
Semua anggota keluarga Perkasa berkumpul di mansion milik daddy Prabu, mereka mengadakan makan siang bersama.
Sikembar menemani adiknya bermain para pria sesang berbicara diruang tengah sedangkan wanita sibuk memasak di dapur.
" Sayang ingat jangan terlalu lama berdirinya" teriak Edar. " iya mas" teriak Luna, sambil cemberut memotong bawangnya asalan.
" Hahaha, tante lihat sepertinya Luna ngambek" bisik Ayu. Mommy farah tersenyum melihat menantunya kesal.
' Luna sudahlah duduk disini dan silahkan memotong bawangnya kembali, lihatlah mereka menjadi korban kekesalanmu" kata Cinta, menunjuk bawang yang berantakan.
" Ini semua gara mas Edar padahal aku sudah sembuh, lihat saja nanti" kata Luna, yang cemberutnya.
" Sepertinya sebentar lagi ada pertunjukan yang seru" bisik Ayu. Cinta dan Mommy Farah hanya tertawa.
Ruang tengah
" Apa yang mereka kerjakan di dapur sehingga tertawa begitu" kata Gilang, dengan heran." Pasti mereka mendengar cerita yang lucu, Gilang om mendapat kabar bahwa di rumah sakit ada pasien yang mengalami kekerasan" kata tuan Prabu.
" ya om sekarang keadaannya sudah stabil dan kasusnya sudah di urus oleh pihak kewajiban" kata Gilang.
Oek, oek, oek.
__ADS_1
Anindira menangis karena tanpa sengaja terkena bola mainan yang dilempar ole Zaky.Edar dan Gilang mendengar anaknya menangis segera menggendongnya.
" Putri daddy kenapa menangis sayang" bujuk Edar, pada putrinya, oek, oek. Anindira terus menangis sambil menunjuk bola.
" Putra papi sudah mulai nakal ya melempar bola ke wajah kak Anindira" kata Gilang, yang berusaha membujuk putranya.
" Adik jangan menangis lagi ini bolanya" kata Alfatih, memberikan bola kepada adiknya.
Anindira malah melempar bola itu kembali hingga dia merajut pada Edar, dengan memeluk leher edar.
" Sepertinya Anindira tidak menyukai bola pemberian kak Al, sekarang coba Zaky memberi ini pada kak Anin" kata Gilang.
Gilang memberikan bola pada Zaky dan Zaky memberinya pada Anindira. Anindira mengambilnya dan menepuk tangannya.
Dengan kesalnya Alfatih merajut pada Opa. " Opa adik tidak menyukai mainan dari Al" Alfatih terlihat kesal. tuan Prabu hanya tersenyum.
" Al, Anin masih kecil jadi jangan kesal begitu" kata Aidyen. " uh baiklah, Anin maafkan kakak ya" kata Alfatih, mencium adiknya dalam pelukan Edar.
Dari arah dapur
Para wanita bukannya tidak mendengar tangisan anaknya mereka ingin tahu bagaimana suami mereka mengatasinya, apalagi Luna masih kesal dengan yang dikatakan oleh sahabatnya tadi.
__ADS_1
" Bibi apa yang terjadi?" Mommy, Farah, yang khawatir dengan cucunya.
" Itu nyonya tuan Zaky bermain bola bersama nona Anindira, jadi bolanya tak sengaja terlempar dan menengai nona Anindira" jelas bibi.
Mereka hanya menggelengkan kepalanya ini sudah biasa jika mereka bermain bersama, Luna sekali melihat suaminya yang membujuk putrinya merajut.
" Bibi panggil mereka masakan sudah siap" kata mommy Farah. " Baik nyonya" seru Bibi.
Dengan bantuan pelayan mereka merapikan meja makan, kemudian tuan Prabu dan lainnya menyusul ke meja makan.
" Mommy Ai ingin itu" kata Aidyen, menunjuk ikan saus tiram. " Kalian harus makan sayur sayang" kata Luna, melihat piring putranya tak ada sayur.
" Mommy, Al tak ingin sayur" kata Alfatih, yang cemberut. " Sayang, harus banyak makan sayur untuk kesehatan" kata Luna.
Dengan cemberut Al memakan sayur sedangkan Aidyen makan sayur tanpa protes.
" Sayang" kata Edar, tapi Luna mengacuhkannya.
" Bibi ambilkan makanan untuk tuan Edar" kata Luna. Perkataan Luna membuat yang lainnya menatapnya.
Ayu dan Cinta menyadari bahwa Luna madih kesal hanya bisa menahan tertawanya.Dengan gugupnya bibi mengambil makanan untuk Edar, yang menatapnya dengan tajamnya.
__ADS_1
" Mommy ini sebenarnya ada apa" kata Daddy Prabu. Mommy Farah mulai menyadarinya. " sepa Luna masih kesal karena kejadian di dapur tadi" guman Mommy Farah.
Mereka menikmati makanan meski Edar di acuhkan oleh Luna, Edar hanya merasa heran ada apa dengan istrinya.