada waktu itu sudah menjelaskannya" kata Gilang tertawa, sambil menutup mulutnya.
Cinta dan Ayu terbengong dengan pertanyaan itu dan Edar sudah memejamkan matanya. Luna yang sudah malu masuk ke dalam kamarnya, Dion hanya menahan tertawanya karena ditatap tajam oleh Edar.
Edar nenyusul Luna untuk ke kamar, Edar membukakan pintu dan melihat Luna bersantai di sofa sambil menbaca novel.
" Sayang lagi apa?" Edar mengelus hijab luna. Luna mengangkat kepalanya dan tersenyum.
" Luna hanya membaca novel ini, mas" kata Luna, menunjukannya pada Edar. ' Edar meletakan novel disebelah luna dan memeluknya.
__ADS_1
" Mas kenapa?" Luna. " maafin mas sayang karena telah membuatmu kesal" kata Edar, mengelus perut luna. Luna menggelengkan kepalanya dan memegang pipi Edar.
" Luna tidak kesal hanya malu saja" kata Luna, tertunduk malu. Edar pun mencium luna dengan manis tanpa adanya hasrat.
Edar melirik arlojinya ternyata hari sudah sore. " Sayang gimana kalau kita ke Tiergarten, disana ada Air mancur, danau buatan dan pepohonan kita dapat menikmati keindahannya" saran Edar.
Luna tersenyum dan menanggukan kepalanya dengan semangatnya dia langsung bersiap, Edar menggelengkan kepalanya melihat istrinya dia langsung menghubungi Dion agar memberitahu bahwa mereka akan pergi.
Edar menuju kamar sikembar ternyata mereka sedang bermain game di layar laptop.
" Daddy" kata Aidyen. Edar menghampiri sikembar dan duduk disamping mereka. Edar tersenyum melihat sikembar sangat menikmati kegiatannya.
Mereka turun ternyara yang lainnya sudah menunggu kemudian menuju ke Tierganten dengan menggunakan dua kendaraan.
Tidak menunggu lama mereka tiba di tempat tujuan, Dion membuka pintu untuk Edar. Edar membantu Luna untuk turun sedangkan Cinta menemani sikembar karena mereka sudah berlarian.
Gilang juga membantu Ayu karena dari tadi dia terus muntah. " Sayang kamu tidak kenapa?" Gilang, khawatir. Ayu hanya menggelengkan kepalanya.
" Kak Ayu kenapa?" Luna ,melihat wajah Ayu pucat. " Ini Luna, Ayu sejak perjalanan terus muntah. Luna memperhatikan Ayu dan melihat sekitar dan ada yang menjual minuman.
__ADS_1
" Kak sebaiknya beli minuman hangat untuk Ayu agar rasa mualnya lega, mas Luna juga haus" kata Luna. " Dion antar mereka ke sana" kata Edar melihat bangku kosong.
Dion menanggukan kepalanya Edar dan Gilang membeli beberapa minuman dan makanan ringan untuk lainnya.
" Mas Cinta lelah mereka larinya sangat cepat" kata Cinta, Dion sempat menghubungi Cinta agar mengusulnya.
" Aunty saja larinya lambat" kata Alfatih." Mas lihat Al menertawakanku" keluh Cinta.
" Bukankah dari dulu larimu sangat lambat cinta" kata Ayu juga menjahili Cinta. " Mas" Adu Cinta dan memeluk Dion.
" Om Dion daddy dimana?" Aidyen tidak melihat Edar. " Tuan Edar dan tuan Gilang sedang membeli minuman, tuan muda" kata Dion. Aidyen menanggukan kepalanya.
" Luna, Ayu kenapa terlihat pucat" kata Cinta , melihat Ayu yang terlihat pucat. " Ayu sejak perjalanan terus muntah" kata Luna, mengelus punggungnya.
" Nona itu mereka" kata Dion, melihat Edar dan Gilang kembali sambil membawa minuman dan makanan.
" Sayang ini minumannya" kata Gilang, membantu Ayu minum. Edar juga memberikan untuk yang lainnya.
Setelah Ayu tenang mereka akhirnya menikmati keindahan Airmancur dihadapan mereka saat ini.
__ADS_1